ORANG “KECIL” MELAKUKAN PEKERJAAN “BESAR” (3)

giant leapSepulang istri saya dari RS berapa waktu lalu, pak Vivo (bukan nama sebenarnya) langsung bersama istrinya datang ke rumah. Secepat ninja. Hehehe.

Hanya berapa menit selepas saya bertemu beliau di pengkolan jalan dekat rumah, bersalaman maaf lahir batin, dan kemudian beliau tahu bahwa kami baru pulang dari RS. Maka sejurus kemudian beliau dan istrinya sudah jenguk ke rumah dengan bingkisan. Begitu cepat.

Sepulang mereka berdua dari rumah saya, saya tertegun. Setidaknya ada beberapa point. Point pertama mereka lebih tua dari kami, seharusnya kami yang sowan ke rumah beliau untuk maafan idul fitri. Dan yang kedua niat mereka membesuk istri saya, sama sekali tidak ditunda-tunda. Tingkat perhatian sosial yang sulit saya tandingi.

Saya jadi teringat kisah seorang shalih yang sewaktu sedang mandi tiba-tiba kepikiran untuk menyedekahkan salah satu hartanya. Saya lupa apa itu baju atau apaaa gitu. Lalu dari kamar mandi beliau teriak memanggil asisten beliau dan dawuh untuk segera menyedekahkan harta yang beliau kepikiran untuk disedekahkan itu.

Kenapa seketika itu juga? Karena beliau tidak mau menunda insight kebaikan. Jangan sampai insight itu meredup karena saat dia muncul selalu kita tunda-tunda.

Mengingati hal ini, saya jadi trenyuh dan berfikir betapa banyak insight kebaikan yang saya sendiri sering tunda-tunda. Sebutlah misalnya kelahiran anaknya mas Isdat, tetangga komplek yang sampai sekarang lupa saya jenguk. Dan sekarang tidak kontekstual lagi karena anaknya sudah gede. Saya dimakan kesibukan pekerjaan pergi pagi pulang malam.

Misalnya lagi sudah tiga kali lebih saya berpapasan dengan sebuah panti asuhan di pinggiran jalan cipayung, kebetulan sudah mendesak-desak insight kebaikan untuk menyedekahkan baju-baju tak terpakai. Karena dalam seminggu hanya ada tujuh hari, jika sehari hanya pakai satu baju, maka tujuh baju sudah mencukupi. Sisanya tak pernah terpakai. Ini harus disedekahkan. Tetapi insight itu saya tunda-tunda melulu sampai sekarang baru teringat lagi.

Mendesak-desak keinginan di hati untuk berbuat bagi sekeliling. Sesuatu yang sudah sering sekali kita dengar. Sebagian ulama menyebutkan istilah ini dengan kesalehan sosial. Kesalehan pribadi, tidak genap kepingannya tanpa menjelma kesalehan sosial.

Kesalehan sosial ini dalam bahasanya hadits adalah khoirunnas anfauhum linnas. Atau dalam bahasa yang lain ini adalah hablum minannas, kepingan yang lain dari hablum minallah.

Para arif memahami kesalehan sosial ini dengan lebih dalam. Jika kehidupan ini adalah DIA menceritakan diriNya sendiri. Maka berbaik-baik pada ciptaan-Nya sejatinya pula adalah berbaik pada yang menciptakannya.

PR pribadi yang terbesar bagi saya, dalam hablum minannas adalah fakta bahwa dalam perhubungan sosial saya adalah orang yang tak seberapa cakap. Maka melihati fakta ini, saya semakin-makin menyadari ungkapan para arif yang mengatakan bahwa memang syurga tak bisa dibeli dengan amal. Melainkan dengan rahmat Allah semata-mata.

Misalnya, masuk syurga itu diibaratkan masuk perguruan tinggi negeri yang ada pass-in grade, maka kalau main itung-itungan amal dan konteks kebaikan bagi sekeliling; dibanding pak Vivo tetangga sebelah komplek saja saya langsung terbanting berdebam. Orang-orang dengan kebaikan sosial setulus mereka itu melaju di garis depan. Selesai sudah….. apalah harapan untuk masuk syurga?

Itu kalau mau main analisa syurga.

Kalau analisa sufistik lebih-lebih lagi. Orang-orang arif sudah memandang melintasi kesukuan ras dan sekat-sekat sosial lainnya, bagi mereka sesama manusia dan ciptaan lain adalah sama-sama makhluk Tuhan, maka kebaikan mereka melintasi batasan-batasan para awam. Mereka berbuat baik pada makhluk, dengan mentalitas sebenarnya mereka hendak mengakrabi sang Pemilik Makhluk. Ini lebih tinggi dan lebih keteteran lagi saya mengejarnya.

Maka benarlah, jika tak mampu bersaing dengan para shalihin dalam amalnya, cukuplah bersaing dengan para pendosa dalam istighfarnya, kata Imam Ibnu Rajab.

Dan seorang arif mengatakan, yang maknanya kurang lebih adalah lakukan saja yang terbaik yang kita bisa, meski hal itu tidak “besar”, tetapi jika benar dalam pemaknannya, maka seorang “biasa”, bisa melakukan tugas luar biasa bernilai di sisi Allah, meskipun dirinya sendiri tak mengetahuinya.

Dalam kepahaman seperti inilah saya baru mengerti dan membenarkan kekata para arif, bahwa kita sampai kepada DIA, karena DIA sendiri. Bukan karena amal kita.


*) Image Sources

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s