ANTARA AHLI FIKIR DAN AHLI RASA

Buya Hamka mengatakan, kurang lebih begini, bahwa dalam mempelajari tentang “yang ada” di dunia ini, mayoritas orang-orang terbagi dalam dua kelompok besar. Yang pertama adalah kelompok yang menggunakan analisa fikirnya. Yang kedua adalah para ahli batin yang mengandalkan “rasa” atau “dzauq” dalam memahami sesuatu.
Saya pernah berada pada dua sisi itu, sampai saya kemudian menyadari bahwa dua sisi itu adalah keping yang bersebelahan dalam satu uang logam.

Sewaktu SMA, saya begitu antipati dengan approach keberagamaan yang mengandalkan “rasa”. Saya waktu itu sedang gandrung-gandrungnya mempelajari fikih. Memang tidak ngaji pesantren sih, tapi buku-buku fikih terasa sangat memesona kala itu. Dan saya tak mengerti tentang tasawuf sama sekali, bahkan cenderung antipati.

Lepas SMA, saya kuliah, jaman kuliah juga masih sama saja, selepas kuliah saya baru tertarik dengan tasawuf dan mempelajari sedikit-sedikit approach keberagamaan yang pakai “rasa”.

Sampai kemudian ada sebuah kredo, dimana kalau ilmunya masih dari “buku” atau analisa fikir, belum dari “rasa” maka belum ndahsyaaat. Hehehe.

Jadi saya kemudian berfikir lagi, apakah kedekatan pada Tuhan sejatinya melulu dihantarkan lewat tirakat dan peribadatan? Lantas apa gunanya buku-buku ini?

Sampai kemudian saya bertemu seorang arif yang merangkumkan puzzle-nya. Bahwa pengenalan akan Tuhan, itu pada mulanya bisa dihantarkan lewat “ilmu” artinya analisa fikir kita yang bermain pada tangga awal.

Misalnya banyak…… Masuk lewat sains, bahwa segala sesuatu mesti dijadikan oleh suatu sebab, maka pasti ada penyebab dari segala yang ada ini, causa prima.

Lewat menyadari keteraturan di alam semesta, terlalu teratur, mesti ada yang buat.

Dan seterusnya.

Dan tentu juga lewat dalil naqli. Setelah semua bukti secara saintifik disusunkan, sampai kita bertemu… “Oooh iya juga ya”. Lalu masuk dalil Naqli-nya. Ini di Qur’an ada lho. Dibukakan semua pengetahuan mengenai Tuhan lewat Qur’an hadits, tentu ini harus pakarnya yang turun tangan.

Itu tangga pertama pengenalan akan Tuhan. Maka dikatakan oleh Imam Ghazali, awaluddin makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah. Makrifatullah adalah fundamen keberagamaan.

Bagaimana pengenalan itu sampai pada kita? Lewat ilmu, analisa fikir kita. Di-guide oleh yang udah ngerti bisa lebih cepat lagi.

Tapi analisa fikir saja, tidak cukup. Di atas makrifat, kata beliau, adalah keridhoan.

Pas masuk bahasan keridhoan, ini sudah main “rasa”. Karena diajari langsung oleh kenyataan hidup.

Kita bisa saja memiliki pengetahuan dan analisa fikir yang berkesimpulan solid. Tetapi pas dihantam badai hidup, “feel”-nya kita ga dapet. “rasa” kedekatan pada Tuhan itu kita ga dapet. Dapatnya masih gelisah dan gundah gulana. Saya berkali-kali begini.

Tetapi, masuk ke medan rasa, tanpa bekal “ilmu” yang memadai akan sulit. Karena logika akan berulang-ulang mencari pembenaran dan protes.

Barulah saya paham bahwa logika mesti kalah dulu, dengan ilmu yang sahih. Saat ilmu yang sahih sudah jadi cara pandang yang bersebati atau makjleb dalam diri, maka pas masuk ke medan “rasa” mau tak mau cara pandang itu yang dipakai.

Itulah mengapa, beliau yang arif mengatakan bahwa jika kita berulang kali dibanting-banting hidup tetapi impact atau “feel” kedekatan pada Tuhan itu belum didapat juga, berarti flow kita ada yang keliru. Basis logika atau cara pandangnya belum diperbaiki, maka “feel”-nya ga dapet.

Ya misalnya, untuk meyakini apa yang terjadi adalah yang terbaik, harus dibekali dengan segala knowledge yang mengalahkan logika kita agar tak protes. Mulai dari dalil Naqli Al-Qur’an yang mengatakan bahwa segala yang terjadi pasti berhikmah. Dalil hadits bahwa jangan mengatakan “seandainya” untuk hal yang sudah lewat. Dalil science bahwa kita tak bisa mengubah sekecil apapun tatanan mikro dalam hidup ini tanpa kita merusakkan tatanan makro-nya karena semuanya sudah saling kait mengait dengan sempurna.

Setelah semua ini masuk dan jadi cara pandang, baru kita masuk “medan rasa”. Umpama perang, bawa senjata.

Di medan rasa ini kita dibanting-banting berkali-kali. Secara fikiran kita ngerti bahwa ini yang terbaik, tapi gejolak rasa masih macam cacing kepanasan.

Waduh kok masih perih??

Dulu saya memprotes “perih” itu kok masih ada? Tapi akhirnya saya sadar, bahwa perih itu akan hilang seiring dengan waktu dan pembelajaran lewat kehidupan. Tapi harus ada yang sudah menyerah, yaitu logika kita, karena sudah mendapatkan pegangan yang pas. Hingga pada gilirannya “feel” atau rasanya sampai pada kita.

Di medan “rasa” ini, karena dia main feeling, jadi pendekatannya emang agak beda. Salah satu pendekatan yang diajarkan seorang arif adalah dengan selalu menyadari bahwa sejatinya ciptaan atau makhluk atau apa saja yang kita lihat ini tak punya wujud sejati. Mumkinul wujud. Yang sebenarnya wujud ialah dzat-Nya yang wajibul wujud. Tapi saya tak berkemampuan menerangkan lebih detail, dan memang harus pakarnya yang menerangkan. Terlebih saya juga masih jatuh bangun di tangga pertamanya.

Akhirul kalam….

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, berpuas hatilah dengan apa yang ada padamu sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Kata Rumi, Luka adalah tempat masuk cahaya.

Iklan

PEMUDA YANG MENANGIS DAN BERJARAK DEMGAN KEADAAN

Seorang pemuda menangis sesenggukan di atas sebuah jembatan. Diparkirnya motor miliknya di sisi jembatan, motor buatan cina yang sudah tua. Di sisi jembatan itulah dia menangis sesenggukan.

Apa yang dia tangisi?

Yang dia tangisi adalah wawancara kerjanya barusan. Wawancara kerja yang berlangsung buruk.

Jadi….Selepas kuliah –yang diselesaikan dengan susah sungguh, karena keterbatasan ekonomi- dia melamar pekerjaan dan melalui serangkaian test, hingga sampai pada sesi wawancara. Sesi wawancara itulah yang dia sesali karena menurutnya berlangsung begitu buruk.

Jadi dia menangisi kegagalannya untuk mendapatkan pekerjaan yang sangat dibutuhkan olehnya, dan juga sangat dibutuhkan bagi keluarganya. Beban penyesalan itulah yang membuatnya berhenti di pinggir jembatan dan menangisi persiapannya yang sekenanya.

Tetapi, takdir berkata lain. Pemuda itu lulus dan diterima bekerja di perusahaan tersebut. Tempat dia kemudian menemukan pasangan hidup disana.

Pemuda itu sahabat saya sendiri.

Saya, dan seorang rekan lainnya, berbicang banyak dengan sahabat yang saya ceritakan ini, tentang dunia kerja, tentang karir, tentang rezeki dan tentang membaca hikmah dalam kehidupan. Pelajaran moralnya jelas, yaitu “plot-nya Tuhan seringkali tidak bisa dimengerti, dan tentu saja berhikmah”.

Tetapi, yang menarik saya renungi adalah bagaimana untuk bisa “bertahan” dalam plot yang tidak dimengerti itu. Karena seringkali plot yang tak kita mengerti itu berlangsung begitu lama bertahun-tahun.

Dulu saya kira orang berperingkat tinggi itu adalah yang melulu tahu hikmah dan rahasia kejadian sebelum terjadi. Belakangan saya baru menyadari, bahwa Nabi Yakub terpisah dengan anaknya Yusuf, selama bertahun-tahun, tanpa mengerti apa hikmah dibalik semua ini? Artinya, menyabari dan meridhoi kejadian, kadangkali lebih mulia ketimbang mengetahui rahasia kejadian itu sendiri.

Tingkat pertama dalam “bertahan” menjalani plot yang seringkali tidak kita mengerti itu, dinamakan sabar. Tingkat advance-nya adalah “ridho”. Baik tingkat awal apalagi tingkat advance-nya adalah titian yang kita jalani dengan susah payah, tertatih-tatih.

Sore kemarin, selepas berbuka, saya duduk selonjoran dan bersandar pada dipan kayu di kamar. Dalam kondisi lelah seusai bekerja dan lepas berbuka dan sholat maghrib, fikiran saya melayang-layang pada fragmen-fragmen masa silam. Semua fragmen yang menyambangi saya satu-satu, tetapi saya “SADAR PENUH” pada fragmen-fragmen itu, dan membiarkannya berjalan untuk saya “tonton” tanpa hanyut.

Mulai dari fragmen saya yang masih kecil dan tembem dengan pose yang kaku berdiri di atas sebuah batu untuk difoto oleh guru semasa saya TK. Lalu fragmen dimana saya masih SD dan bermain bola di perkebunan kelapa belakang sekolah, saya masih teringat ranum pohon mangga yang besarnya luar biasa di belakang sekolah itu. Lalu fragmen-fragmen yang lain datang dan pergi satu-satu saya biarkan saja.

Betapa saya “BERJARAK” dengan semua gambaran memori itu.

Sangat terasa bahwa saya hanya “MENONTON FILM”. Saya yang “sadar” ini, berjarak secara mental dengan memori masa silam itu.

Adakah sesuatu dari memori masa silam itu yang bisa saya ubah? Tak ada….. semua sudah begitu adanya.

Seperti cerita sahabat saya diatas. Lulus atau tidak lulusnya dia pada perusahaan tempat dia pertama kali diterima bekerja, adalah juga berkelindan –ternyata– dengan bertemu atau tidak bertemunya dia dengan istrinya yang “kebetulan” bekerja di tempat yang sama.

Tetapi pertemuan dia dengan istrinya, tentu tak lengkap jika tak membicarakan anak mereka. Maka…..urusan lulus atau tidak lulusnya sahabat di perusahaan dimana dia bekerja, adalah berpaut pula dengan lahir atau tak lahirnya anak mereka. Berpaut dengan urusan nyawa seorang manusia.

Dan jika anak mereka, kelak suatu ketika misalnya ada yang jadi pembesar negri ini, maka urusan lulus atau tak lulusnya dia di perusahaan, akan suatu masa menentukan nasib bangsa.

Tentu ini agak hiperbola. Tetapi kalau ditarik runut ke belakang, dimana masa kuliah sahabat saya yang tersendat-sendat karena kesulitan ekonomi, ternyata dipikir-pikir memang harus ditunda untuk lulus pada waktu yang “PAS” agar “PAS” pula bertemu lowongan di perusahaan tersebut, dan “PAS” pula untuk bertemu istrinya.

Memang betul, kata para ilmuwan, bahwa segalanya di alam semesta ini sudah fix, dan akan sulit sekali merubah satu bagian kecil dalam tatanan maha sempurna ini, tanpa merubah tatanan lainnya yang lebih besar. Karena tak ada hal yang tak kait mengait.

Disinilah saya baru mengerti pertemuan puzzle ilmiah dengan wacana spiritualitas dalam tasawuf islam. Dan baru saya memahami mengenai takdir itu. Sempurnanya Plot Tuhan.

Kembali kepada pertanyaan tadi, bagaimana kita “bertahan” menyikapi plot Tuhan yang kadangkala tak kita mengerti.

Yang pertama, yang saya catat dari wejangan para arif adalah paradigma. Kita harus memiliki paradigma yang membuat kita yakin bahwa segalanya berhikmah. Salah satu yang bisa dipakai adalah penjelasan sains, bahwa semuanya kait mengait, dan tak ada satupun bagian kecil kehidupan yang bisa dirubah tanpa merubah tatanan makro-nya. Dan tidaklah dilupakanNya walaupun sebesar Zarrah.

Yang kedua, ini agak teknis memang. Dan ini saya baru mengerti setelah lama mencatati petuah para guru. Bahwa sesungguhnya “kita memang berjarak dengan kedaan”.

Sebagaimana kita dan fragmen memori masa silam kita “berjarak”. -Kita melihat lembaran masa silam hanya sebagai sebuah memori dimana kita ini penonton. Tak ada yang bisa kita ubah dari apa yang sudah tersetting dalam memori silam itu-, Maka sejatinya juga kita tetaplah berjarak dengan masa sekarang.

Hal ini agak absurd memang, tapi kalau sering-sering berjeda dengan keadaan, mengingatiNya, tuma’ninah, lambat laun realitanya bisa kita rasakan, bahwa kita, “the observer” itu ada di “dalam” diri, dan kenyataan hidup itu ada “di luar” diri.

Lalu “kita” dan realita kehidupan itu, seperti berjarak. Dan kita menyaksikan realita kehidupan sebagai pagelaranNya bercerita.

Baik yang pertama, maupun yang kedua, memang perlu waktu. Saya sih seringnya keluar masuk keluar masuk, kadang bisa kadang enggak, hehehehehe…..

Sampai sempat juga terfikirkan kok saya ndak bisa-bisa….Tapi ya kembali lagi, seorang guru yang Arif mengatakan, pada akhirnya Allah-lah yang mengajari. Entah lewat guru, lewat ilmu dari buku, dan lebih seringnya lagi lewat kenyataan hidup kita sendiri-sendiri.

Nanti, alih-alih, tahu-tahu kita sudah ditempatkan pada sebuah tempat pekerjaan yang mengasingkan kita dari orang-orang. Tahu-tahu kita lebih banyak waktu untuk berjeda dari rutinitas. Tahu-tahu, kita sudah “masuk” saja pada realita itu, eh……bener ternyata. Saya, dan kehidupan di luar saya ini, memang berjarak.

TASAWUF GO-JEK

gojekHari ini naik Go-Jek ada pengalaman unik. Pagi-pagi menunggu Go-jek di depan rumah, selang berapa menit eh yang nongol ibu-ibu bawa motor, sama sekali tak disangka. Waddduuuuhhhh.

Saya rasa-rasa ndak enak toh ya? Mau dicancel, rasa tak enak hati. Akhirnya ya sudah saya naik saja.

Ibu-ibu ini sedikit gemuk, tetapi diluar perkiraan saya dia sigap dan tangkas. Kalau lampu sein ke kanan, dia belok ke kanan, kalau ke kiri dia ke kiri. Tidak seperti umumnya yang dituduhkan meme-meme humor di medsos, katanya kalau ibu-ibu naik motor, sein ke kanan beloknya kiri, hehehe.

Dari Rumah ke kampung rambutan ditempuh singkat saja, dan hapal jalan-jalan pintas. Wah… mantap juga ternyata. Begitu sampai tujuan, saya beri nilai penuh, dan saya beri tips lewat aplikasi Go-Pay. Pasalnya…… “saya kasihan”, ibu-ibu terpaksa ngojek.

Lalu sorenya, kembali lagi pengalaman yang unik. Di sebrang kampung rambutan saya duduk ganteng menanti abang Go-Jek. Tak lama kemudian yang nongol bapak-bapak sepuh. Waddduuuuh….  Rasa tak enak hati. Lagi pula, bapak-bapak ini tidak memakai seragam Go-Jek, “maaf mas, jaketnya belum jadi.” Ujarnya.

“aman aja pak….” Kata saya.

“Tapi satu lagi Mas, ini motor saya kalau naik tanjakan agak ndut-ndutan, maklumlah motor tua.”

“Ooooh gapapa Pak, sante aja.” Saya jawab begitu.

Eh ternyata benar, motornya lamaaaa dan ndut-ndutan, hehehe.

Tapi setelah sampai rumah, akhirnya saya berikan nilai bintang lima di aplikasi Go-Pay, dan saya berikan tips. Alasannya sama, “saya kasihan” bapak-bapak sudah tua malah ngojek.

Dipikir-pikir, saya renungkan, eh….ternyata begitu polanya. Seringkali saya tergerak berbuat amal sosial di-drive oleh rasa kasihan. Sisi emosional saya yang tersentuh, menjadi pemantik untuk berbuat kebaikan.

Hal ini, dalam tangga-tangga kebaikan, saya pikir berada dalam level kebaikan yang saya  sangat bawah sekali.

Saya teringat dengan wejangan seorang guru, bahwa perumpamaan seseorang yang melakukan kebaikan karena Allah itu adalah seperti lilin. “Membakar diri sendiri”.

Seperti keluarga Rasulullah SAW yang memberikan makanan yang tersisa kepada fakir miskin meskipun mereka sendiri kelaparan dan tak ada makanan untuk berbuka.

Mereka berbuat baik kepada siapapun saja, melintasi kebaikan yang disetir oleh emosi. Tak perduli apakah sasaran kebaikan itu menyentuh sisi emosi dan berhak dinelongsoi apa tidak.

Waduh… saya jauh sekali dari tingkat seperti itu.

Umpamanya saja memberi sedekah, atau memberikan sebagian rizki untuk yang memerlukan, siapapun saja. Ada semacam gejolak tarik menarik di diri saya. Beri…engga….beri…engga’, sampai kemudian saya secara prinsip menyadari bahwa kebaikan ada pada “memberi”, tetapi untuk memenangkan “memberi” itu; saya harus menyelami sisi empati saya sendiri. Ketika saya membayangkan bahwa yang akan diberi ini sangat butuh, dan nelongso, maka empati saya terbit dan saya memberi.

Sehingga, pemberian saya belum melampaui batasan itu. Pemberian yang terbit karena sisi empati dan emosional saya yang tergugah. kalau ga tergugah, atau orangnya songong, ya sulit saya memberi.

Kalau para arifin, mereka-mereka memberi karena paham siapa sebenarnya “yang memberi” dan siapa sebenarnya “yang diberi”. Bahasa njlimetnya adalah “sejatinya yang memberi dan yang diberi tak pernah ada, non existence, yang ada hanyalah dzat-Nya, karena makhluk sejatinya non existence, alias tak punya wujud sejati. Bahasanya Buya Hamka, kajian mengenai yang ada ini disebut “ontologi” tapi kalau bahasan tasawuf membahas ini dalam ranah wajibul wujud dan mumkinul wujud. Wis tapi bukan ranah saya membahas detailnya. hehe.

Contohnya, seperti sebuah hadits, dimana dikatakan di akhirat kelak Allah SWT bertanya bahwa DIA sakit, tetapi tidak dijenguk. Lalu hamba kebingungan, bagaimana mungkin Tuhan semesta alam sakit? Lalu dijawab bahwa si Fulan sakit, kenapa tidak dijenguk? Si fulan lapar kenapa tidak diberi makan? seandainya diberi makan atau dijenguk, akan kita dapati orang-orang yang butuh itu ada disisiNya.  [1]

Kepahaman seperti itulah yang berada di tangga lebih atas lagi. Melampaui kebaikan-kebaikan yang disetir oleh rasa kasihan dan empati atas nelongsonya orang lain.

Tapi ya kebaikan seperti itu ga bisa dikarang-karang. Kalau belum nyampe ya belum nyampe, hehe.

Secara jujur saya mengaku kepada seorang guru yang arif, bahwa saya masih sangat jauh dari capaian sebegitu. Tetapi beliau katakan, bahwa setiap buah akan ada masa ranumnya. Jadi yo wis….. nikmati sajalah…segini yo rapopo. hehe.

Saya jadi teringat kisah Abu Bakar Ash Shiddiq yang menafkahkan seluruh hartanya. Dan itu “boleh” untuk beliau. Kasus yang khusus.

Sahabat lainnya, menafkahkan lebih dari sepertiga harta, tak boleh, dikatakan bahwa sepertiga itupun sudah banyak.

Kembali lagi. Artinya bukanlah tidak boleh beramal. Ada hal-hal yang wajib dan sudah diset menjadi standar setiap orang harus melakukan. Misalnya ya sholat lima waktu.

Tetapi dalam kasus-kasus tertentu, saya baru pahami maksudnya para arif yang mengatakan bahwa amaliyah itu terzahir dari ahwal-ahwal (situasi ruhani). Berbeda ahwalnya, maka akan berbeda pula amaliyah yang zahir pada orang tersebut.

Yang perlu pokok dipahami adalah betapa pentingnya “pemahaman”. Pemahaman yang benar akan pada gilirannya menghantarkan pada terbitnya amaliyah yang lebih tajam.

Teringat saya sebuah perumpamaan dari sang arif tersebut, bahwa jika belum ada “impact” bagi kita –utamanya saya-, belum ada bekas yang nampak pada kehidupan pribadi kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah kembali mengaji lagi ilmunya. Sampai kepahamannya benar dan tajam. Nanti, pada masanya kepahaman yang benar itu akan berbuah manis.

Mintalah padaNya kepahaman, karena kepahaman itulah yang akan menerbitkan perbuatan.

Begitu…. Laporan dari naik gojek hari ini. Demikian.


Ref:

[1] “Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu kunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?” “Hai, anak Adam! Aku minta makan kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?” Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, Bagaimana mungkin aku memberi engkau makan, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu seandainya kamu memberinya makan niscaya engkau mendapatkannya di sisi-Ku?” “Hai, anak Adam! Aku minta minum kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?” Jawab anak Adam; “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau minum, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala menjawab: “Hamba-Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku.” (HR. Muslim: 4661) – http://hadits.in/muslim/4661

* ) Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

 

MENGEJAR MUADZIN MUSHOLLA 

Betapapun saya ingin menyalip, atau paling tidak menyamai Mas Isdat, muadzin musholla komplek, saya selalu kalah.
Dia yang paling dahulu ada di Musholla komplek, sedang saya jarang-jarang. Dia hadir disana dan menjadi muadzin langganan, dia orang paling bersahaja, tak banyak bicara tapi selalu hadir dan berkontribusi dalam acara, menyumbang hal-hal yang remeh temeh sampai meminjamkan peralatan rumah untuk keperluan acara-acara sosial.

Jadi, saya selalu kalah dalam capaian-capaian kebaikan itu.

Yang menarik dari menyadari kekalahan kebaikan itu adalah saya menjadi lebih memahami wejangan guru, bahwa “jika ditakdirkan beramal, maka beramallah seseorang itu.”

Karena direnung-renung bahwa hal-hal yang mendukung terzahirnya sebuah amal itu banyak. 

Umpamanya saya melihat mas Isdat, maka paling tidak saya bisa membuat list hal-hal yang mendukung, antara lain kondisi pekerjaan, kultur, sifat bawaan, keluarga, dan hal-hal yang lebih abstrak semisal ilham kebaikan, semuanya harus “berkonspirasi” sehingga amal kebaikan mewujud dari Mas Isdat pada waktunya yang telah ditentukan.

Ibnu Athaillah mengatakan, jika ingin melihat kedudukanmu disisi Allah, lihatlah dimana DIA menempatkanmu sekarang.

Dalam suatu Hadits dikatakan, jika Allah inginkan kebaikan pada seseorang, maka orang itu difakihkan dalam agama.

Artinya, kebaikan yang muncul dari seseorang, bukanlah “sebab”, melainkan akibat dari didudukkannya orang tersebut pada posisi yang Allah kehendaki.

Hal ini senada dengan wejangan para arif, bukan amalmu yang menyampaikan kepada DIA, melainkan DIA yang menyampaikanmu padaNya.

Akan tetapi, menyadari segala hal tersebut tidak lantas membuat kita menyepelekan amal.

Sebagaimana hadits Rasulullah tentang takdir, jangan berpasrah -meski sudah tahu bahwa segalanya tertulis-, melainkan tetaplah beramal, karena seseorang akan dimudahkan atas apa yang telah tertulis baginya.

Mentalitas kita dalam beramal menjadi berbeda. Kita melihat amal sebagai sebuah anugerah. 

Sering kita dengar bahwa nikmat terbesar adalah “islam”, kalimat itu barulah saya temukan sisi spiritualnya lewat tasawuf, bahwa segala hal yang menjadikan kita bisa menyesapi kehidupan sebagai “dalam genggaman” DIA ; itulah anugerah itu.

Dan kadangkali, cara DIA menghantarkan kita pada kesimpulan itu adalah lewat onak duri.

Seringnya sih, sebelum melewati onak duri ujian kita agak-agak “ga percaya bahwa bukan amal kita yang menyampaikan kita padaNya”. Seperti kita berkuasa atas amaliyah kita. Sepertinya amal kita yang menyampaikan kita padaNya.

Tetapi setelah dibanting-banting hidup biasanya mulai berubah cara pandang. Dan menyadari bahwa tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.

Dan saya perhatikan, sesiapa yang pelan-pelan memahami mengenai ini, tidak lantas menjadi abai akan amalnya, melainkan dalam amalnya dia bersyukur, dalam kendurnya dia menjadi semakin memohon dimudahkan beramal.

Seperti sebuah doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Allahumma ainni ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatika. Ya Allah, ajarkan aku berdzikir padaMu, bersyukur padaMu, dan memperbaiki ibadahku.

Jadi kalau dianugerahi, maka terzahirlah amal-amal itu pada kita.

KENYANG SEHARI, LAPAR SEHARI

eatHidup bertaburkan kemewahan, tetapi dekat dengan Tuhan. Saya sih mau hidup begitu, hehehe…. Enaknya. Tetapi yang mendapatkan peran bertabur kemewahan dan gelimang harta yang berkah dan jadi jalan kesyukuran, sudah ada Nabi Sulaiman a.s.

Masing-masing kita mengikuti laju kereta takdir kita masing-masing. Kita menjadi penumpang di dalam perjalanan takdir. Yang kebanyakan tema-nya adalah kadan enak, dan seringnya tak enak.

Rasulullah SAW dalam kebersahajaan beliau,tatkala padang pasir hendak dijadikan emas untuk beliau, maka beliau katakan beliau hanya ingin hidup sehari kenyang- sehari lapar.

Saat kenyang memujiNya, saat lapar merendah padaNya.[1]

Dalam menyikapi lapar ini, saya sering mengelirukan antara sabar dan ridho.

Saya mengira, bahwa kesabaran adalah ketiadaan emosi duka-lara saat ditimpa ujian. Maka saya sering kesal sendiri pada diri saya, saat ada ujian kok masih ada sedih dan duka lara? Kok bukannya santai kaya di pantai??

Padahal,  kondisi dimana saat ada ujian malah santai kaya di pantai, alias ridho, atau seratus persen lapang dan bebasnya hati dari rasa sedih dan duka, adalah level yang lebih tinggi dari sabar, ridho itu diatas sabar.

Umpamanya, saat seseorang tidak makan, maka impuls listrik dari lambung mengirim sinyal ke dalam otak yang diterjemahkan sebagai “rasa lapar”.

“Rasa lapar” ini tidak mengenal kasta spiritual. Orang arif dan rampok, sama-sama mengenali “rasa lapar” apabila lambungnya lama tak terisi.

Akan tetapi, “rasa lapar” menghantarkan pada suasana merendah dan butuh pada pertolongan Tuhan dalam usahanya, lewat kacamata orang arif. Itu sabar.

Sebaliknya, “rasa lapar” menyebabkan misuh-misuh, dan lalu menghantarkan pada hasrat merampas milik orang lain dalam kacamata seorang rampok. Itu tak sabar.

Sebagaimana rasa lapar akan terbit secara natural. Begitupun rasa sedih, dan rasa takut. Sedih dan takut, adalah alarm psikologis. Takut, adalah alarm bahwa ada sesuatu yang tak kita mengerti, sebagaimana lapar adalah alarm bahwa lambung belum terisi.

Di dalam kesulitan, rasa sedih dan takut, muncul secara natural sebagai alarm bagi psikologis kita. Tetapi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sedih dan takut adalah umpama “lapar sehari” yang menghantarkan kita merendah kepadaNya.

Kesabaran kita, tidak menjadi cacat dengan hadirnya rasa sedih dan takut dalam jiwa kita, selama sedih dan takut itu menghantar kita padaNya. Karena, manusia umumnya yang awam, membutuhkan konteks untuk mengakrabiNya. Sebagaimana Ali r.a katakan, karena mendapati dirinya sebagai yang fakir, maka dikenalilah Tuhan sebagai Yang Maha Kaya.

Seorang arif mengajarkan, bahwa dengan mentalitas yang tepat, kita bisa “meletakkan” rasa sedih dan takut, – juga rasa yang lain- di luar jiwa kita. Kedudukan kita terhadap rasa-rasa yang seliweran datang dan pergi itu umpama dokter dan pasien.

Kita –yang sadar dan mengamati- itu adalah dokternya, dan pasiennya adalah rasa-rasa yang seliweran itu. Kenapa mereka datang? Apa yang keliru? Karena setiap perasaan yang datang, bukan datang begitu saja, tetapi menunaikan fungsi mereka masing-masing sebagai alarm bagi jiwa.

Kedudukan spiritual dii atasnya lagi, dari maqom mensabari rasa-rasa yang seliweran itu, adalah “terlepas”nya kita dari rasa-rasa itu sama sekali. Itu ridho.

Kondisi plong karena lewat macam-macam rasa itu, selalu kita kembali pada Tuhan. maka seperti ada jarak mental antara kita dan rasa. Benar-benar rasa hanya dimaknai sebagai alarm saja bagi jiwa.

Ternyata flow-nya begitu. Tetapi kita, utamanya saya, rasanya begitu jauh dari capaian itu. Seringnya sih rasa itu nempel di hati kaya perangko, hahaha.

Tetapi langkah awalnya sederhana ternyata, jika kenyang kita memujiNya, jika lapar kita merendah padaNya. Orang tak bisa mencapai “ridho” tanpa melewati gelombang rasa sabar dan syukur itu.


[1] H.R. Ahmad 21166

*) image sources

ORANG BESAR DI SEKITAR ANDA

Saya iseng mencari data mengenai Bill Gates dan Mark Zuckerberg, terkait dengan “amal” yang mereka sumbangkan bagi kemanusiaan. Kononnya, entah valid entah tidak, Mark zuckerberg mendermakan 99% saham Facebook untuk amal.

Entah bagaimana skema pembagiannya saya ga mudeng, tapi yang jelas memang sering sekali dia tercatat sebagai salah seorang penderma bagi yayasan amal.

Begitu pula Bill Gates. Tercatat saya baca di wikipedia, dia menyumbang setara 44.3 billiun us Dollar. Per 2014 lalu.

Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan banyak lagi contoh pebisnis ternama, adalah orang-orang yang menemukan sisi spiritualitas kehidupan pada puncak keduniawian mereka.

Entah sudah berapa kali, saya sering juga menemukan cerminan pola itu dalam kehidupan kerja saya pribadi. Saya banyak bertemu dengan orang-orang besar dalam dunia bisnis migas, yang menjadi spiritualis pada puncak prestasi mereka.

Seperti kemarin, saat saya berkesempatan menjaga stand kantor di perhelatan IPA CONVENTION ke-41 di Jakarta Convention Center, seorang lelaki berusia sekira 50 tahunan datang dengan santai ke pojokan stand kami dan melihat sebuah layar TV yang sedang memutar video sebuah teknologi dalan industri pengeboran migas.

Karena rekan-rekan yang lain sedang sibuk menghampiri pengunjung lainnya, maka saya hampirilah beliau dan berbincang santai.

Sederhana orangnya, dalam balutan pakaian batik yang juga sederhana, tak nampak mewah, memegang secangkir kopi dari booth yang banyak terhampar di seputaran Hall JCC.

Saya ajak ngobrol dengan bersahaja, si Bapak selalu mengarahkan pada obrolan bisnis makro. Saya tarik lagi ngobrol teknologi, kembali dia ngobrol bisnis dari skala global sambil santai. Eh…..sopo Bapak Iki? Saya mulai curiga.

Saya lirik name tag-nya dan saya lupa-lupa ingat, kayanya saya kenal orang ini. Pernah dengar namanya entah dimana.

Tapi obrolan berlanjut, dan dia bersedia mendengarkan paparan, sembari menjelaskan pandangan beliau tentang skema gross split eksplorasi migas.

Selepas obrolan singkat itu, beliau pamit dan melanjutkan melihat-lihat.

Saya yang penasaran langsung membuka mbah google di handphone, dan tentu saja, olalaaaa…..ternyata beliau adalah salah satu dewan direksi BUMN Migas ternama di Indonesia.

Padahal, biasanya untuk pengunjung “level-level tertentu” akan ada tim khusus yang menyapa dan tentntunya dengan bingkisan pula. Hehehehe. Tetapi ini beliau seorang dewan direksi, “tak terdeteksi” karena style yang sangat biasa.

Saya jadi teringat dulu zaman Mahasiswa, saya sempat mengerjakan skripsi di perusahaan Migas BUMN Indonesia, dan selalunya yang begitu humble, sopan, akomodatif, santai adalah orang-orang yang ada pada puncak piramida. Yang baru-baru ngebos biasanya rada gegayaan dikit, hehehe.

Pelajarannya setidaknya yang bisa saya rangkum adalah:

– respect everyone. Tak hanya orang-orang yang nampak biasa itu kadangkali orang “penting” di dunia lahiriah, tetapi lebih sering juga orang-orang yang nampak biasa adalah orang-orang yang secara spiritual adalah begitu mumpuni dan dekat dengan Tuhan. Umpamanya Uwais Al Qarni yang gembel tapi mulia. Atau umpamanya juga Umar Bin Khattab, khalifah dimasa penaklukan-penaklukan, tetapi juga seorang spiritualis sejati.

– kedua, adalah bahwa di puncak perjalanan hidup, orang sering bertemu kenyataan bahwa bukan hidup ini yang mereka cari. Maka para pucuk pimpinan -tentu tak selalu- malah menjadi biasa dan banyak derma. Misalnya steve jobs, bill gates, Mark zuckerberg selalu bajunya itu-itu aja dan stylenya santai…. Banyak sedekah…. Asyik kan? Hehe.

– ketiga, kadangkali kehidupan yang dimasa sekarang, menjadi jalan kebaikan di masa depan. Saya pernah bertemu seseorang yang dulu saat beliau masih muda begitu sombongnya dan saya pernah begitu sakit hati dibuatnya sewaktu mereka menjadi client kami. Tetapi sekarang lebih santai, calm, dan humble. Jadi ya cerita masa lalu dan kesombongan silam itu hanya jadi jalan bagia dia menemukan kedewasaan lewat kereta karirnya.

– keempat, melihat semua fakta itu. Pahamlah kita, pendidikan “ruhani” adalah sesuatu yang sangat luas, dan berkait dengan semua orang. Kadangkala, kebijakan hidup tidak selalunya didapatkan orang lewat bangku pesantren. Ini lho, universitas kehidupan ini lho, lewat bentuknya yang beragam, mengajarkan kita dengan caranya sendiri.

Dan sebagai pamungkasnya, tak perlu kita sampai pada puncak karir dulu baru jadi spiritualis, yang penting kita paham skema, bahwa dunia adalah jalannya, menspiritualis adalah cara kita Iqro’ membaca pelajaran-Nya.

MAKAN DIM-SUM DAN MENCARI EMOSI

Ini cerita agak norak sedikit, jadi ceritanya saya baru mengenal makanan yang namanya Dim-Sum itu selepas kuliah, sewaktu saya baru masuk kerja dan mendapatkan training di Balikpapan.

Saat training, dua bulan penuh tinggal di hotel, dan tiap pagi sarapan di restaurant hotel dimana ada salah satu menu Dim-Sum disana. Wah….ini siomay model baru nih, pikir saya waktu itu, benar-benar norak, hehehehe.

Saat dicoba, oh my God….memang enak sekali. Terlebih Dim-Sum yang isinya jamur sama potongan daging, dan yang ceker ayam, waduuuh memang luar biasa. Jadi setiap pagi saya langsung ambil Dim-Sum, sebelum mengambil menu yang lain-lain. Dim-Sum sudah menjadi menu favorit kedua saya, setelah Mie Ayam, hahahaha.

Nah….sewaktu menikmati Dim-Sum, dan sewaktu menyesapi kesempatan tinggal di hotel, dan transisi dari anak kuliahan yang nge-kos dan serba sulit, lalu ujug-ujug dapat uang sendiri dan hidup lumayan nyaman, ini memberikan sensasi kebahagiaan. Hepi hepi begitu.

Alhamdulillah, saya bersyukur bahwa Allah mentakdirkan saya bekerja, dan mendapatkan kesempatan menikmati momen-momen happy yang sederhana itu.

Nah….”rasa bahagia”, yang kemudian menghantarkan pada kebersyukuran, tentulah bagus. Sebagaimana “rasa sedih” yang menghantarkan pada sikap fakir dan butuh pada pertolongan Tuhan, itupun bagus.

Tetapi, ada satu hal yang kembali mengingatkan saya akan perbedaan yang tipis itu, bahwa tentram dan bahagia itu berbeda. Adakah rasa tentram dalam mengingati Allah itu sama dengan emosi bahagia saat makan Dim-Sum?

Seorang Arif, kembali mengingatkan saya bahwa rasa tentram saat mengingati Allah, adalah berbeda dengan apa yang selama ini kita kenal dengan “emosi bahagia”. Dengan “emosi bahagia” saja beda, apalagi dengan “emosi sedih”.

Tetapi, kelirunya kita, dan utamanya kelirunya saya sendiri, adalah kita mencari “emosi” itu disaat kita mengingati Allah.

Seringkali, ada yang bertanya, bagaimana rasanya mengingati Allah? Persis seperti yang saya dulu sering tanyakan juga pada orang-orang, apa rasanya?

“Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”. 

Kita mengelirukan rasa tenang itu dengan emosi bahagia. Maka saat berdoa, berdzikir, mengingati Allah kita mencari bentuk emosi……kok saya tidak merasa bahagia ya?

Atau kebalikannya kok kita tidak merasa syahdu dan haru biru ya? Kok saya tidak menangis?

Padahal “state” default keadaan mengingati Allah itu adalah menghasilkan efek “tenang” atau tentram ini yang paling sering. Bukan bahagia emosional yang buncah, bukan sedih yang menyayat hati.

Tentram, ini umpamanya danau yang tenang. Yang kalau dilempari batu, maka batu itu masuk ke dalam. Tidak menimbulkan bekas di permukaan danau. Permukaannya hanya beriak sedikit tetapi riaknya tidak masuk ke dalam, lalu sebentar kemudian mereda.

Itulah tentram. Rasa tenang, yang bukan emosi bahagia berlebih, dan bukan rasa haru berlebih.

Tapi saya sih seringnya ombak yang membadai, bukan danau yang tentram. Hahahahaha.

Tentu bisa saja, sesorang mengingati Allah kemudian menimbulkan rasa guncang. Karena sesorang terbayang kekuasaan Allah. Menangis haru. Sangat bisa. Apakah dia merasakan JAMAL-Nya, atau JALAL-Nya.

Akan tetapi, barulah saya paham, setelah guru menjelaskan bahwa impact dari ingat Allah yang “sebegitunya” itu tidak akan terus menerus. Tidak yang dikit-dikit nangis haru, teruuuuus seumur hidup.

Seperti saat kali pertama rasulullah menerima wahyu, badannya bergetar, guncang, takut dan sampai mau meloncat dari gua hira. Tetapi hal itu tidak setiap hari. 

Dijelaskan oleh beliau yang Arif, bahwa jika setiap saat seseorang mendapatkan situasi ruhani seperti itu, maka manusia akan mati karena tak kuat menanggungnya.

Jadi wis, ga usah nyari-nyari emosi. Karena state paling sering didapati itu adalah “tentram” karena mengingati Allah. Yang tiada umpama. Seperti berjarak dengan emosi yang membuncah dan bergolak. Yang di dalam itu, selalu tenang. Dan terasa bahwa emosi itu adalah anasir di luar diri kita.

Seseorang bisa saja, menemukan emosi bahagia dengan membayangkan kejadian atau membayangkan suasana yang dia senangi, emosi bahagianya terbit, tapi itu bukan mengingat Allah.

Sebagaimana seseorang bisa saja menjadi haru biru menangis syahdu dengan mengingat-ingat masalahnya selalu, tetapi itu adalah emosi haru, bukan mengingati Allah.

Saat mengingati Allah, dan lepas dari ingatan pada benda-benda, rupa, warna, kejadian-kejadian, maka hati akan tentram. Sudah begitu saja.

Tinggal nanti apakah akan diperjalankan merasakan JAMAL-Nya atau JALAL-Nya. Tetapi tetap bukan emosi-emosi itu tujuannya.

Tetapi sebaliknya, jika cerita hidup menghantarkan macam-macam emosi itu pada kita, ya jadikan pintu saja untuk berdoa. 

Nah….begitulah ceritanya. Saya ketik sembari makan mie goreng, tak ada Dim-Sum di sini sekarang. Hehehe.