MELALUI PINTU RAHMAT

Suatu hari, si Bejo, yang selalu lewat jalan kampung setapak di malam hari sepulang mengaji di surau itu, diberitahu oleh rekannya bahwa ada kuntilanak di pohon beringin sebrang surau. 
Kontan saja, sekarang Bejo tiap kali pulang dari Surau, dia bergidik dan lari kencang ketakutan. Pasalnya memang betul ada putih-putih melayang di atas pohon beringin itu.

Sudah puluhan kali Bejo lewat jalan itu, tapi baru kali ini Bejo bergidik ngeri.

Seminggu kemudian, rekannya satu lagi memberitahu, bahwa putih-putih di atas beringin itu adalah mukena. Dipasang oleh si Bedu yang memang jahil, untuk mengerjai orang.

Kesal bukan buatan si Bejo. Maka esoknya dia bukannya takut, melainkan tiap lewat sana dirinya kesal pada si Bedu, kurang ajar Bedu…..harus dibalas, pikirnya.

Nyata sekali bahwa Bejo takut, dan Bejo berani, semuanya dipengaruhi persepsi Bejo sendiri.

Orang barat mengatakan, “Mind Over Feelings”, fikiranmu memengaruhi rasa. Rasa, tunduk oleh persepsi.

Maka, zaman dulu orang menghantu-seramkan gorilla. Tetapi zaman sekarang anak TK bisa tertawa geli melihat gorilla di kebun binatang. Semua karena persepsi.

Persepsi manusia pada sesuatu, selalunya dihantar oleh ilmu tentang sesuatu itu.

Itulah sebabnya, saya mengoreksi cara pandang saya sendiri, yang mengira bahwa dalam hal spiritualitas islam, yang mutlak penting adalah semata-mata tirakat.

Tirakat memang penting. Ibadah penting, tentu-tentu. Tetapi semata tirakat, will lead u nowhere. Tak akan membawa kita kemana-mana tanpa dilandasi kepahaman yang benar.

Salah satu contoh kepahaman yang mesti diperbaiki itu adalah cara manusia memandang sifat-sifat Tuhan. Pandangan depan.

Teringat saya, bahwa Rasulullah SAW kembali mengenalkan sebuah kalimat agung Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah yg Maha Pengasih, Maha Penyayang….karena kaum kafir Makkah telah keliru mensifati Tuhan. Memandang Tuhan sebagai sebuah entitas kejam.

Sebagaimana jamaknya orang jaman sekarang juga begitu. Seandainya sebuah daerah mengalami musibah gempa bumi, atau tsunami, maka hal pertama yang ditudingkan pada korban bencana itu adalah bahwa mereka para pendosa, dan bencana terjadi karena kesalahan dosa mereka. Blaiming the victim. 

Tanpa mempelajari bahwa bencana adalah proses alamiah yang mestinya dipelajari dan ditemukan solusinya. Akibatnya, zaman sekarang pun orang kembali memandang Tuhan seolah sebagai entitas penyiksa.

Baru saya paham kelirunya dimana. 

Jika memandang bencana alam dan segala proses alamiah sebagai pintu untuk merasakan JalalNya, itu tentu baik, sebagai sarana tafakur. Tetapi tidak lantas kita memegang palu penghakiman dengan mengatakan bahwa dosa penduduklah penyebab bencana.

Dengan begitu, menjadi tertutuplah pandangan dari sifat-sifat JamalNya. Maka Tuhan tertampil dalam persepsi yang kejam, karena kekeliruan kita sendiri dalam memandangNya.

Seorang Arif memberitahu, untuk menjaga adab agar tidak keliru mensifatiNya. Dalam sebuah hadits diberitakan bahwa DIA berfirman rahmatNya mendahului kemurkaanNya.

Artinya, dualitas sifat yang tertampil di muka bumi ini sejak mula memang tak imbang. Bukan 50:50, karena DIA melebihkan rahmatNya atas murkaNya. Maka segala pekerjaan, awalilah dengan menyebut namaNya yang Maha Rahman dan Rahim.

Jika sebagian kalangan mendekatiNya melulu lewat pintu keadilanNya. Artinya satu dibalas satu….maka para arif dalm tasawuf mengajarkan mendekatiNya dengan memahami pintu rahmatNya terbuka luas.

Dan sejatinya, jika kita mendekatinya lewat pintu keadilanNya, kita akan susah sendiri. Dikira amal ibadah kita bisa bargain dengan syurgaNya….padahal amal kita banyak cela.

Tetapi lewat pintu rahmatNya itulah kita berharap. Bahwa bukan amal kita membeli anugerahNya, melainkan lebih cepat anugerahNya itu sampai pada kita, ketimbang amal kita sampai padaNya.

Seorang guru berkata, bagaimana kamu tahu kalau Allah rindu padamu?

Jawabannya ialah jika kita tergerak berdoa padaNya, itulah tanda DIA merindui kita. Karena atas rahmatNya itu, DIA tuliskan kita menyapaNya.

Iklan

AZAZIL

Masih ingatkah rekan-rekan kepada Azazil? Nama tenarnya adalah Iblis.
Sebelum terlempar dari syurga, Azazil adalah ketua kumpulan para malaikat. Begitu tersohor Azazil atas kesalihan pribadinya yang luar biasa.

Tetapi… berada di puncak menara gading kesalihan, menimbulkan ujiannya tersendiri. Azazil tak terima saat Adam a.s. Lah yang ditugaskan menjadi khalifah. Lho kok Adam??? Sedangkan segala performa kesalihan dirinya sudah sedemikian rupa? Tapi kok malah Adam?

Maka dari rasa tidak terima itu, epik panjang sejarah manusia dan jin tergelar.

Jika anda ada pada puncak menara gading kesalihan, puncak pencapaian pesona, maka hati-hatilah. Pada puncak itu, rasa tak terima atas pencapaian orang lain, begitu gampang terbit.

Maka benarlah Rasulullah SAW dalam haditsnya menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi kemanfaatan bagi manusia lainnya. Bukan sebaik-baik manusia adalah yang terbaik di kalangannya.

Anda bisa saja tidak menjadi yang terbaik, tetapi anda tetap bisa menebar manfaat.

Umpamanya anda pernah dikejar anjing sampai berlari lintang pukang di sebuah gang sempit. Sungguh bukan prestasi. Tapi jika dalam trauma masa silam yang menyedihkan itu anda jadikan sharing yang berguna bagi khalayak, “jangan lewat sana, saya dulu dikejar anjing disana”, maka anda sudah menebar manfaat. 

Meski jelas dikejar anjing bukanlah suatu prestasi. Tapi menebar manfaat memang bukan tentang prestasi dan puncak menara, dia tentang fokus pada memberi kebaikan.

Kebaikan yang tak selalunya meninggikan menara kita sendiri.

Antara Musa dan Khidir a.s, dua duanya orang baik. Yang Ulul Azmi adalah Musa a.s. Sedangkan Khidir bukan. Tetapi dalam ilmu batinnya, tak urung khidir menebar manfaat yang begitu banyak meski dirinya tak masuk gelaran Ulul Azmi. 

Barangkali ilustrasi di atas tak terlalu tepat konteks. Tapi, dari sudut pandang pintu depan, saya yakin kita bersama-sama tahu pointnya. 

Berkebaikanlah…..ini bukan tentang menjadi yang terbaik….ini tentang kebaikan yang memang fithrahnya harus ditebar.

Meski dengan menebarnya, orang lain menjadi lebih baik dari dirimu sendiri.

Begitulah barangkali menarik Ibrah dari cerita Azazil itu.

HARMONI DUA PENDEKATAN (2)

Istri saya mengirimkan sebuah gambar lewat Whatsapp. Foto anak saya mau berangkat mengaji. Saya menebak itu foto anak saya sedang ngambek ga mau berangkat.

Ternyata saya keliru, bukan foto mengambek, melainkan foto itu maksudnya pengen menunjukkan anak saya pakai kerudung mamanya.

Saya melihat dengan “kacamata” saya sendiri. Dan menafsirkan hal diluar diri saya lewat kacamata itu.

Begitupun spiritualitas. Kita memandang Tuhan juga mau tak mau lewat kacamata pengalaman hidup kita yang manusiawi itu. Lewat kesulitan hidup, lewat kemudahan hidup, lalu kita memandang-Nya dalam sifat-sifat.

Seperti saat sholat. Dalam konteksnya sebagai pengagungan, pujian, permohonan, maka sholat adalah mengagungkan, memuji, DIA karena sifat-sifatNya yang kita temukan dalam hidup kita. Guru bilang, inilah approach pintu depan.

Tapi selain ini, ada lagi approach “pintu belakang”.

Yaitu melepas semuanya. Melepaskan diri dari fikiran-fikiran, dari rasa, dan interpretasi kita terhadap kejadian hidup.

Hanya “ingat” saja. Tanpa persepsi. Istilahnya yang dituju adalah DIA semata-mata. Bahkan tak memasuki pintu sifat-sifat fi’liyahNya.

Adab pintu depan, adalah mempersepsi DIA dengan sifat yang layak bagi-Nya.

Adab pintu belakang adalah tak memasukkan apapun saja selain dari ingatan akan-Nya dalam hati kita.

Lewat yang mana saja ternyata memang harus disyukuri. Approach pintu belakang ternyata sering kali dihantarkan lewat ujian yang membanting-banting.

Benarlah guru mengatakan. Yang tinggal hanyalah Ibadah. Banyak diam. Dari sepuluh ibadah, sembilan diantaranya dalam diam. Begitu kata Syaikh Abdul Qadir Jailani

HARMONI DUA PENDEKATAN

Seperti kertas bergambar. Pandangan depan adalah keragaman warna dan corak, tetapi pandangan belakang adalah hanya kertas putih semata-mata.

Dua pendekatan ini, dapat menjelaskan banyak hal.

Pendekatan pertama: “berdoalah, maka Tuhan akan mengabulkan.” || pendekatan kedua: “jika Tuhan ingin memberi, maka DIA takdirkan engkau berdo’a.”

Pendekatan pertama: “lewat ilmu (observasi) seseorang mendapatkan bukti-bukti kekuasaan Allah, lalu sampai pada keyakinan akan-Nya (Iman). || pendekatan kedua: “lewat Iman seseorang akan diajarkanNya ilmu-ilmu.”

Pendekatan pertama: “mengenai takdir; kadangkali manusia ada kuasa mengubah sesuatu, akan tetapi ada hal-hal yang manusia tak bisa ubah / sudah FIX” || pendekatan kedua: “segala ciptaan tidaklah memiliki wujud sejati (non existence), sehingga perdebatan apakah makhluk punya kuasa atau tidak; sudah tidak lagi relevan.”

Memahami dua pendekatan ini, saya rasa akan memunculkan harmoni yang cantik.

MENEMUKAN YANG MAHA BESAR

Saya rasa, menjadi guru adalah pekerjaan paling sentimentil. Saya teringat fragmen masa TK saya, dimana saya drop out dari TK karena ortu harus pindah. Disana Ibu Guru Saya menangis.

Ketika kedekatan secara emosional terbentuk, maka melihat anak didik datang dan pergi adalah sungguh momen haru biru.

Tetapi siapapun yang hidupnya direbus didalam momen haru biru itulah yang lambat laun menyadari bahwa tabiat hidup memanglah seperti itu. Ianya datang sejenak, untuk lalu kemudian pergi.

Maka benarlah guru kearifan, dalam spiritualitas islam saya temukan mewejang hal yang itu. Yaitu belajar “melepas”.

Jika satu persatu dilepas. Perasaan merasa kuat dan hebat dilepas…..perasaan ingin dihormati dilepas….rasa memiliki ilmu dilepas….. Harta dan pangkat dilepas…… Bahkan keterikatan antara “sejatinya diri” dengan fikiran dan rasa juga dilepas…lantas apa yang tersisa?

Kalau selama ini kita tahu bahwa yang kita sebut sebagai “diri” kita, selubung ego kita itu adalah kumpulan pengalaman hidup kita. Maka melepas segala yang ada, akan pada gilirannya membuat “dirimu” pun hilang.

Ketakutan terbesar dalam hidup manusia, rupanya ketakutan untuk hilang keberadaannya.

Kalau sesuatu yang kita anggap diri kita saja sudah tidak ada, lalu apa lagi yang ada?

Seorang guru yang Arif memberi tahu, bahwa saat semuanya dilepas, yang tinggal ialah kesadaran bahwa DzatNya-lah yang wujud. Setitik yang begitu kecil dalam samudera luas.

Jadi jika sentimentil sekali hidup kita. Dalam siklus datang dan pergi datang dan pergi itu. Maka memaknainya dengan tepat sebenarnya menghantar kita menyelam ke tujuan hidup itu sendiri.

Hilang diri. Hilang identitas. Tinggal kekerdilan dalam samudera KemahaBesaran-Nya.

Ibarat murid bertemu guru.

Bahasa seorang Arif, yang kerdil, menemukan Yang Maha Besar.

DUHAI

 DUHAI

::

Manusia memberi makna pada takdir hidupnya. kumpulan makna melahirkan “diri”-nya. Duhai….

::

Takdir dipandang lewat “diri” manusia, tertampillah citra sifat-sifat Tuhan lewat persepsi hambaNya.

::

yang tak tahu; memandang-Nya sebagai Yang Menyempitkan belaka.
yang berilmu; memandang-Nya sbagai Yang Melapangkan juga.

::

Ana inda zhanni abdi bi….

::

Guru yang arif mengatakan. “Jangan menyifatiNya dengan sifat yang tak layak bagiNya”. Duhai….itulah adab memandang dari “depan”.

::

Berhati-hatilah memaknai hidupmu. Sebagai mana kau maknai hidup, seperti itulah citra Tuhan terpandang lewat kacamata “depan” mu.

::

Guru yang arif mengatakan, “biarkan makna sejati hanya ada pada-Nya saja”, maka DIA tak terpandang dalam citra sifat-sifat fi’liyah-Nya. Duhai…itulah pandangan “belakang”.

::

DIA sebagai DIA semata-mata.

::

Kita yang kerdil menemukan kebesaranNya.

DUALITAS YANG SEBENARNYA TAK BALANCE

Jangan memandang atau menyifati Tuhan dengan sifat yang tak layak bagi-Nya. Inilah adab dalam memandang keragaman hidup.

Orang-orang awam, banyak memandang Tuhan dalam citra yang kejam dan mengerikan. Orang-orang arif, mendudukkan perkara secara tepat, dengan mengingatkan kembali bahwa Allah SWT memiliki sifat Jamal alias sifat-sifat yang berkaitan dengan welas asih dan keindahan.

Rasulullah SAW menyuruh kita memulakan segala aktivitas dengan Bismillahirrahmanirrahiim. Rahman dan Rahim adalah citra sifat Jamal-Nya.

Dulu, saya mengira bahwa dualitas yang DIA cipta itu dualitas yang balance. Ada JALAL-Nya sebanyak JAMAL-Nya.

Pada awalnya saya memandang Tuhan dalam citra JALAL-Nya [keagungan, kedigdayaan] semata-mata. Lalu menjadi paham bahwa selain JALAL ada pula JAMAL-Nya [keindahan, welas asih].

Belakangan menjadi mengerti pula bahwa JALAL dan JAMAL itu bukanlah dualitas yang 50:50 seperti Yin dan Yang. Karena Allah SWT sudah sejak awal-awal lagi berfirman bahwa rahmat-Nya mendahului kemurkaan-Nya. Artinya DIA sengaja melebihkan JAMAL-Nya di atas JALAL-Nya.

Seorang guru memberitahu hal tersebut kepada kami. Dan belakangan pula, saya temukan bahwa Ibnu Arabi juga menuliskan bahwa Allah SWT melebihkan JAMAL-Nya di atas JALAL-Nya. Sayang sekali saya lupa mencatat di buku mana saya membaca hal itu.

Tapi kurang lebih pointnya sudah bisa kita tangkap. Mensifati Tuhan dengan keliru, adalah imbas dari pemaknaan yang keliru pada hidup. Dan itulah pesan para arif, agar lihat juga pada sisi JAMAL-Nya, agar kita tidak keliru memandang sifat-Nya.

Itu adalah latihan memandang sifat-sifat yang terbaca dari keragaman di dalam hidup kita.

Tetapi, seiring mendewasanya cara pandang kita lagi. Jika semakin arif memaknai hidup, seorang guru mengatakan kita akan sampai pada pandangan yang tidak lagi melihat Tuhan sebagai diabolical, atau bersifat-sifat. Karena…. pandangan kita mulai terlepas dan tidak lagi menafsirkan macam-macam terhadap hidup.

Kalau mulai menerima hidup sebagai drama-Nya semata-mata, maka menyadari juga bahwa baik-buruk yang kita lihat dalam hidup ini ternyata timbul karena “mata manusiawi” yang terbatas. Dengan lepasnya persepsi, lepas pula sifat baik-buruk yang kita sangka itu. 

Tapi… tak usah tinggi-tinggi dan bingung. Ternyata memang enjoy the show saja. Pegang kepada syariah. Do our best. Dan seiring jalan, kepahaman bertambah sendiri.