TELEPON KANTOR, DAN PINTU DEPAN YANG KELAPARAN

Suatu hari saya ditelepon dari kantor untuk sebuah urusan. Saya mengangkat telepon itu, tetapi seketika itu juga sembari menelepon  saya “mengamati” ada gejolak dongkol di hati saya.

Secara fisik, verbal, dan gesture, saya memang tidak terlihat sedang dongkol. Nada bicara saya di telepon biasa saja.  Pilihan kata biasa saja. Tetapi di dalam ruang perasaan, di dalam hati, saya menjujuri dengan jelas bahwa ada gejolak kesal.

Saya menjaga jarak dengan gejolak kesal itu. Lalu saya mengingat-ingat, apa gerangan yang menyebabkan emosi dongkol ini menyeruak?

Belakangan saya baru paham, bahwa emosi itu menyeruak karena waktu itu saya sedang menginginkan suasana hening yang kontemplatif, hasrat terhadap suasana hening yang kontemplatif itu terinterupsi oleh dering telepon karena urusan kantor. Padahal saya sedang cuti. Maka emosi kesal yang terbit dari keinginan akan keheningan itu; menampakkan dirinya.

Rekan di seberang telepon tak tahu bahwa saya kesal, karena saya tak menuruti rasa dongkol itu, dengan tetap menjaga ramah tamah perbincangan. Tetapi yang sebenarnya kaget adalah diri saya sendiri. Lho kok bisa ada rasa kesal yang keluar tiba-tiba? Ada sebuah emosi kekesalan yang tersembunyi, dan baru menampakkan diri oleh pemicu yang remeh temeh sahaja.

Dalam kasus saya, emosi negatif yang muncul itu adalah pengaruh persepsi fikiran. Emosi atau perasaan yang muncul, hanyalah menjadi “pelapor” atas penyebab utamanya, yaitu fikiran saya sendiri.

Seumpama rasa lapar. “rasa lapar” tidak berdiri sendiri, dia hanyalah akibat. Bisa jadi “rasa lapar” adalah akibat dari perut yang memang keroncongan dan belum diisi (penyebab fisik). Atau rasa lapar sebagai akibat dari fikiran, seperti misalnya seharian nonton acara kuliner di TV, maka “rasa lapar” akan terbit.

Mengetahui bahwa “rasa” atau “emosi” hanyalah sebagai “laporan” atas sesuatu yang terjadi pada diri kita, dapat berguna secara praktikal. Karena Allah telah menciptakan mekanisme pelaporan yang begitu canggih pada diri manusia, yaitu “rasa”.

BAGAIMANA MENGATASI RASA LAPAR?

Untuk menjawab pertanyaan itu, tentulah harus diketahui dulu, lapar seperti apa yang dimaksud?

Apakah lapar karena lambung kosong? Jika Ya, maka makanlah. Itu obatnya. Penyebab fisikal, diselesaikan pada ranah fisikal.

Jika lapar yang dimaksud itu adalah sesuatu yang disebabkan oleh fikiran, maka menghentikannya adalah stop fikiran itu! Alihkan fikiran agar rasa lapar yang ilusi itu hilang. Atau rubah cara pandang.

Dengan analogi seperti di atas itulah, “perasaan” atau emosi-emosi karena pola pikir, cara memandang hidup, bisa disembuhkan dengan spiritualitas islam. Paradigma Makrifatullah akan menyembuhkan “rasa” negatif oleh sebab cara pandang yang keliru pada hidup.

Seorang Arif, membahasakan cara pandang seperti ini dengan “memandang lewat pintu Depan”.

Setiap kali memandang sesuatu, sadari bahwa yang kita pandang itu bukanlah benar-benar “wujud sejati”. Yang kita pandang adalah makhluq, sifat-sifat yang dimunculkan dari realita yang tiada umpama, tak terjangkau inderawi. dzat-Nya. Sebagaimana hadits “demi (Dzat) yang jiwaku ada di dalam genggamanNya”.

Jadi kita melihat makhluq (sifat-sifat), lalu menafikan apa yang terpandang dan mengitsbatkan (menetapkan / meyakinkan / menyadari) bahwa realita yang terpandang itu dalam genggaman Dzat-Nya. Terjadi segala sesuatu karena ketetapan-Nya. Dan ketetapan-Nya pasti berhikmah.

Sehingga apa yang diperbuat makhluq akan tak berimbas, sebab kita selalu menafikan pandangan dari sifat-sifat yang nampak zahir.

Selalu belajar memandang hidup dalam tema tunggal, DIA menceritakan diriNya sendiri.

Kembali dalam cerita di atas tadi, cara menghilangkan rasa dongkol psikis saya itu, adalah sudah tentu dengan kembali mengingati bahwa segala kejadian adalah telah masuk dalam takdir-Nya. Telepon berdering juga dalam takdir-Nya. Yang menelepon sejatinya adalah makhluq (sifat-sifat) yang hanya bergerak mengikut apa yang tertulis di Lauh Mahfudz-Nya.

Nafi-Itsbat…nafi-itsbat… menafikan apa yang tampak, mengitsbatkan bahwa semua sifat-sifat yang tampak hanya muncul dari realita ilahiah, Dzat-Nya yang tiada ada umpama. Begitulah cara pandang dari pintu depan.

Tetapi, meskipun mempelajari cara pandang filosofi begini ini, termasuk sesuatu yang “dalam”. Saya baru sadari bahwa semestinyalah tidak menutupi diri dengan memandang pada lapisan-lapisan yang luarnya. Dalam boleh, tapi semata dalam juga tidak selesai.

Setinggi apapun spiritual seseorang, dia pasti akan tetap merasakan “rasa lapar” yang fisikal. Rasa lapar, sebagai respon tubuh atas gejala yang perlu ditindak lanjuti, yaitu kosongnya lambung.

Maka nafi-itsbat sebagai upaya untuk membenarkan cara pandang hidup pada tataran filosofi yang paling dalam dan mendasar harus kita lakukan. Sembari menggenapi bagian mana saja dari lapisan kepahaman kita yang masih bolong. Yang luaran dan remeh-remeh juga perlu dipelajari.

Secara “dalam”, kejadian tadi berarti bahwa dzikrullah saya masih kurang dan harus dibenahi sebagai upaya memperbaiki  cara pandang paling mendasar. Saya masih terlalu memandang pada sifat-sifat, atau kejadian-kejadian.

Sembari memainkan gerak pada lapisan-lapisan yang luar, umpamanya menyadari bahwa rekan yang menelepon adalah orang yang baik. Menyadari bahwa saya berhutang budi pada kebaikan-kebaikan orang di kantor. Dan menyadari bahwa mengerjakan tugas kantor adalah juga bentuk syukur saya atas jalan rizki dari Tuhan.

Seumpama seberzikir-berzikirnya seorang arif, untuk mengatasi gejolak rasa lapar di perut tetaplah menggunakan gerak fisikal yaitu makan.”Rasa lapar” yang fisikal akan muncul berulang-ulang sebagai alarm, sampai dipenuhinya gerak fisikal yaitu makan. itu mekanisme alami tubuh.

Maka menjadi arif-lah seseorang, jika dia sudah bisa membedakan mana yang beneran lapar sehingga perlu gerak fisik. Mana yang lapar tetapi sebenarnya itu adalah urusan “rasa” yang mesti dibenahi lewat filosofi memandang hidup.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s