MENIRU YANG TAK KELIHATAN

Unggulnya Abu Bakar r.a atas para sahabat lainnya dalam amal beliau, adalah karena apa yang tertanam di hatinya.

Abu Bakar Ibn Ayyas berkata, “Abu bakar mengungguli kalian bukan dengan banyaknya ia puasa atau shalat, tetapi dengan sesuatu yang tertanam kokoh dalam hatinya.”[1]

Tetapi memang terlepas dari apa yang tertanam di hatinya, buah dari yang tertanam itu kemudian tumbuh menjadi amal yang mengagumkan di tataran fisik.

Umar bin Khattab, sampai mengatakan bahwa beliau tak akan pernah bisa menyusul pencapaian Abu Bakar. Umar bersedekah setengah hartanya. Abu Bakar bersedekah sampai habis semuanya tak ada sisa. Memang tidak terkejar.[2]

Karena alur dari amal Abu Bakar adalah sesuatu yang tertanam dalam hati, berbuah menjadi amal. Seperti yang sering diungkapkan para arif, ahwal (kondisi spiritual di dalam hati) melahirkan amal. Maka Abu Bakar sudah menang sejak dari hatinya.

Inilah kelemahan kita, mungkin tepatnya kelemahan saya pribadi. Bahwa kita seringkali meniru apa yang ada di dalam tataran lahiriah, tetapi lupa meniru apa yang tak tampak. Yaitu yang ada di dalam hatinya.

Meniru yang ada pada tataran lahiriah saja, seringkali harus komprehensif.

Ada orang mengencingi masjid, misalnya. Bisa dimaknai secara lahiriah sebagai bentuk penghinaan atas rumah ibadah. Tetapi dalam tataran fisikal kita lihat contoh bahwa Rasulullah SAW pernah menyuruh sahabat membersihkan kencing seorang badui di masjid. Begitu saja, tak ada kemarahan.

Memang menilai sesuatu tak bisa secara literal saja.

Sebagaimana Rasulullah SAW juga pernah menerima kecemburuan Sayidatina Aisyah, yang bahkan mengatakan “engkau hanya mengaku-aku Nabi”. Jika dimaknai secara literal suami biasa sangat pasti akan marah. Tetapi Rasulullah SAW mengetahui bahwa itu ucapan yang keluar dari kecemburuan.

Pengetahuan yang ada di “dalam”-nya Rasulullah SAW, membuahkan amaliyah berupa kesabaran yang luar biasa. Sebagaimana pengetahuan yang ada di “dalam”-nya Abu Bakar, membuahkan amaliyah mempesona yang sulit ditandingi bahkan oleh sahabat selevel Umar Bin Khattab.

Salah satu pengetahuan “dalam” itu, adalah kesadaran bahwa kehidupan ini adalah untuk DIA menceritakan diri-Nya sendiri.

Ini yang saya seringkali masih harus berulang-ulang kembali memahami. Saat ini sudah tertanam dalam hati, maka amaliyah di luar / tataran fisik akan menjelma secara cantik juga.

Kita sering meniru yang nampak mata, tetapi jarang meniru yang tak kelihatan.


[1] (Mifah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah – 1/82)

[2] Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Abdullah Al Bazzaz Al baghdadi] telah menceritakan kepada kami [Al Fadhl bin Dukain] telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Sa’d] dari [Zaid bin Aslam] dari [ayahnya] dia berkata; saya mendengar [Umar bin Khattab] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami untuk bersedekah, bertepatan dengan itu, aku mempunyai harta, aku berkata (dalam hati); “pada hari ini, aku lebih unggul dari pada Abu Bakar, jika aku lebih dulu, Umar berkata; lalu aku datang dengan setengah dari hartaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang kamu sisakan buat keluargamu?”, jawabku; “Sepertinya itu.” Lalu Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia punyai. beliau bertanya: “Apa yang kamu sisakan buat keluargamu?” Dia menjawab; “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Maka aku berkata; “Demi Allah. aku tidak pernah bisa mengunggulinya terhadap sesuatupun selamanya.” Perawi (Abu Isa) berkata; “Hadits ini derajatnya adalah hasan shahih.” (HR. Tirmidzi: 3608 )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s