MENIRU AKHLAQ TUHAN

Dalam kisah-kisah beladiri shaolin yang terkenal itu, masyhur kita dengar kisah-kisah dimana seorang pendekar mendapatkan jurus-jurusnya terinspirasi oleh apa yang mereka lihat di alam. Misalnya jurus 5 hewan yang konon dibuat oleh biksu Tat Mo Chou Su dengan meniru gerakan binatang.

Tak hanya itu, kadang-kadang inspirasi dari alam itu juga lebih filosofis, misalnya terinspirasi untuk menjadi lembut seperti rerumputan, karena lembut seperti rerumputan-lah yang akan menyelamatkan kita dari badai, ketimbang keras seperti beringin tetapi akan tumbang.

Sepanjang sejarah, manusia sudah belajar banyak dari apa yang mereka lihat di alam.

Tetapi satu hal yang menarik, dari pandangan spiritualitas islam, bahwa belajar dari alam-pun bisa menjadi lebih “dalam” dan bernilai ibadah, jika kita memahami bahwa alam adalah sebagai “media cerita” dari Tuhan Sang Penciptanya.[1]

Berbagai-bagai pendekatan oleh para ulama sepanjang zaman, mereka tuliskan tentang kaitan antara Tuhan dan alam. Sedikit dari bahasan itu, sebatas yang saya pahami analoginya seperti ini.

Katakanlah ada seorang bernama Budi. Budi ini kita katakan “baik hati”.

Darimana kita simpulkan bahwa Budi ini “baik hati”? Tentu setelah kita melihat buktinya dari perilaku atau apa yang diperbuat si Budi. Umpamanya Budi selalu menolong temannya yang kesulitan uang, memberi pinjaman, kadang-kadang digratiskan, dan seterusnya. Maka ungkapan “Budi baik hati” menjadi nyata.

“Baik hati” ialah sifat yang dilekatkan pada Budi. Tetapi, “baik hati” tidak menjelaskan seperti apa jasad si Budi. Karena “baik hati” menjelaskan “perbuatan”. Sifat fi’liyah.

Ada juga penjelasan sifat lainnya. Misalnya, Budi tinggi, putih, rambut ikal. Itupun sifat, tetapi itu adalah sifat Dzatiyah, alias penjelasan tentang fisikal si Budi.

Sekedar analogi -yang tentu saja tak akan bisa menjelaskan dengan tepat tentang Tuhan- begitulah para arif merangkumkan bahwa sifat Dzatiyah Tuhan, seperti apa sebenarnya Tuhan itu tidak akan bisa dimengerti manusia.

Karena seperti yang dirangkum surat Al Ikhlas, bahwa DIA tidak mirip apapun saja. Segala apapun saja konsepsi mental manusia mempersepsi DIA pada sifat Dzatiyah-nya itu, mestilah keliru.

Yang manusia bisa mengerti adalah sifat fi’liyah-Nya. Alias, makna-makna yang bisa kita lihat dari perbuatan-Nya di alam ini.

Adapun Dzat-nya seperti apa, kita cukupkan saja bahwa DIA tak serupa tak seumpama.

Sifat-sifat fi’liyah, alias Asmaul Husna, itu menjabarkan mengenai perbuatan-Nya.

Jadi membaca alam dalam konteks Tuhan bercerita, itu akan membuat kita memahami kandungan makna dalam Asmaul Husna.

Kalau yang tadinya hanya terinspirasi oleh alam, sekarang menjadi setingkat lebih tinggi menjadi mengenal sifat-sifat / Asmaul Husna lewat alam semesta.

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW mengatakan yang kurang lebih maknanya adalah siapa yang meng-internalisasi asmaul husna, maka baginya syurga.[2]

Internalisasi, ini bagi saya pribadi adalah seperti menemukan “klik”-nya. Seringkali melihat alam, mempelajari apa yang terjadi, membuat menjadi mengerti oh begini toh Allah men-tadbir, mengurus alam semesta.

Misalnya melihat samudera yang menerima berbagai macam keragaman suply dari muara dan sungai-sungai, tetapi menetralisir semua, menyisihkan yang buruk-buruk. Lalu dari sana kita belajar penerimaan, belajar lapang, belajar keragaman, dan macam-macam.

Sebuah ungkapan yang masyhur di kalangan arif adalah “Takhallaqu bi akhlaq Allah”, berakhlaq dengan akhlaq Allah.

Akhlaq Allah itu maksudnya asmaul Husna itu. Tentu bukan dengan –semata– membaca tabel asmaul husna, lalu tahu artinya, lalu ditiru. Dalam pandangan saya, proses dinamisnya adalah dengan membaca segala yang terjadi di alam sebagai jalan DIA bercerita. Sebagai kenyataan sifat fi’liyah-Nya. Lalu dari sana kita belajar.

Kalau sifat fi’liyah-Nya (af’al) bisa diambil pelajaran. Tetapi kalau DIRINYA, Dzat-Nya. Tutup cerita, tak ada yang tahu. Rahasia di atas rahasia.[3]

Ada kebijakan klasik Lao Tzu yang semakna dengan ini saya temukan, yaitu meniru perilaku Dao (Tuhan, Sang Creator alam) menghasilkan De (kebajikan moral). [4]

Sebagaimana kita kenal bahwa sifat-sifat dalam Asmaul Husna itu banyak, tetapi secara global bisa dikelompokkan dalam dua sifat utama, yaitu keagungan (JALAL) dan keindahan (JAMAL).

Ibnu Athaillah as sakandari mengatakan kita berakhlaq dengan akhlaq JAMAL-Nya, meniru welas asihnya. Dan kita bersandar dengan akhlaq JALAL-Nya, keagungan, kebesaran kedigdayaan-Nya. Karena kebesaran dan keagungan hanya milik-Nya saja.

Tetapi Allah SWT sendiri sudah menyatakan bahwa rahmat-Nya mendahului kemurkaanNya. Dan DIA melebihkan rahmat-Nya atas hamba-Nya.[5]

Jadi DIA menciptakan di dunia ini dualitas yang tidak imbang. Karena DIA melebihkan rahmat-Nya atas murka-Nya.

Maka berakhlaq dengan akhlak Allah, “Takhallaqu bi akhlaq Allah”, adalah juga berarti hidup dalam cinta kasih. Meniru akhlaq Tuhan, dan berkasih sayang kepada sesama makhluq.

Umpamanya pelajaran-pelajaran dari akhlaq yang digelar di semesta ini adalah spektrum warna, maka memahami spektrum warna itu secara menyeluruh-lah yang menghasilkan warna putih.


References:

[1] Naquib Al Attas, The Concept Of Education In Islam

[2] “Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).

[3] Hakikat Dzat Tuhan tidak dapat diketahui, tidak akan dicapai cara pemecahannya dan tidak mungkin dapat diperoleh keputusan terakhirnya, sebab memang fikiran manusia ini tidak dapat mencakup sampai kepada persoalan itu. Mengapa demikian? Kerana sengaja manusia ini tidak diberi oleh Tuhan alat untuk mencapai tujuan tadi. Fikiran manusia dibatasi. (Sayid Sabiq, Unsur-unsur Kekuatan dalam Islam, 13 (1988)).

Hakikat Dzat Tuhan tidak dapat dilihat dan tidak dapat diketahui. Kerana fikiran manusia tidak dapat menjangkaunya dan manusia sama semasekali tidak diberi perangkat-perangkat untuk mengetahui-Nya. (Sayid Sabiq, Unsur-unsur Kekuatan dalam Islam, 9 (1988)).

[4] Wang, Andri (2016). Dao De Jing The Wisdom Of Lao Zi. Jakarta: Kompas Gramedia

[5] Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.”  (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s