JANGAN BARGAIN LEWAT AMALMU

“Tidak ada seorang pun yang dimasukkan surga oleh amalnya.” Dikatakan: Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat padaku.” (HR. Muslim: 5037)

Jika segolongan orang mengira bahwa dengan amalnya mereka bisa “bargain” dengan syurga Allah, maka para Arif mengajarkan kebalikannya. Bahwa bukan amal yang menghantarkan ke syurga, melainkan rahmat dan ridho-Nya.

Memaknainya tentu bukan dengan ‘jangan beramal’. Melainkan amal tak lagi dimaknai sebagai upaya bargaining dengan syurga Allah.

Seumpama diri kita. Yang membuat kita memberi uang jajan pada anak kita adalah karena kasih sayang kita pada mereka, bukan karena ‘amal mereka.

Jika anak membantu kita dengan mencucikan piring kotor, maka jika dengan mencucikan piring kotor itu lalu anak menampilkan mentalitas merayu dan memohon, maka kita berikan mereka uang.

Tetapi, jika anak mencuci piring, lalu setelah mencuci piring mereka petantang-petenteng mengatakan 10 piring sudah dicucikan maka berhak dikasih jajan 100 ribu. Tentu kita sebagai orang tua akan dongkol.

Sudahlah hanya nyuci 10 piring, ga bersih pula, minta jajan pula, piring juga piring habis makan dia sendiri.

Jadi ternyata mencuci piring selama ini hanya urusan uang 100 ribu? Sama sekali ga ada unggah ungguh pengen bantu ortu?

Kalau unggah ungguh itu ada, jangankan sepuluh, baru niat mau nyuci piring saja ortu sudah hepi dan boleh jadi ngasih jajan meski hanya satu piring tercuci.

Perumpamaan itu memang tak ideal….tetapi lebih dari itu, para Arif mengajarkan bahwa sebelum amal terzahir pada diri kita, telah dituliskanNya amal itu untuk terzahir lewat diri kita. Sebagai bukti anugerahNya.

Itulah maksudnya bahwa rahmatNya selalu lebih cepat datang pada kita ketimbang amal kita datang padaNya.

Karena terzahirnya amal, adalah mengikut apa yang tlah ditulisNya di Lauh MahfudzNya.

Pendek cerita, ulama Arif mengajarkan kita untuk mensyukuri amal sebagai karuniaNya. Dan beramal sebagai bentuk penghambaan, karena DIA menzahirkan sifat-sifat itu lewat “pintu depan”.

Mensyukuri amal sebagai anugerahNya, pada gilirannya membuat amal terzahir lebih banyak lagi. Tetapi tak lagi amal dipandang sebagai upaya bargaining pada Allah. Melainkan sebagai bentuk kesyukuran, penghambaan.

Pada DIA yang rahmatNya mendahului murkaNya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s