MENGGENAPI KEPINGAN RASA KITA SENDIRI 

Anak saya kemarin sore hampir menangis di Musholla. Pasalnya sederhana, dia tak hendak sholat di sebelah temannya yang biasa ajak dia ngobrol waktu sholat maghrib. Sedangkan, temannya ini ngambek karena anak saya tak menimpali waktu diajak ngobrol pas sholat, pulang sholat ditinggal, ga mau temenan. Jadi anak saya merasa sedih karena temannya ngambek dan memaksa saya untuk mendamaikan dia dan temannya. Khas anak-anak sekali

Antara lucu dan trenyuh saya waktu itu. Lucu karena lihat anak kecil ngambek-ngambekan. Tapi trenyuhnya karena melihat ada emosi ketakutan pada anak saya itu. Dia takut temannya marah.

Kenapa kamu takut? Tanya saya….. dijawablah panjang lebar oleh anak saya, yang kalau saya simpulkan sebenarnya anak saya takut pada dirinya sendiri. Takut dia tidak bisa beradaptasi pada lingkungan kalau tak ada temannya yang biasanya akrab padanya itu. Jadi bukan timbul dari rasa iba pada temannya, tetapi sebenarnya karena ketakutannya sendiri bahwa dirinya tidak bisa adaptif tanpa temannya tadi.

Saya, dan barangkali juga rekan-rekan yang membaca ini, sebenarnya kita tak beda dengan anak-anak. Dan saya rasa semua manusia juga sama. Seluruh gerak yang kita lakukan, sebenarnya adalah upaya menggenapi “rasa” kita sendiri.

Kita bergerak mencari makan (gerak luar), sebenarnya adalah upaya menggenapi rasa kita sendiri (yaitu lapar).

Ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal, tetapi saya lupa siapa yang mengatakan hal ini, “Manusia berjalan jauh, pergi ketempat-tempat yang belum pernah dikunjungi, untuk kemudian menemukan apa yang mereka cari ada di “rumah”.

Kalau secara lebih spiritual, semua gerak kita di dunia fisikal, sebenarnya kalau diteliti mestilah sebuah upaya kita untuk menggenapi kepingan “rasa” di dalam diri kita sendiri.

Orang liburan, misalnya. Pergi ke tempat-tempat yang indah. Sebenarnya yang dia cari bukan liburnya, tetapi menggenapi kepingan rasa di dalam hatinya sendiri, yaitu keinginan menemukan situasi damai yang “relaxing”. Rasa damai dan bahagia itu, ada di dalam. Tetapi orang-orang bergerak ke luar untuk menemukan definisi bahagia yang di dalam itu.

Itulah perjalanan hidup. Orang bergerak kesana kemari, mencari kesana kemari. Semuanya sebenarnya dalam rangka memahami, menggenapi ruang dirinya sendiri. Sampai menemukan dirinya secara utuh.

Hanya saja, dalam kaitannya bergerak di dunia fisikal ini, tidak semua orang berkesempatan untuk benar-benar jujur dan berani menilai dirinya sendiri, apa sebenarnya kepingan rasa yang hilang di dalam dirinya itu?

Maka ada orang yang hobinya kerja…kerja…. Terus bekerja jumpalitan tanpa pernah tahu bahwa sebenarnya kenapa dia bekerja seperti tak kenal lelah itu? Padahal, boleh jadi ada kepingan rasa ingin dihargai, jadi dia berupaya menggenapi rasa ingin itu dengan menemukan puzzlenya di dunia fisikal.

Seandainya jujur menelisik diri. Dan berani mengakui ke dalam diri bahwa ada kepingan puzzle yang belum utuh dalam diri kita sendiri, maka semakin jujur kita akan semakin tahu kepingan rasa apa yang hilang dari diri kita. Maka akan semakin gampang kita menemukan puzzlenya di dunia fisikal.

Ada suatu contoh dari seorang guru yang Arif, mengenai kepingan rasa “takut”. Kata beliau, rasa “takut” itu hanyalah alarm, bahwa ada informasi mengenai suatu hal yang kita belum mengerti. Maka jangan takut kepada rasa takut, tetapi sadarilah bahwa rasa takut hanya mekanisme diri kita mengabari bahwa ada info yang belum utuh yang kita tak tahu.

Misalnya, jaman dulu orang takut pada gorilla. Rasa takut membuat orang menghantu-seramkan gorilla. Tetapi zaman sekarang, anak-anak bisa menonton gorilla di kebun binatang, dengan tertawa-tiwi. Karena info mengenai gorilla sudah kita dapatkan secara utuh.

Awalannya adalah penerimaan diri. Menerima, dalam artian segenap kepingan rasa yang muncul kita terima sebagai takdirnya diri kita saat ini. Kecewa, marah, gelisah, sedih, takut…. Kita terima sebagai bagian dari jagad kecil diri kita sendiri.

Dulu, kalau menyadari emosi atau kepingan rasa yang negatif di dalam diri, saya sering tidak menerima. Tanpa menyadari bahwa “denial” atau tidak terima pada kepingan rasa sendiri itu menyebabkan saya gagal mencari tahu apa masalahnya, dan apa tindak lanjutnya yang harus saya lakukan di dunia fisikal.

Penting sekali, kejujuran menilai apa sebenarnya yang paling dalam dari kepingan kepingan itu? Maka setelah tahu barulah kita bergerak mencari penggenapnya di dunia fisikal. Jika kita takut akan sesuatu, maka cari info lebih banyak tentang sesuatu itu, alih-alih berlari.

Jika kita sedih akan sesuatu, alih-alih membenci, kita pahami lagi kenapa kita bisa sedih? Apakah benar seseorang itu membuat kita sedih, atau karena cara pandang kita sendiri yang membuat sedih? Kita pahami ini sebelum kita bergerak di dunia fisikal. Karena keliru mengenali kepingan rasa diri sendiri, membuat kita gebyah uyah di dunia fisikal. Ini sering sekali terjadi, utamanya pada diri saya sendiri.

Dan ini bagian rahasianya. Perbedaan antara kita dan para Arif, adalah mereka sudah sampai pada level dimana mereka menyadari betul bahwa semua kepingan rasa dan kepingan pemahaman yang kita miliki, itu bukan kita yang buat. Semuanya “diturunkan”, given, alias kita manusia hanya menjadi “receiver”.

“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. QS﴾ Asy Syams:8 ﴿

Sebelum bergerak kalang kabut di dunia fisikal, sangat menarik untuk mengamati dengan jujur rasa dan pemahaman yang turun silih berganti. Dan betapa bahwa semua itu memang benar-benar diturunkan. Insight.

Dan kejujuran mengamati kepingan rasa dan insight yang turun itu, akan membenarkan bahwa kepingan rasa terdalam manusia adalah fithrah ingin mengenali Tuhannya. Manusia akan mencari jawaban, kenapa saya sedih, kenapa saya pengen bahagia, kenapa saya takut, apa ini semua? terus masuk dalaaaam lagi. Ini semua kok silih berganti datang. Kok datang ya? Ini bukan saya cipta, siapa penggerak ini semua? Bagaimana mekanismenya? Dan macam-macam.

Sumber terdalamnya adalah keinginan mengenali Tuhan. Sang pencipta segala fenomena itu.

Maka semakin dalam kepingan rasa yang disadari, maka semakin gerak di dunia fisikal akan memiliki bobot. Istilah islam menyebutnya ikhlas.

Karena semakin dalam, akan semakin menyadari bahwa semua gerak fisikal mestilah dalam satu tema tunggal, yaitu “mengenali Tuhan”. Seperti kata Ibnu Abbas bahwa maksud “beribadah” dalam “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)….adalah untuk mengenali-Nya.

Saat kita menyadari bahwa keseluruhan gerak apapun saja yang terjadi pada dunia fisik ini, sebenarnya adalah menggenapi kepingan rasa batin kita sendiri, dan kepingan rasa terdalam adalah keinginan mengenali Tuhan, maka serta merta kita melihat bahwa keseluruhan hidup ini benar-benar seperti kata para arif, yaitu cara DIA bercerita.

DIA menceritakan diriNya sendiri.

Diciptakan makhluq, lalu diilhamkan berbagai-bagai, karena diriNya sendiri ingin dikenali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s