MEMAHAMI PANGGILAN DALAM HIDUP

callingAdalah Helio Gracie, seorang dengan perawakan kurus kecil, tetapi lewat jasa dirinyalah tercipta satu jenis beladiri baru yang booming ke seluruh dunia di masa ini. Brazilian Jujitsu.

Bela diri ini, dikembangkan oleh Helio Gracie atas penelitiannya memraktekkan Judo, dan berpikir keras bagaimana Judo ini bisa praktikal untuk orang bertubuh kecil seperti dirinya, dan bagaimana orang bertubuh kecil bisa melawan dan mengalahkan orang dengan tubuh yang lebih besar.

Dan setelah diuji cobakan dalam banyak sekali pertarungan, maka terbuktilah bahwa beladiri modifikasi yang dia ciptakan itu; berjalan sebagaimana diinginkan. Dan membuat heboh dunia lewat UFC.

Saya pribadi menyukai sekali cerita ini, meskipun tidak berlatih Brazilian Jujitsu, melainkan menyenangi ceritranya saja secara filosofis.

Saya sempat berlatih beladiri, dulu sewaktu kuliah. Tetapi, dalam rutinitas beladiri itu, saya tahu bahwa saya tidak akan mungkin menyamai level orang-orang yang melegenda semisal Helio Gracie, atau Mushashi, atau nama-nama besar lainnya. Bukan karena saya tidak optimis, melainkan sebentuk rasa tahu diri.

Level mereka, adalah orang-orang yang hidupnya didarma baktikan untuk beladiri. Dari tidur sampai bangun sampai tidur kembali, mereka mendarma baktikan hidupnya untuk itu. Sedangkan saya, belajar beladiri sembari kuliah. Meskipun waktu itu saya ingat sekali bahwa saya sungguh getol sekali berlatih, tetapi di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya menyadari bahwa “tugas” saya bukan itu. Berlatih; YA. Tetapi meleburkan diri dalam itu; saya rasa tidak.

Belakangan saya baru menyadari harmoninya. Ternyata, setiap orang sudah ditakdirkan untuk menjalankan peranannya masing-masing dalam hidup. Orang-orang barat mengatakan “to know our true calling”, mengenal semacam “panggilan”, dalam hidup.

Umpamanya, kalau kita ambil contoh dari spiritualitas islam. Sebutlah Imam Al Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam. Beliau hidup di masa dimana perselisihan antara golongan ulama syariat, dan para ahli hakikat tidak bisa akur. Dan lewat sumbangsih beliaulah, maka syariat dan hakikat bisa berjalan seiring. Meskipun belakangan kembali saling silang. Tetapi, sang imam hidup dalam “true calling” sebagai seorang mediator, penjembatan antara golongan syariat dan hakikat, di masanya. Kegamangan Imam Ghazali, sampai kemudian beliau menemukan “klik” pada peranannya sebagai mediator itu, dapat kita baca secara asyik pada Al Munqidz Min Adh Dhalal, karya beliau.

Kalau kita mundur lagi ke belakang, masa dimana para Imam Mazhab lahir. Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Imam Hambali. Mereka meletakkan tatanan yang begitu solid, tentang bagaimana cara pengambilan suatu hukum, menyusun premis-premis, sehingga produk-produk fikih bisa terlahir. Mereka hidup dalam “tugasan” itu, yaitu meletakkan logika pengambilan hukum pada syariat. Sehingga ummat setelah masa mereka, rasa-rasanya tak perlu lagi pusing-pusing dan habis waktu dengan fikih, dasar-dasarnya sudah sangat rapih.

Lalu ada lagi imam Abu Hasan Al Asy’ari, yang hidup pada masa dimana pergulatan ide antara Mu’tazilah, jabbariyah, qadariyah begitu pelik. Dan Imam Asy’ari-lah yang menjadi jembatan, menegakkan pondasi aqidah Ahlus Sunnah, setelah sebelumnya beliau malah beraliran Mu’tazilah.

Contoh-contoh di atas adalah ibarat, yang memudahkan saya pribadi memahami tentang “tugasan”, tentang peranan seseorang dalam hidup, tentang true calling.

Dahulunya, pemahaman saya mengenai “true calling”, panggilan dalam hidup ini, adalah semata pemahaman lewat makna batinnya. Bahwa dalam hidup, tugas kita adalah menyadari bahwa kita hidup diciptakan oleh Tuhan, dan keseluruhan kerja dan sikap kita dalam hidup adalah untuk mengenali-Nya.

Hal ini memang betul….. tetapi bagaimanakah wujudnya pada aspek fisikal?

Baru saya paham, bahwa pada aspek fisikal-pun ada true calling-nya. Yaitu “tugasan” atau peranan di dunia itu tadi. Pada sisi batin, kita semua memahami bahwa dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali, dan mengenali-Nya adalah tema besar kehidupan sekarang. Tetapi ejawantahnya secara zahir adalah kita harus mengerti pula peranan kita dalam konstelasi hidup kita masing-masing.

Ada yang menjadi ahli beladiri. Ada yang ulama. Ada yang dosen. Ada yang pedagang. Dan sebagainya, dan sebagainya, sebagai ekspresi fisikal. Itulah saya rasa yang mesti ditemukan.

Selalu aspek batin dan aspek fisikal yang berjalan seiring. Temukan “calling” kita. Dan dia mesti dua sisi, batin dan fisikal. menemukan hanya salah satunya saja, pastilah timpang.

Kita ketemu sisi batinnya, wah mantap….. tapi bagaimana wujud konkritnya? Mengenali Tuhan lewat hidup; ya…. Tapi hidup yang bagaimana?

Dalam konteks saya pribadi, saya baru mengerti, bahwa jalan saya mengenali Tuhan adalah lewat kerja saya di dunia migas ini. Dan lewat kerja di dunia inilah saya mencerap kehidupan, dan menemukan persinggungannya dengan kajian spiritual para arif. Upaya mengenali Tuhan adalah batinnya, dan kerja di dunia migas adalah ekspresi fisikalnya. Ternyata harus seiring.

Jika kita menemukan  sisi fisiknya saja, misalnya kita paham bahwa “true calling” kita adalah sebagai pebisnis, dan kita sukses sekali disana. Tetapi kita tidak mengerti dimensi batinnya, bahwa bisnis itu sekedar jalan untuk mengenali Tuhan, maka kita akan materialis dan hilang arah.

Begitupun sebaliknya, kita mengerti sisi batinnya. Mulai tersentuh, dan menyadari bahwa mengenali Tuhan-lah inti dari hidup ini. Tapi kita tak paham tugas dan konstelasi diri kita di kancah dunia ini, maka kita akan keliru-keliru bersikap.

Inilah maksud Ibnu Athaillah as sakandari, jangan sampai yang asbab ingin tajrid, yang tajrid ingin asbab. Padahal peranan kita adalah menjadi dosen, misalnya….tetapi karena tak paham mengenai ini, maka kita tinggalkan pekerjaan menjadi dosen, karena ingin mengenal Tuhan. Dikira bahwa pekerjaan duniawi, bukanlah wujud ekspresi dari perjalanan mengenali Tuhan itu sendiri.

Bagi saya pribadi, kepahaman ini penting karena termasuk upaya mengenali diri sendiri. Mengenali Tuhan, mengenali mengapa dicipta, lalu mengenali pula apa sih peranan kita di dunia untuk jadi jalan kita mengenali-Nya itu?

Apakah “true calling” atau “panggilan” anda dalam hidup?


*) image sources

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s