MENSYUKURI MOMENT AMAL 

Orang pertama yang menohok kesadaran saya agar tidak menyepelekan sebuah ujian adalah rekan sekamar saya waktu pertama kali trainining di Kantor saya sekarang. Sewaktu saya katakan “nanti saja belajarnya”, teman saya menjawab dengan santai dan selow, “Saya tak pernah menyepelekan ujian sekecil apapun ujiannya”.
Kali kedua, mungkin adalah pimpinan saya di kantor. Yang meskipun sudah menjabat pimpinan, dan usianya tak lagi muda, tetapi setiap kali dikirim kantor untuk pergi training dia selalu menyiapkan sebuah buku catatan. Yang disana dia tuliskan macam-macam ringkasan mengenai tajuk pelajaran yang dia baca sebagai persiapan sebelum pergi training. “Bagi saya,” katanya dalam logat english yang India, “pergi training adalah sama seperti saya masuk kulaih lagi, saya persiapkan dengan detail seperti ini.” Dia menunjuk buku ringkasannya.

Tentu banyak juga kejadian lainnya yang menginspirasi saya sepanjang hidup saya, tetapi dua itu adalah yang sangat saya ingat. Dari kejadian dua itu, saya pula menjadi orang yang ‘malu’ jika saya tidak mempersiapkan diri saat menghadapi sesuatu, apakah ujian, atau tugas kantor, atau moment apa saja.

Menariknya adalah, semakin belajar spiritualitas islam, saya semakin menemukan bahwa meskipun kita berusaha, tapi usaha kita adalah bukan penentu hasil sebuah keberhasilan.

Untuk menyebut beberapa contoh diantaranya. Musa yang berdakwah mati-matian, tetapi yang mengalahkan tirani fir’aun adalah Laut Merah yang menenggelamkannya. Siti Hajar berlari habis-habisan diantara Shafa-Marwa, tetapi yang mengalirkan air adalah pijak kaki Ismail. Dan kalau agak futuristik sedikit, nanti di masa depan Ya’Juj dan Ma’Juj diperangi oleh Ummat Islam, dan Isa a.s tetapi yang mengalahkan mereka adalah ulat-ulat yang dijatuhkan pada tengkuk mereka.

Sekadar sebagai alarm, bahwa usaha tidak menentukan hasil. Dalam pandangan yang lebih tinggi lagi, adakah usaha dan hasil, yang sama-sama non existence tak punya wujud sejati, bisa saling menimbulkan satu sama lain?

Misalnya anda bermimpi, lalu dalam mimpi anda ada matahari, lalu ada sebuah pohon, lalu ada bayangan pohon. Apakah benar, bahwa bayangan itu disebabkan karena matahari? sedangkan baik bayangan, pohon, dan matahari sebenarnya tak exist, tak ada, hanya sebuah mimpi dalam imaji anda.

OK….untuk tak terlalu abstrak. Setelah menyadari bahwa semuanya dalam hidup ini, baik yang kita kira sebagai sebuah “sebab” dan hal yang kita kira sebagai sebuah “akibat” ternyata adalah dalam genggaman DIA semata-mata. Justru tidak membuat kita meninggalkan sebab.

Saya merasakan, betapa seandainya saya diberikan sebuah kesempatan training, atau kerja kantor, atau moment presentasi, saya menyiapkan dengan sebaik mungkin. Karena wujud terimakasih atas baiknya Tuhan menghadirkan moment itu dalam hidup saya.

Persiapan dan segala usaha dilakoni sebagai eskpresi kebersyukuran atas moment itu sendiri. Rasanya seperti tidak tahu terimakasih, jika ada kesempatan lalu tidak dipersiapkan. Karena kemudian tersadar bahwa kesempatan itu tidak datang dengan sendirinya. kesempatan-kesempatan yang ada, adalah dihadirkan Tuhan. Ianya telah tercatat rapih di Lauh-mahfudz tanpa ada yang dilupakan sedikitpun juga.1

Dan dalam berusaha yang dilandasi rasa terimakasih itu, disitulah semakin melihat bahwa keberhasilan-keberhasilan di depan kita, sama sekali tidak berkait dengan usaha kita. sebagaimana moment “sebab” itu dihadirkan olehNya, sebegitu juga moment “akibat” didatangkan olehNya.

Barangkali itulah maksud Rasulullah SAW saat ada seorang sahabat bertanya pada beliau, jika semua sudah tertakdir untuk apa kita usaha?

Jawab Rasulullah, tetaplah beramal (usaha), karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang tertulis baginya.

::

1. Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s