MENDULANG RASA

water-dropsDari mendengar ceramah Jum’at barusan, saya Kembali diingatkan akan sebuah kisah yang sangat masyhur tentang seorang penuntut ilmu yang selalu tertinggal.

Tersebutlah seorang anak yang belajar pada sebuah madrasah. Akan tetapi anak ini selalu tertinggal oleh rekan-rekannya yang lain.

Sempat putus asa, lalu sang anak memutuskan untuk pamit pada gurunya karena merasa bahwa dirinya tak berbakat.

Dalam kesedihan, seperginya dia dari madrasah itu, hari pun hujan. Lalu dia berteduh pada sebatang pohon. Berdoalah dia waktu itu, ya Tuhan…..ini nasib saya ini gimana?

Ndilalah…..Didekatnya ada sebuah akar pohon yang menjulur keluar dari sisi tebing, meneteskan satu demi satu butiran air. Butiran air itu menetes lalu meluncur sampai pada dasar tebing sebuah batu besar yang retak. Pada tengah retakan itu terpatri sebuah ceruk kecil tempat tetesan air hujan yang mengalir meniti akar pohon yang menjulur di pinggiran tebing tadi.

Sang anak pun kagum, dan tiba-tiba tercerahkan. “seperti batu inilah saya”, pikirnya. Sebuah batu yang demikian keras pun hancur oleh tetesan air yang sabar butir per butirnya, apatah lagi manusia, pasti akan menemukan jalan jika tekun dalam usahanya. Begitu fikirnya.

Singkat kata, sang anak yang putus asa akhirnya kembali ke madrasahnya, diterima oleh sang guru dan meneruskan belajarnya.

Kelak, sang anak menjadi seorang ulama besar. Konon sang anak akhirnya dijuluki “Ibnu Hajar” alias anak batu. Tetapi apakah sang Ibnu Hajar ini adalah Ibnu Hajar pengarang kitab Bulughul Maram itu, atau bukan, wallahualam. Barangkali bukan.

Tetapi pelajaran dari kisah itu, valid.

Sebagian menafsirkannya dalam konteks “ketekunan berbuah manis”. Tetapi saya melihatnya sebagai “pembacaan” terhadap tanda-tanda pada alam. Insight yang didapatkan karena “membaca” kehidupan.

Dalam pandangan yang lebih spiritual, saya rasa hampir seluruh “pujian” kepada Tuhan, adalah “membahasakan rasa” yang dialami saat menjalani konteks hidup tertentu.

Misalnya, saat mendapat kesulitan, maka ekspresi persandaran itu mewujud dalam bentuk amal. misalnya do’a ini

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat–Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dari–Mu). [1]

Atau saat mengalami hidup yang membuat kita bersyukur dan kagum

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Mahasuci Allah, aku memuji–Nya sebanyak bilangan makhluk–Nya, Mahasuci Allah sesuai keridhaan–Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy–Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat–Nya. [2]

Semuanya saya rasa adalah ekspresi rasa yang terkeluar dalam wujud pujian atau permintaan.

Nah….. Dalam kaitannya sebagai ekspresi rasa inilah, do’a akan keluar dari sesiapa saja yang membaca alam “sifat-sifat”. Iqra bismirabbika.

Kembali saya kutipkan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash. Orang yang sudah “tenggelam” dalam penyaksian. Dan ridho dalam segenap lakuan takdir. Maka meski dia buta, dia TIDAK berdoa meminta kesembuhan. Yang zahir padanya adalah ekspresi pasrah. Pasrah tersebab pengenalan akan takdir.

Tapi, level Sa’ad ini tak selalunya bisa dicontoh orang awam.

Itu sebab, banyak sekali do’a yang diajarkan Rasulullah. Karena tak semua orang bisa berdiam di maqom seperti sa’ad.

Jangan tengok do’a sebagai tekstual semata, tetapi pahamilah do’a sebagai ekspresi rasa yang terkeluar dalam bentuk amal.

Dalam kondisi seperti ini, akan sulit kita menahan doa untuk terzahir dari diri kita.

Ekspresi rasa ini hanya akan tertangkap jika membaca hidup ini. Seperti kisah tadabur-nya seorang santri yang mendapat insight dari melihat batu yang dihancurkan tetesan air tadi.

Tanpa “menikmati” kondisi dalam hidup, maka ekspresi rasa itu tak akan dapat. Sehingga do’a menjadi kering.

Satu hal yang saya amati, sangat membantu untuk mendapatkan “feel” atau “rasa” itu, adalah ilmu dan pengenalan akan Tuhan. Mengenal Allah, dan bagaimana kaitan antara Allah dan makhluknya.

Satu konteks “pembacaan” yang diajarkan seorang arif dan saya tertatih terapkan adalah belajar menyadari betul bahwa diri kita ini adalah “non existence”, kita, mereka, dan segala ciptaan hakikatnya tidaklah memiliki wujud sejati, yang sejati atau wajib wujudnya adalah Dzat-Nya, Divine Essence, realita Ilahiah yang diluar jangkauan perumpamaan manusia.

Sehingga lambat laun pengaturan Tuhan dalam hidup ini terasa nyata.

Memahami kajian ini sangat membantu mengubah cara pandang, sehingga rasanya tiap sisi hidup menghantarkan rasa-nya sendiri. Yang mau tak mau mewujud menjadi amalan yang sesuai konteks saat itu.


References

[1] HR. An–Nasa–i 575, al–Bazzar 3107 dan al–Hakim 1/545 dab Ibnus Sunni 48, lihat Shahiih at–Targhiib wat Tarhiib I/417 no. 661, hasan

[2] HR. Muslim no. 2726. Syarah Muslim XVII/44

*) Image sources

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s