PARADOKS DALAM KEMILAU


Kononnya, ada seorang ahli beladiri di Indonesia, dimana dia tidak pernah kalah dalam pertarungan beladiri campuran.

Saya tahu cerita ini karena sewaktu masih tekun belajar beladiri, saya mengikuti blog salah seorang ahli beladiri terkemuka di Indonesia, yang meski jago, tetapi tidak sombong, terlihat dari tulisan-tulisannya.

Sampai suatu ketika kalau saya tak salah ingat dia bercerita bahwa dalam satu turnamen dia kalah oleh seorang lawannya dalam permainan beladiri ground fight alias berantem di bawah dengan gulat dan kunci-kuncian.

Yang menarik bagi saya adalah justru ucapannya sewaktu kalah

Apa itu?

Dia bilang “terimakasih,” kepada lawannya, “untuk telah mengangkat beban ‘tak terkalahkan’ dari pundak saya.”

Kalimat humble itu luar biasa keren terdengar oleh saya waktu itu. Betapa menjadi seorang yang tak terkalahkan dan selalu perfect itu justru menjadi beban.

Disaat dia –tokoh yang saya ceritakan tadi– kalah, yang dia rasakan justru sebuah beban terlepas dari dirinya.

Itulah dunia, seringkali memunculkan paradoks.

Teringat saya dengan paradoks ini, sewaktu halal bi halal di kantor barusan. Dalam acara sambutan-sambutan, dipanggillah seorang Bapak senior yang sangat mumpuni dalam membangun jaringan dan relasi. Bapak itu dipanggil manajer kantor sebagai bentuk apresiasi karena prestasinya, tender-tender besar dimenangkan karena keahliannya melobi.

Majulah beliau dengan diiringi gemuruh applause dari kami.

Yang menarik apa? Yang menarik bagi saya justru gesture, dan gerak tubuh beliau. Yang menyiratkan sebuah kebersahajaan yang sangat biasa. Tidak ada petantang petenteng. Tidak ada sikap berlebih. Begitu natural dan berkelas. Begitu humble.

Memang orang-orang mengenal beliau sebagai pribadi humble yang konsisten berkebaikan.

Dulu, yang saya kira prestasi itu adalah berdiri di puncak kerumunan. Di tengah-tengah elu-elu masa.

Tetapi baru saya paham bahwa hal yang lebih utama dari berkilau dan menjadi pusat pesona, adalah konsistensi berkebaikan.

Sebagaimana kisah seorang ahli beladiri yang tak terkalahkan, justru menemukan kelapangan setelah beban tak terkalahkan itu lepas dari pundaknya. Maka dia bisa berkontribusi dengan lebih relax.

Dalam spiritualitas islam, ada sebuah adagium bahwa istiqomah (konsistensi) lebih berharga dari seribu karomah (kemuliaan). Dalam sebuah hadits pula, Rasulullah SAW mengatakan bahwa beramal sedikit tetapi konsisten, adalah lebih dicintai Allah SWT [1]

Ternyata yang paling penting adalah perjalanan-nya itu. Hampir keseluruhan orang-orang salih menjadi berkilau ; karena dalam kekalahannya; mereka mengambil hikmah dan pelajaran.

Adam a.s pernah salah. Musa a.s pernah salah. Yunus a.s pernah salah. Tetapi yang paling penting dari salah; adalah justru karena salah maka kita menemukan konteks untuk konsisten berjalan menuju ke arah yang lebih baik.

Tahu-tahu, kita sudah naik kelas.

Tahu-tahu, kalau melihat ke belakang, kita sudah berjalan jauh. Kita yang sekarang, sudah beda dengan kita yang dulu.

Bahasanya syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuhul Ghaib, berpuas hatilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Berpuas hati itu maksudnya adalah konsistensi berkebaikan dalam maqom kita masing-masing, tidak berharap menjadi menara gading di tengah gemuruh puja puji, nanti lama-lama akan “naik” sendiri.

©debuterbang

References:

[1] “Wahai sekalian manusia, beramalah menurut yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari: 5413)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s