ANTARA AHLI FIKIR DAN AHLI RASA

Buya Hamka mengatakan, kurang lebih begini, bahwa dalam mempelajari tentang “yang ada” di dunia ini, mayoritas orang-orang terbagi dalam dua kelompok besar. Yang pertama adalah kelompok yang menggunakan analisa fikirnya. Yang kedua adalah para ahli batin yang mengandalkan “rasa” atau “dzauq” dalam memahami sesuatu.
Saya pernah berada pada dua sisi itu, sampai saya kemudian menyadari bahwa dua sisi itu adalah keping yang bersebelahan dalam satu uang logam.

Sewaktu SMA, saya begitu antipati dengan approach keberagamaan yang mengandalkan “rasa”. Saya waktu itu sedang gandrung-gandrungnya mempelajari fikih. Memang tidak ngaji pesantren sih, tapi buku-buku fikih terasa sangat memesona kala itu. Dan saya tak mengerti tentang tasawuf sama sekali, bahkan cenderung antipati.

Lepas SMA, saya kuliah, jaman kuliah juga masih sama saja, selepas kuliah saya baru tertarik dengan tasawuf dan mempelajari sedikit-sedikit approach keberagamaan yang pakai “rasa”.

Sampai kemudian ada sebuah kredo, dimana kalau ilmunya masih dari “buku” atau analisa fikir, belum dari “rasa” maka belum ndahsyaaat. Hehehe.

Jadi saya kemudian berfikir lagi, apakah kedekatan pada Tuhan sejatinya melulu dihantarkan lewat tirakat dan peribadatan? Lantas apa gunanya buku-buku ini?

Sampai kemudian saya bertemu seorang arif yang merangkumkan puzzle-nya. Bahwa pengenalan akan Tuhan, itu pada mulanya bisa dihantarkan lewat “ilmu” artinya analisa fikir kita yang bermain pada tangga awal.

Misalnya banyak…… Masuk lewat sains, bahwa segala sesuatu mesti dijadikan oleh suatu sebab, maka pasti ada penyebab dari segala yang ada ini, causa prima.

Lewat menyadari keteraturan di alam semesta, terlalu teratur, mesti ada yang buat.

Dan seterusnya.

Dan tentu juga lewat dalil naqli. Setelah semua bukti secara saintifik disusunkan, sampai kita bertemu… “Oooh iya juga ya”. Lalu masuk dalil Naqli-nya. Ini di Qur’an ada lho. Dibukakan semua pengetahuan mengenai Tuhan lewat Qur’an hadits, tentu ini harus pakarnya yang turun tangan.

Itu tangga pertama pengenalan akan Tuhan. Maka dikatakan oleh Imam Ghazali, awaluddin makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah. Makrifatullah adalah fundamen keberagamaan.

Bagaimana pengenalan itu sampai pada kita? Lewat ilmu, analisa fikir kita. Di-guide oleh yang udah ngerti bisa lebih cepat lagi.

Tapi analisa fikir saja, tidak cukup. Di atas makrifat, kata beliau, adalah keridhoan.

Pas masuk bahasan keridhoan, ini sudah main “rasa”. Karena diajari langsung oleh kenyataan hidup.

Kita bisa saja memiliki pengetahuan dan analisa fikir yang berkesimpulan solid. Tetapi pas dihantam badai hidup, “feel”-nya kita ga dapet. “rasa” kedekatan pada Tuhan itu kita ga dapet. Dapatnya masih gelisah dan gundah gulana. Saya berkali-kali begini.

Tetapi, masuk ke medan rasa, tanpa bekal “ilmu” yang memadai akan sulit. Karena logika akan berulang-ulang mencari pembenaran dan protes.

Barulah saya paham bahwa logika mesti kalah dulu, dengan ilmu yang sahih. Saat ilmu yang sahih sudah jadi cara pandang yang bersebati atau makjleb dalam diri, maka pas masuk ke medan “rasa” mau tak mau cara pandang itu yang dipakai.

Itulah mengapa, beliau yang arif mengatakan bahwa jika kita berulang kali dibanting-banting hidup tetapi impact atau “feel” kedekatan pada Tuhan itu belum didapat juga, berarti flow kita ada yang keliru. Basis logika atau cara pandangnya belum diperbaiki, maka “feel”-nya ga dapet.

Ya misalnya, untuk meyakini apa yang terjadi adalah yang terbaik, harus dibekali dengan segala knowledge yang mengalahkan logika kita agar tak protes. Mulai dari dalil Naqli Al-Qur’an yang mengatakan bahwa segala yang terjadi pasti berhikmah. Dalil hadits bahwa jangan mengatakan “seandainya” untuk hal yang sudah lewat. Dalil science bahwa kita tak bisa mengubah sekecil apapun tatanan mikro dalam hidup ini tanpa kita merusakkan tatanan makro-nya karena semuanya sudah saling kait mengait dengan sempurna.

Setelah semua ini masuk dan jadi cara pandang, baru kita masuk “medan rasa”. Umpama perang, bawa senjata.

Di medan rasa ini kita dibanting-banting berkali-kali. Secara fikiran kita ngerti bahwa ini yang terbaik, tapi gejolak rasa masih macam cacing kepanasan.

Waduh kok masih perih??

Dulu saya memprotes “perih” itu kok masih ada? Tapi akhirnya saya sadar, bahwa perih itu akan hilang seiring dengan waktu dan pembelajaran lewat kehidupan. Tapi harus ada yang sudah menyerah, yaitu logika kita, karena sudah mendapatkan pegangan yang pas. Hingga pada gilirannya “feel” atau rasanya sampai pada kita.

Di medan “rasa” ini, karena dia main feeling, jadi pendekatannya emang agak beda. Salah satu pendekatan yang diajarkan seorang arif adalah dengan selalu menyadari bahwa sejatinya ciptaan atau makhluk atau apa saja yang kita lihat ini tak punya wujud sejati. Mumkinul wujud. Yang sebenarnya wujud ialah dzat-Nya yang wajibul wujud. Tapi saya tak berkemampuan menerangkan lebih detail, dan memang harus pakarnya yang menerangkan. Terlebih saya juga masih jatuh bangun di tangga pertamanya.

Akhirul kalam….

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, berpuas hatilah dengan apa yang ada padamu sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Kata Rumi, Luka adalah tempat masuk cahaya.

PEMUDA YANG MENANGIS DAN BERJARAK DENGAN KEADAAN

Seorang pemuda menangis sesenggukan di atas sebuah jembatan. Diparkirnya motor miliknya di sisi jembatan, motor buatan cina yang sudah tua. Di sisi jembatan itulah dia menangis sesenggukan.

Apa yang dia tangisi?

Yang dia tangisi adalah wawancara kerjanya barusan. Wawancara kerja yang berlangsung buruk.

Jadi….Selepas kuliah –yang diselesaikan dengan susah sungguh, karena keterbatasan ekonomi- dia melamar pekerjaan dan melalui serangkaian test, hingga sampai pada sesi wawancara. Sesi wawancara itulah yang dia sesali karena menurutnya berlangsung begitu buruk.

Jadi dia menangisi kegagalannya untuk mendapatkan pekerjaan yang sangat dibutuhkan olehnya, dan juga sangat dibutuhkan bagi keluarganya. Beban penyesalan itulah yang membuatnya berhenti di pinggir jembatan dan menangisi persiapannya yang sekenanya.

Tetapi, takdir berkata lain. Pemuda itu lulus dan diterima bekerja di perusahaan tersebut. Tempat dia kemudian menemukan pasangan hidup disana.

Pemuda itu sahabat saya sendiri.

Saya, dan seorang rekan lainnya, berbicang banyak dengan sahabat yang saya ceritakan ini, tentang dunia kerja, tentang karir, tentang rezeki dan tentang membaca hikmah dalam kehidupan. Pelajaran moralnya jelas, yaitu “plot-nya Tuhan seringkali tidak bisa dimengerti, dan tentu saja berhikmah”.

Tetapi, yang menarik saya renungi adalah bagaimana untuk bisa “bertahan” dalam plot yang tidak dimengerti itu. Karena seringkali plot yang tak kita mengerti itu berlangsung begitu lama bertahun-tahun.

Dulu saya kira orang berperingkat tinggi itu adalah yang melulu tahu hikmah dan rahasia kejadian sebelum terjadi. Belakangan saya baru menyadari, bahwa Nabi Yakub terpisah dengan anaknya Yusuf, selama bertahun-tahun, tanpa mengerti apa hikmah dibalik semua ini? Artinya, menyabari dan meridhoi kejadian, kadangkali lebih mulia ketimbang mengetahui rahasia kejadian itu sendiri.

Tingkat pertama dalam “bertahan” menjalani plot yang seringkali tidak kita mengerti itu, dinamakan sabar. Tingkat advance-nya adalah “ridho”. Baik tingkat awal apalagi tingkat advance-nya adalah titian yang kita jalani dengan susah payah, tertatih-tatih.

Sore kemarin, selepas berbuka, saya duduk selonjoran dan bersandar pada dipan kayu di kamar. Dalam kondisi lelah seusai bekerja dan lepas berbuka dan sholat maghrib, fikiran saya melayang-layang pada fragmen-fragmen masa silam. Semua fragmen yang menyambangi saya satu-satu, tetapi saya “SADAR PENUH” pada fragmen-fragmen itu, dan membiarkannya berjalan untuk saya “tonton” tanpa hanyut.

Mulai dari fragmen saya yang masih kecil dan tembem dengan pose yang kaku berdiri di atas sebuah batu untuk difoto oleh guru semasa saya TK. Lalu fragmen dimana saya masih SD dan bermain bola di perkebunan kelapa belakang sekolah, saya masih teringat ranum pohon mangga yang besarnya luar biasa di belakang sekolah itu. Lalu fragmen-fragmen yang lain datang dan pergi satu-satu saya biarkan saja.

Betapa saya “BERJARAK” dengan semua gambaran memori itu.

Sangat terasa bahwa saya hanya “MENONTON FILM”. Saya yang “sadar” ini, berjarak secara mental dengan memori masa silam itu.

Adakah sesuatu dari memori masa silam itu yang bisa saya ubah? Tak ada….. semua sudah begitu adanya.

Seperti cerita sahabat saya diatas. Lulus atau tidak lulusnya dia pada perusahaan tempat dia pertama kali diterima bekerja, adalah juga berkelindan –ternyata– dengan bertemu atau tidak bertemunya dia dengan istrinya yang “kebetulan” bekerja di tempat yang sama.

Tetapi pertemuan dia dengan istrinya, tentu tak lengkap jika tak membicarakan anak mereka. Maka…..urusan lulus atau tidak lulusnya sahabat di perusahaan dimana dia bekerja, adalah berpaut pula dengan lahir atau tak lahirnya anak mereka. Berpaut dengan urusan nyawa seorang manusia.

Dan jika anak mereka, kelak suatu ketika misalnya ada yang jadi pembesar negri ini, maka urusan lulus atau tak lulusnya dia di perusahaan, akan suatu masa menentukan nasib bangsa.

Tentu ini agak hiperbola. Tetapi kalau ditarik runut ke belakang, dimana masa kuliah sahabat saya yang tersendat-sendat karena kesulitan ekonomi, ternyata dipikir-pikir memang harus ditunda untuk lulus pada waktu yang “PAS” agar “PAS” pula bertemu lowongan di perusahaan tersebut, dan “PAS” pula untuk bertemu istrinya.

Memang betul, kata para ilmuwan, bahwa segalanya di alam semesta ini sudah fix, dan akan sulit sekali merubah satu bagian kecil dalam tatanan maha sempurna ini, tanpa merubah tatanan lainnya yang lebih besar. Karena tak ada hal yang tak kait mengait.

Disinilah saya baru mengerti pertemuan puzzle ilmiah dengan wacana spiritualitas dalam tasawuf islam. Dan baru saya memahami mengenai takdir itu. Sempurnanya Plot Tuhan.

Kembali kepada pertanyaan tadi, bagaimana kita “bertahan” menyikapi plot Tuhan yang kadangkala tak kita mengerti.

Yang pertama, yang saya catat dari wejangan para arif adalah paradigma. Kita harus memiliki paradigma yang membuat kita yakin bahwa segalanya berhikmah. Salah satu yang bisa dipakai adalah penjelasan sains, bahwa semuanya kait mengait, dan tak ada satupun bagian kecil kehidupan yang bisa dirubah tanpa merubah tatanan makro-nya. Dan tidaklah dilupakanNya walaupun sebesar Zarrah.

Yang kedua, ini agak teknis memang. Dan ini saya baru mengerti setelah lama mencatati petuah para guru. Bahwa sesungguhnya “kita memang berjarak dengan kedaan”.

Sebagaimana kita dan fragmen memori masa silam kita “berjarak”. -Kita melihat lembaran masa silam hanya sebagai sebuah memori dimana kita ini penonton. Tak ada yang bisa kita ubah dari apa yang sudah tersetting dalam memori silam itu-, Maka sejatinya juga kita tetaplah berjarak dengan masa sekarang.

Hal ini agak absurd memang, tapi kalau sering-sering berjeda dengan keadaan, mengingatiNya, tuma’ninah, lambat laun realitanya bisa kita rasakan, bahwa kita, “the observer” itu ada di “dalam” diri, dan kenyataan hidup itu ada “di luar” diri.

Lalu “kita” dan realita kehidupan itu, seperti berjarak. Dan kita menyaksikan realita kehidupan sebagai pagelaranNya bercerita.

Baik yang pertama, maupun yang kedua, memang perlu waktu. Saya sih seringnya keluar masuk keluar masuk, kadang bisa kadang enggak, hehehehehe…..

Sampai sempat juga terfikirkan kok saya ndak bisa-bisa….Tapi ya kembali lagi, seorang guru yang Arif mengatakan, pada akhirnya Allah-lah yang mengajari. Entah lewat guru, lewat ilmu dari buku, dan lebih seringnya lagi lewat kenyataan hidup kita sendiri-sendiri.

Nanti, alih-alih, tahu-tahu kita sudah ditempatkan pada sebuah tempat pekerjaan yang mengasingkan kita dari orang-orang. Tahu-tahu kita lebih banyak waktu untuk berjeda dari rutinitas. Tahu-tahu, kita sudah “masuk” saja pada realita itu, eh……bener ternyata. Saya, dan kehidupan di luar saya ini, memang berjarak.

TASAWUF GO-JEK

gojekHari ini naik Go-Jek ada pengalaman unik. Pagi-pagi menunggu Go-jek di depan rumah, selang berapa menit eh yang nongol ibu-ibu bawa motor, sama sekali tak disangka. Waddduuuuhhhh.

Saya rasa-rasa ndak enak toh ya? Mau dicancel, rasa tak enak hati. Akhirnya ya sudah saya naik saja.

Ibu-ibu ini sedikit gemuk, tetapi diluar perkiraan saya dia sigap dan tangkas. Kalau lampu sein ke kanan, dia belok ke kanan, kalau ke kiri dia ke kiri. Tidak seperti umumnya yang dituduhkan meme-meme humor di medsos, katanya kalau ibu-ibu naik motor, sein ke kanan beloknya kiri, hehehe.

Dari Rumah ke kampung rambutan ditempuh singkat saja, dan hapal jalan-jalan pintas. Wah… mantap juga ternyata. Begitu sampai tujuan, saya beri nilai penuh, dan saya beri tips lewat aplikasi Go-Pay. Pasalnya…… “saya kasihan”, ibu-ibu terpaksa ngojek.

Lalu sorenya, kembali lagi pengalaman yang unik. Di sebrang kampung rambutan saya duduk ganteng menanti abang Go-Jek. Tak lama kemudian yang nongol bapak-bapak sepuh. Waddduuuuh….  Rasa tak enak hati. Lagi pula, bapak-bapak ini tidak memakai seragam Go-Jek, “maaf mas, jaketnya belum jadi.” Ujarnya.

“aman aja pak….” Kata saya.

“Tapi satu lagi Mas, ini motor saya kalau naik tanjakan agak ndut-ndutan, maklumlah motor tua.”

“Ooooh gapapa Pak, sante aja.” Saya jawab begitu.

Eh ternyata benar, motornya lamaaaa dan ndut-ndutan, hehehe.

Tapi setelah sampai rumah, akhirnya saya berikan nilai bintang lima di aplikasi Go-Pay, dan saya berikan tips. Alasannya sama, “saya kasihan” bapak-bapak sudah tua malah ngojek.

Dipikir-pikir, saya renungkan, eh….ternyata begitu polanya. Seringkali saya tergerak berbuat amal sosial di-drive oleh rasa kasihan. Sisi emosional saya yang tersentuh, menjadi pemantik untuk berbuat kebaikan.

Hal ini, dalam tangga-tangga kebaikan, saya pikir berada dalam level kebaikan yang saya  sangat bawah sekali.

Saya teringat dengan wejangan seorang guru, bahwa perumpamaan seseorang yang melakukan kebaikan karena Allah itu adalah seperti lilin. “Membakar diri sendiri”.

Seperti keluarga Rasulullah SAW yang memberikan makanan yang tersisa kepada fakir miskin meskipun mereka sendiri kelaparan dan tak ada makanan untuk berbuka.

Mereka berbuat baik kepada siapapun saja, melintasi kebaikan yang disetir oleh emosi. Tak perduli apakah sasaran kebaikan itu menyentuh sisi emosi dan berhak dinelongsoi apa tidak.

Waduh… saya jauh sekali dari tingkat seperti itu.

Umpamanya saja memberi sedekah, atau memberikan sebagian rizki untuk yang memerlukan, siapapun saja. Ada semacam gejolak tarik menarik di diri saya. Beri…engga….beri…engga’, sampai kemudian saya secara prinsip menyadari bahwa kebaikan ada pada “memberi”, tetapi untuk memenangkan “memberi” itu; saya harus menyelami sisi empati saya sendiri. Ketika saya membayangkan bahwa yang akan diberi ini sangat butuh, dan nelongso, maka empati saya terbit dan saya memberi.

Sehingga, pemberian saya belum melampaui batasan itu. Pemberian yang terbit karena sisi empati dan emosional saya yang tergugah. kalau ga tergugah, atau orangnya songong, ya sulit saya memberi.

Kalau para arifin, mereka-mereka memberi karena paham siapa sebenarnya “yang memberi” dan siapa sebenarnya “yang diberi”. Bahasa njlimetnya adalah “sejatinya yang memberi dan yang diberi tak pernah ada, non existence, yang ada hanyalah dzat-Nya, karena makhluk sejatinya non existence, alias tak punya wujud sejati. Bahasanya Buya Hamka, kajian mengenai yang ada ini disebut “ontologi” tapi kalau bahasan tasawuf membahas ini dalam ranah wajibul wujud dan mumkinul wujud. Wis tapi bukan ranah saya membahas detailnya. hehe.

Contohnya, seperti sebuah hadits, dimana dikatakan di akhirat kelak Allah SWT bertanya bahwa DIA sakit, tetapi tidak dijenguk. Lalu hamba kebingungan, bagaimana mungkin Tuhan semesta alam sakit? Lalu dijawab bahwa si Fulan sakit, kenapa tidak dijenguk? Si fulan lapar kenapa tidak diberi makan? seandainya diberi makan atau dijenguk, akan kita dapati orang-orang yang butuh itu ada disisiNya.  [1]

Kepahaman seperti itulah yang berada di tangga lebih atas lagi. Melampaui kebaikan-kebaikan yang disetir oleh rasa kasihan dan empati atas nelongsonya orang lain.

Tapi ya kebaikan seperti itu ga bisa dikarang-karang. Kalau belum nyampe ya belum nyampe, hehe.

Secara jujur saya mengaku kepada seorang guru yang arif, bahwa saya masih sangat jauh dari capaian sebegitu. Tetapi beliau katakan, bahwa setiap buah akan ada masa ranumnya. Jadi yo wis….. nikmati sajalah…segini yo rapopo. hehe.

Saya jadi teringat kisah Abu Bakar Ash Shiddiq yang menafkahkan seluruh hartanya. Dan itu “boleh” untuk beliau. Kasus yang khusus.

Sahabat lainnya, menafkahkan lebih dari sepertiga harta, tak boleh, dikatakan bahwa sepertiga itupun sudah banyak.

Kembali lagi. Artinya bukanlah tidak boleh beramal. Ada hal-hal yang wajib dan sudah diset menjadi standar setiap orang harus melakukan. Misalnya ya sholat lima waktu.

Tetapi dalam kasus-kasus tertentu, saya baru pahami maksudnya para arif yang mengatakan bahwa amaliyah itu terzahir dari ahwal-ahwal (situasi ruhani). Berbeda ahwalnya, maka akan berbeda pula amaliyah yang zahir pada orang tersebut.

Yang perlu pokok dipahami adalah betapa pentingnya “pemahaman”. Pemahaman yang benar akan pada gilirannya menghantarkan pada terbitnya amaliyah yang lebih tajam.

Teringat saya sebuah perumpamaan dari sang arif tersebut, bahwa jika belum ada “impact” bagi kita –utamanya saya-, belum ada bekas yang nampak pada kehidupan pribadi kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah kembali mengaji lagi ilmunya. Sampai kepahamannya benar dan tajam. Nanti, pada masanya kepahaman yang benar itu akan berbuah manis.

Mintalah padaNya kepahaman, karena kepahaman itulah yang akan menerbitkan perbuatan.

Begitu…. Laporan dari naik gojek hari ini. Demikian.


Ref:

[1] “Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu kunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?” “Hai, anak Adam! Aku minta makan kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?” Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, Bagaimana mungkin aku memberi engkau makan, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu seandainya kamu memberinya makan niscaya engkau mendapatkannya di sisi-Ku?” “Hai, anak Adam! Aku minta minum kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?” Jawab anak Adam; “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau minum, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala menjawab: “Hamba-Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku.” (HR. Muslim: 4661) – http://hadits.in/muslim/4661

* ) Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

 

MENGEJAR MUADZIN MUSHOLLA 

Betapapun saya ingin menyalip, atau paling tidak menyamai Mas Isdat, muadzin musholla komplek, saya selalu kalah.
Dia yang paling dahulu ada di Musholla komplek, sedang saya jarang-jarang. Dia hadir disana dan menjadi muadzin langganan, dia orang paling bersahaja, tak banyak bicara tapi selalu hadir dan berkontribusi dalam acara, menyumbang hal-hal yang remeh temeh sampai meminjamkan peralatan rumah untuk keperluan acara-acara sosial.

Jadi, saya selalu kalah dalam capaian-capaian kebaikan itu.

Yang menarik dari menyadari kekalahan kebaikan itu adalah saya menjadi lebih memahami wejangan guru, bahwa “jika ditakdirkan beramal, maka beramallah seseorang itu.”

Karena direnung-renung bahwa hal-hal yang mendukung terzahirnya sebuah amal itu banyak. 

Umpamanya saya melihat mas Isdat, maka paling tidak saya bisa membuat list hal-hal yang mendukung, antara lain kondisi pekerjaan, kultur, sifat bawaan, keluarga, dan hal-hal yang lebih abstrak semisal ilham kebaikan, semuanya harus “berkonspirasi” sehingga amal kebaikan mewujud dari Mas Isdat pada waktunya yang telah ditentukan.

Ibnu Athaillah mengatakan, jika ingin melihat kedudukanmu disisi Allah, lihatlah dimana DIA menempatkanmu sekarang.

Dalam suatu Hadits dikatakan, jika Allah inginkan kebaikan pada seseorang, maka orang itu difakihkan dalam agama.

Artinya, kebaikan yang muncul dari seseorang, bukanlah “sebab”, melainkan akibat dari didudukkannya orang tersebut pada posisi yang Allah kehendaki.

Hal ini senada dengan wejangan para arif, bukan amalmu yang menyampaikan kepada DIA, melainkan DIA yang menyampaikanmu padaNya.

Akan tetapi, menyadari segala hal tersebut tidak lantas membuat kita menyepelekan amal.

Sebagaimana hadits Rasulullah tentang takdir, jangan berpasrah -meski sudah tahu bahwa segalanya tertulis-, melainkan tetaplah beramal, karena seseorang akan dimudahkan atas apa yang telah tertulis baginya.

Mentalitas kita dalam beramal menjadi berbeda. Kita melihat amal sebagai sebuah anugerah. 

Sering kita dengar bahwa nikmat terbesar adalah “islam”, kalimat itu barulah saya temukan sisi spiritualnya lewat tasawuf, bahwa segala hal yang menjadikan kita bisa menyesapi kehidupan sebagai “dalam genggaman” DIA ; itulah anugerah itu.

Dan kadangkali, cara DIA menghantarkan kita pada kesimpulan itu adalah lewat onak duri.

Seringnya sih, sebelum melewati onak duri ujian kita agak-agak “ga percaya bahwa bukan amal kita yang menyampaikan kita padaNya”. Seperti kita berkuasa atas amaliyah kita. Sepertinya amal kita yang menyampaikan kita padaNya.

Tetapi setelah dibanting-banting hidup biasanya mulai berubah cara pandang. Dan menyadari bahwa tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.

Dan saya perhatikan, sesiapa yang pelan-pelan memahami mengenai ini, tidak lantas menjadi abai akan amalnya, melainkan dalam amalnya dia bersyukur, dalam kendurnya dia menjadi semakin memohon dimudahkan beramal.

Seperti sebuah doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Allahumma ainni ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatika. Ya Allah, ajarkan aku berdzikir padaMu, bersyukur padaMu, dan memperbaiki ibadahku.

Jadi kalau dianugerahi, maka terzahirlah amal-amal itu pada kita.

KENYANG SEHARI, LAPAR SEHARI

eatHidup bertaburkan kemewahan, tetapi dekat dengan Tuhan. Saya sih mau hidup begitu, hehehe…. Enaknya. Tetapi yang mendapatkan peran bertabur kemewahan dan gelimang harta yang berkah dan jadi jalan kesyukuran, sudah ada Nabi Sulaiman a.s.

Masing-masing kita mengikuti laju kereta takdir kita masing-masing. Kita menjadi penumpang di dalam perjalanan takdir. Yang kebanyakan tema-nya adalah kadan enak, dan seringnya tak enak.

Rasulullah SAW dalam kebersahajaan beliau,tatkala padang pasir hendak dijadikan emas untuk beliau, maka beliau katakan beliau hanya ingin hidup sehari kenyang- sehari lapar.

Saat kenyang memujiNya, saat lapar merendah padaNya.[1]

Dalam menyikapi lapar ini, saya sering mengelirukan antara sabar dan ridho.

Saya mengira, bahwa kesabaran adalah ketiadaan emosi duka-lara saat ditimpa ujian. Maka saya sering kesal sendiri pada diri saya, saat ada ujian kok masih ada sedih dan duka lara? Kok bukannya santai kaya di pantai??

Padahal,  kondisi dimana saat ada ujian malah santai kaya di pantai, alias ridho, atau seratus persen lapang dan bebasnya hati dari rasa sedih dan duka, adalah level yang lebih tinggi dari sabar, ridho itu diatas sabar.

Umpamanya, saat seseorang tidak makan, maka impuls listrik dari lambung mengirim sinyal ke dalam otak yang diterjemahkan sebagai “rasa lapar”.

“Rasa lapar” ini tidak mengenal kasta spiritual. Orang arif dan rampok, sama-sama mengenali “rasa lapar” apabila lambungnya lama tak terisi.

Akan tetapi, “rasa lapar” menghantarkan pada suasana merendah dan butuh pada pertolongan Tuhan dalam usahanya, lewat kacamata orang arif. Itu sabar.

Sebaliknya, “rasa lapar” menyebabkan misuh-misuh, dan lalu menghantarkan pada hasrat merampas milik orang lain dalam kacamata seorang rampok. Itu tak sabar.

Sebagaimana rasa lapar akan terbit secara natural. Begitupun rasa sedih, dan rasa takut. Sedih dan takut, adalah alarm psikologis. Takut, adalah alarm bahwa ada sesuatu yang tak kita mengerti, sebagaimana lapar adalah alarm bahwa lambung belum terisi.

Di dalam kesulitan, rasa sedih dan takut, muncul secara natural sebagai alarm bagi psikologis kita. Tetapi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sedih dan takut adalah umpama “lapar sehari” yang menghantarkan kita merendah kepadaNya.

Kesabaran kita, tidak menjadi cacat dengan hadirnya rasa sedih dan takut dalam jiwa kita, selama sedih dan takut itu menghantar kita padaNya. Karena, manusia umumnya yang awam, membutuhkan konteks untuk mengakrabiNya. Sebagaimana Ali r.a katakan, karena mendapati dirinya sebagai yang fakir, maka dikenalilah Tuhan sebagai Yang Maha Kaya.

Seorang arif mengajarkan, bahwa dengan mentalitas yang tepat, kita bisa “meletakkan” rasa sedih dan takut, – juga rasa yang lain- di luar jiwa kita. Kedudukan kita terhadap rasa-rasa yang seliweran datang dan pergi itu umpama dokter dan pasien.

Kita –yang sadar dan mengamati- itu adalah dokternya, dan pasiennya adalah rasa-rasa yang seliweran itu. Kenapa mereka datang? Apa yang keliru? Karena setiap perasaan yang datang, bukan datang begitu saja, tetapi menunaikan fungsi mereka masing-masing sebagai alarm bagi jiwa.

Kedudukan spiritual dii atasnya lagi, dari maqom mensabari rasa-rasa yang seliweran itu, adalah “terlepas”nya kita dari rasa-rasa itu sama sekali. Itu ridho.

Kondisi plong karena lewat macam-macam rasa itu, selalu kita kembali pada Tuhan. maka seperti ada jarak mental antara kita dan rasa. Benar-benar rasa hanya dimaknai sebagai alarm saja bagi jiwa.

Ternyata flow-nya begitu. Tetapi kita, utamanya saya, rasanya begitu jauh dari capaian itu. Seringnya sih rasa itu nempel di hati kaya perangko, hahaha.

Tetapi langkah awalnya sederhana ternyata, jika kenyang kita memujiNya, jika lapar kita merendah padaNya. Orang tak bisa mencapai “ridho” tanpa melewati gelombang rasa sabar dan syukur itu.


[1] H.R. Ahmad 21166

*) image sources

ORANG BESAR DI SEKITAR ANDA

Saya iseng mencari data mengenai Bill Gates dan Mark Zuckerberg, terkait dengan “amal” yang mereka sumbangkan bagi kemanusiaan. Kononnya, entah valid entah tidak, Mark zuckerberg mendermakan 99% saham Facebook untuk amal.

Entah bagaimana skema pembagiannya saya ga mudeng, tapi yang jelas memang sering sekali dia tercatat sebagai salah seorang penderma bagi yayasan amal.

Begitu pula Bill Gates. Tercatat saya baca di wikipedia, dia menyumbang setara 44.3 billiun us Dollar. Per 2014 lalu.

Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan banyak lagi contoh pebisnis ternama, adalah orang-orang yang menemukan sisi spiritualitas kehidupan pada puncak keduniawian mereka.

Entah sudah berapa kali, saya sering juga menemukan cerminan pola itu dalam kehidupan kerja saya pribadi. Saya banyak bertemu dengan orang-orang besar dalam dunia bisnis migas, yang menjadi spiritualis pada puncak prestasi mereka.

Seperti kemarin, saat saya berkesempatan menjaga stand kantor di perhelatan IPA CONVENTION ke-41 di Jakarta Convention Center, seorang lelaki berusia sekira 50 tahunan datang dengan santai ke pojokan stand kami dan melihat sebuah layar TV yang sedang memutar video sebuah teknologi dalan industri pengeboran migas.

Karena rekan-rekan yang lain sedang sibuk menghampiri pengunjung lainnya, maka saya hampirilah beliau dan berbincang santai.

Sederhana orangnya, dalam balutan pakaian batik yang juga sederhana, tak nampak mewah, memegang secangkir kopi dari booth yang banyak terhampar di seputaran Hall JCC.

Saya ajak ngobrol dengan bersahaja, si Bapak selalu mengarahkan pada obrolan bisnis makro. Saya tarik lagi ngobrol teknologi, kembali dia ngobrol bisnis dari skala global sambil santai. Eh…..sopo Bapak Iki? Saya mulai curiga.

Saya lirik name tag-nya dan saya lupa-lupa ingat, kayanya saya kenal orang ini. Pernah dengar namanya entah dimana.

Tapi obrolan berlanjut, dan dia bersedia mendengarkan paparan, sembari menjelaskan pandangan beliau tentang skema gross split eksplorasi migas.

Selepas obrolan singkat itu, beliau pamit dan melanjutkan melihat-lihat.

Saya yang penasaran langsung membuka mbah google di handphone, dan tentu saja, olalaaaa…..ternyata beliau adalah salah satu dewan direksi BUMN Migas ternama di Indonesia.

Padahal, biasanya untuk pengunjung “level-level tertentu” akan ada tim khusus yang menyapa dan tentntunya dengan bingkisan pula. Hehehehe. Tetapi ini beliau seorang dewan direksi, “tak terdeteksi” karena style yang sangat biasa.

Saya jadi teringat dulu zaman Mahasiswa, saya sempat mengerjakan skripsi di perusahaan Migas BUMN Indonesia, dan selalunya yang begitu humble, sopan, akomodatif, santai adalah orang-orang yang ada pada puncak piramida. Yang baru-baru ngebos biasanya rada gegayaan dikit, hehehe.

Pelajarannya setidaknya yang bisa saya rangkum adalah:

– respect everyone. Tak hanya orang-orang yang nampak biasa itu kadangkali orang “penting” di dunia lahiriah, tetapi lebih sering juga orang-orang yang nampak biasa adalah orang-orang yang secara spiritual adalah begitu mumpuni dan dekat dengan Tuhan. Umpamanya Uwais Al Qarni yang gembel tapi mulia. Atau umpamanya juga Umar Bin Khattab, khalifah dimasa penaklukan-penaklukan, tetapi juga seorang spiritualis sejati.

– kedua, adalah bahwa di puncak perjalanan hidup, orang sering bertemu kenyataan bahwa bukan hidup ini yang mereka cari. Maka para pucuk pimpinan -tentu tak selalu- malah menjadi biasa dan banyak derma. Misalnya steve jobs, bill gates, Mark zuckerberg selalu bajunya itu-itu aja dan stylenya santai…. Banyak sedekah…. Asyik kan? Hehe.

– ketiga, kadangkali kehidupan yang dimasa sekarang, menjadi jalan kebaikan di masa depan. Saya pernah bertemu seseorang yang dulu saat beliau masih muda begitu sombongnya dan saya pernah begitu sakit hati dibuatnya sewaktu mereka menjadi client kami. Tetapi sekarang lebih santai, calm, dan humble. Jadi ya cerita masa lalu dan kesombongan silam itu hanya jadi jalan bagia dia menemukan kedewasaan lewat kereta karirnya.

– keempat, melihat semua fakta itu. Pahamlah kita, pendidikan “ruhani” adalah sesuatu yang sangat luas, dan berkait dengan semua orang. Kadangkala, kebijakan hidup tidak selalunya didapatkan orang lewat bangku pesantren. Ini lho, universitas kehidupan ini lho, lewat bentuknya yang beragam, mengajarkan kita dengan caranya sendiri.

Dan sebagai pamungkasnya, tak perlu kita sampai pada puncak karir dulu baru jadi spiritualis, yang penting kita paham skema, bahwa dunia adalah jalannya, menspiritualis adalah cara kita Iqro’ membaca pelajaran-Nya.

MAKAN DIM-SUM DAN MENCARI EMOSI

Ini cerita agak norak sedikit, jadi ceritanya saya baru mengenal makanan yang namanya Dim-Sum itu selepas kuliah, sewaktu saya baru masuk kerja dan mendapatkan training di Balikpapan.

Saat training, dua bulan penuh tinggal di hotel, dan tiap pagi sarapan di restaurant hotel dimana ada salah satu menu Dim-Sum disana. Wah….ini siomay model baru nih, pikir saya waktu itu, benar-benar norak, hehehehe.

Saat dicoba, oh my God….memang enak sekali. Terlebih Dim-Sum yang isinya jamur sama potongan daging, dan yang ceker ayam, waduuuh memang luar biasa. Jadi setiap pagi saya langsung ambil Dim-Sum, sebelum mengambil menu yang lain-lain. Dim-Sum sudah menjadi menu favorit kedua saya, setelah Mie Ayam, hahahaha.

Nah….sewaktu menikmati Dim-Sum, dan sewaktu menyesapi kesempatan tinggal di hotel, dan transisi dari anak kuliahan yang nge-kos dan serba sulit, lalu ujug-ujug dapat uang sendiri dan hidup lumayan nyaman, ini memberikan sensasi kebahagiaan. Hepi hepi begitu.

Alhamdulillah, saya bersyukur bahwa Allah mentakdirkan saya bekerja, dan mendapatkan kesempatan menikmati momen-momen happy yang sederhana itu.

Nah….”rasa bahagia”, yang kemudian menghantarkan pada kebersyukuran, tentulah bagus. Sebagaimana “rasa sedih” yang menghantarkan pada sikap fakir dan butuh pada pertolongan Tuhan, itupun bagus.

Tetapi, ada satu hal yang kembali mengingatkan saya akan perbedaan yang tipis itu, bahwa tentram dan bahagia itu berbeda. Adakah rasa tentram dalam mengingati Allah itu sama dengan emosi bahagia saat makan Dim-Sum?

Seorang Arif, kembali mengingatkan saya bahwa rasa tentram saat mengingati Allah, adalah berbeda dengan apa yang selama ini kita kenal dengan “emosi bahagia”. Dengan “emosi bahagia” saja beda, apalagi dengan “emosi sedih”.

Tetapi, kelirunya kita, dan utamanya kelirunya saya sendiri, adalah kita mencari “emosi” itu disaat kita mengingati Allah.

Seringkali, ada yang bertanya, bagaimana rasanya mengingati Allah? Persis seperti yang saya dulu sering tanyakan juga pada orang-orang, apa rasanya?

“Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”. 

Kita mengelirukan rasa tenang itu dengan emosi bahagia. Maka saat berdoa, berdzikir, mengingati Allah kita mencari bentuk emosi……kok saya tidak merasa bahagia ya?

Atau kebalikannya kok kita tidak merasa syahdu dan haru biru ya? Kok saya tidak menangis?

Padahal “state” default keadaan mengingati Allah itu adalah menghasilkan efek “tenang” atau tentram ini yang paling sering. Bukan bahagia emosional yang buncah, bukan sedih yang menyayat hati.

Tentram, ini umpamanya danau yang tenang. Yang kalau dilempari batu, maka batu itu masuk ke dalam. Tidak menimbulkan bekas di permukaan danau. Permukaannya hanya beriak sedikit tetapi riaknya tidak masuk ke dalam, lalu sebentar kemudian mereda.

Itulah tentram. Rasa tenang, yang bukan emosi bahagia berlebih, dan bukan rasa haru berlebih.

Tapi saya sih seringnya ombak yang membadai, bukan danau yang tentram. Hahahahaha.

Tentu bisa saja, sesorang mengingati Allah kemudian menimbulkan rasa guncang. Karena sesorang terbayang kekuasaan Allah. Menangis haru. Sangat bisa. Apakah dia merasakan JAMAL-Nya, atau JALAL-Nya.

Akan tetapi, barulah saya paham, setelah guru menjelaskan bahwa impact dari ingat Allah yang “sebegitunya” itu tidak akan terus menerus. Tidak yang dikit-dikit nangis haru, teruuuuus seumur hidup.

Seperti saat kali pertama rasulullah menerima wahyu, badannya bergetar, guncang, takut dan sampai mau meloncat dari gua hira. Tetapi hal itu tidak setiap hari. 

Dijelaskan oleh beliau yang Arif, bahwa jika setiap saat seseorang mendapatkan situasi ruhani seperti itu, maka manusia akan mati karena tak kuat menanggungnya.

Jadi wis, ga usah nyari-nyari emosi. Karena state paling sering didapati itu adalah “tentram” karena mengingati Allah. Yang tiada umpama. Seperti berjarak dengan emosi yang membuncah dan bergolak. Yang di dalam itu, selalu tenang. Dan terasa bahwa emosi itu adalah anasir di luar diri kita.

Seseorang bisa saja, menemukan emosi bahagia dengan membayangkan kejadian atau membayangkan suasana yang dia senangi, emosi bahagianya terbit, tapi itu bukan mengingat Allah.

Sebagaimana seseorang bisa saja menjadi haru biru menangis syahdu dengan mengingat-ingat masalahnya selalu, tetapi itu adalah emosi haru, bukan mengingati Allah.

Saat mengingati Allah, dan lepas dari ingatan pada benda-benda, rupa, warna, kejadian-kejadian, maka hati akan tentram. Sudah begitu saja.

Tinggal nanti apakah akan diperjalankan merasakan JAMAL-Nya atau JALAL-Nya. Tetapi tetap bukan emosi-emosi itu tujuannya.

Tetapi sebaliknya, jika cerita hidup menghantarkan macam-macam emosi itu pada kita, ya jadikan pintu saja untuk berdoa. 

Nah….begitulah ceritanya. Saya ketik sembari makan mie goreng, tak ada Dim-Sum di sini sekarang. Hehehe.

PERANG FACEBOOK DAN MEMAKNAI DOSA

Facebook sudah menjadi kancah perang sekarang ini. Setiap kali membuka facebook, setiap itu pula seperti melihat medan debat raksasa, dua kubu yang itu-itu juga, pemilihan kepala daerah di ibukota. Yang menimbulkan friksi dimana-mana.

Saya menjadi silent reader dalam perdebatan mereka, sambil kadang senyum kadang kaget dengan cara pandang sebagian kalangan. Tapi ya kemudian anggap angin lalu saja. 

Tetapi, yang mengusik pikiran sejak kemarin adalah perdebatan antar teman SMA yang sampai mengungkit ranah masa lalu. Salah satu kubu, menghardik kubu lainnya dengan mengatakan jangan sok suci dan jangan urusi kesalihan orang lain. Bukankah kamu dulu waktu sekolah SMA orangnya begini begitu, luar biasa sekarang kok kamu jadi seperti yang paling salih…… dan seterusnya dan seterusnya.

Saya tertegun membaca pertengkaran mereka. Bukan dari segi politiknya, tetapi secara “spiritual” saya menjadi bertanya-tanya apakah seseorang itu harus selalu dikaitkan dengan masa lalunya? Bagaimana para arif memaknai dosa, dalam sudut pandang tasawuf islam?

Nabiyullah Adam, a.s memulai ceritra manusia di bumi diawali dengan “dosa” memakan buah khuldi. Dan dalam satu hadits, dikatakan bahwa di syurga kelak, Adam, a.s. didebat oleh Musa, a.s. Musa katakan, karena dosa Adam, a.s. lah anak keturunan manusia terpaksa hidup di bumi. 

Tetapi dikatakan dalam hadits tersebut, Adam a.s. menjawab kepada Musa, apakah Musa hendak menyalahkan Adam, mengenai sesuatu yang telah dituliskan untuk Adam –yaitu takdir dosanya- jauh-jauh hari sebelum Adam diciptakan? Lalu Adam mengalahkan Musa dalam hujjahnya.

Menarik, melihat bahwa “dosa” Adam diungkit kembali oleh Musa, tetapi kemudian Adam berhujjah, berdebat dengan Musa dengan mengatakan bahwa dosa itu sudah tertakdir untuknya, bagaimana bisa dia disalahkan?

Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya tentang takdir, sempat saya baca juga menjelaskan mengenai ini. Menurut Ibnu Qayyim, dosa seseorang, yang sudah menjadi jalan taubatnya, yang dengan dosa itu malah orang tersebut menjadi semakin mengenal Tuhan, dan menjadi semakin mengenal sifat Keampunan Tuhan, dan lain-lain…..tidak boleh diungkit –ungkit. Seperti yang terjadi pada Adam, a.s. dengan dosa itulah Adam, a.s. menjadi mengenali Tuhan pada sisi pengampunanNya. 

Orang yang sudah bertaubat, dan lewat jalan pertaubatan itu menjadi semakin mengenali Tuhan, maka dipertanyakan masa lalunya; maka orang ini “boleh” mendebat atas nama takdir. Begitu kurang lebih yang saya tangkap dari tulisan Ibnu Qayyim.

Akan tetapi kedudukan berhujjah atas nama takdir, ini akan menjadi berbeda, dengan orang-orang yang “sedang” melakukan dosa, kemudian untuk menjustifikasi dosanya itu, dia menyalahkan takdir. Ini keliru. 

Kenapa keliru?

Jawaban tentang hal itu, sebuah harmoni yang apik, saya temukan lewat kajian para arif dalam tasawuf islam. Harmoni itu adalah bahwa seseorang jangan berbohong atas kondisi spiritualnya sendiri.

Orang yang benar-benar merasakan bahwa Allah adalah penggenggam takdir, penentu baik-buruk kehidupan, maka orang ini akan mengenali sifat-sifat Jalal Tuhan lewat kepahamannya itu. Ya umpamanya saja Nabi Yunus, lewat “dosa”nya dia sampai pada takdir ditelan ikan Nun. Maka saat itu dia akan terpandang atau “rasa” kekuasaan Allah, perasaan bersalah yang menyampaikan pada “rasa” kemahabesaran dan pertolongan Tuhan. 

Maka di dalam perut ikan Nun itu, Yunus menemukan realita keberserahan dan harap akan keampunan Tuhan. Lalu diujungnya, Nabi Yunus dibebaskan dari perut ikan itu.

Yunus tidak sibuk membela diri dengan mengatakan “loh… kan dosa saya sudah tertakdir”, karena Yunus a.s. paham sekali bahwa dengan kereta takdir, Tuhan bisa membawanya kemana saja. Sebab itu, atas keterpandangannya akan kesempurnaan takdir itulah justru dia berdoa dan berharap pertolongan Tuhan.

Dalam bahasa Ali r.a, karena menemukan diri sebagai yang fakir dan kerdil, maka dikenalilah Tuhan sebagai yang Maha Besar. Yang mengenali atau mendapati dirinya kerdil, pasti menyatakan kebesaran Tuhan. Dalam bahasa seorang guru yang arif, “jangan berlagak wujud dihadapan yang Maha Wujud”. Itulah pesan bagi orang yang berhujjah atas takdir untuk menjustifikasi kesalahannya, alih-alih mendapati diri sebagai yang kerdil lalu menemukan Kebesaran Tuhan.

Jadi dalam pandangan tasawuf, “dosa” itu juga dalam genggaman Tuhan. itu sebab, cara pandang para arif agak berbeda dengan kebanyakan orang. Saya perhatikan, kalau kebanyakan orang saat berdosa merasa frustasi dan kemudian memperbanyak amalan supaya dosa-nya bisa ditutupi dengan pahala, jadi neraca kebaikan lebih berat. Tetapi para arif tidak begitu.

Saat tertakdir berdosa, maka mereka melihat bahwa benarlah tak ada daya dan upaya selain dari pertolongan Tuhan. Maka mereka meminta pertolongan Tuhan agar diselamatkan dari takdir berbuat sesuatu yang buruk. Peribadatan yang mereka lakukan, mentalitasnya berbeda.

Seperti seseorang yang benar-benar meminta tolong karena dia tidak bisa melakukan suatu kebaikan, atau menghindari keburukan kecuali karena Allah mentakdirkan mereka begitu.

Saya, tadinya hendak bertanya pada seorang guru yang arif, bagaimana caranya agar saya bisa banyak beribadah dan kuat bangun malam seperti yang beliau lakukan. Tetapi saya urung bertanya, karena saya teringat jawab beliau pada seseorang yang bertanya pertanyaan serupa. “Kalau Allah takdirkan kamu beramal, maka akan beramallah kamu. Harus sabar…..”

Dalam pandangan biasa, ini akan keliru dipahami, “mosok…. Ga ada usaha?”

Padahal, maksud beliau adalah membenarkan mentalitas, dari segi “rasa” di batin. Bahwa saat tak banyak ibadah yang kita lakukan, sadarilah bahwa ibadah itu karunia, maka memintalah kepada Allah –memintanya ya namanya ibadah juga toh?- dengan menyadari bahwa jika DIA mudahkan kita beribadah; maka akan mudahlah kita beribadah.

Barangkali, inilah maksudnya dengan menuju DIA dengan mengandalkan DIA juga.

Begitu juga dalam dosa, yang bisa melepaskan diri dari dosa ya DIA juga. Maka memintalah dan lakukanlah upaya menjauhi dosa, dalam mentalitas meminta tolong padaNya yang menguasai takdir hidup kita.

Pada akhirnya, dalam kacamata yang diajarkan para ariflah, saya memaknai dosa sebagai jalan pulang. Siapakah yang tak pernah berdosa kecuali yang maksum. Adam, a.s berdosa, Musa berdosa, Yunus berdosa, tetapi adakah karunia yang lebih baik selain dari sesuatu yang kita anggap buruk (tertakdir berdosa) malah menjadi jalan menemukan DIA?

Itulah barangkali maksudnya, bahwa DIA bisa memasukkan siang kedalam malam, memasukkan malam ke dalam siang, mengeluarkan yang baik dari sesuatu yang nampaknya buruk, dan atau mengeluarkan keburukan dari sesuatu yang nampaknya baik. Pada ujungnya, baik dan buruk itu hanya cerita, tetapi ujungnya adalah mengenalkan DIA.

MENGEMBALIKAN SINGGASANA RAJA 

Dalam hubungan sosial kemasyarakatan, saya rasakan secara subjektif bahwa saya adalah seorang pembelajar yang lambat.
Saya memiliki satu orang sobat karib, masa SMA dulu, yang merupakan magnet pesona dalam hubungan sosial. Dalam kata lain, dia orang yang supel dan luar biasa pandai bergaul.

Dahulu, saya cukup mengeluhi kekurangan saya ini. Saya pengennya seperti temen saya itu. Tetapi, bagaimanapun saya ingin menjadi seorang yang supel, saya selalu gagal untuk hidup dalam keramaian khalayak.

Saya bisa berbicara dengan fasih di depan orang-orang, tetapi itu bukan supel, karena dalam hubungan pertemanan yang ramah tamah saya tak bisa. Berbasa-basi hampir selalu saya rasakan sebagai kekurangan terbesar saya. Itu kelemahan sekaligus kekuatan saya.

Beruntungnya saya, dari yang mulanya bekerja di laut lepas, pada pengeboran minyak yang semakin-makin melarutkan diri saya dalam solilokuy dan renungan yang soliter, saya sekarang bekerja di kantor. Tempat kerja yang menuntut saya untuk masuk dalam teamwork dan menyesuaikan ritme dengan orang lain.

Dan disinilah saya belajar. Belajar mengenali diri saya sendiri.

Hidup di dalam iklim kantoran swasta, adalah hidup yang dinamis dan harus siap dengan kritik. Mata orang lain, seringkali sangat tajam dan bisa memberitahu kita tentang kelemahan kita pribadi. Kamu itu kurang ini, kamu itu biasanya kalau mengatasi masalah begini kamunya begitu.

Dulu saya masih menganggap kritik sebagai sesuatu yang tabu, tetapi seiring dengan terbiasanya saya dalam iklim kritik yang positif dan membangun, saya menganggap kritikan sebagai sebuah budi baik teman-teman yang menunjukkan “gap” saya apa, dan mengatasinya bagaimana.

Mereka menganggap kritikan dan masukan positif itu berkait dengan kerja dan dunia karir, tetapi yang tak mereka tahu bahwa saya menikmati kritik itu sebagai sesuatu yang spiritual dan mengajarkan saya menyelami diri saya sendiri lebih dalam. Ooooh… jadi ternyata selama ini saya ini begini toh

Memang sangat betul, bahwa perjalanan mengenali diri sendiri ini panjang sekali. Dan orang-orang mengenali diri mereka masing-masing pada kedalaman yang berbeda-beda.

Ada yang materialis, dan mengenali diri sebatas tampilan citra fisik yang harus selalu dipermak. itu sudah oke, tapi kurang dalam.

Ada yang lebih dalam sedikit, mengenali diri pada citra psikologis dan emosionalnya sendiri. Pada tataran mengenali diri dalam citra psikologi dan emosi tertentu ini; saya merasa banyak terbantu dengan jabatan saya sekarang. Secara jujur saya melihat bahwa saya lemah di dalam membangun jaringan dan pergaulan sosial, tetapi lama-lama saya paham bahwa saya secara natural kuat di dalam “journey inward”, menyelami ruang batin dan menyajikan sesuatu secara terstruktur dan mudah dicerna. Dulu saya tak paham, sekarang baru paham.

Dengan mengenali diri saya pada kedalaman “segitu”, maka saya menjadi berdamai dengan diri saya sendiri. Jadi seolah-olah mengetahui mekanisme kerja diri saya sendiri.

Semisal seseorang yang mengetahui bahwa fisiknya memiliki kaki yang kuat, maka dia bisa optimalkan dengan jadi pelari cepat. Dan sebaliknya kalau mengetahui kelemahan fisik, maka dia akan adjust dan sesuaikan fungsi fisiknya, karena pengenalannya yang utuh. Misalnya helio gracie yang bertubuh ramping dan kecil bisa menyesuaikan beladiri jepang menjadi brazilian jujitsu yang fenomenal karena pengenalannya yang paripurna pada mekanisme dirinya sendiri.

Begitulah, semakin direnung, semakin dalam. Mekanisme kerja fisik kita sendiri. Mekanisme psikologi kita sendiri dan emosi kita sendiri.

Kalau lebih dalam lagi, maka lebih berkait-kait dengan spiritualitas. Kesadaran yang paling dalam, itulah yang dalam istilah islam disebut dengan “hati”. Yaitu sebuah kesadaran yang memahami melihat dan mendengar. Naquib Al Attas, umpamanya, dalam Prolegomena of The Metaphysics of Islam, mengutip imam Ghazali dengan mengatakan bahwa “hati” yang di dalam itulah yang sebenarnya manusia sebut dengan “aku”.

Bahasanya Imam Ghazali, yang “raja” itu adalah yang di dalam sana. Dia, secara default diberikan perangkat untuk menunaikan tugasnya dimuka bumi ini. Perangkat terluarnya, dinamakan jasadnya.

Masuk sedikit kedalam, ada anasir-anasir halus, yaitu fikiran-fikirannya (yg diturunkan padanya), lalu ada emosi-emosi jiwanya.

Dan sebagaimana perangkat, tentu setiap perangkat punya keterbatasan dan kelebihan masing-masing.

Tetapi sang raja yang bijak, adalah dia sudah tuntas mengenali dirinya. Dirinya adalah sang raja itu, dan selain itu hanyalah perangkatnya untuk bertugas di dunia.

Memahami ini, buat saya sangat membantu. Kalau dulu saya sering mengeluhi emosi dan psikologi saya sendiri, sekarang saya menjadi mengerti bahwa “oooh… ternyata begini caranya alat emosi dan psikologi saya bekerja”. Selangkah lebih dekat, kepada apa yang Imam Ghazali katakan dengan “menjadi raja dalam kerajaan diri sendiri”. Meskipun seringkali juga saya masih ngedumel sendiri, namanya manusia, hehehe….

Jiwa di dalam diri kita itu, diberikan perangkat yang berbeda-beda, sesuai tugasannya masing-masing.

Dan alhamdulillah, memahami ini membuat saya bisa berdamai bahwa dunia ini diciptakan dengan harmoni, dan setiap orang punya peranan yang sudah diset oleh Sang Empunya drama. Kita memang berbeda-beda,tetapi pengenalan utuh terhadap perbedaan itu membantu untuk melangkah dalam penerimaan. Sebagai suplemen terhadap pemahaman tentang takdir. (Seorang Arif mewejang begitu apik tentang takdir ini, tapi saya kesulitan menerjemahkannya dalam bahasa yang simpel, hehe.)

Seperti sebuah ayat dalam Al Qur’an, bahwa tanda-tandaNya ada disegenap ufuk, bahkan dalam diri kita sendiri. 

Coba deh, direnungi ke dalam dan semakin ke dalam. Asyik juga lho. Kita kembalikan sang raja, pada singgasananya. demikian.

::

HATI YANG DITANAMI

kecambahBagaimanakah Allah menanamkan keimanan kedalam hati hamba-hamba yang dipilihNya?

Orang-orang yang Allah tanamkan keimanan ke dalam hatinya, kata seorang guru yang Arif, adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam ujian dimana tidak ada lagi tempat berpaut selain daripada Allah SWT.

Seumpama orang tersebut tersesat di dalam hutan, dan anaknya digigit ular, rumah sakit terdekat berjarak ratusan kilometer dan tak ada kendaraan, maka satu-satu tempat meminta tolong adalah Allah SWT, dimana hatinya menjadi bulat seratus persen meminta tanpa ada pengharapan lagi pada makhluk.

Contoh orang-orang yang ditempatkan dalam kepasrahan bulat seratus persen ini misalnya adalah Mashitoh, di zaman fir’aun, yang dilemparkan ke dalam minyak panas menggelegak bersama dengan keluarganya. Contoh lainnya adalah Nabi Ibrahim yang dilempar ke dalam kobaran api. Dan Rasulullah kala perang badar melawan musuh yang jumlahnya berkali lipat lebih dari kaum muslimin.

Harapan terhadap pertolongan makhluk; diputus; karena sudah jalan buntu.

Maka orang yang ditempatkan dalam ujian seperti ini, pengharapannya kepada Allah adalah jauh melebihi berpautnya orang biasa pada Allah SWT. Merekalah yang disebut orang-orang yang Allah tanamkan keimanan kedalam hatinya.

Dahulunya saya mengira bahwa Allah menanamkan begitu saja keimanan. Ujug-ujug, tiba-tiba seseorang beriman dengan teguh.

Saya lupa satu hal, bahwa seseorang dihantarkan kedalam hatinya keimanan dan hikmah adalah selalunya melalui kejadian-kejadian dalam hidupnya. Melalui ujian.

Lalu saya mengatakan kepada sang guru yang arif tersebut. Tentang seorang rekan saya, yang selama ini sepanjang pengamatan saya hidup dalam jalan yang begitu mulus.

Jalannya mulus. Tak banyak gelombang hidup, setidaknya dari yang saya amati. Dan kehidupan yang damai dan tentram. Seringkali menerbitkan rasa yang….”waduh, enak sekali hidup seperti beliau ya?”. Ditambah lagi, dari segala kemudahan dan kenyamanan hidup itu, dilengkapi pula dengan kenyataan bahwa rekan saya itu orang yang berjiwa sosial dan saya dapati sebagai orang yang baik.

Tetapi, dalam lain sisi, saya mengamati bahwa kajian tasawuf yang pelik dan mendalam; sulit dipahami oleh rekan saya itu.

Saya katakan kepada guru yang arif, inilah paradoks hidup yang saya amati. Kehidupan yang nampaknya sulit, tetapi di lain sisi menaikkan paradigma berfikir sehingga menjadi lebih tinggi dan menjadi paham bahasan tasawuf yang rumit. Dan kehidupan yang nampaknya bahagia dan mulus, tetapi akan menjadi sulit memahami paradigma yang lebih tinggi.

Apa jawab beliau?

Jawab beliau, mengagetkan saya. Bahwa kebanyakan penghuni syurga itu adalah orang-orang yang berhati luhur. Meskipun “sederhana”.

Mereka bukan orang-orang yang paham ilmu makrifat yang pelik-pelik. Mereka bukan orang yang paham kajian yang tinggi-tinggi. Orang-orang awam yang keluhuran hati mereka “membuat Allah ridho pada mereka”. –saya teringat contoh seorang pelacur yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing-.

Walhasil, melaksanakan syariat dengan sebaik-baiknya, dan hidup dalam keluhuran budi, sudah cukuplah.

Disini baru saya tersadar. Setelah dijelaskan oleh beliau, sebenar-benar makna dari ungkapan Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam futuh Al-Ghaib. “Telah nyata, jika berkhidmat pada Allah terdiri dari sepuluh bagian, sembilan diantaranya terletak dalam diam.”

Dulu saya mengira, bahwa ketinggian berkhidmat pada Allah itu adalah dengan “diam” dan tak banyak omong.

Ternyata maksud Sang syaikh adalah : keridhoan (diam) itu bernilai 90% lebih utama dibanding peribadatan lainnya.

Pasalnya keridhoan (diam) ini adalah nilai-nilai yang aktif kita gunakan dalam memaknai kita punya hidup. Setiap saat pemaknaan ini dipakai, maka dia begitu utama.

Seseorang yang diuji, dengan ujian, dia ridho pada ujiannya, lalu diberikan jalan keluar. Yang dengan itu dia bisa memaknai hidup dengan pandangan yang tinggi yang lebih dari kebanyakan awam. Maka itu baik baginya.

Dan seseorang yang hidup dalam kehidupan yang biasa saja, tetapi dia ridho dan syukur atas kehidupannya, lalu melanjutkan peran dalam keluhuran budi, maka itu baik baginya pula.

Inilah rupa-rupanya maksud dari Syaikh Abdul Qadir Jailani, masih dalam Futuh Al-Ghaib, agar kita bersyukur atas “maqom” yang diberikan pada kita. Karena nanti Allah sendiri yang akan menaikkan derajat kita.

Para arifin, memandang ibadah sebagai sebuah “impact” dari kondisi maqom yang Tuhan berikan. Ibadah, dalam pandangan sufistik adalah wujud dari anugerah. Anugerah itu akan dihantarkan lewat pengalaman hidup kita sendiri-sendiri. Makna yang kita serap lewat pengalaman hidup itu; kelak menajamkan peribadatan, dan berbuah amaliyah.

Tetapi, yang paling utama adalah ridho. Karena tidaklah seseorang masuk syurga karena amalannya, melainkan karena rahmat Allah (ridhonya Allah pada mereka, karena mereka ridho pada Tuhannya).

Dengan ridho, dan menjalankan kehidupan penuh kebersyukuran, dibingkai syariat, dan keluhuran budi pada sesama, insyaAllah akan diperjalankan menapaki tangga-tangganya sendiri nanti.

Oooooh… inilah dia kunci hidup. Sekarang saya tak lagi banyak ingin ini itu. Maksudnya dalam menapaki spiritualitas, di tangga yang sekarang pun okelah… cukup, dan mari kita nikmati.

Karena setiap kenaikan tangga, adalah juga berarti naiknya ujian. Dan maqom yang di atas, berarti pula, dalam bahasa Syaikh Abdul Qadir Jailani, adalah seperti tempayan pecah. Dihancurkan sampai tak lagi mengandung air (aku), hingga dia siap menjadi pribadi baru.

Tapi lagi-lagi sang guru mengingatkan, bukan kita yang memilih, Allah yang memilih…. Hehehe

Hidup dalam ridho, dan tak usah dipikir-pikir. Demikianlah.

TELAGA RUHANI DI KEHIDUPAN MODERN 

oaseSeseorang yang meninggalkan sisi keruhanian, karena terlalu larut dalam kehidupan modern yang materialis ini, kata Buya Hamka, umpama seseorang yang berangkat ke suatu tempat, tetapi ketinggalan sesuatu.
Dirabanya saku bajunya. Saku celananya. Dilihatnya isi dompet dan tas nya. Rasanya tak ada yang tertinggal. Setelah semua dicek, dia yakin tak ada yang tertinggal.

Dilanjutkannyalah perjalanan, tetapi seperti selalu ada sesuatu yang kurang. Dia terlupa akan sesuatu. Maka dia selalu merasa seperti meninggalkan sesuatu, yang entah apa diapun tak tahu.

Cantik sekali penggambaran Buya Hamka akan sisi hidup keruhanian, dalam buku beliau.

Kehidupan modern yang terlampau materialis ini, digambarkan Buya seumpama kisah Nietzche, seorang filosof terkenal yang menentang ajaran kasih dalam agama kristiani itu. Baginya, ajaran kasih itulah penyebab kemunduran. Akan tetapi kemudian Nietzsche menjadi gila. Suatu hari dia ditemukan menangis memeluk seekor kuda. Kuda yang meringkik kesakitan karena dicambuki dengan begitu brutal oleh sang sais-nya.

Disitulah Nietzsche menangis memeluk kuda karena rasa kasihnya. Lalu dia menjadi gila. Filsafatnya sendiri yang menentang kasih dalam agama-agama, bertabrakan dengan ruang “rasa” di hatinya sendiri.

Kita berlindung dari kisah hidup semacam Nietzche. Kita juga berlindung dari kisah hidup semacam Abraham Maslow yang mengakhiri hidupnya sendiri dengan tragis. Padahal dia bapak psikologi.

Tetapi pelajarannya jelas, ruang ruhani tak bisa digenapi dengan materi semata.

Adapun kini, setelah merenungi dan memelajari spiritualitas islam, barulah saya mengerti bahwa “keruhanian” islam itu tidaklah semata premis-premis dunia fikih dan hukum-hukum syariat.

Hidup keruhanian yang lebih dalam adalah menjawab mengenai siapa Tuhan, siapa kita, dan untuk apa kita ada di dunia. Sesuatu yang baru saya temukan jawabannya dalam kajian tasawuf.

Di masa lalu, tasawuf tak ada namanya, tetapi ada realitanya. Hidup zuhud sudah menjadi bagian integral dari kehidupan para Nabi dan Sahabat.

Selang berapa lama berjalan, kehidupan sudah menjadi begitu materialis, dan kajian aspek keruhanian islam yang awalnya adalah antitesis dari hidup yang materialis itu, menjadi salah satu ilmu tersendiri. Sebagaimana dulu ilmu tafsir tak ada, juga ilmu hadits tak ada. Tetapi menjadi ada setlah dikodifikasikan belakangan.

Satu hal yang menarik dari tulisan Buya Hamka adalah, mengembalikan tasawuf pada kemurnian telaganya.

Aspek keruhanian, dan pendakian manusia menuju Tuhan seringkali beririsan, dan membuat orang sering kebingungan apakah bedanya kajian keruhanian islam dan agama lainnya? Apakah kehidupan keruhanian islam ini adopsi dari keruhanian agama dan paham lainnya?

Padahal tidak sekali-kali, dalam telaganya sendiri, keruhanian islam itu menemukan sumbernya.

Dari Buya Hamka, saya melihat bagaimana upaya seorang ulama syariat mengembalikan tasawuf pada duduk asalnya yang jernih.

Sebagaimana saya melihat keping satunya lagi pada seorang Arif, yang mengajarkan tasawuf lewat telaga yang bersih karena pengetahuan Ladunni beliau.

Mungkin tulisan ini tak menyentuh pokoknya. Tetapi saya ingin pungkasi dengan sebuah kisah yang klasik tentang seorang yang menikmati sebuah taman kota. Setiap hari dia bisa duduk-duduk dan menikmati taman kota yang rindang dan cantik, tanpa perlu dia merawat taman itu, tanpa perlu keluar uang, dan orang ini merasakan kebahagiaan yang amat indah karena rasa syukurnya atas kesempatan bersantai di taman itu.

Sementara, seorang lainnya, yang memiliki uang sangat banyak, membeli sebuah taman dengan harga yang sangat mahal. Tetapi dia tidak pernah berkesempatan menikmati tamannya sendiri. Hidupnya dihabiskan untuk mengumpulkan uang dan lalu membayar tukang untuk membersihkan taman, padahal dia sendiri tak pernah menikmati taman itu. Kebahagiaan bagi dirinya adalah status kepemilikan bahwa dialah pemilik taman.

Dua orang yang melihat hidup dari sisi yang berbeda. Yang satu melihat hidup dan menterjemahkan kebahagiaan itu pada “rasa” yang di dalam. Yang satu lagi menerjemahkan kebahagiaan itu sebagai sisi material semata.

Pada sudut “membenarkan persepsi atas hidup” inilah saya temukan bahwa tasawuf memainkan peranannya dengan sangat baik. Karena persepsi yang diajarkan adalah yang paling fundamen.

Demokrasi. Khilafah. Hukum-hukum fikih. Dan banyak varian lainnya ternyata -dalam persepsi saya sekarang- masih belum fundamen.

Benarlah Imam Ghazali mengatakan, awaluddin makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah.

Dari situlah persepsi disusun ulang, dan hidup menjadi berbeda sekali.

::

*) Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

TURUN PADANG DAN KUNCIR RAMBUT

Saya ingin ceritakan, mengapa kuncir rambut seharga tiga ribu rupiah menjadi begitu penting.
Adalah anak saya yang sekarang usianya lima tahun delapan bulan, setiap hari saat saya hendak berangkat ke kantor selalu berpesan kepada saya agar membelikan kuncir rambut. Padahal kuncir rambutnya sudah ada.

Bagi saya, sebenarnya mubazir kuncir rambut sudah ada, lalu membeli lagi kuncir rambut. Jadi seringkali saya menolak dengan macam-macam alasan.

Tetapi kemudian saya tersadar, bahwa dari kacamata sang anak, tindakan saya yang tidak membelikan kuncir rambut diterjemahkan sebagai “papa tidak sayang”. Dan sebaliknya, ekspresi sayang dalam kacamata anak saya adalah membelikannya kuncir rambut.

Ide, bahwa membeli kuncir rambut -padahal sudah ada kuncir di rumah-; adalah pembaziran, masih terlalu abstrak buat anak saya itu. 

Maka tak urung, betapapun pada pandangan yang “lebih tinggi” saya mengerti bahwa kuncir rambut di toko dekat rumah ini sebenarnya tak penting, tapi karena memahami kacamata anak saya maka saya belikan juga. Belakangan baru saya mengerti bahwa itu istilahnya “turun padang”. 

Saya teringat dengan istilah “turun padang” ini karena membaca petuah guru saya. Beliau mengatakan, bahwa dalam kasus-kasus tertentu, seseorang boleh “turun padang” untuk berkecimpung di dunia yang riuh ini, karena yang terlibat adalah kerabat dekat mereka. Atau dalam lain kata, takdir mereka memang sedang terkait dengan situasi peristiwa kala itu.

Agar tak abstrak, mari kita lihat contohnya.

Mari kita sebutkan beberapa nama yang mendapatkan hikmah dari dalam penjara. Misalnya Yusuf Mansur yang pernah di penjara lalu bertemu hikmah di penjara. Buya Hamka yang menyelesaikan tafsir di penjara. Sayyid Quthb yang menyelesaikan tafsir di penjara. Dan sekian lagi nama orang-orang besar yang justru menemukan hikmah dari sesuatu yang tampaknya buruk.

Penjara adalah “buruk”, tetapi penjara dijadikan jalan untuk menzahirkan sesuatu yang “baik”.

Sebuah adab, yang diajarkan beliau sang Arif jika melihat sebuah hal berlaku, tetapi tak ada kait mengaitnya langsung dengan diri kita, maka sadari betul-betul bahwa Allah punya plan dan hikmah di sebalik itu.

Seumpama, arab spring. Peperangan yang mengakibatkan tak terhitung nyawa melayang. Dan tak terhitung imigran pergi dari negaranya. Sepintas terlihat sebagai duka lara, padahal di sebaliknya hikmah yang terlihat adalah Allah SWT membuat islam lebih besar lagi sebarannya. 

Kajian demografi memperlihatkan populasi muslim di eropa meningkat tajam. Bukan karena efektifnya dakwah, tetapi karena nisbah kelahiran dan populasi pendatang yang makin lama makin banyak mengalahkan orang-orang yang non muslim. Maka perlahan-lahan barat akan menjadi negara dengan mayoritas muslim.

Apapun berlaku, adalah plot-Nya, dan mesti ada kebaikan di sebaliknya.

Itulah mengapa, orang-orang arif seringkali “diam”. Karena pandangan yang berbeda, melihat bahwa disebalik kejadian ada hikmah.

Tentu saja sangat boleh dan sah-sah saja untuk berpartisipasi. Umpamanya menyalurkan bantuan kepada para korban perang. Dan seterusnya. Sebuah hal yang mulia dan baik. Tetapi, terlibat secara “mendalam” dalam emosi yang lara, justru akan kontraproduktif.

Dia menjadi kontra, karena menutup pandangan kita bahwa setiap kejadian berlaku, itu sudah DIA izinkan dan ada hikmah disebaliknya yang kita tak tahu. Dengan terlibat secara mendalam, dalam emosi yang kontraproduktif, membuat kita merasa kita “wujud”, kita mengira bahwa keterlibatan personal kitalah yang menentukan suatu perkara. Padahal, tak ada campur tangan kita dalam hal ini sedikitpun.

Sebuah harmoni yang apik adalah: dalam hal yang tak secara langsung menarik diri kita pada pusaran takdir kejadian itu, kita “diam” dan mengingati bahwa segala hal berlaku karena izinNya, dan ada hikmah yang kita tak mengerti. Agar kita tidak memaki takdir.

Tetapi, akan ada hal-hal yang memang mau tak mau menarik diri kita sendiri dalam pusaran problema. Misalnya, jika hal ini menyangkut kerabat dekat kita. Keluarga. Maka mau tak mau –istilahnya- kita harus agak grasa-grusu “turun padang”. Berkecimpung. Meski kita tahu bahwa suatu hal berlaku ada hikmah.

Sebuah contoh adalah Khidir a.s, yang meskipun paham sesuatu yang lebih tinggi, tetapi harus “turun padang” dan menjelaskan mengenai sesuatu yang sedang dibingungkan oleh Nabiyullah Musa a.s. Begitu juga Rasulullah SAW, “turun padang” saat beliau dan sahabatnya diserang musuh, betapapun paham bahwa semua adalah takdir dan berhikmah, tetap beliau mempertahankan diri dan balik menyerang.

Begitulah, ada saatnya “turun padang” ada saatnya “diam”. 

Akhirnya hal ini membuat saya mengerti bagaimana menyikapi problema. Bacalah lini masa facebook. Bacalah berita di koran dan media online. Kejahatan dimana-mana. Kerusuhan. Intrik politik. Saling hina. Yang semuanya itu, kalau kita mau jujur, tak terlalu terkait secara langsung dengan kita. Tapi sedikit-sedikit kita turun padang. Kita tak menyelesaikan masalah, hanya membuat diri kita semakin “wujud” dan luput dari melihat hikmah.

Jika kita hendak belajar memandang dari sudut pandang para arifin. Berhentilah ikut campur dan sibuk pula memaki lewat media online. Atau sibuk terlibat dalam duka lara yang dalam karena melihat begitu banyak hal di luar kuasa kita, karena memang semua itu di luar kuasa kita. Semua itu takdirNya, dan ada hikmah yang sedang diberlakukanNya, yang kita tak mengerti.

Membenci takdir, dan menyikapinya dengan lara yang terlalu, malah akan membuat kita semakin “wujud” dan tak bisa melihat hikmah di sebalik kejadian.

Akan tetapi, sebaliknya juga, meskipun cara pandang sudah sedemikian berbeda, tetapi jika pusaran takdir mengajak kita untuk jadi “part of the game”, maka “turun padang”-lah sebagaimana khidir, sebagaimana Rasulullah SAW.

Tahu kapan “diam”, tahu kapan “turun padang”.

ORANG “KECIL” MELAKUKAN PEKERJAAN “BESAR” (2)


Menghadiri rapat bapak-bapak di Musholla komplek, bagi saya adalah selalunya moment pembelajaran.

Rapatnya hanya sekira sepuluh orang saja, tapi atmosfer ketulusannya meresap sampai dalam.

Saya mengingati momen kuliah dulu, dimana dalam setiap kesempatan rapat atau pertemuan selalu ada yang mendesak-desak di dalam dada, yaitu hasrat untuk “bicara”. Mengutip kata-kata nan cantik dari Stephen Covey, “Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.”

Kini, setelah -agak- mendewasa, saya belajar “hadir” secara penuh dan menyilakan kebijakan dan hikmah untuk mendatangi dari siapa saja. saya belajar mendengar.

Dalam kajian spiritualitas yang agak lebih pelik sedikit, seorang Arif mengajarkan untuk dalam tanda kutip “tidak wujud”. Agar tidak penuh dengan diri kita sendiri.

Dan selalunya belajar dengan cara begini ini, menyenangkan buat saya. Saya mencecapi jejak-jejak ketulusan lewat martabak manis dan martabak telur yang dihidangkan entah siapa di Musholla itu. Pula, saya menangguk pembelajaran dari Mas Isdat -nama dikaburkan, hehe- yang secara konsisten azan di musholla itu, setiap waktunya entah orang datang entah tidak.

Mas Sugab juga mengobrak-abrik menara gading saya, saat saya mencermati semangatnya yang polos dan jujur untuk tetap menggelorakan tarawih jamaah di Musholla itu saat ramadhan nanti datang, meski jamaahnya bisa dihitung jari. Mas Sugab yang tampilannya jauh dari men-spiritual itu.

Pada momen-momen belajar “diam” seperti itulah seakan baru digelarkan di hadapan mata kita…..ini lho…..orang-orang “kecil” yang berbuat sesuatu yang “besar”. Yang berebut menyuci karpet masjid. Yang memikirkan detail AC bagian jamaah ibu-ibu sudah mulai berasa panas kurang freon. Yang memikirkan bahwa anak-anak kita yang berisik di jamaah belakang ini, baiknya kita beri hadiah saja, sayembara……siapa yang paling “anteng” pas sholat akan dapat hadiah.

Mereka-mereka orang “biasa” yang melakukan kerja “besar” lewat sumbangsihnya yang tulus buat masyarakat.

Jika setiap orang-orang yang sejatinya “besar” ini dibukakan peringkatnya pada mata orang awam, maka orang-orang yang merasa berstatus tinggi dan bermartabat akan malu untuk telah berdiri di menara gading.

Betapa memang kemuliaan sesungguhnya itu sering bolak-balik. Sebagaimana Allah bisa memasukkan siang ke dalam malam, memasukkan malam ke dalam siang. Tapi lepas dari semua itu, yang menarik dari “diam” adalah kita bisa menyaksikan dramaNya dalam hal-hal yang bahkan tampak sederhana sebelumnya.

ORANG “KECIL” MELAKUKAN PEKERJAAN “BESAR”

Apakah kita harus menjadi “orang besar” untuk melakukan kebaikan-kebaikan “besar”? 
Ternyata jawabnya adalah: tidak.

Kebaikan-kebaikan mendasar yang bernilai “besar” ternyata juga bisa dilakukan meskipun kita adalah orang “kecil” atau biasa saja.

Kembali saya teringat dengan bahasan ini, karena seorang guru memberi tahu bahwa seorang “biasa”, bisa melakukan tugas luar biasa bernilai di sisi Allah, meskipun dirinya sendiri tak mengetahuinya.

Dulu, sewaktu muda -tentu sekarangpun masih muda, hehe- saya begitu ambisi untuk menjadi seorang yang fasih dalam banyak hal. Umpamanya fasih dalam kajian religi. Atau juga misalnya fasih dalam organisasi dan politik.

Keinginan menjadi fasih, itu bagus. Tetapi keinginan yang tak sesuai dengan “nature” konstelasi hidup kita sekarang, inilah yang keliru.

Contohnya ya saya sajalah. Saya seorang pekerja di dunia industri migas. Dari kuliah sampai sekarang segala konstelasi pendidikan saya, pergaulan, dan hubungan sosial kemasyarakatan menceburkan saya dalam dunia migas. Maka bekerja dalam dunia ini adalah sesuai dengan konstelasi saya. Peran saya dalam dunia.

Misalnya, karena ingin berbuat sebuah kebaikan “besar” maka saya berhenti dari pekerjaan ini, kemudian saya belajar agama dan menjadi da’i hidup dalam spiritualitas seperti rahib, saya menciderai konstelasi hidup saya.

Bukan maksudnya menjadi spiritual tidak bagus. Tetapi bahwa tak semua orang harus menjadi ustadz. Yang lebih dalam lagi, kita akan keliru jika menganggap bahwa kebaikan “besar” hanyalah sesuatu yang dibungkus dengan baju formalitas.

Dunia menjadi harmoni dengan adanya petani, pedagang, pegawai negara, pekerja swasta, insinyur, dokter, bahkan tukang sapu jalan.

Seseorang bertumbuh kembang kearah kebaikan, itu boleh dan baik. Tapi kebaikan “besar” tidaklah dicitrakan dalam semata hanya satu bentuk kebaikan. Jika seluruh orang di negara ini menjadi “presiden” karena ingin melakukan kebaikan “besar” maka dunia malah jadi tidak harmoni.

Sebuah analogi disampaikan oleh seorang guru. Ada seorang pedagang makanan. Setiap hari dia berdagang, tetapi setiap hari pula dia sering sekali membagikan dagangannya secara gratis pada orang-orang fakir miskin. Sampai dirinya sendiri kadang-kadang tak balik modal.

Pekerjaan model begitu dilakoninya bertahun-tahun. Bahkan tanpa menyadari kalau pekerjaan menafkahkan rizkinya untuk orang lain itu adalah pekerjaan “besar” walaupun dia hanya orang “kecil”.

Orang-orang begini, kata guru tersebut, adalah orang-orang yang sampai pada peringkat orang-orang Allah (Aulia) tanpa mereka sadari.

Simple man doing a great job.

Ini jawaban sebenarnya, atas diskusi saya dan seorang rekan saya berapa tempo lalu. Dia katakan, dia tak tahu apa fungsinya ada di dunia ini.

Sebaik-baik manusia, kata Nabi, yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Agaknya memang benar kita perlu merenungi kembali. Apakah pekerjaan “besar” yang ingin kita lakoni, atau “status besar” yang ingin kita dapati??

Karena sebenarnya pekerjaan “besar” itu terikat secara harmoni dengan konstelasi kita dalam hidup ini.

Siapa kita, dan apa kebaikan yang bisa kita gulirkan dalam peranan kita sekarang.