TURUN PADANG DAN KUNCIR RAMBUT

Saya ingin ceritakan, mengapa kuncir rambut seharga tiga ribu rupiah menjadi begitu penting.
Adalah anak saya yang sekarang usianya lima tahun delapan bulan, setiap hari saat saya hendak berangkat ke kantor selalu berpesan kepada saya agar membelikan kuncir rambut. Padahal kuncir rambutnya sudah ada.

Bagi saya, sebenarnya mubazir kuncir rambut sudah ada, lalu membeli lagi kuncir rambut. Jadi seringkali saya menolak dengan macam-macam alasan.

Tetapi kemudian saya tersadar, bahwa dari kacamata sang anak, tindakan saya yang tidak membelikan kuncir rambut diterjemahkan sebagai “papa tidak sayang”. Dan sebaliknya, ekspresi sayang dalam kacamata anak saya adalah membelikannya kuncir rambut.

Ide, bahwa membeli kuncir rambut -padahal sudah ada kuncir di rumah-; adalah pembaziran, masih terlalu abstrak buat anak saya itu. 

Maka tak urung, betapapun pada pandangan yang “lebih tinggi” saya mengerti bahwa kuncir rambut di toko dekat rumah ini sebenarnya tak penting, tapi karena memahami kacamata anak saya maka saya belikan juga. Belakangan baru saya mengerti bahwa itu istilahnya “turun padang”. 

Saya teringat dengan istilah “turun padang” ini karena membaca petuah guru saya. Beliau mengatakan, bahwa dalam kasus-kasus tertentu, seseorang boleh “turun padang” untuk berkecimpung di dunia yang riuh ini, karena yang terlibat adalah kerabat dekat mereka. Atau dalam lain kata, takdir mereka memang sedang terkait dengan situasi peristiwa kala itu.

Agar tak abstrak, mari kita lihat contohnya.

Mari kita sebutkan beberapa nama yang mendapatkan hikmah dari dalam penjara. Misalnya Yusuf Mansur yang pernah di penjara lalu bertemu hikmah di penjara. Buya Hamka yang menyelesaikan tafsir di penjara. Sayyid Quthb yang menyelesaikan tafsir di penjara. Dan sekian lagi nama orang-orang besar yang justru menemukan hikmah dari sesuatu yang tampaknya buruk.

Penjara adalah “buruk”, tetapi penjara dijadikan jalan untuk menzahirkan sesuatu yang “baik”.

Sebuah adab, yang diajarkan beliau sang Arif jika melihat sebuah hal berlaku, tetapi tak ada kait mengaitnya langsung dengan diri kita, maka sadari betul-betul bahwa Allah punya plan dan hikmah di sebalik itu.

Seumpama, arab spring. Peperangan yang mengakibatkan tak terhitung nyawa melayang. Dan tak terhitung imigran pergi dari negaranya. Sepintas terlihat sebagai duka lara, padahal di sebaliknya hikmah yang terlihat adalah Allah SWT membuat islam lebih besar lagi sebarannya. 

Kajian demografi memperlihatkan populasi muslim di eropa meningkat tajam. Bukan karena efektifnya dakwah, tetapi karena nisbah kelahiran dan populasi pendatang yang makin lama makin banyak mengalahkan orang-orang yang non muslim. Maka perlahan-lahan barat akan menjadi negara dengan mayoritas muslim.

Apapun berlaku, adalah plot-Nya, dan mesti ada kebaikan di sebaliknya.

Itulah mengapa, orang-orang arif seringkali “diam”. Karena pandangan yang berbeda, melihat bahwa disebalik kejadian ada hikmah.

Tentu saja sangat boleh dan sah-sah saja untuk berpartisipasi. Umpamanya menyalurkan bantuan kepada para korban perang. Dan seterusnya. Sebuah hal yang mulia dan baik. Tetapi, terlibat secara “mendalam” dalam emosi yang lara, justru akan kontraproduktif.

Dia menjadi kontra, karena menutup pandangan kita bahwa setiap kejadian berlaku, itu sudah DIA izinkan dan ada hikmah disebaliknya yang kita tak tahu. Dengan terlibat secara mendalam, dalam emosi yang kontraproduktif, membuat kita merasa kita “wujud”, kita mengira bahwa keterlibatan personal kitalah yang menentukan suatu perkara. Padahal, tak ada campur tangan kita dalam hal ini sedikitpun.

Sebuah harmoni yang apik adalah: dalam hal yang tak secara langsung menarik diri kita pada pusaran takdir kejadian itu, kita “diam” dan mengingati bahwa segala hal berlaku karena izinNya, dan ada hikmah yang kita tak mengerti. Agar kita tidak memaki takdir.

Tetapi, akan ada hal-hal yang memang mau tak mau menarik diri kita sendiri dalam pusaran problema. Misalnya, jika hal ini menyangkut kerabat dekat kita. Keluarga. Maka mau tak mau –istilahnya- kita harus agak grasa-grusu “turun padang”. Berkecimpung. Meski kita tahu bahwa suatu hal berlaku ada hikmah.

Sebuah contoh adalah Khidir a.s, yang meskipun paham sesuatu yang lebih tinggi, tetapi harus “turun padang” dan menjelaskan mengenai sesuatu yang sedang dibingungkan oleh Nabiyullah Musa a.s. Begitu juga Rasulullah SAW, “turun padang” saat beliau dan sahabatnya diserang musuh, betapapun paham bahwa semua adalah takdir dan berhikmah, tetap beliau mempertahankan diri dan balik menyerang.

Begitulah, ada saatnya “turun padang” ada saatnya “diam”. 

Akhirnya hal ini membuat saya mengerti bagaimana menyikapi problema. Bacalah lini masa facebook. Bacalah berita di koran dan media online. Kejahatan dimana-mana. Kerusuhan. Intrik politik. Saling hina. Yang semuanya itu, kalau kita mau jujur, tak terlalu terkait secara langsung dengan kita. Tapi sedikit-sedikit kita turun padang. Kita tak menyelesaikan masalah, hanya membuat diri kita semakin “wujud” dan luput dari melihat hikmah.

Jika kita hendak belajar memandang dari sudut pandang para arifin. Berhentilah ikut campur dan sibuk pula memaki lewat media online. Atau sibuk terlibat dalam duka lara yang dalam karena melihat begitu banyak hal di luar kuasa kita, karena memang semua itu di luar kuasa kita. Semua itu takdirNya, dan ada hikmah yang sedang diberlakukanNya, yang kita tak mengerti.

Membenci takdir, dan menyikapinya dengan lara yang terlalu, malah akan membuat kita semakin “wujud” dan tak bisa melihat hikmah di sebalik kejadian.

Akan tetapi, sebaliknya juga, meskipun cara pandang sudah sedemikian berbeda, tetapi jika pusaran takdir mengajak kita untuk jadi “part of the game”, maka “turun padang”-lah sebagaimana khidir, sebagaimana Rasulullah SAW.

Tahu kapan “diam”, tahu kapan “turun padang”.

Iklan

2 thoughts on “TURUN PADANG DAN KUNCIR RAMBUT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s