AGAR TAK TERSESAT DI BELANTARA LOGIKA

EBAD39A4-4C23-4A67-943A-F933EA952710-12762-00000FA57ACDAF7F
Kakek saya, saat wafatnya beliau meninggalkan sebuah buku yaitu “tanya jawab agama oleh A. Hassan” tokoh islam yang sangat terkenal dan hidup semasa dengan Soekarno. Pada A. Hassan inilah Soekarno sering korespondensi bertukar fikiran, kumpulan tukar pendapat itu dalam “Surat-surat dari Endeh” dibukukan.

Buku A. Hassan, tanya jawab beliau yang sekira empat jilid kalau saya tak khilaf, menemani saya sejak SMP. Dari situ saya mengenal istilah-istilah fikih, karena gaya menulis beliau luar biasa enak dibaca. Orang bodoh macam saya pun jadi bisa mengikuti alur penjelasan seorang alim macam beliau.

Pendekatan A. Hassan ini, belakangan saya tahu agak mirip dengan pendekatan ormas besar Muhammadiyah. Yaitu gerakan pemurnian islam.

Kala itu, saya belum lagi paham dengan kepingan satu lagi dari gerakan besar di Indonesia, yaitu gerakan dakwah kultural ala NU.

Yang berkesan sekali bagi saya, dalam buku itu tak saya temukan caci mencaci. Hujjah-hujjah dipaparkan dengan sangat indah. Dengan bahasa melayu yang cantik. Memanggil kawan diskusi dengan “tuanku”. Mengakui kebenaran dari lisan lawan di seberang dan mengoreksi pendapatnya dengan santun.

Dulu saya mengira hal ini karena efek dari bahasa melayu yang kental. Ternyata ke belakang ini baru saya temukan fakta bahwa ini karena memang adab mereka yang tinggi. Tak ada kena mengena dengan bahasa.

Saya teringat dulu berbekal satu jilid tebal kajian A. Hassan, saya mau mendebat imam Masjid saya. Berlagak betul saya waktu itu.

Yang salah bukan kajian, bukan bahasa, tetapi kurangnya adab.

Setelah dewasa, saya baru temukan bahwa yang dulu hendak saya debati, ternyata pun berdalil dan memandang islam dari sisi yang sebelahnya lagi. Approach kultural.

Belakangan saya temukan pada buku Buya Hamka, ulama besar kita yang satu lagi, beliau menukil kekata A. Hassan, dengan membuat catatan kaki bahwa A. Hassan mengoreksi Buya itu sendiri. Bayangkan itu.

Jaman sekarang, melihat lini masa facebook malah membuat hati ikut-ikutan panas sendiri. Orang-orang saling mencela. Ustadz diadu dengan ustadz. Jarang kita lihat hujjah bertemu hujjah dalam bahasa yang cantik dan berima. Dalam kata-kata yang dipilih untuk tidak menyerang personnal atau ad hominem.

Saya kembali teringat dengan bahasan perlukah bermazhab? Pada akhirnya tak setiap orang harus menjadi ulama. Ikutilah ulama dengan metoda atau sistem yang kita pahami, lalu yang perbedaan orang lain dalam masalah cabang, biarkanlah jadi urusan para ahli.

Sejak abad pertama, munculnya ahli fikih ternama yaitu Imam Hanafi, disusul Imam Malik pada akhir abad ke 1 H. Lalu Imam Syafii dan Hambali. Metoda fikih sudah tersusun dengan baik. Orang-orang berbeda dalam hal-hal yang cabang, tetapi saling menghormati.

Karena mustahil menyatukan semua pendapat. Sedangkan di dalam keluarga saja, adik beradik dari satu orang tua bisa berbeda pandangan. Lahir dari rahim yang sama, dibesarkan dari asuhan yang sama. Bisa beda. Apalagi bicara manusia zaman ke zaman.

Sejak Rasulullah wafat, perbedaan sudah tergelar, mulai dari politik suksesi pemerintahan. Berimbas pada masalah hadits mana yang sahih, berimbas pada masalah fikih yang merupakan turunan dari hadits-hadits itu. Ada yang literal ada yang takwil. Dan semua kukuh dengan pendirian masing-masing.

Didalam keragaman ini, yang penting pada akhirnya adalah menyadari bahwa keragaman tercipta untuk menceritakan DIA yang tunggal.

Hujjah-hujjah kita ambil, agar kita menjadi tahu ; dalam kancah dunia ini, kita harus bermain dalam corak yang mana. Agar tak seperti rumput kering. Angin ke barat ikut ke barat. Angin ke timur ikut ke timur.

Maka harus ada posisi. Tidak bercorak sama sekali, mustahil. Maka beranilah bercorak, dengan dasar hujjah yang kita pahami dan pelajari dari para ahlinya, lalu “bermain”lah dalam kancah dunia dengan corak itu.

Bermain itu, maksudnya adalah kontribusi pada kehidupan. Khoirunnas anfauhum linnas. Tapi jangan hakimi orang lain, dan jangan pula merasa bahwa kita bisa menjadikan dunia ini satu ragam saja warnanya.

Dalam Al Munqidz Min Ad Dhalal. Imam Ghazali menceritakan kegamangan beliau, karena menyadari bahwa selama ini hanya berpegang pada hujjah-hujjah saja. ilmul yaqin semata-mata. Beliau belum lagi sampai pada keyakinan yang lebih teguh.

Fithrahnya ilmul yaqin, keyakinan yang disupport data-data premis-premis, yaitu saat datang penjelasan lain yang lebih pas, ganti pula kita pendapat. Datang lagi yang lebih fasih, ganti lagi kita. Karena itulah fithrahnya ilmul yaqin. Keyakinan disupport ilmu.

Diatasnya ilmul yaqin, adalagi ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Untuk menyeberang dari ilmul yaqin, yang sebatas mengoleksi khasanah belantara premis-premis ini, menjadi keyakinan yang kukuh. Itulah harus kita masuk dunia “dalam”.

Kalau ilmu itu, kita baru memraktekkan “iqro” saja.

Kalau mau merentas pada haqqul yaqin itu mesti ada sikap “bi ismi Rabbika”. Mengaitkan keseluruhan kembara keilmuan kita pada konteks “DIA sedang bercerita tentang diriNya”.

Tanpa itu, kita habis usia, dan hanya sibuk dalam belantara logika.


gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s