MENGGENAPI KEPINGAN RASA KITA SENDIRI (2)

Dulunya, sikap keberagamaan saya sama sekali tak memerhatikan dimensi esoterisnya. Dimensi batin dalam beragama tak saya mengerti, karena beragama dengan mindset yang terlalu ritual. Lalu mulai mengenal dimensi batin dalam beragama, semenjak dihantam badai hidup.
 
JEDERRR…mulai bertanya. Kenapa kok ritual –semata- belum menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup saya? Kenapa kok ada gelisah? Kenapa kok cemas? Kenapa kok tidak terima? Kenapa sedih? Hal-hal mendasar yang tidak terjawab dengan –semata- mempelajari premis-premis fikih.
 
Disitulah kemudian baru saya mengerti, bahwa beragama mesti lengkap dengan dua keping sisinya, dimensi fisikalnya yaitu aspek syariat dan legal formalnya, lalu dimensi batinnya, pemaknaannya, esoterisnya, dimensi rasa, spiritual[1]. Bila hanya satu saja, mesti timpang.
 
Dari sana saya baru mengerti bahwa indah sekali perjalanan hidup ini sebenarnya. Semua grasa-grusu, lintang-pukang, jatuh-bangun kita di dalam hidup (dunia fisikal), sebenarnya pada gilirannya menghantar kita untuk menemukan makna di dunia rasa itu lho. Dimensi batinnya.
 
Kalau gonjang-ganjing hidupmu, asalkan benar-benar mau belajar, coba tengok di dimensi rasa, mesti membludak-bludak pelajaran.
 
Semua mesti sepasang-sepasang. Para nabi itu, dunia fisikalnya ga karu-karuan ujiannya, tetapi dimensi batinnya juga begitu kaya menjerat hikmah dan wisdom.
 
Dulu, sempat saya waktu lagi gandrung belajar beladiri. Belajarlah saya dengan seorang guru yang saya respek sekali dengan beliau. Seorang anak dari kalangan berada. Lulusan ITB. Pinter dan kaya. Tetapi malah menghabiskan masa tuanya dengan membangun sebuah rumah di pegunungan pinggiran jalan lintas Bandung-Sumedang. Disana dia membangun pesantren.
 
Dulu, waktu saya masih kuliah, pesantren itu masih cita-cita saja dari beliau, tetapi sekarang terakhir saya dengar kabar sudah berdiri.
 
Luar biasa. Barulah saya paham, seperti guru itu, dan seperti jamaknya cerita berhikmah lainnya, segala gerak di dunia fisikal, gerak luaran yang mereka lakukan itu sebenarnya hanya mencari kepingan hikmah atau merumuskan definisi yang sebenarnya sudah ada dalam rasa mereka sendiri.
 
Barangkali, disanalah kelirunya sementara orang, yang tidak mendapat wisdom atau hikmah, karena mereka hidup dalam dunia yang semata fisikal. Dikiranya dunia fisikal itulah kuncinya. Padahal, pengalaman dunia fisikal hanya menghantarmu menemukan kepingan rasa dan makna dalam dirimu sendiri.
 
Itulah sebab, dua keping itu mesti ada. Beragama dengan syariat legal formalnya, dan juga menekuni dimensi batinnya itu. Karena toh segenap hidup kita hanya cerminan dari usaha menemukan makna di dalam hati itu.
 
Mungkin orang-orang bilang, mencari jati diri.
 
Kalau makna-makna itu ketemu. Semakin dalam. Berujung pada pengertian bahwa semua hal dalam hidup ini menceritakan tentang Tuhan itu sendiri, maka masuk di akal kita, kenapa Abu Bakar r.a. dikatakan mengungguli sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam lainnya, bukan karena aspek fisikal amalnya, tetapi karena dimensi batinnya.[2]
 
Kadang-kadang, makna yang kita temukan itu sudah sering diucapkan, diajarkan para arif. Tetapi, internalisasinya baru kita dapatkan pas kita bergerak di dunia fisikal.
 
Itulah mengapa, kita harus juga “nrimo” pada level spiritualitas kita sekarang. Karena, jika setiap kepingan makna atau rasa itu baru akan makjleb alias mengalami internalisasi setelah kita menjalani dunia fisikal-nya; maka tidak sabar dengan spiritualitas kita saat ini sama saja dengan mengundang seluruh kejadian hidup untuk menyambangi kita dalam satu waktu. Bisa hancur kita.
 
Tapi satu hal ini yang paling penting, selepas kita mengetahui bahwa dimensi syariat saja tidak cukup, harus dilengkapi dengan dimensi batin, belajar makna dan rasa….. patut kita tahu bahwa dimensi batin ini personal sekali.
 
Kita tidak bisa, untuk menilai seseorang, “wah….kurang dalem ni orang ini”. Karena kita tidak bisa menilai spiritualitas seseorang.
 
Hukumnya dunia fisikal, adalah seseorang terhukumi atau ternilai sesuai dengan apa yang nampak secara fisik. Jika ada orang beramal secara fisikal, berarti baguslah orang itu dalam pandangan syariat. Dan itu SAH lho, secara hukum dunia fisikal.
 
Tetapi dalam pandangan Tuhan, bisa jadi berbeda sekali antara timur dan barat, antara yang hanya syariat fisikal, dan yang sudah ketemu “klik” dengan makna-makna batinnya itu. Seperti Abu Bakar r.a.
 
Maka itu, dari kesimpulan sederhana saya, sejauh yang saya amati. Begitu banyak pertanyaan dalam hidup menjadi terbantu terjawab jika mempelajari dimensi batinnya agama. Lahir dan batinnya, fisikal dan rasanya, seperti sekeping uang logam dengan dua sisi yang saling melengkapi.”

References

[1] Dalam tulisan ini, makna “Spiritualitas” yang dimaksudkan adalah dimensi batin (esoteric) atau jiwa agama dalam kehidupan manusia modern. (mengutip dari Tafsir Al-Qur’an tematik, Spiritualitas Dan Akhlaq, Kementrian Agama RI.

[2] “Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya salat dan banyaknya puasa, tapi karena sesuatu yang bersemayam di hatinya.” (HR at-Tirmidzi)

Imam Abu Bakar bin ‘Ayyaasy berkata: “Tidaklah Abu Bakar ash-Shiddiq  mendahului/mengungguli kalian (dalam kebaikan) dengan (hanya semata-mata karena) banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi karena sesuatu (kesempurnaan iman dan takwa) yang ada di dalam hati beliau” Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/82).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s