ORANG-ORANG YANG LUAS HATI

Pagi-pagi anak saya sudah merengek minta ditemani main bulu tangkis di halaman belakang. Terpaksalah pagi-pagi olahraga, padahal maunya leyeh-leyeh males-malesan di hari yang fitri ini, hehehe.

Gara-gara main bulu tangkis, saya jadi teringat  dengan seorang rekan masa kecil dulu. Bukan sobat akrab, tetapi memorable. Namanya Irhas. Dialah rival dalam dunia perbulutangkisan komplek saya.

Tapi sebenarnya dia adalah rival dalam hampir semua perlombaan. Bedanya, saya mengandalkan latihan ala kampung, sedangkan dia ikut klub bulutangkis. Jadi dia adalah expert yang sebenarnya dalam komplek kami, untuk usia anak SD.

Jika ada dia, dipastikan dia juaranya. Saya dan kawan-kawan lain sudah harus puas dengan menjadi nomer kedua setelah dia. Dalam lomba azan juga begitu. Dalam lomba lain-lain juga begitu.

Tetapi satu hal yang saya ingat sekali. Meskipun saya menganggap dia rival, saya sangat mengingati bahwa hampir keseluruhan lomba-lomba yang saya ikuti adalah karena setengah dipaksa atau diajak oleh dia. Bahkan dalam satu dua lomba, dia yang mengajak, dia yang mendaftarkan, dan kalau tak khilaf dia pula yang membayarkan pendaftaran lombanya.

Saya sebenarnya cenderung malas untuk mengikuti hiruk pikuk keramaian, lebih-lebih lomba. Maka ketika tiba-tiba saja saya sudah didaftarkan untuk mengikuti lomba, saya menjadi gamang. Ibu saya memarahi saya, “sudah didaftarkan oleh teman bukannya ikut!”

Karena pusing diomeli di rumah, akhirnya saya ikut juga. Dan setibanya di sana, dia tidak ada.

Rekan saya itu yang memaksa saya mengikuti lomba, dia pula yang mendaftarkan saya, lalu di hari H dia tidak ada.

Karena dia tidak ada, maka sayalah pemenangnya.

Sepulang lomba saya gembira karena saya memenangkan lomba itu, tetapi satu fakta baru disadarkan oleh Ibu Saya, yaitu “sudahlah kamu didaftarkan, terus dia tidak datang, berarti dia memang pengen kamu menang. Kalau dia ada, kamu tidak mungkin menang. Sudah pasti dia yang menang.”

Maka narasi itu terpatri lekat sekali di benak saya. Seorang rekan sekaligus rival, dengan kebaikan hatinya memaksa saya mengikuti lomba, dan menghantarkan saya jadi pemenangnya. Narasi yang begitu heroik.

Sebenarnya saya tak pernah bertanya, dan tak pernah mengkonfirmasi lebih lanjut selepas lomba itu. Kenapa dia tidak datang? Karena selang berapa minggu seingat saya dia pindah ke luar kota. Tetapi saya cukup menghargai narasi kebaikan yang saya percayai itu.

Ternyata ada orang-orang yang bentuk kebahagiaannya adalah jika dia bisa kontribusi aktif menjembatani kesuksesan orang lain.

Orang-orang seperti ini, dalam bahasa sufistik adalah orang-orang yang hilang keakuannya.

Baru kemarin, saya mengamati lini masa Facebook. Dan sebuah video dari Ustadz Abdul Somad lc menggelitik saya untuk menonton. Kisahnya tentang Buya Hamka.

Seorang yang besar hati memaafkan Soekarno yang telah memenjarakan beliau. “Kalau aku mati nanti, minta Hamka untuk memimpin sholat jenazahku” kurang lebih begitu wasiat Soekarno.

Dan Hamka yang luas hatinya itu, memaafkan sekaligus mengimami mensholatkan Soekarno. Begitu juga Hamka memaafkan Pramoedya yang menyerang beliau dengan tulisan-tulisannya kala itu.

Kononnya Pram mengirimkan anak dan menantunya untuk belajar Islam pada Hamka. Begitu cara Pram minta maaf. Dan Buya memaafkan beliau.

Pada orang-orang seperti mereka kita belajar berhati luas. orang-orang yang berhati luas, adalah orang-orang yang hidup melampaui dirinya sendiri.

Dalam banyak kesempatan saya mencoba menjadi orang yang berhati luas. Tapi seringkali gejolak muncul, rasa tak terima dan rasa kurang berkenan muncul. Apakah saya orang yang kurang luhur budi? Saya merenungi.

Saya amati orang-orang yang luas hatinya ini boleh jadi karena memang luhur budinya. Sehingga dia membahagiakan orang lain melampaui dirinya sendiri.

Tetapi kesini-sini saya baru mengerti bahwa terlepas dari bawaan keluhuran budi, orang-orang yang berhati luas juga bisa “terlahir” karena punya pemahaman yang lebih tinggi dari jamaknya orang orang lain.

Seorang Arif mengatakan, bahwa keseluruhan hidup ini digelar untuk DIA menceritakan diriNYA sendiri.

Jika sudah terpatri kepahaman itu dalam diri, maka keakuan akan hilang dengan sendirinya. Pahamlah saya sekarang dimana jurang pemisah saya dan orang-orang yang luas hati itu. Yaitu cara saya memaknai hidup ini.

Saya mengira hidup ini tentang saya, mereka sudah paham bahwa hidup ini tentang DIA.

©debuterbang

Image taken from this source

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s