MENIKMATI DO’A

Pernahkah rekan-rekan takut berdo’a? Kalau saya pernah. Bukan takut, tapi pemahaman saya dulu keliru mengenai do’a. Seolah-olah kalau berdo’a maka saya menciderai adab pada Tuhan; kepada Allah kok minta hal-hal remeh yang duniawi. Begitu pemikiran dulu. 
Setelah mempelajari spiritualitas islam, baru saya mengerti fakta bahwa dengan do’a-lah maka kita -istilahnya saja- memberikan hak RububiyahNya. HakNya-lah untuk “dipandang” sebagai Yang Maha Memberi. 

Seorang guru yang arif [1] menjelaskan tiga tingkatan manusia dalam menghadapi ujian hidup:

Pertama, saat ada ujian maka ia berdo’a. 

Kedua, saat ada ujian ia berpasrah saja. 

Ketiga, saat ada ujian ia “tak peduli”. 

Dari contoh di atas kita melihat bagaimana ada tiga sikap menghadapi ujian hidup. Tergantung konteks saat itu. 

Orang yang “butuh”, dan lewat kebutuhan hidup itulah dia menemukan rasa fakir pada Tuhan, dan dapet “feel”-nya bahwa Tuhan Maha Memberi, Menolong, dst…… maka dia berdoa sebagai caranya menzahirkan “HAL” atau “feel”-nya itu. Maka itu baik baginya. 

Ada tingkatan lainnya, yaitu orang yang dalam “butuh”-nya, dia sudah pasrah saja. Terserah kemana angin berhembus. Sepanjang saya amati, tingkatan ini adalah bagi orang-orang yang sudah berulang-ulang dibanting kehidupan. Sampai dia “pasrah”. 

Tingkatan lainnya. Adalah tak lagi melihat pada ujian. Maka pada ujian; dia ora urus. 

Bagaimana cara mengetahui pada adab yang mana kita berada? Ternyata simple….caranya adalah secara jujur mengakui “feel” yang datang pada kita. 

You cannot deny the feel. Kita tak bisa menyangkal “feel” yang datang. 

Seandainya ada ujian dalam hidup. Lalu rasa gelisah dan takut menyambangi. Tunggangi rasa takut itu untuk berdoa. Agar kita menyesapi fakta bahwa DIA maha pelindung. Saat ada feel seperti itu, maka itulah konteks kita berakrab padaNya. 

Musa berdoa meminta dimudahkan lisannya dan agar Harun menjadi rekanan beliau. Nabi zakariya berdoa minta keturunan. 

Kita tak bisa pura-pura pasrah, tapi hati didatangi feel gelisah. Rugi. Karena gelisah urung bertransformasi menjadi sikap butuh padaNya. 

Tingkatan pasrah dan ora urus, akan kita ketahui sendiri kelak saat ada ujian tetapi kita mendapatkan “feel” yang adem tentrem saja. 

Berarti sesuatu yang harus zahir dari diri kita adalah adab pasrah. 

Tetapi, pasrah dan ora urus, akan sulit dicapai tanpa menempuh tangga do’a itu. Tanpa melazimkan kembali padaNya. 

Tapi ada puzzle satu lagi saya dapat dari beliau, bahwa semata do’a saja akan sulit membawa kita lebih dalam masuk pada tingkat berikutnya. Tanpa menyadari bahwa ujian adalah af’al-Nya. PerbuatanNya. 

Dan sadari pula bahwa af-al tak bisa berdiri sendiri. Af-al mesti lekat dengan DzatNya. Sehingga feel kedekatan itu dapet. 

Begitulah yang saya serap dari hikmah-hikmah disampaikan beliau. Sekarang saya masih diombang ambing gelombang takdir, hehehehehe. Makanya masih jauh betul dari sebenar-benar pasrah, opo meneh level ora urus. 

Tetapi alhamdulillah, tangga-tangga perjalanan itu kita pahami. 

**

[1] ust. H. Hussien Abd Latiff

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s