MENYERAP ENERGI

Ada satu kebiasaan yang sering saya lakukan saat saya jenuh, yaitu bertandang ke rumah teman. Tanpa mereka sadari saya “menyerap energi”.

Menyerap energi, ini metafora saja. Maksudnya adalah saya senang sekali menikmati suasana di tempat-tempat teman saya. Atmosfer di rumah orang-orang yang barokah, kadang-kadang membuat kita ikutan semangat. Keluarga yang happy membuat kita ikutan happy. Cara pandang yang gembira membuat kita tertular gembira.

Jadi jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa semangat itu menular, saya rasa tak salah-salah amat. Dalam banyak konteks memang semangat itu menular kok ya.

Dibesarkan dalam keluarga yang marjinal, membuat saya punya bakat bawaan yaitu memandang hidup dalam kacamata yang murung dan melankoli. Ini bisa bagus pada momen-momen tertentu, tetapi banyak tak eloknya pada kesempatan-kesempatan yang lain.

Terlebih setelah mengkaji bahasan tasawuf, saya jadi sadar bahwa memandang hidup dalam kacamata yang terlalu murung adalah keliru. Salah-salah, nanti malah menjadi tidak optimis terhadap rahmat Tuhan.

Kalau dari bahasan yang “tinggi”-nya, bahwa DIA sebagaimana sangkaan hamba kepada-Nya. Semakin tersingkap pengenalan kita kepada-Nya, maka semakin baiklah “sangka” kita kepada-Nya. Pengertian-pengertian tentang Dzat dan sifat-sifat saya rasakan luar biasa membantu dalam memperbaiki “sangka” ini.

Kalau dari bahasan yang “bawah” sedikit, itulah yang saya senangi dari berteman dengan orang-orang yang “gembira” by nature. Orang-orang yang punya bawaan alami sebagai orang-orang yang memandang lewat kacamata “Jamal-Nya”. Agar saya tertular gembira.

Pernah suatu ketika, sewaktu di Kalimantan, saya berkata kepada kantor, kirim saja si A sebagai juniornya ke lokasi kerja.

Ditanyakan oleh kantor, kenapa memangnya si A? apakah performanya bagus?

Saya jawab, bukan…. Performa biasa saja, tetapi dia orang yang lucu dan gembira. Hehehehe.

Lalu rekan saya yang di kantor misuh-misuh, hahahaha.

Mengenai “menyerap rasa gembira ini” mengingatkan saya akan satu hal yang baru saya sadari setelah banyak “tafakur” setelah mengkaji spiritualitas islam.

Bukan hanya menyadari bahwa benarlah kata Imam Ghazali bahwa “hati” manusia itu ibarat raja di dalam kerajaan diri (jagad kecil) manusia itu sendiri. Tetapi saya menyadari sebuah fakta bahwa terlalu tekun pada spiritualitas, akan secara keliru membuat “gejolak hidup” itu “mati”.

Ini betulan….. Saat memandang hidup menjadi begitu tawar dan tidak tertarik untuk ngapa-ngapain. Merasa bosan pada dunia.

Kondisi ini menimbulkan situasi yang tenang dan nyaman. Tetapi saya merasakan ada yang seperti keliru…. Bukan keliru jalan. Tapi keliru waktu.

Karena saya menyadari sebagai anak muda, hidup dalam usia produktif, anak saya masih kecil, dan juga masih berada dalam situasi kompleks permasalahan ini itu yang masih harus dihadapi. Terkadang membutuhkan “gejolak”. Semacam pendorong.

Baru saya paham, bahwa energi, daya hidup, anasir-anasir yang ada dalam tubuh manusia ini jangan “dibunuh” atau dimatikan. Karena mereka semua itu adalah perangkat, tools, yang diperlukan untuk mengelola hidup.

Amarah misalnya. seseorang tak bisa berperang tanpa amarah.

Perang…bisa lahir dari niatan yang suci. Tetapi saat eksekusinya, memerlukan daya kemarahan. Marah yang dirahmati. Jangankan perang….. latihan beladiri saja saat sudah hadap-hadapan dan sparring membutuhkan gejolak itu. Adrenalin terpompa. Tetapi sepenuh-penuhnya terkendali. Gejolak yang dibingkai dalam rahmat.

Ternyata, spiritualitas adalah bukan lari dari kehidupan. Melainkan mengembalikan posisi “hati” manusia sebagai raja dalam kerajaan kecilnya sendiri.

Kata Imam Ghazali dalam Ihya’, terkadang, hati manusia yang sebagai raja itu, sering “dirampok” oleh anasir dalam tubuhnya sendiri. Misalnya amarah, amarah selalu ingin mengambil alih kuasa. Seharusnya, amarah tunduk pada “hati”. Dan amarah, jangan dibunuh, karena ia -sebagaimana elemen lainnya- adalah bagian integral dari diri kita sendiri.

Sebagaimana arti zuhud bukanlah tak memiliki dunia. Melainkan tidak dimiliki dunia. Orang yang Zuhud adalah memperbudak dunia untuk kepentingan yang lebih bernilai. Mendaya gunakan harta untuk sesuatu yang berkah. Maka menjadi spiritual berarti juga menjadi cakap mengendalikan dunia.

Termasuk dalam pengertian seperti itu, maka men-spiritual bukanlah mematikan marah, melainkan menyadari bahwa amarah, sedih, hasrat, kegembiraan, dan semua bentuk gejolak lainnya itu sepenuh-penuhnya ada dalam kendali sang tuan. Dan digerakkan untuk kebermanfaatan.


*) Image Sources

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s