ANTAR-JEMPUT, DAN KESADARAN YANG TUMBUH

Saya menyaksikan betapa anak saya cepat sekali bertumbuh. Sebenarnya ini pertumbuhan yang normal belaka, tetapi jeda sejenak dari aktivitas kantor yang rutin dan klise telah memberi saya kesempatan melihat detail pertumbuhan itu saat mengantar-jemput dia ke sekolah. Tiba-tiba saja dia terlihat sudah besar. Saya kemudian menyadari, sebuah “kesadaran” yang lain lagi muncul di muka bumi ini. Dan menjadi saksi atas pagelaran semesta ini.

Berkesempatan cuti beberapa hari dari Kantor, memberikan pelajaran yang begitu besar buat saya. Pertamanya ialah pelajaran mengenali emosi terdalam diri, seperti yang saya tulis sebelumnya.

Lalu hari ini saya mendapatkan Ibrah mengenai waktu dan kaitannya dengan pengalaman hidup kita.

Saya menyaksikan bagaimana anak saya sudah mulai mengenal emosi-emosi yang kompleks. Mengenal rasa cemburu. Mengenal rasa kesal. Mengenal marah dan sedih.

Dulu semasa dia bayi, tangisan dan tawa yang dikeluarkannya hanyalah tangis dan tawa yang natural. Mungkin respon atas lingkungan sekitar. Mungkin karena lapar. Tetapi setelah TK, maka tangis dan tawanya sudah mulai memiliki makna yang lebih dalam. Makna yang lahir sebab “kesadarannya” sudah mulai menilai dan memberi arti pada perjalanan hidupnya.

Jika sejak TK saja sudah mulai memberi arti dan menilai hidup, maka sepanjang puluhan tahun perjalanan hidup kita; sangatlah wajar jika ego terbentuk. “Rasa diri” terbentuk. Dari cara pandang dan catatan kehidupan yang puluhan tahun itu. Dan memang memangkasnya bukan perkara gampang.

Tapi saya tergelitik juga bertanya, kenapa perlu dipangkas?

Setelah saya renungi, baru saya paham, bahwa memang perjalanan hidup itu sendirilah yang menghantarkan kita untuk sampai pada kesimpulan bahwa egolah sumber derita.

Pemaknaan lewat kacamata ego selalunya menghasilkan dualitas, sedih dan senang. Maka selama rasa senang dan gembira itu muncul dari kacama ego, maka sebentar lagi dia akan menampilkan sisi dukanya.

Yang indah ternyata, semua cerita dualitas adalah cara Allah mengenalkan diri-Nya yang tunggal.

Ada orang-orang yang oleh Allah memang diberikan kelebihan. Untuk langsung sampai pada peringkat spiritualitas yang tinggi.

Jika jamaknya manusia melihat alam semesta, lalu dari sana kemudian mereka mengambil Ibrah dan mendapatkan hikmah. Mengenal Tuhan, semakin yakin pada Tuhan…..

Ada sebagian orang-orang yang khusus, yang diberikan anugerah untuk selalu “melihat Tuhan” dalam tanda kutip, bahkan sampai tak hirau pada alam semesta dan segala yang berlaku di dalamnya.

Sebuah hadits mengatakan: yang kurang lebih maknanya, siapa yang sibuk mengingat-Nya sampai lupa meminta, akan diberikan sesuatu yang lebih baik ketimbang orang yang meminta.[1]

Tentu maknanya adalah bukan “jangan meminta” melainkan hadits itu menggambarkan kedudukan orang-orang yang mereka tenggelam dalam mengingati Tuhan, sehingga dualitas dunia tak memberikan dampak padanya. Bagaimana mau meminta, sedangkan meminta kan biasanya dipicu oleh dualitas dalam hidup. Antara sedih lalu minta gembira, atau antara gembira kemudia berdoa sebagai bentuk kesyukuran.

Nah… ada orang-orang yang sudah tak lagi melihat pada dualitas itu, tetapi sudah sibuk tenggelam dalam mengingati Tuhan, sehingga dualitas dunia sudah tak lagi penting.

Tapi itu kedudukan yang tinggi. Sedangkan jamaknya manusia biasanya menapaki tangga perjalanan yang normal. Satu demi satu anak tangga, hingga kemudian jika Allah berkenan mentakdirkan, akan sampai jua pada kepahaman itu.

Dan bicara anak tangga, anak tangga perjalanan hidup ini nyata sekali terlihat setelah saya bolak-balik mengantar anak ke TK-nya. Dan melihat bagaimana pelan-pelan anak saya mulai memaknai hidupnya.

Mulai bertumbuh ego dan kesadarannya.

Hingga kelak, jika Allah berkenan memperjalankan, akan sampai pada kebijakan bahwa ternyata perjalanan hidup yang panjang, dan dualitas yang selama ini dimaknai dan memberikan rasa-rasa di hati itu, semua hanya bentuk pengajaran. DIA mengenalkan diri-Nya.

Sampai akhirnya akan tahu, bahwa yang selama ini kita akui sebagai diri kita sendiri, kesadaran terluar kita ini, rupanya hanyalah dibentuk oleh pengalaman hidup kita. Dan melihat flash back ke belakang, dalam jeda, dengan paradigma yang baru, sangat membantu untuk memahami wejangan para arifin itu.

Yang kita anggap “diri” itu sebenarnya barulah lapis ego terluar bentukan pengalaman hidup. Yang lebih sejati ada “di dalam”, menyaksikan, mengamati, mencatat, belajar, dan seterusnya.

Dan semuanya tak ada yang milik kita. Dari-Nya berasal, kepada-Nya kembali.


[1] “Artinya : Barangsiapa yang sibuk berdzikir kepadaKu sehingga lupa berdoa, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang yang berdoa” [Hadits Dhaif, didhaifkan oleh Ibnu Hajar, Fathul Bari 11/138]

Artinya : Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s