MEMELUK SUKA DAN DUKA

Saya baru tahu bahwa istilah “Suka” dan “Duka” itu ternyata sangat dekat dengan istilah Buddhism, yaitu “Sukkha” dan “Dukkha”.

Saya dengar ini dari acara The Deen Show, wawancara dengan Syaikh Hussain Ye seorang Cina Muslim yang tadinya mantan penganut Buddha.

-Menurut beliau-, besar kemungkinan Buddha adalah seorang Nabi yang mengajarkan tauhid monotheistic.

-aslinya-Buddhisme kononnya begitu dekat dengan islam. Wallahu’alam.

Yang menarik adalah mengenai Sukkha dan Dukkha ini ternyata dekat dengan istilah Basyiran wa Nadzhiran. Kabar gembira dan peringatan.

Para Nabi dan Rasul diutus untuk memberi kabar gembira (Basyiran) dan peringatan (Nadzhiran).

::

Pagi ini saya berdo’a kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menyelesaikan sebuah tugas kantor.

Saya teringat bahwa sangat sering saya mentok dalam melaksanakan sebuah tugas, tetapi setelah berdo’a maka kemudahan itu acapkali datang lewat arah yang tak ditebak.

Kalau dulu saya memaknai pengabulan do’a sebagai jawaban / pemberian Tuhan atas permintaan saya. Kini setelah mempelajari spiritualitas islam saya menjadi paham bahwa karena Tuhan ingin memberi maka digerakkan hambaNya untuk berdo’a.

Do’a adalah pemberian yang didahulukan.

Jika pemberian sudah mendahului permintaan, maka kita paham bahwa permintaan yang tercetus di mulut kita sejatinya hanya ekspresi saja. Ekspresi pengagungan atau persandaran padaNya.

Kalau do’a di mulut sejatinya hanya ekspresi saja dari apa yang ada (diletakkan) di dalam batin, maka secara jujur kita tak bisa untuk tak berdo’a.

Mulut bisa saja diam. Tetapi hati selalu jujur. Kalau dicekam takut maka hati berharap pada Tuhan. Kalau diguyur gembira maka hati bersyukur pada Tuhan. Di dalam hati ada bentuk-bentuk pengagungan pada Tuhan semacam itu. Meski mulut diam. Itupun do’a juga namanya.

Tetapi bentukan rasa di hati. Ini bisa mendewasa seiring perjalanan hidup. Dari yang tadinya melihat suka duka hidup. Bergerak menuju janji kegembiraan (basyiran) dan menjauh dari ancaman (nadzhiran). Menjadi memahami bahwa basyiran nadzhiran semata cerita dari pemiliknya.

Orang-orang yang mengalami realita kedekatan pada pemilikNya, dia menjadi sibuk dengan kedekatan itu, melampaui rasa takutnya terhadap ancaman dan melampaui kegembiraan atas berita yang baik. Sampai tahapan ini dia nrimo. Ga peduli.

Tetapi tak pedulinya mereka itu bukan karena sombong. Melainkan karena saking dekatnya dengan Pemilik dunia, maka cerita dalam dunia menjadi tawar bagi mereka.

Kalau kita masih meniti penghambaan dengan dipagari basyiran wa nadzhiran. Mereka menghamba ya karena memang cinta pada Tuhan.

Tetapi kadangkala kelirunya sebagian kalangan adalah mereka mengabaikan berita ancaman dan janji kegembiraan ini bukan karena sangat dekat pada Sang Pemilik. Melainkan karena sombong.

Dalam satu riwayat kalau tak salah ingat, orang yang enggan berdoa disebut orang sombong.

Karena melawan kata hati. Hatinya berharap pertolongan Tuhan, tetapi lisannya sombong dalam menzahirkan kata hati itu menjadi permohonan.

Anda boleh tak berdo’a, hanya jika di dalam hati dipenuhi keridhoan dan pengertian akan kesempurnaan takdir Tuhan. Jika rasa tentram itu yang memenuhi hati, maka sikap secara fisik tentu bukan mendayu-dayu minta tolong. Melainkan penerimaan yang lapang. “Rodhitu Billahi Rabba”.

Jadi, orang arif itu adalah mereka yang MENINGGALKAN. Bukan DITINGGALKAN.

Seumpama orang zuhud bukanlah yang tak punya dunia (ditinggal dunia) melainkan mereka yang memiliki harta tetapi melepasnya (meninggalkan).

Sama juga dengan pluralitas. Bukan orang-orang yang sombong dan menafikan tata aturan agama lalu menjadi pluralis karena analisa logika.

Melainkan yang memandang keragaman sebagai sama-sama makhluk Tuhan yaitu yang arif dan sepenuh-penuh menghamba pada Tuhan sehingga penuh dengan welas asih.

Dan begitu juga dengan yang lepas dari dualitas. Bukanlah yang mengejek dan mengabaikan janji dan ancaman Tuhan. Melainkan yang menghayati janji dan ancaman. Hingga kedekatan mereka pada Sang Pemilik lebih menyibukkan diri mereka melampaui janji dan ancaman itu.

©debuterbang

……

Ilustration image is taken from this source

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s