KEMATIAN WOLVERINE DAN SPIRITUALITAS

Lelaki itu terbujur dengan luka pada dadanya. Sebuah kayu menembusi jantungnya. Disela-sela darah merembesi pakaiannya, mukanya yang tua dan letih itu menatap seorang perempuan kecil di depannya. Lalu sepatah kata diucapkan laki-laki itu sesaat sebelum kematiannya, “ternyata begini rasanya”.

Yang saya ceritakan barusan itu, Cuma kejadian dalam filem, hehehe. Sekali-kali nulis resensi filem. Tepatnya film wolverine alias “logan”, mutant terkenal dengan cakar besi adamantium-nya itu.

Ceritanya, Logan seumur hidupnya dihabiskan dengan pertarungan dan bunuh membunuh, lari dari satu tempat ketempat lainnya, ditinggalkan oleh teman-teman terdekatnya, dan memandang kehidupan dengan kacamata yang begitu buram karena baginya siapapun orang-orang dekatnya pasti selalu berakhir dengan tragis. Sehingga dia belum pernah hidup dalam kedamaian sebuah keluarga.

Pada akhirnya dia merasakan seperti apa itu keluarga, setelah di awal-awal cerita dikisahkan bahwa seorang anak perempuan lahir dari bayi tabung, rekayasa genetika yang tanpa sepengetahuannya diambil dari DNA Logan. Yang berarti secara genetis itu anaknya, meski dia sendiri baru tahu sekarang.

Lalu Logan yang bengis dan menghabiskan hari dengan memblokade semua bentuk cinta dalam jiwanya itu, mesti luluh juga, karena pada akhirnya dia merasakan cinta sebagai seorang ayah yang mengorbankan nyawanya sendiri untuk anak yang baru dikenalnya setelah dewasa.

itulah yang dia maksud dengan “ternyata begini rasanya” saat dia menemukan “rasa sayang” dan damai dengan mencintai anak perempuannya, meski dia sendiri mati terbunuh.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa Logan menemukan bentuk kebahagiaan itu di penghujung usianya. Setelah dia melepaskan blokade emosi yang dia buat sendiri.

Bahwa manusia memang butuh mencintai, dan dia menemukan kehangatan sebuah “keluarga” meski jalan yang ditempuh berdarah-darah dan penuh tangis dan tragedi.

Usai menonton filem ini, meski tahu semua ini fiksi, tak urung saya berfikir bahwa “eh….. tinggal kurang sedikit saja lagi, maka Logan ini jadi spiritualis lho….hehehehe.”

Perhatikan bagaimana dia menemukan “makna” dari kasih sayang dan keluarga, di penghujung nafasnya.

Betapa saya suka trenyuh menikmati tulisan atau cerita tentang pesan orang-orang yang sudah hampir sampai di penghujung usianya. Mereka rata-rata menyampaikan pesanan yang serupa.

Bahwa hidup Cuma sebentar. Bahwa yang dicari-cari mati-matian ternyata tidak dibawa pulang. Bahwa sebenarnya kehidupan ini dalam segala perniknya hanyalah medium untuk menemukan makna yang sudah ditanam dalam jiwa kita sendiri.

Sudah berapa triliun manusia hidup di dunia? sudah berapa banyak pesanan dari para Arif? tetapi tak urung setiap manusia menemukan makna hidup sendiri-sendiri.

Misalnya, dalam jiwa kita sendiri sudah ada “rasa kasih”. Tapi toh kita tidak menghargai sebentuk kasih itu, tanpa kita menemukan realitanya di dunia zahir ini.

Saat kita melihat peperangan, melihat anak-anak terluka dan berdarah-darah, baru kita menyadari ada sebuah makna yang bernama “kasih” di dalam relung jiwa kita. Sebuah makna yang enggan muncul tanpa kita menemukan kepingan makna itu dalam realitas sehari-hari.

Tinggal selangkah lagi, setelah kita tahu bahwa seluruh dinamika hidup ini adalah untuk mendefinisikan makna dalam hati kita sendiri; maka di atas itu adalah pemaknaan bahwa semua makna-makna itu tak lain tak bukan untuk menceritakan Sang Pembuat kehidupan itu sendiri.

Jadi sesuatu yang semakin dalam, semakin dalam.

Teringat seorang rekan pernah bertanya pada saya mengenai Neraka-Syurga. Maksud pertanyaan beliau saya paham, bagaimana menemukan konteks yang harmonis antara pemahaman para arif yang seolah menafikan Syurga-Neraka, dengan fakta bahwa dalil Syurga-Neraka itu tak alang kepalang banyaknya di Qur’an dan hadits.

Saya merenung sebelum menjawab, dan mengingat bahwa dulu sekali saya mengalami kebingungan serupa. Sehingga menuliskan jawaban ini seolah menulis ulang renungan perjalanan saya sendiri.

Imam Ibnu Qayyim, kalau saya tak khilaf, adalah beliau yang mengatakan bahwa Khauf (takut) dan Roja’ (pengharapan) adalah sepasang sayap. Dua-dua mesti ada. Jika ada salah satu saja, maka tidak akan imbang.

Tangga pertama, bolehlah kita maknai takut dan harap adalah takut pada neraka, harap akan syurga; maka kita beramal, Itu sudah Ok

Tangga berikutnya ada lagi, kita menyadari bahwa bukan amal kita memasukkan kita ke syurga, bukan amal kita menyelamatkan dari neraka

“Tidak ada seorang pun yang dimasukkan surga oleh amalnya.” Dikatakan: Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat padaku.” (HR. Muslim: 5037)

Maka kita tetap beramal seperti biasa, tapi the way we look into amal, cara kita memaknai amal; berbeda. Khauf dan roja bukan lagi pada benda. Tetapi pada Allah. Semacam rasa tak enak hati dan ngeri padaNya. Dan semacam rasa  meminta yang manja padaNya.

Sudah naik setingkat

Lalu di atasnya lagi. Adalah golongan orang-orang yang menikmati suasana “ingat” itu. Melampaui harapan dan takutnya

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Bagaimana mungkin kita bisa sampai pada kedudukan tidak meminta / memohon? seperti dalam hadits itu?

Tak akan bisa kita sampai kesana tanpa melalui jatuh bangun meminta dan memohon. Sampai kita didudukkan pada kondisi dimana kita tak sibuk minta dan mohon lagi. Melainkan “menonton”. Seperti menonton drama

Tapi setiap tingkatan ada adabnya sendiri-sendiri.

Dalam tanda kutip, tak penting untuk sampai ke atas segera. Karena tak mungkin sampai ke atas tanpa dibanting-banting ujian hidup.

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani: berpuas hatilah pada apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu

Ada satu paradoks. Orang-orang menginginkan kelebihan dan karomah seperti yang dipunyai para arifin dan para wali. Lalu Allah hantarkan orang itu sampai pada posisi para wali. Lewat ujian dan hantaman hidup.

Lalu sampailah dia pada posisi para wali.

Tetapi setelah dia sampai, kelebihan-kelebihan dia punyai, dia baru sadar sekarang “dirinya” yang tak ada.

Kita tak bisa sampai ke atas, bersamaan pula dengan masih ada “diri kita”. Kita dihancurkan sampai tak bersisa. Baru sampai kita kesana.

Jadi “tak penting” mencapai maqom yang mana untuk mencapainya pun kita dibanting-banting hidup.

Yang pokok adalah mendekatiNya dengan sebaik-baiknya. Dan berbuat kebaikan pada sekeliling. Nanti kepahaman akan menanjak sendiri.

Karena kita sudah ada dalam rel kehidupan masing-masing, tinggal pada rel kita sekarang ini, pelajaran-pelajaran hidup ayo kita serap dan maknai. Iqro’…dibaca…..Ini lho…..hidup kita yang sekarang ini. Bukan hidup yang lain.


*) Ilustration images taken from this source

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s