ROTI YANG HAMPIR MATI, DAN BELAJAR MEMAKNAI

Hari ini saya membeli roti isi coklat seharga lima ribu. Begitu dahsyat persuasi kasir mini market itu, yang setiap hari setiap saat kepada siapapun pembelinya selalu menawarkan produk yang khusus, “Ga sekalian sama rotinya Pak? Beli satu dapat dua”, begitu katanya.
Akhirnya saya pun membeli roti itu. Seharga lima ribu, dan mendapatkan dua potong roti. Ternyata rotinya sudah hampir expired. Tetapi masih bagus, hanya saja kan sayang kalau keburu expired. Lagian ini roti memang yang modelnya hanya bertahan sekian hari saja. murni tanpa pengawet sepertinya.

Repetisi berulang-ulang, penawaran berulang-ulang dari kasir penjaga itu sampai membuat konsumen akhirnya membeli, mengingatkan saya juga dengan satpam di kantor.

Semenjak vendor sekuritas di kantor diganti dengan yang baru, saya mengamati ada perubahan signifikan. Perubahan itu, adalah dari hal yang sepele saja. Sapaan.

Saya termasuk orang yang kadang-kadang abai pada sekitar. Karena sibuk sendiri, seringkali orang yang lalu lalang di sekitar tak terperhatikan. Maka itu, semenjak vendor pengamanan dan tim keamanan barunya ini bertugas, saya agak kikuk juga saat mereka ternyata selalu begitu ramah menyapa setiap karyawan yang lewat, siapapun saja dengan sapaan “selamat pagi, Pak… gimana hari ini Pak? Pagi Bu…. Wah hampir saja kehujanan ya?” dan macam-macam sapaan.

Mulanya saya kira sapaan itu klise. Tetapi sapaan yang mereka lakukan itu ternyata tak lekang oleh waktu.

Seminggu, dua minggu, sebulan, berbulan-bulan sapaan demi sapaan itu menjadi kebiasaan yang rutin. Hingga sekali waktu seandainya saja saya yang lewat di depan mereka, dan kebetulan mereka sedang tidak melihat atau sedang mengerjakan sesuatu, gantian saya yang merasa kikuk di depan mereka. karena kebiasaannya saat siapapun lewat mestilah ada tegur sapa.

Sehingga, tak jarang gantian saya yang mengucapkan “selamat pagi Pak…. Sore Mas….” Dan sebagainya, sebagai wujud penghargaan atas budaya sapa menyapa yang mereka tularkan.

Ungkapan sederhana semisal selamat pagi atau selamat sore, adalah ekspresi bahasa.

Sebagai sebuah ekspresi bahasa, frasa “selamat pagi” atau sapaan yang sejenis tidaklah tanpa makna. Kata-kata, itu merangkum makna.

Maknanya adalah barangkali “hasrat membangun keakraban”, “hasrat mendoakan orang lain”, dan sebagainya. Sehingga pembiasaan yang terus menerus walhasil membuat orang lain mau tak mau tertular dengan makna itu. Makna keakraban.

Saya rasa pola yang serupa terjadi, saat kita bertemu seseorang dengan pembawaan yang ceria. Misalnya wajah yang menyenangkan. Gesture yang ramah. Dan tutur kata yang menghibur, maka kita akan terimbas ceria-nya. Karena ekspresi yang ramah itu tumbuh dari makna.

Seperti sebuah hadits katakan, bahwa bergaul dengan tukang minyak wangi kita pasti akan kecipratan wangi.

Jadi, ada “makna” di dalam hati, yang kemudian makna itu akan luber dalam wujud fisikal, bisa menjadi senyum, menjadi ekspresi gerak, atau menjadi kata-kata.

Sebagian pendekatan spiritual, menggunakan pola itu. Karena menyadari bahwa ekspresi fisikal hanyalah “luberan” dari makna sejati yang di dalam batin. Maka cara mereka melatih seseorang untuk bertemu “makna” itu adalah dengan membiasakan seseorang itu melakukan ekspresi fisikalnya.

Contoh sederhana. Coba anda teriak “BAJINGAN”. Terus menerus….. sampai capek, ratusan kali, jutaan kali.

Hati-hati… karena kata “BAJINGAN” itu tumbuh dari ekspresi makna yang negatif. Maka jika berakrab-akrab dengan ekspresi fisikal yang punya makna negatif itu, semisal kata-kata cacian, adalah berarti juga mendekatkan hati anda dengan makna batinnya. Tinggal menunggu jenak dimana hati anda bertemu makna batinnya, maka JEDERRR….hatimu kena. Anda akan beneran kesal dan membenci.

Permasalahannya, kalau hal-hal yang negatif, orang gampang mengerti dan bertemu maknanya. Tetapi kalau hal yang positif, seringkali orang tak paham maknanya.

Itu sebab dalam pendekatan positif, seringkali orang-orang dikatakan sudah “merapal” zikir positif, tetapi kok tidak nemu “klik”-nya….. karena belum paham maknanya. Dia hanya bertemu ekspresi fisikalnya, tanpa bertemu makna batinnya.

Misalnya, seseorang yang berzikir ribuan kali melafal istighfar, tetapi tidak menemukan makna bahwa istighfar itu adalah ekspresi kemenyerahan, pengakuan kesalahan, wujud “kembali”. Maka repitisi istighfar itu butuh waktu sangaaaaaaat lama untuk “klik” sampai batinnya menemukan makna istighfar juga.

Yang menarik adalah pendekatan kebalikannya, saat seseorang sudah mengetahui bahwa ekspresi batin (dalam) atau “makna”, maka makna ini bisa terwujud dalam macam-macam ekspresi fisikal.

Misalnya, orang yang sudah ketemu makna “sedih” maka dia bisa mewujudkan eskpresi sedihnya dengan menangis, atau bisa berupa kata-kata ratapan “hatiku hancur”, dan ratapannya bisa macam-macam versi dalam berbagai gaya. Atau bahkan bisa berupa ekspresi lainnya.

Wujud ekspresi berubah-rubah dengan lihainya, tetapi semuanya lahir dari makna batin yang “sedih”. Kenapa begitu? Karena nemu maknanya dulu, baru ekspresi fisikal menyusul sebagai luberan saja.

Pendekatan kedua ini adalah dengan mengenali “makna” dulu. Kalau maknanya ketemu, anda bisa mewujudkan makna itu dalam ekspresi fisikal yang bagaimanapun saja.

Tetapi, untuk kenal dengan “makna” ini, harus lewat ilmu. Tak bisa tanpa ilmu. Dalam spiritualitas islam, ilmu mengenal Allah diberikan sebagai fundamen. Saat seseorang sudah kenal dengan Allah (paham secara keilmuan), dan sudah tahu secara keilmuan mengapa ada alam semesta, mengapa kita hidup, dan jawaban-jawaban itu sudah ketemu, artinya orang ini tahu “makna”. Maka itu belajar tasawuf atau spiritual islam itu hemat saya sangat penting. Karena kita belajar makna lho.

Setelah tahu makna, maka tinggallah orang ini beribadah (melakukan ekspresi fisikal) dalam kepahaman yang sudah ada itu. Maka ekspresi fisikalnya akan menjadi tajam dan punya bobot.

Dua-duanya penting. Dari luar ke dalam bolehlah, memahami bahwa kata-kata, gerak tubuh, ekspresi, adalah bentuk-bentuk fisikal yang lahir dari “makna” yang ada di dalam batin; anda tersenyum, dan cobalah untuk selalu senyum dalam sehari. Senyuuuuuuum terus…. Nanti lama-lama “makna” bahagia itu masuk juga.

Tetapi jangan lupakan ada pendakatan satunya lagi, dari dalam ke luar. Anda temukan dulu definisi bahagia itu sendiri. Pelajari ilmunya. Kalau “makna” sudah ketemu, otomatis anda akan senyum. Bahkan… yang lebih menarik adalah, saat “makna” sudah ketemu, anda bisa tetap bahagia, meskipun ekspresi anda datar-datar saja. orang di luar tidak tahu, apa yang terjadi di “dalam” diri anda.

Beragama dalam dua keping syariat fisik yang dilakoni, dengan makna yang dipahami, itulah ihsan.

Karena “makna” itu, ada di relung kedalaman kita sendiri. Itulah yang orang cari-cari.

— 

Iklan

MEWAKAFKAN ILMU

Seorang rekan semasa saya kuliah dulu, sekarang sudah menjadi sosok yang begitu kharismatik dan sering dimintai pendapatnya di TV. Terbersit juga sedikit rasa “kecil” pada diri saya demi melihat pencapaian rekan tersebut. Tetapi sontak saya teringat dengan hikmah yang berapa waktu lalu saya tulis, bahwa setiap orang memiliki peran tersendiri dalam konteks kehidupannya masing-masing.

Dari sisi batin, kita memahami bahwa hidup adalah untuk pengenalan pada-Nya. Dari sisi zahir atau fisikalnya bisa berbeda-beda sesuai dengan peran masing-masing orang. Perlu memahami peranan masing-masing dalam konstelasi dunia ini.

Tak lama kemudian, hikmah merasuk….  Yang penting adalah bukan “besar” atau tidaknya sebuah karya, melainkan bagaimana kita memulainya.

Saya jadi teringat dengan orang-orang yang cukup dekat atau setidaknya bersinggungan kisah hidupnya dengan saya. Dan bagaimana saya kemudian menyaksikan bahwa karya mereka menjadi “besar” meskipun dimulai dari langkah-langkah kecil.

Salah satunya adalah guru beladiri saya semasa kuliah dulu. Seorang yang santun dan rendah hati. Meninggalkan kekayaan yang dia miliki, untuk secara totalitas hidup mendarma-baktikan diri mengajar. Karena memang beliau menyadari betul bahwa “calling” atau panggilan hidup beliau adalah itu. Mendirikan sebuah pesantren yang konsep beliau adalah mengajarkan islam secara terstruktur, plus beladiri. Semacam shaolin-nya islam lah begitu.

Dulu saya sering ke perbukitan dan mengunjungi beliau. Sekali-kali belajar ilmu hadits disana. Saya ingat sekali kajian-kajian kecil di perbukitan tanjung sari Sumedang, dulu masih kecil sekali tempatnya. Tetapi lambat laun menjadi besar. Dan setelah hampir sepuluh tahun saya tak pernah kontak lagi dengan beliau, saya melihat betapa niatan dulu itu menjelma pengabulannya. Pesantren itu kini berdiri dan pelan-pelan membesar.

Saya teringat waktu dulu saya bertanya pada beliau, macam-macamlah pertanyaan dagelan saya. “Tadz…bagaimana caranya melawan kungfu delapan penjuru mata angin?” dan macam-macam pertanyaan tak penting lainnya.

Selalu dijawab sambil berseloroh santai….”kita itu, yang penting berlatih saja yang profesional. Jika niatan kita lurus lillahitaala, mau delapan penjuru mata angin, mau seribu mata angin, matipun kita syahid”. Jawaban itu yang seperti makjleb begitu buat saya. Yang penting lurus niatnya, sisanya nanti Allah yang membesarkan.

Dan banyak momen-momen kenangan yang kemudian melintas satu-satu menghantarkan kepada saya hikmah, bahwa yang penting adalah secara lurus berbuat untuk-Nya.

Dan dengan cara pandang saya yang sekarang, saya memahami bahwa “berbuat untuk-Nya” itu adalah “mengikuti ritme”, melakoni peranan saat ini dengan sebaik mungkin, sambil menyadari bahwa peranan saat inilah yang menjadi jalan pengenalan kita pada-Nya.

Satu hal dari filosofi pembelajaran beladiri dulu yang saya baru sadari sekarang adalah bahwa beladiri itu oleh penyusunnya diwakafkan untuk ummat. Maka segala sesuatu yang diwakafkan (dilepaskan dari kepemilikan pribadi) kita akan melihatnya bertumbuh pesat karena tidak lagi terikat pada diri kita yang sempit.

Pada akhirnya karya atau amal yang dilepas itu akan membesar bahkan jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Karena niatan awalnya yang benar.

Seorang arif, yang mengajarkan spiritualitas islam dan banyak mewarnai cara pandang saya dalam spiritualitas islam, mengatakan bahwa ilmu itu bukan milik dia pribadi. Melainkan ilmu akan mencari tuannya sendiri.

Saat sebuah ilmu, atau pengajaran dilepaskan dari konteks pemilikan pribadi, maka ilmu itu akan tumbuh dan menjadi besar. Dan bertemu dengan orang-orang lain yang bersinggungan takdirnya dengan ilmu itu.

Barangkali itu jawaban mengapa tulisan-tulisan dari orang-orang alim dan arif masa silam masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Seolah tulisan-tulisan itu menjaga mereka untuk tetap “hidup”. Tulisan-tulisan atau karya-karya yang diwakafkan, dilepas dari kepemilikan pribadi mereka.

Jadi yang terpenting bukan besar atau kecilnya karya. Tetapi memulainya dengan benar. “Melepas”nya agar bertumbuh.


*) Image Sources

YANG MENITI JALAN LURUS 

Waktu saya kecil, orang tua saya berlangganan sebuah koran islami yang terbit setiap Jum’at. Ada satu kolom dimana disana selalu menceritakan perjuangan orang-orang yang muallaf. Setiap kali membaca itu, saya menjadi begitu haru. Betapa perjuangan mereka untuk mencari kebenaran sangatlah heroik.
Sempat saya berfikir, benar-benar tidak ada apa-apanya diri ini jika dibandingkan dengan mereka.

Tapi baru sekarang saya mengerti, bahwa kekeliruan saya dulu adalah mengira bahwa pencarian itu hanya sebatas konversi seseorang dari satu keyakinan agamanya, menjadi islam misalnya. (tentu ini dari sudut pandang saya sebagai muslim). Tetapi satu hal yang luput adalah bahwa seseorang yang sudah muslim sekalipun, juga sering “mencari”, dalam artian kedewasaan mereka beragama bertumbuh kembang.

Saya pribadi adalah contoh kekeliruan itu, dimana masa lalu saya yang muda begitu kaku dan semangat sekali mencari kesalahan orang dengan berbekal bacaan satu dua buku, lalu baru setelah dewasa saya paham bahwa khasanah fikih itu demikian luas. Apalagi khasanah tasawuf. Maka merasa paling benar adalah sikap yang demikian kuno.

Salah satu contoh yang sangat masyhur adalah Imam Syafi’I dengan pendapat lama (qaul qadim) dan pendapat baru-nya (qaul jadid). Pendapat-pendapat beliau semasa di Iraq, berbeda dengan pendapat-pendapat beliau semasa di Mesir. Dari Iraq beliau pindah ke mesir dan mempelajari konteks sosial budaya Mesir yang beda dengan di Iraq. Lalu beliau mengoreksi pandangan lamanya.

Saya tak hapal apa saja yang beda dari pendapat fiqih beliau, tetapi satu yang menarik perhatian saya adalah fakta bahwa kedewasaan manusia bisa bertumbuh. Bahkan untuk orang yang sekaliber Imam Syafi’i.

Opo meneh level saya, harus lebih-lebih lagi belajar dan bersedia bertumbuh.

Contoh lainnya adalah Imam Asy’ari. Ahli teologi ternama di kancah islam. Setelah berpuluh tahun mendukung paham Mu’tazilah, menjadi ahli debat terkemuka dari Mu’tazilah, lalu kemudian beliau rujuk dari pendapatnya dan akhirnya meletakkan dasar-dasar pondasi akidah Asy’ariyah. (yang saya baru tahu sejalan dengan pendapatnya Imam Abu Hanifah)[1]

Contoh lain lagi tentu Imam Ghazali, yang setelah bergelut dengan ilmu kalam dan filsafat, kemudian beralih ke tasawuf dan menuliskan buku-buku yang menjadi jembatan syariat dan tasawuf, dan lalu mengoreksi pahaman para filosof mengenai Tuhan dan kaitannya dengan alam.

Pendapat-pendapat mereka, sudah ratusan tahun lalu “selesai”. Tetapi perdebatannya secara keilmuan rupanya mengabadi hingga kini masih belum usai. 

Saya pikir tak mengapa. Hanya saja satu hal yang kita jangan lupa, bahwa perdebatan pada kancah ilmu hanyalah ekspresi fisikal dari dimensi batin yang bertumbuh kembang.

Yang harus seiring dengan perdebatan pada kancah ilmu, adalah pengertian yang lebih dalam bahwa yang penting adalah proses bertumbuhnya itu.

Akhirnya saya mengerti, kenapa setiap sholat kita meminta ditunjukkan jalan yang benar. “ihdinash shiratal mustaqim”. Karena yang paling benar hanyalah milik Tuhan.

Proses dinamisnya adalah kita selalu belajar, dan menjadikan Qur’an dan Sunnah sebagai acuan, juga menjadikan alam terkembang dan segala hikmah di dalamnya sebagai data yang memperkaya khasanah pemahaman kita.

Yang paradoks adalah, saat kita setiap sholat meminta ditunjukkan pada jalan yang benar, tetapi kemudian kita secara pribadi tidak memiliki mentalitas ingin belajar dan haus ilmu. Atau, kita belajar dalam konteks ingin menyalahkan orang lain.

Para alim yang kita sebut di awal tadi, semua sudah menunaikan tugasnya untuk bertumbuh dan berkembang. Sedangkan kita, hendaknya meniru proses tumbuh kembang itu pula, bukan mewarisi debatnya semata.

[1] Al Fiqh Al Akbar: an accurate translation,

MEMAHAMI PANGGILAN DALAM HIDUP

callingAdalah Helio Gracie, seorang dengan perawakan kurus kecil, tetapi lewat jasa dirinyalah tercipta satu jenis beladiri baru yang booming ke seluruh dunia di masa ini. Brazilian Jujitsu.

Bela diri ini, dikembangkan oleh Helio Gracie atas penelitiannya memraktekkan Judo, dan berpikir keras bagaimana Judo ini bisa praktikal untuk orang bertubuh kecil seperti dirinya, dan bagaimana orang bertubuh kecil bisa melawan dan mengalahkan orang dengan tubuh yang lebih besar.

Dan setelah diuji cobakan dalam banyak sekali pertarungan, maka terbuktilah bahwa beladiri modifikasi yang dia ciptakan itu; berjalan sebagaimana diinginkan. Dan membuat heboh dunia lewat UFC.

Saya pribadi menyukai sekali cerita ini, meskipun tidak berlatih Brazilian Jujitsu, melainkan menyenangi ceritranya saja secara filosofis.

Saya sempat berlatih beladiri, dulu sewaktu kuliah. Tetapi, dalam rutinitas beladiri itu, saya tahu bahwa saya tidak akan mungkin menyamai level orang-orang yang melegenda semisal Helio Gracie, atau Mushashi, atau nama-nama besar lainnya. Bukan karena saya tidak optimis, melainkan sebentuk rasa tahu diri.

Level mereka, adalah orang-orang yang hidupnya didarma baktikan untuk beladiri. Dari tidur sampai bangun sampai tidur kembali, mereka mendarma baktikan hidupnya untuk itu. Sedangkan saya, belajar beladiri sembari kuliah. Meskipun waktu itu saya ingat sekali bahwa saya sungguh getol sekali berlatih, tetapi di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya menyadari bahwa “tugas” saya bukan itu. Berlatih; YA. Tetapi meleburkan diri dalam itu; saya rasa tidak.

Belakangan saya baru menyadari harmoninya. Ternyata, setiap orang sudah ditakdirkan untuk menjalankan peranannya masing-masing dalam hidup. Orang-orang barat mengatakan “to know our true calling”, mengenal semacam “panggilan”, dalam hidup.

Umpamanya, kalau kita ambil contoh dari spiritualitas islam. Sebutlah Imam Al Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam. Beliau hidup di masa dimana perselisihan antara golongan ulama syariat, dan para ahli hakikat tidak bisa akur. Dan lewat sumbangsih beliaulah, maka syariat dan hakikat bisa berjalan seiring. Meskipun belakangan kembali saling silang. Tetapi, sang imam hidup dalam “true calling” sebagai seorang mediator, penjembatan antara golongan syariat dan hakikat, di masanya. Kegamangan Imam Ghazali, sampai kemudian beliau menemukan “klik” pada peranannya sebagai mediator itu, dapat kita baca secara asyik pada Al Munqidz Min Adh Dhalal, karya beliau.

Kalau kita mundur lagi ke belakang, masa dimana para Imam Mazhab lahir. Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Imam Hambali. Mereka meletakkan tatanan yang begitu solid, tentang bagaimana cara pengambilan suatu hukum, menyusun premis-premis, sehingga produk-produk fikih bisa terlahir. Mereka hidup dalam “tugasan” itu, yaitu meletakkan logika pengambilan hukum pada syariat. Sehingga ummat setelah masa mereka, rasa-rasanya tak perlu lagi pusing-pusing dan habis waktu dengan fikih, dasar-dasarnya sudah sangat rapih.

Lalu ada lagi imam Abu Hasan Al Asy’ari, yang hidup pada masa dimana pergulatan ide antara Mu’tazilah, jabbariyah, qadariyah begitu pelik. Dan Imam Asy’ari-lah yang menjadi jembatan, menegakkan pondasi aqidah Ahlus Sunnah, setelah sebelumnya beliau malah beraliran Mu’tazilah.

Contoh-contoh di atas adalah ibarat, yang memudahkan saya pribadi memahami tentang “tugasan”, tentang peranan seseorang dalam hidup, tentang true calling.

Dahulunya, pemahaman saya mengenai “true calling”, panggilan dalam hidup ini, adalah semata pemahaman lewat makna batinnya. Bahwa dalam hidup, tugas kita adalah menyadari bahwa kita hidup diciptakan oleh Tuhan, dan keseluruhan kerja dan sikap kita dalam hidup adalah untuk mengenali-Nya.

Hal ini memang betul….. tetapi bagaimanakah wujudnya pada aspek fisikal?

Baru saya paham, bahwa pada aspek fisikal-pun ada true calling-nya. Yaitu “tugasan” atau peranan di dunia itu tadi. Pada sisi batin, kita semua memahami bahwa dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali, dan mengenali-Nya adalah tema besar kehidupan sekarang. Tetapi ejawantahnya secara zahir adalah kita harus mengerti pula peranan kita dalam konstelasi hidup kita masing-masing.

Ada yang menjadi ahli beladiri. Ada yang ulama. Ada yang dosen. Ada yang pedagang. Dan sebagainya, dan sebagainya, sebagai ekspresi fisikal. Itulah saya rasa yang mesti ditemukan.

Selalu aspek batin dan aspek fisikal yang berjalan seiring. Temukan “calling” kita. Dan dia mesti dua sisi, batin dan fisikal. menemukan hanya salah satunya saja, pastilah timpang.

Kita ketemu sisi batinnya, wah mantap….. tapi bagaimana wujud konkritnya? Mengenali Tuhan lewat hidup; ya…. Tapi hidup yang bagaimana?

Dalam konteks saya pribadi, saya baru mengerti, bahwa jalan saya mengenali Tuhan adalah lewat kerja saya di dunia migas ini. Dan lewat kerja di dunia inilah saya mencerap kehidupan, dan menemukan persinggungannya dengan kajian spiritual para arif. Upaya mengenali Tuhan adalah batinnya, dan kerja di dunia migas adalah ekspresi fisikalnya. Ternyata harus seiring.

Jika kita menemukan  sisi fisiknya saja, misalnya kita paham bahwa “true calling” kita adalah sebagai pebisnis, dan kita sukses sekali disana. Tetapi kita tidak mengerti dimensi batinnya, bahwa bisnis itu sekedar jalan untuk mengenali Tuhan, maka kita akan materialis dan hilang arah.

Begitupun sebaliknya, kita mengerti sisi batinnya. Mulai tersentuh, dan menyadari bahwa mengenali Tuhan-lah inti dari hidup ini. Tapi kita tak paham tugas dan konstelasi diri kita di kancah dunia ini, maka kita akan keliru-keliru bersikap.

Inilah maksud Ibnu Athaillah as sakandari, jangan sampai yang asbab ingin tajrid, yang tajrid ingin asbab. Padahal peranan kita adalah menjadi dosen, misalnya….tetapi karena tak paham mengenai ini, maka kita tinggalkan pekerjaan menjadi dosen, karena ingin mengenal Tuhan. Dikira bahwa pekerjaan duniawi, bukanlah wujud ekspresi dari perjalanan mengenali Tuhan itu sendiri.

Bagi saya pribadi, kepahaman ini penting karena termasuk upaya mengenali diri sendiri. Mengenali Tuhan, mengenali mengapa dicipta, lalu mengenali pula apa sih peranan kita di dunia untuk jadi jalan kita mengenali-Nya itu?

Apakah “true calling” atau “panggilan” anda dalam hidup?


*) image sources

PERTAPA DAN KONVERSI ILMUNYA

Sewaktu saya berangkat ke Cairo tahun lalu, saya begitu cemas karena salah satu bahasan pada training itu adalah akuntansi yang saya tak begitu gemari sejak lama. Saya teringat saya berdo’a begitu khidmat agar diberikan kemudahan untuk memahami bahasan akuntansi dalam kesempatan training kali itu.

Alhamdulillah, saat itu akhirnya saya bisa mengikuti dengan tak begitu kepayahan. Meskipun sekarang ini saya sudah lupa lagi mengenai bahasan yang dikaji saat training setahun lalu itu. Hehehe….

Kalau saya tilik ke belakang, kenapa kok kajian yang dipelajari begitu cepat hilang dari ingatan saya? Ternyata karena kajian tersebut jarang saya praktekkan dalam keseharian saya yang kebetulan memang bekerja pada bagian yang terlalu teknis dan jarang terlibat dalam keuangan di kantor.

Menarik, setelah saya cermati salah satu hadits tentang ilmu. Bahwa ilmu senantiasa dikaitkan dengan amalan. Misalnya saja kutipan berikut: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima”.[1]

Ilmu yang bermanfaat rupanya sepaket dengan rizki yang halal dan amal yang maqbul atau diterima.

Dalam konteks itu, saya melihatnya bahwa ilmu yang bermanfaat haruslah berarti juga ilmu yang applicable, terpakai. Knowledge yang terberdayakan. Dan dalam memberdayakan ilmu yang dimiliki itu, kita difasilitasi dengan rizki yang halal.

Kalau saya menengok konteks ini, saya barulah menyadari bahwa dalam kaitannya dengan ilmu yang terberdayakan menjadi amal ini; saya masih banyak ilmu yang tak bermanfaat. Karena, ilmu yang dimiliki hanya sebatas memuaskan penjelajahan intelektual belaka.

Sebuah ungkapan yang masyhur, “what ever we focus on, will grow”. Setiap apa saja yang kita “pantengin” terus, akan  tumbuh dan menjalar merambat kemana-mana, menyita waktu.

Misalnya saja, dalam sebuah cerita klasik, saya lupa sumbernya cerita ini darimana. Suatu ketika pada sebuah tempat ada seorang pertapa yang terlihat mencoba menyeberangi sungai dengan berjalan kaki di atasnya. Seorang pemuda berjalan tak jauh dari tempat pertapa itu mencoba berjalan di atas air. Pemuda itu mengamati dan melihat sang pertapa berjalan di atas air, menyeberangi setengah dari lebar sungai sebelum akhirnya tercebur ke dalam aliran sungai. Lalu sang pertapa berenang ke seberang, dan kembali bertapa setelah mengeringkan bajunya.

Suatu hari sang pemuda iseng bertanya kepada sang pertapa itu, “Wah… anda hebat sekali Pak… anda bisa menyeberangi sungai ini dengan berjalan kaki di atasnya.”

“Ya…” jawab sang pertapa, “tetapi aku baru bisa menyeberangi setengahnya, masih kurang setengahnya lagi.”

“Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk bisa menyeberangi setengah sungai itu?” tanya sang pemuda.

“Saya butuh waktu dua puluh tahun pertapaan, dan mencoba mengenali segala anasir di dalam diri saya di pertapaan yang panjang itu”, kata sang pertapa.

“Waduh….. lama sekali ya”, sang pemuda kaget.

Lalu sang pemuda meninggalkan sang pertapa yang asyik dengan pertapaannya. Dia mengambil rakit di sisi sungai, dan lalu menyeberangi sungai dengan rakit bambu itu. Sambil berteriak, “saya butuh hanya lima menit untuk menyeberangi sungai dengan bambu ini, tuan”. Teriaknya pada sang pertapa.

Lalu sang pertapa itu tertegun. Dia sudah menghabiskan waktu puluhan tahun, asyik sendiri, mengkaji sesuatu yang bisa dicapai dengan sederhana selama lima menit saja. Dan seharusnya sisa waktunya bisa diperbuat untuk kemaslahatan yang lain.

Cerita itu, barangkali sebuah dongeng belaka. Tetapi pelajaran dari cerita itu kembali mengingatkan saya sewaktu saya kuliah dulu. Saat saya sempat menjadi MC pada salah satu acara diskusi.

Seorang pembicara, ustadz terkenal di bandung kala itu, mengatakan sebuah prinsip yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas. Yaitu “Think globally, act locally”.

Sebuah prinsip agar kita berfikir secara global, tetapi bertindak atau melangkah secara lokal alias sejangkauan kita saja. Karena permasalahannya anak muda ini kadang tenggelam dalam konsep besar mereka sendiri.

Belakangan saya akhirnya mengetahui bahwa wejangan itu bisa dimaknai secara lebih spiritual juga. Bahwa salah satu cara menjadikan ilmu kita bermanfaat adalah memastikan apa-apa yang kita ketahui itu akan terkonversi menjadi amal nyata.

Permasalahannya, kita sering think globally, berfikir besar, yang menyebabkan kita sulit melangkah. Misalnya saja kita berfikir tentang imperium besar islam, tentang polemik politik negara, tentang macam-macam, tetapi semua konsep besar itu urung menjadi kontribusi yang real kepada masyarakat.

Dalam hal spiritual pun begitu. Seringkali, karena ketertarikan yang besar kepada bahasan spiritualitas islam, saya begitu menikmati wacana perdebatan klasik Imam Ghazali vs Para filosof. Mencermati kajian imam Asy’ari dan mu’tazilah tentang sifat-sifat Tuhan, lalu melihat pendekatan yang lebih klasik. Dan bahasan tasawuf dengan berbagai pendekatannya. Tetapi, kemudian saya terhenti dengan pertanyaan saya pribadi. Bermanfaatkah ilmu ini?

Apa kontribusi real saya dalam memberdayakan segala bacaan ini?

Setidaknya dua hal ini bisa menjadi panduan bagi saya pribadi, apakah ilmu itu bermanfaat atau tidak? Ataukah sebuah ilmu hanya menjadi semacam candu, karena logika kita haus untuk menganalisa dan berfikir.

Yang pertama adalah apakah ilmu itu membuat kita menjadi semakin dekat pada Tuhan? yang kedua, apakah sebuah ilmu itu bisa kita konversi menjadi amal dan gerak nyata dalam hidup? Jika jawabannya YA untuk kedua hal itu, maka bermanfaatlah ilmu itu.

Seorang dokter gigi umpamanya. Menghabiskan puluhan tahun dalam hidupnya mengkaji mengenai salah satu syaraf gigi misalnya. Seandainya pekerjaannya tidak terlalu berkaitan dengan itu, pasien juga jarang yang ada kaitan dengan kajian syaraf yang terlalu njlimet. Dia tulis dan sharing kepada orang lain pun tidak. Dan tidak pula kajian itu membuat dia menjadi kagum pada kuasa Tuhan lewat ketelitian syaraf-syaraf gigi umpamanya. Maka ilmu itu gagal menjadi bermanfaat.

ilmunya bagus, tetapi dia sebagai pribadi gagal menjadikan ilmu itu berkontribusi real.

Tetapi, sebuah ilmu itu bisa menjadi asyik. Asyik bagi sang pembelajar ilmu itu sendiri. Karena fithrahnya nalar adalah butuh makanan. Makanan nalar adalah kajian-kajian. Tetapi semata asyik saja, tanpa tumbuh menjadi kebermanfaatan yang real, maka waspadalah terhadap kesia-siaan ilmu.


[1] HR. Ibnu Majah No. 925

*) Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

MENIRU AKHLAQ TUHAN

Dalam kisah-kisah beladiri shaolin yang terkenal itu, masyhur kita dengar kisah-kisah dimana seorang pendekar mendapatkan jurus-jurusnya terinspirasi oleh apa yang mereka lihat di alam. Misalnya jurus 5 hewan yang konon dibuat oleh biksu Tat Mo Chou Su dengan meniru gerakan binatang.

Tak hanya itu, kadang-kadang inspirasi dari alam itu juga lebih filosofis, misalnya terinspirasi untuk menjadi lembut seperti rerumputan, karena lembut seperti rerumputan-lah yang akan menyelamatkan kita dari badai, ketimbang keras seperti beringin tetapi akan tumbang.

Sepanjang sejarah, manusia sudah belajar banyak dari apa yang mereka lihat di alam.

Tetapi satu hal yang menarik, dari pandangan spiritualitas islam, bahwa belajar dari alam-pun bisa menjadi lebih “dalam” dan bernilai ibadah, jika kita memahami bahwa alam adalah sebagai “media cerita” dari Tuhan Sang Penciptanya.[1]

Berbagai-bagai pendekatan oleh para ulama sepanjang zaman, mereka tuliskan tentang kaitan antara Tuhan dan alam. Sedikit dari bahasan itu, sebatas yang saya pahami analoginya seperti ini.

Katakanlah ada seorang bernama Budi. Budi ini kita katakan “baik hati”.

Darimana kita simpulkan bahwa Budi ini “baik hati”? Tentu setelah kita melihat buktinya dari perilaku atau apa yang diperbuat si Budi. Umpamanya Budi selalu menolong temannya yang kesulitan uang, memberi pinjaman, kadang-kadang digratiskan, dan seterusnya. Maka ungkapan “Budi baik hati” menjadi nyata.

“Baik hati” ialah sifat yang dilekatkan pada Budi. Tetapi, “baik hati” tidak menjelaskan seperti apa jasad si Budi. Karena “baik hati” menjelaskan “perbuatan”. Sifat fi’liyah.

Ada juga penjelasan sifat lainnya. Misalnya, Budi tinggi, putih, rambut ikal. Itupun sifat, tetapi itu adalah sifat Dzatiyah, alias penjelasan tentang fisikal si Budi.

Sekedar analogi -yang tentu saja tak akan bisa menjelaskan dengan tepat tentang Tuhan- begitulah para arif merangkumkan bahwa sifat Dzatiyah Tuhan, seperti apa sebenarnya Tuhan itu tidak akan bisa dimengerti manusia.

Karena seperti yang dirangkum surat Al Ikhlas, bahwa DIA tidak mirip apapun saja. Segala apapun saja konsepsi mental manusia mempersepsi DIA pada sifat Dzatiyah-nya itu, mestilah keliru.

Yang manusia bisa mengerti adalah sifat fi’liyah-Nya. Alias, makna-makna yang bisa kita lihat dari perbuatan-Nya di alam ini.

Adapun Dzat-nya seperti apa, kita cukupkan saja bahwa DIA tak serupa tak seumpama.

Sifat-sifat fi’liyah, alias Asmaul Husna, itu menjabarkan mengenai perbuatan-Nya.

Jadi membaca alam dalam konteks Tuhan bercerita, itu akan membuat kita memahami kandungan makna dalam Asmaul Husna.

Kalau yang tadinya hanya terinspirasi oleh alam, sekarang menjadi setingkat lebih tinggi menjadi mengenal sifat-sifat / Asmaul Husna lewat alam semesta.

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW mengatakan yang kurang lebih maknanya adalah siapa yang meng-internalisasi asmaul husna, maka baginya syurga.[2]

Internalisasi, ini bagi saya pribadi adalah seperti menemukan “klik”-nya. Seringkali melihat alam, mempelajari apa yang terjadi, membuat menjadi mengerti oh begini toh Allah men-tadbir, mengurus alam semesta.

Misalnya melihat samudera yang menerima berbagai macam keragaman suply dari muara dan sungai-sungai, tetapi menetralisir semua, menyisihkan yang buruk-buruk. Lalu dari sana kita belajar penerimaan, belajar lapang, belajar keragaman, dan macam-macam.

Sebuah ungkapan yang masyhur di kalangan arif adalah “Takhallaqu bi akhlaq Allah”, berakhlaq dengan akhlaq Allah.

Akhlaq Allah itu maksudnya asmaul Husna itu. Tentu bukan dengan –semata– membaca tabel asmaul husna, lalu tahu artinya, lalu ditiru. Dalam pandangan saya, proses dinamisnya adalah dengan membaca segala yang terjadi di alam sebagai jalan DIA bercerita. Sebagai kenyataan sifat fi’liyah-Nya. Lalu dari sana kita belajar.

Kalau sifat fi’liyah-Nya (af’al) bisa diambil pelajaran. Tetapi kalau DIRINYA, Dzat-Nya. Tutup cerita, tak ada yang tahu. Rahasia di atas rahasia.[3]

Ada kebijakan klasik Lao Tzu yang semakna dengan ini saya temukan, yaitu meniru perilaku Dao (Tuhan, Sang Creator alam) menghasilkan De (kebajikan moral). [4]

Sebagaimana kita kenal bahwa sifat-sifat dalam Asmaul Husna itu banyak, tetapi secara global bisa dikelompokkan dalam dua sifat utama, yaitu keagungan (JALAL) dan keindahan (JAMAL).

Ibnu Athaillah as sakandari mengatakan kita berakhlaq dengan akhlaq JAMAL-Nya, meniru welas asihnya. Dan kita bersandar dengan akhlaq JALAL-Nya, keagungan, kebesaran kedigdayaan-Nya. Karena kebesaran dan keagungan hanya milik-Nya saja.

Tetapi Allah SWT sendiri sudah menyatakan bahwa rahmat-Nya mendahului kemurkaanNya. Dan DIA melebihkan rahmat-Nya atas hamba-Nya.[5]

Jadi DIA menciptakan di dunia ini dualitas yang tidak imbang. Karena DIA melebihkan rahmat-Nya atas murka-Nya.

Maka berakhlaq dengan akhlak Allah, “Takhallaqu bi akhlaq Allah”, adalah juga berarti hidup dalam cinta kasih. Meniru akhlaq Tuhan, dan berkasih sayang kepada sesama makhluq.

Umpamanya pelajaran-pelajaran dari akhlaq yang digelar di semesta ini adalah spektrum warna, maka memahami spektrum warna itu secara menyeluruh-lah yang menghasilkan warna putih.


References:

[1] Naquib Al Attas, The Concept Of Education In Islam

[2] “Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).

[3] Hakikat Dzat Tuhan tidak dapat diketahui, tidak akan dicapai cara pemecahannya dan tidak mungkin dapat diperoleh keputusan terakhirnya, sebab memang fikiran manusia ini tidak dapat mencakup sampai kepada persoalan itu. Mengapa demikian? Kerana sengaja manusia ini tidak diberi oleh Tuhan alat untuk mencapai tujuan tadi. Fikiran manusia dibatasi. (Sayid Sabiq, Unsur-unsur Kekuatan dalam Islam, 13 (1988)).

Hakikat Dzat Tuhan tidak dapat dilihat dan tidak dapat diketahui. Kerana fikiran manusia tidak dapat menjangkaunya dan manusia sama semasekali tidak diberi perangkat-perangkat untuk mengetahui-Nya. (Sayid Sabiq, Unsur-unsur Kekuatan dalam Islam, 9 (1988)).

[4] Wang, Andri (2016). Dao De Jing The Wisdom Of Lao Zi. Jakarta: Kompas Gramedia

[5] Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.”  (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim)

SPIRITUALITAS BUKAN ILMU ORANG TUA SAJA

Tadi malam anak saya camping di sekolahnya. Keren juga jaman sekarang, anak TK saja sudah ada camping segala, hehehe.

Tapi sesungguhnya yang lebih cemas bukan anaknya, melainkan orang tuanya. Malam-malam saya dan istri menyambangi TK anak saya, dan menyerahkan sekotak susu UHT, kebiasaan anak kalau malam-malam selalu minum susu sebelum tidur.

Istri saya memberitahu, bahwa banyak para orang tua yang malah tak bisa tidur karena mencemaskan anaknya, dan selalu bertanya pada guru-guru di sekolah tentang bagaimana kondisi anaknya.

Ibu gurunya, kemudian melaporkan secara berkala kondisi anak lewat media group whatsapp. Seru juga saya lihat.

Saya teringat, sebelum camping, anak saya bertanya macam-macam pada kami. Tentang bagaimana nanti dia tidurnya? Bagaimana kalau dia berebut selimut dengan teman-teman? Bagaimana kalau dia tidak ada tenda? Dikiranya setiap orang harus punya tenda sendiri. Dan banyak lagi pertanyaan yang keluar dari ketidak-tahuannya mengenai konsep camping itu.

Tapi lepas dari itu, satu yang saya sadari, bahwa pertanyaan anak saya itu banyak berkaitan dengan bagaimana dia harus bersikap dalam interaksinya dengan orang lain. Itu inti dari pertanyaannya.

Saya perhatikan, anak-anak usia TK sudah mulai melihat keragaman pada dunia, dan mulai mencoba menemukan ritme yang pas untuk memposisikan diri dalam keragaman itu.

Dan banyak pendidikan sekarang sudah mulai mengenalkan pendekatan “bersikap dalam keragaman” itu.

Umpamanya saja, sering kita baca di media sosial, sebuah meme atau sebuah artikel tentang bagaimana jepang lebih khawatir anak-anak mereka usia SD tak tahu bagaimana cara mengantri, tinimbang anak-anak mereka tak bisa mengerjakan soal-soal berhitung. Karena, menurut mereka kemampuan mengantri itu lebih penting, lebih elementer dibanding hitung-menghitung

Baru saya paham duduk perkaranya sekarang, bahwa kemampuan antri dianggap lebih elementer dibanding hitung-hitungan adalah karena kemampuan antri mengajarkan anak untuk tahu bagaimana bersikap dalam keragaman.

Saat anak-anak mulai mengenal bahwa dalam kehidupan sosial mereka tak hanya ada mereka sendiri, tetapi ada juga orang lain. Maka pertanyaan mendasar anak saya tentang bagaimana kalau nanti dia berebut tenda, bagaimana kalau nanti rebutan selimut, dan sebagainya, sebenarnya adalah sudah mulai merupakan bagian dari upaya anak untuk menemukan “makna” itu, yaitu bagaimana bersikap dalam keragaman.

Itulah sekarang sudah mulai banyak ditemukan apa yang orang-orang sebut dengan “pendidikan karakter”. Tentang bagaimana “behave”, bersikap dalam keragaman itu.

Tetapi, hal ini menyadarkan saya satu hal. Bahwa bagaimana “bersikap” dalam keragaman itu masih normatif. Masih belum mendasar dibandingkan “kenapa ada keragaman?”

Disinilah saya baru paham, sisi spiritualitas, dimensi esoteris agama adalah keping mata uang yang menjawab pertanyaan itu. Tentang kenapa ada keragaman? Tentang mengapa manusia ada, dan mengapa berbagai-bagai? Semua adalah untuk menceritakan Sang Empunya. Maka keragaman adalah fithrah yang tidak bisa dibantah. Sebagai wujud kreasi tak terbatas dari Sang Empunya yang tunggal.

Itulah mengapa, menurut saya, mempelajari tasawuf atau sisi spiritualitas agama menjadi begitu penting. Belajar menemukan makna itu.

Kita sudah belajar bahwa ada keragaman di dalam hidup. Lalu orang-orang mulai memperkenalkan cara “behave” cara bersikap normatif dalam keragaman yang ada lewat macam-macam pendidikan karakter, moral, kenapa tidak menyelam lebih dalam pada sesuatu yang lebih elementer lagi?

Dan itulah sebenarnya tasawuf. Atau namakanlah apapun saja itu, selama itu mengajak kita untuk bertanya dari hal yang paling mendasar dalam hidup, siapa kita, siapa Tuhan kita, dan kenapa ada keragaman berbagai-bagai ini?

Melihat lewat bingkai paling besar dalam hidup, bahwa DIA menceritakan diriNya sendiri lewat keragaman makhluq-Nya. Itulah tema tunggal dalam hidup.

Dalam konteks belajar memberi makna pada hidup inilah, saya baru sadar bahwa tasawuf bukan melulu ilmu orang tua. Tasawuf adalah bagian tak terpisahkan dari syariat itu sendiri. Aspek fisikal, dan aspek batin yang mesti seiring.

Syariat mengajari kita tata aturan yang harus dipahami, dalam corak kita masing-masing sebagai bagian dari keragaman. Maka tasawuf mengajari kita melihat keragaman sebagai cara Tuhan bercerita tentang diri-Nya sendiri. Dua-duanya penting. Dan dua-duanya mengiringi manusia sejak kecil hingga dewasa, pada tahapannya sendiri-sendiri.