KONSISTEN MENYAPU HATI

Dulu saya waktu kecil sering diomelin sama Orang tua, karena malas menyapu rumah. Hahaha….. Bukan malas dalam artian tidak pernah, tetapi saya menyapu rumah dengan cara pandang bahwa dalam sehari harus sekali menyapu. Kalau orang tua saya berpandangan bahwa menyapu itu ukurannya apakah rumah sudah bersih atau belum? Kalau belum, ya sapu lagi.

Walhasil, saya merasa sudah menyapu, tapi berapa jam kemudian, atau sore harinya saya diminta menyapu lagi karena rumah sudah kotor, saya manyun. “Lho kan saya sudah menyapu tadi pagi?” protes saya.

Iya sudah menyapu, tapi itu kan tadi pagi. Sore sudah kotor lagi, ya berarti sapu lagi. Sesederhana itu.

Dalam kaitannya dengan spiritualitas, saya temukan bahwa konsistensi “menyapu hati” inilah yang kita perlukan. “menyapu hati” dalam bahasa para arif, disebut tazkiyatun nafs. Pembersihan jiwa.

Setidaknya ada dua metoda yang saya amati.

Metoda pertama, yaitu terus-terusan menelisik ke dalam diri, dan melihat kotorannya. Misalnya ada rasa kesal, ada rasa kecewa terhadap hidup, ada rasa marah pada keadaan, ada iri dan macem-macem….nah, itu semua adalah kotoran yang harus disapu. Maka kita sapu semua kotoran itu dengan berzikir, atau istighfar meminta ampun dan sebagainya.

Approach kedua, yang ini agak lebih filosofis sedikit. Yaitu alih-alih selalu mencari kotoran dalam dirimu, dan menyapunya agar bersih semula “rumahmu”, yang kita lakukan malah menyadari bahwa sebenarnya diri kita ini “non existence” alias tidak ada kewujudan.

Sebenarnya, kalau kajian secara psikologi sederhana sebatas pengetahuan yang saya pahami, “rasa diri” atau identitas kita itulah sesuatu yang masyhur disebut “ego”. “ego” itulah rumahnya. Tempat segala kotoran bisa melekat.

Nah…. Cara kedua ini, alih-alih selalu melihat ke dalam diri dan membuang kotoran dari dalam diri, kita malah membuang “rumah”nya kotoran itu. Yang kita buang adalah “rasa bahwa diri kita ini ada”. Ibarat, kalau rumahnya saja tidak ada, kotoran bagaimana bisa mengotori rumah?

Tentu itu ibarat saja, kalau dibayangkan beneran kan ya repot ga punya rumah. Hehehehe.

Tetapi, cara kedua ini sebenarnya kalau berhasil akan lebih permanen efeknya dibanding cara pertama.

Cara pertama, menuntut konsistensi untuk selalu melakukan proses tazkiyatun nafs selalu. Setiap hari. Karena dalam sehari barangkali kita bisa ratusan kali dikotori.

Cara kedua, menuntut kita untuk benar-benar paham bahwa yang kita kenal sebagai “diri kita” ini sebenarnya hanyalah kumpulan pengalaman hidup. Ianya tak benar-benar eksis. Agak sulit pada awalannya memang. Karena cara kedua ini butuh dilandasi ilmu alias pengetahuan supaya bisa membongkar paradigma lama bahwa kita ini “wujud”.

Bisa masuk lewat ranah psikologi… kenali betul-betul apa yang disebut ego itu. Ego itu kumpulan pengalaman hidup. Dibalik ego itu ada yang mengamati / consciusness.

Bisa masuk lewat ranah sains, tengoklah kajian fisika kuantum bahwa semua benda-benda ini yang tampak mata dan bisa diindera ternyata sebenarnya bukan realitas sejati. Semuanya hologram. Unsur penyusun segala benda-benda ternyata adalah sesuatu yang hilang timbul-hilang timbul keberadaannya. Bukan partikel padatan yang kita kira selama ini. Kita ada di dalam “drama”-Nya.

Atau bisa masuk lewat kajian para arif, bahwa segala sesuatu yang ada, hakikatNya adalah Dzat-Nya yang tiada umpama. Dzat-Nya yang tiada bisa didefinisikan itulah hakikat sejati segala sesuatu, sedangkan yang berbagai-bagai ini hanyalah tampilah sifat-sifat alias bungkus.

Jika ilmu sudah terpatri, maka kesadaran pelan-pelan bisa berubah. Oh iya ya…. Kalau begitu, kita ini sebenarnya sama dengan mereka, dengan segala makhluk yang lain, yaitu ciptaan-Nya dari hakikat Dzat-Nya yang tiada ada umpama.

Baru kemudian saat sudah perlahan hilang “rasa wujud”, penyakit-penyakit atau kotoran akan hilang juga secara otomatis.

Kalau cara pertama, setiap kali kita dikotori oleh penyakit-penyakit hati, kita langsung membersihkannya dengan peribadatan, istighfar, dan macam-macam.

Cara kedua, setiap kali kita dikotori oleh penyakit-penyakit hati, -kita tetap membersihkannya juga- akan tetapi sadari kembali bahwa saat penyakit hati datang itu juga pertanda bahwa kita sudah kembali “wujud” alias hidup dalam bingkai “ego”. “ego”nya ini yang harus dibuang, harus kembali menyadari hakikatnya kita ini tiada.

Susah-susah gampang memang. Yang penting konsisten.

Gagal….ulangi. gagal…..ulangi… sambil menyadari bahwa dalam jatuh-bangun itupun sudah masuk dalam “drama”Nya juga.

La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s