AZAZIL

Masih ingatkah rekan-rekan kepada Azazil? Nama tenarnya adalah Iblis.
Sebelum terlempar dari syurga, Azazil adalah ketua kumpulan para malaikat. Begitu tersohor Azazil atas kesalihan pribadinya yang luar biasa.

Tetapi… berada di puncak menara gading kesalihan, menimbulkan ujiannya tersendiri. Azazil tak terima saat Adam a.s. Lah yang ditugaskan menjadi khalifah. Lho kok Adam??? Sedangkan segala performa kesalihan dirinya sudah sedemikian rupa? Tapi kok malah Adam?

Maka dari rasa tidak terima itu, epik panjang sejarah manusia dan jin tergelar.

Jika anda ada pada puncak menara gading kesalihan, puncak pencapaian pesona, maka hati-hatilah. Pada puncak itu, rasa tak terima atas pencapaian orang lain, begitu gampang terbit.

Maka benarlah Rasulullah SAW dalam haditsnya menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi kemanfaatan bagi manusia lainnya. Bukan sebaik-baik manusia adalah yang terbaik di kalangannya.

Anda bisa saja tidak menjadi yang terbaik, tetapi anda tetap bisa menebar manfaat.

Umpamanya anda pernah dikejar anjing sampai berlari lintang pukang di sebuah gang sempit. Sungguh bukan prestasi. Tapi jika dalam trauma masa silam yang menyedihkan itu anda jadikan sharing yang berguna bagi khalayak, “jangan lewat sana, saya dulu dikejar anjing disana”, maka anda sudah menebar manfaat. 

Meski jelas dikejar anjing bukanlah suatu prestasi. Tapi menebar manfaat memang bukan tentang prestasi dan puncak menara, dia tentang fokus pada memberi kebaikan.

Kebaikan yang tak selalunya meninggikan menara kita sendiri.

Antara Musa dan Khidir a.s, dua duanya orang baik. Yang Ulul Azmi adalah Musa a.s. Sedangkan Khidir bukan. Tetapi dalam ilmu batinnya, tak urung khidir menebar manfaat yang begitu banyak meski dirinya tak masuk gelaran Ulul Azmi. 

Barangkali ilustrasi di atas tak terlalu tepat konteks. Tapi, dari sudut pandang pintu depan, saya yakin kita bersama-sama tahu pointnya. 

Berkebaikanlah…..ini bukan tentang menjadi yang terbaik….ini tentang kebaikan yang memang fithrahnya harus ditebar.

Meski dengan menebarnya, orang lain menjadi lebih baik dari dirimu sendiri.

Begitulah barangkali menarik Ibrah dari cerita Azazil itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s