PENGEMIS HUJAN, DAN PEMULUNG KEBAIKAN

pengemis_sakitSaya sering sekali bertemu dengan orang-orang yang membuat saya merasa begitu kecil. Orang-orang yang biasa, gesture yang biasa, bersahaja, tetapi setelah mendengarkan cerita tentang mereka, baru saya tahu bahwa saya sudah tertipu pada tampilan.

Tampilan boleh biasa, boleh glamour, boleh seperti brangasan, tetapi hati siapa yang tahu?

Seperti kemarin. Bertemu dengan seorang yang biasa saja, santai, ketawa-tiwi pokoknya biasa, tetapi baik sekali dalam menjamu tamunya. usut punya usut, dari sana saya mendengar cerita bahwa orang ini pernah suatu kali sedang bermotor, hari hujan, dan di kantongnya menyisakan uang dua puluh ribu rupiah saja, yang semestinya hendak digunakan untuk membeli bensin.

Ndilalah, bertepatan dengan itu dia melintasi seorang peminta-minta yang tidak bisa berjalan, karena lumpuh. Sedang hari hujan lebat. Apa yang dilakukannya?

Terus terang, kalau saya sendiri mengalami hal itu, hari hujan, bensin sekarat, uang tinggal 20 ribu, saya tak akan sempat untuk memperhatikan pengemis di sepanjang jalan yang memang banyak bertebaran di Jakarta. Tetapi orang ini malah berhenti, menolong sang pengemis yang jalan menyeret kakinya. Digendongnya pengemis itu di bawah hujan, dan diberikannya uang 20 ribu sisa satu-satunya itu pada sang pengemis. Lalu pulang dengan susah payah karena bensinnya habis, di hari yang hujan dan basah  itu.

Saya “mbrebes mili” mendengar cerita itu. Konon selepas itulah katanya rizki orang ini mengalir begitu gampang. Tidak mewah tentu saja, tetapi kemudahan itu nyata sekali, karena rizkinya tertengok melebihi yang semestinya didapat dari usahanya.

Orang-orang biasa, yang seringnya malah tertutupi dari pandangan kita. Yang semacam inilah yang sering membuat saya malu sendiri.

Saya gemar menulis, gemar belajar tentang spiritualitas, tetapi apa sebenarnya sumbangsih nyata yang sudah saya berikan pada khalayak? Apa sumbangsih saya bagi kehidupan dan orang-orang?

Maka sering sekali saya setiap hari pagi beranjak, saya menggumam-gumam dalam hati, apaaaa ya? Apaaa yang saya bisa perbuat hari ini? Kebaikan apa yang bisa diperbuat hari ini? Demi menggenapi kepingan hati yang merasa tertinggal dari pencapaian orang-orang luar biasa itu tadi.

Tetapi setiap di penghujung hari pula sering merasa, waduh…. Tak ada sesuatupun yang saya perbuat hari ini. Hanya hari yang biasa, dengan amalan yang biasa pula. Belum berbuat apa-apa….masih jauuuh.

Kembali saya teringat dengan wejangan seorang guru, bahwa kita beramal, itu karena tertuliskan untuk kita beramal.

Dalam pandangan seperti itu, saat kita ingin mendekat kepada-Nya dengan amal, maka bukan amalnya itu sendiri yang jadi fokus, alih-alih kesadaran bahwa kalau DIA tulis beramal, maka beramalllah kita.

Maka untuk beramal saja kita sudah mulakan dengan bermohon agar ditakdirkan beramal. Dan kuncinya ternyata disitu, saat kita berdo’a untuk kemudahan amalpun, kita harus menyadari dan menengok kebelakang bahwa jenak dimana kita berdo’a itu saja sudah sebuah kenyataan bahwa “dituliskan” kita akan berdo’a, maka kita bersyukur untuk telah dimasukkan sebagai golongan orang-orang yang berdo’a.

Singkat kata…. Resolusi saya di tahun 2017 ini adalah semoga Allah SWT memberikan saya kesempatan untuk berbuat yang terbaik yang saya bisa, dan menjadi seperti yang Rasulullah SAW sabdakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik atau berguna bagi manusia lainnya.

Bolak-balik lagi, memang sumbangsih yang paling gampang yang saya bisa lakukan adalah menulis. Karena menulis bisa dilakukan kapan saja. Dan insight untuk menulis itu muncul begitu saja.

Ya mudah-mudahan, tulisan yang biasa ini bisa menjadi salah satu amal yang membuat saya tak ketinggalan-ketinggalan amat dengan orang-orang yang spiritualitasnya meroket ke langit, meski tampilan mereka sering kali ditutupi oleh Tuhan, agar manusia tak mengenali mereka.

Kembali saya teringat yang dikatakan Ibnu Athaillah, ”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”

Inilah setetes perbuatan yang saya bisa lakukan, menuliskan ulang cerita kebaikan yang saya pulung di sepanjang jalanan. Bukan tentang saya, tetapi tentang betapa memesonanya hamparan kebajikan yang Allah tebarkan di sepanjang kehidupan, dan betapa berharganya pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s