ENAM DIRHAM DAN HARMONI LUAR DALAM

 

Dalam suatu kisah, yang saya sempat dengar dari radio aswaja, tersebutlah Imam Ali r.a menyedekahkan uang 6 dirham yang merupakan harta satu-satunya yang saat itu dipunyai. Padahal di rumahnya sedang kesulitan juga. Lalu, kata beliau kurang lebih begini, seseorang tidak mencapai derajat keimanan yang sempurna sebelum dia lebih bersandar pada apa yang “ada di tangan Allah” ketimbang apa yang berada di tangannya sendiri.

Saya belum menemukan literatur dimana kisah itu dikutip, karena saya tak sempat mencatatnya sewaktu saya mendengar cerita itu sembari menyetir mobil. Tetapi, kisah semakna yang menggambarkan tentang amalan luar biasa dari para sahabat, dan tentunya dari Rasulullah SAW sendiri; sangatlah banyak.

Yang terfikirkan oleh saya waktu itu adalah, apa yang mendorong para sahabat dan orang-orang shalih untuk bisa berbuat seluar biasa itu?

Setidaknya ada dua approach atau dua pendekatan yang saya amati, dalam khasanah spiritual islam, mengenai bagaimana memperbaiki sisi spiritual seseorang.

Pendekatan pertama adalah menggenjot peribadatan atau amaliyah sebanyak-banyaknya. Dalam pendekatan seperti ini, yang ditekankan adalah bagaimana kita bisa meniru sebanyak-banyaknya amaliyah yang dilakukan orang-orang shalih. Diperbanyak ibadahnya, sholatnya, dzikirnya, baca qurannya, sedekahnya, dan lain-lain….. dengan harapan bahwa nantinya amal ibadah itu akan menjadi semacam solar atau bensin yang menggerakkan genset. Begitu genset menyala, nanti peribadatan akan menjadi gampang, bisa karena biasa, lancar kaji karena diulang.

Pendekatan kedua, adalah dengan menyadari bahwa amal ibadah manusia, adalah aspek fisikal. Aspek fisikal adalah sesuatu yang timbul karena gerak batin. Umpamanya menangis, maka aktivitas menangis hanyalah imbas dari sedihnya hati. Sedih hati, tersebab memikirkan sesuatu. Maka dalam runutan yang logis semacam itu, adalah penting untuk membenarkan aspek batiniahnya dulu, jika aspek batiniah benar, maka amal akan mewujud sebagai konsekuensi logis. Sederhananya, bagaimana cara menangis? Bukan pikirkan aspek fisikalnya dengan ngucek-ngucek mata sampai perih, tetapi mulai dari gerak batin memikirkan hal yang sedih maka air mata sebagai implikasi logis akan keluar.

Tentunya, dua-duanya tidak bisa dipisahkan. Gerak dalam dan luar sama-sama penting. Untuk anak-anak, yang paling logis barangkali adalah pembiasaan dulu. Karena pemaknaan yang lebih filosofis, esoteris akan sulit bagi anak-anak.

Tetapi seiring mendewasanya kita, saya rasa tidak bisa tidak kita harus masuk ke dalam pemaknaan esoteris itu, agar ibadah tak hanya menjadi gerak fisikal semata.

Maka bagi rekan-rekan yang –hanya-mempelajari aspek fisikal islam, seperti ritual sholat bagaimana caranya, jumlah sedekah berapa persen, dst…. Itu sudah mantap, tetapi akan agak timpang tanpa mengenal dimensi batinnya.

Saya perhatikan, ada beberapa penjelasan dimensi batin yang masuk akal untuk menggerakkan orang beramal, contohnya misalnya sedekah itu tadi. Yang pertama barangkali dimensi batin yang dipakai adalah sisi kemanusiaan, sisi emosional.

Ngelihat orang miskin, kok sedih, haru…. Lalu dipikirkan bagaimana ya kalau misalnya saya yang mengalami, wah…. Makin nelongso…. Saking nelongsonya jadi tergerak membantu, ayo kita bantu, maka berduyunlah orang membantu karena didorong oleh dimensi batin berupa sisi emosional kemanusiaan kita. Ini bagus.

Ada juga contoh dimensi batin juga, yaitu orang bergerak karena terdorong oleh kenikmatan yang lebih langgeng. Dan balasan dari Allah SWT[1] ini juga dimensi batin. Jadi karena tergerak akan balasan kebaikan yang dijanjikan Allah SWT, maka amaliah akan mewujud. Ini luar biasa.

Tapi ada pemaknaan batin yang kita jarang pakai, yaitu utamanya diri saya pribadi. Bahwa dalam beribadah dan gerak kita di dunia ini, semuanya dalam makna tunggal yaitu Allah menceritakan diriNya sendiri. Jadi makhluq diadakan untuk mengenali Sang Penciptanya. Maka segala gerak kebaikan adalah untuk menjawab tugas utama itu.

Katakanlah pertamanya kita didorong oleh sisi kemanusiaan, karena sedih melihat orang susah, maka kita bantu. Lama-lama kita bantu orang, meskipun tak selalunya sisi emosional kita tersentuh, lha wong kita yakin bahwa setiap kebaikan akan diganjar Tuhan kok, maka kita berbuat baik.

Lama-lama, puncak dari segala pertanyaan dan alasan-alasan itu adalah Tuhan itu sendiri. Kok bisa ya, saya ada rasa sedih melihat orang lain susah? Kenapa ya saya bisa tertarik dengan keindahan syurga? Maka ujung dari pertanyaan itu adalah bahwa rasa sedih kita itu dalam rangka DIA ingin makhluq-Nya melihat diriNya sebagai yang Maha Kasih, maka ada orang yang dibuat sedih dan tergerak membantu. Sedangkan syurga adalah juga representasi sifat Jamaliyah / keindahanNya.

Ujung-ujungnya, tidak ada satupun analisa dan pertanyaan yang tidak berawal dan tidak dipuncaki oleh Tuhan itu sendiri. Karena kita diciptakan memang untuk mengenaliNya.

Itulah sisi pemaknaan yang masih jarang saya pakai, yaitu peribadatan atau gerak fisikal kita harusnya timbul dari kesadaran batin bahwa kita ingin menemui-Nya. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, lakukan amal shalih.[2]

Di atasnya lagi, para guru yang arif mengatakan bahwa Dia menceritakan diri-Nya sendiri, lewat pagelaran yang berbagai-bagai. Maka dalam bergerak menujuNya-pun yang semestinya terlihat oleh pandangan hati kita adalah gerak takdir-Nya di Lauh Mahfudz. Dalam tema besar DIA ingin dikenali.

Sangat penting kita mengetahui pola ini. Agar menjadi arif. Ada golongan yang mendekati Tuhan lewat approach pertama. Ada yang lewat approach kedua. Kombinasi keduanya sudah barang tentu paling bagus. Tetapi yang paling pokok adalah dengan usia yang sudah sebegini, akan sangat ketinggalan jika kita tidak menengok dimensi esoterisnya islam. Dan mengabaikan dimensi batin dengan khasanah yang sangat luas ini.

References

[1] “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”.

[2] Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa“. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“. [QS. AL KAHF 18:110]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s