PERTAPA DAN KONVERSI ILMUNYA

Sewaktu saya berangkat ke Cairo tahun lalu, saya begitu cemas karena salah satu bahasan pada training itu adalah akuntansi yang saya tak begitu gemari sejak lama. Saya teringat saya berdo’a begitu khidmat agar diberikan kemudahan untuk memahami bahasan akuntansi dalam kesempatan training kali itu.

Alhamdulillah, saat itu akhirnya saya bisa mengikuti dengan tak begitu kepayahan. Meskipun sekarang ini saya sudah lupa lagi mengenai bahasan yang dikaji saat training setahun lalu itu. Hehehe….

Kalau saya tilik ke belakang, kenapa kok kajian yang dipelajari begitu cepat hilang dari ingatan saya? Ternyata karena kajian tersebut jarang saya praktekkan dalam keseharian saya yang kebetulan memang bekerja pada bagian yang terlalu teknis dan jarang terlibat dalam keuangan di kantor.

Menarik, setelah saya cermati salah satu hadits tentang ilmu. Bahwa ilmu senantiasa dikaitkan dengan amalan. Misalnya saja kutipan berikut: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima”.[1]

Ilmu yang bermanfaat rupanya sepaket dengan rizki yang halal dan amal yang maqbul atau diterima.

Dalam konteks itu, saya melihatnya bahwa ilmu yang bermanfaat haruslah berarti juga ilmu yang applicable, terpakai. Knowledge yang terberdayakan. Dan dalam memberdayakan ilmu yang dimiliki itu, kita difasilitasi dengan rizki yang halal.

Kalau saya menengok konteks ini, saya barulah menyadari bahwa dalam kaitannya dengan ilmu yang terberdayakan menjadi amal ini; saya masih banyak ilmu yang tak bermanfaat. Karena, ilmu yang dimiliki hanya sebatas memuaskan penjelajahan intelektual belaka.

Sebuah ungkapan yang masyhur, “what ever we focus on, will grow”. Setiap apa saja yang kita “pantengin” terus, akan  tumbuh dan menjalar merambat kemana-mana, menyita waktu.

Misalnya saja, dalam sebuah cerita klasik, saya lupa sumbernya cerita ini darimana. Suatu ketika pada sebuah tempat ada seorang pertapa yang terlihat mencoba menyeberangi sungai dengan berjalan kaki di atasnya. Seorang pemuda berjalan tak jauh dari tempat pertapa itu mencoba berjalan di atas air. Pemuda itu mengamati dan melihat sang pertapa berjalan di atas air, menyeberangi setengah dari lebar sungai sebelum akhirnya tercebur ke dalam aliran sungai. Lalu sang pertapa berenang ke seberang, dan kembali bertapa setelah mengeringkan bajunya.

Suatu hari sang pemuda iseng bertanya kepada sang pertapa itu, “Wah… anda hebat sekali Pak… anda bisa menyeberangi sungai ini dengan berjalan kaki di atasnya.”

“Ya…” jawab sang pertapa, “tetapi aku baru bisa menyeberangi setengahnya, masih kurang setengahnya lagi.”

“Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk bisa menyeberangi setengah sungai itu?” tanya sang pemuda.

“Saya butuh waktu dua puluh tahun pertapaan, dan mencoba mengenali segala anasir di dalam diri saya di pertapaan yang panjang itu”, kata sang pertapa.

“Waduh….. lama sekali ya”, sang pemuda kaget.

Lalu sang pemuda meninggalkan sang pertapa yang asyik dengan pertapaannya. Dia mengambil rakit di sisi sungai, dan lalu menyeberangi sungai dengan rakit bambu itu. Sambil berteriak, “saya butuh hanya lima menit untuk menyeberangi sungai dengan bambu ini, tuan”. Teriaknya pada sang pertapa.

Lalu sang pertapa itu tertegun. Dia sudah menghabiskan waktu puluhan tahun, asyik sendiri, mengkaji sesuatu yang bisa dicapai dengan sederhana selama lima menit saja. Dan seharusnya sisa waktunya bisa diperbuat untuk kemaslahatan yang lain.

Cerita itu, barangkali sebuah dongeng belaka. Tetapi pelajaran dari cerita itu kembali mengingatkan saya sewaktu saya kuliah dulu. Saat saya sempat menjadi MC pada salah satu acara diskusi.

Seorang pembicara, ustadz terkenal di bandung kala itu, mengatakan sebuah prinsip yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas. Yaitu “Think globally, act locally”.

Sebuah prinsip agar kita berfikir secara global, tetapi bertindak atau melangkah secara lokal alias sejangkauan kita saja. Karena permasalahannya anak muda ini kadang tenggelam dalam konsep besar mereka sendiri.

Belakangan saya akhirnya mengetahui bahwa wejangan itu bisa dimaknai secara lebih spiritual juga. Bahwa salah satu cara menjadikan ilmu kita bermanfaat adalah memastikan apa-apa yang kita ketahui itu akan terkonversi menjadi amal nyata.

Permasalahannya, kita sering think globally, berfikir besar, yang menyebabkan kita sulit melangkah. Misalnya saja kita berfikir tentang imperium besar islam, tentang polemik politik negara, tentang macam-macam, tetapi semua konsep besar itu urung menjadi kontribusi yang real kepada masyarakat.

Dalam hal spiritual pun begitu. Seringkali, karena ketertarikan yang besar kepada bahasan spiritualitas islam, saya begitu menikmati wacana perdebatan klasik Imam Ghazali vs Para filosof. Mencermati kajian imam Asy’ari dan mu’tazilah tentang sifat-sifat Tuhan, lalu melihat pendekatan yang lebih klasik. Dan bahasan tasawuf dengan berbagai pendekatannya. Tetapi, kemudian saya terhenti dengan pertanyaan saya pribadi. Bermanfaatkah ilmu ini?

Apa kontribusi real saya dalam memberdayakan segala bacaan ini?

Setidaknya dua hal ini bisa menjadi panduan bagi saya pribadi, apakah ilmu itu bermanfaat atau tidak? Ataukah sebuah ilmu hanya menjadi semacam candu, karena logika kita haus untuk menganalisa dan berfikir.

Yang pertama adalah apakah ilmu itu membuat kita menjadi semakin dekat pada Tuhan? yang kedua, apakah sebuah ilmu itu bisa kita konversi menjadi amal dan gerak nyata dalam hidup? Jika jawabannya YA untuk kedua hal itu, maka bermanfaatlah ilmu itu.

Seorang dokter gigi umpamanya. Menghabiskan puluhan tahun dalam hidupnya mengkaji mengenai salah satu syaraf gigi misalnya. Seandainya pekerjaannya tidak terlalu berkaitan dengan itu, pasien juga jarang yang ada kaitan dengan kajian syaraf yang terlalu njlimet. Dia tulis dan sharing kepada orang lain pun tidak. Dan tidak pula kajian itu membuat dia menjadi kagum pada kuasa Tuhan lewat ketelitian syaraf-syaraf gigi umpamanya. Maka ilmu itu gagal menjadi bermanfaat.

ilmunya bagus, tetapi dia sebagai pribadi gagal menjadikan ilmu itu berkontribusi real.

Tetapi, sebuah ilmu itu bisa menjadi asyik. Asyik bagi sang pembelajar ilmu itu sendiri. Karena fithrahnya nalar adalah butuh makanan. Makanan nalar adalah kajian-kajian. Tetapi semata asyik saja, tanpa tumbuh menjadi kebermanfaatan yang real, maka waspadalah terhadap kesia-siaan ilmu.


[1] HR. Ibnu Majah No. 925

*) Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Iklan

2 thoughts on “PERTAPA DAN KONVERSI ILMUNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s