DIANUGERAHI KEBETULAN-KEBETULAN


Tugas kantor baru selesai malam ini, sebelum menutup laptop tiba-tiba saya teringat dengan seorang rekan yang atas sarannya lah saya berpindah dari kerja sebagai engineer di lapangan migas, menjadi koordinator di kantor.

Perpindahan kerja dari lapangan menuju kantor kala itu memang penuh pertimbangan. Lebih-lebih bagi orang yang kebanyakan mikir seperti saya. Maka saran dari seorang rekan yang objektif bagi saya sangat membantu dalam menentukan langkah.

Sebenarnya saya tak kenal dekat dengan dia. Hanya kala itu menjadi rekan satu tim dalam sebuah tugas pengeboran di lapangan migas lepas pantai. Dia orang Amrik. Seorang family-man yang membuat saya kagum karena jiwa sosialnya yang tinggi.

“Take it man…. i know you will be suit for that job” katanya mendorong saya mengambil tawaran untuk menjadi koordinator di kantor. Saya yang sudah terbiasa dengan kehidupan ala engineer lapangan akhirnya memberanikan diri mengambil langkah yang besar, setidaknya besar untuk ukuran saya yang suka dengan kemapanan.

Maka kalau direnung-renung kembali, betapa unik. Orang yang entah berantah dari negri mana, bertemu dengan saya di anjungan migas, kemudian memberi dorongan untuk saya melangkah, yang kemudian keputusan saya untuk melangkah itu merubah begitu banyak cerita dalam hidup saya.

Bekerja di kantor. Berjibaku dalam macet jakarta. Belajar bersosialisasi dengan orang-orang. Belajar akrab pada dunia meeting. Dan melihat dunia dari sisi yang sama sekali lain dari yang dulu saya tengok dalam pandangan solilokuy seorang engineer yang akrab pada desing suara pengeboran, aroma laut lepas, kibas-kibas baling-baling helikopter, dan temaram rembulan yang memantul pada ombak laut malam hari.

Adakah itu kebetulan?

Atau dalam pertanyaan yang lebih besar lagi, apakah ada yang tidak “diatur” dalam hidup ini?

Lewat kepahaman akan “diatur”nya hidup inilah, para arif menyesapi kedekatan dengan Tuhan. 

Jika para arif sudah tune-in dan haqqul yaqin dengan keteraturan. Maka orang awam macam saya, harus bolak-balik menikmati memori kebetulan-kebetulan itu, untuk menyusunkan syukur bahwa benarlah hidup ini penuh dengan keteraturan.

Seorang bule yang dipertemukan sesaat dan andil besar dalam mendorong saya untuk mengambil langkah berani.

Atau pertemuan sepintas saya dan seorang aktivis di Pogung Kidul, tempat saya menumpang menginap sewaktu lepas SMA saya hendak mengikuti ujian SPMB penerimaan mahasiswa baru dulu, dari bertemu selintas dengan dialah saya kemudian memutuskan mengambil kuliah geologi.

Kenapa kamu mau kuliah geologi?? karena mas yang tempat numpang ngontrak dulu orangnya baeek, jadi saya mau kuliah di tempat orang baek. sungguh alasan yang tidak teknikal.

Atau pertemuan selintas saya dengan seorang direktur BUMN migas besar, di kampus kami, yang ndilalah memberikan izin saya untuk numpang mengerjakan skripsi di perusahaan dimana dia bekerja.

Juga segala lika-liku hidup. kebingungan-kebingungan menapaki roller coaster kehidupan, yang memaksa saya setiap hari mencoba mengunyah renyahnya kajian Hikam dari Drs. Imron Djamil, kiai tambak beras jombang. ratusan ceramah saya dengarkan dengan khusyuk setiap hari satu demi satu, dalam bahasa jawa yang tak begitu saya mengerti.

Pelan-pelan merubah saya dari yang dulunya begitu fikih minded dan kaku, menjadi melunak pada kajian spiritual.

Dulu segala wacana spiritualitas islam serasa begitu abstrak.

sempat saya mengecewai diri sendiri, kenapa kok saya tak mengerti-mengerti?

Tak lama kemudian gelombang hidup mengantarkan pengertian itu satu demi satu. Yang dulunya abstrak, tetiba terasa begitu terang benderang.

Dari satu guru, ke guru yang lain. yang mayoritas tak pernah benar-benar bertatap muka.

Sempat saya “mencemburui” para sahabat yang berkesempatan ndeprok dan belajar tekun pada siapapun orang-orang arif, sumur hikmah. Sedangkan saya tak berkesempatan begitu.

Tetapi ternyata ilmu mendatangi tak hanya lewat pintu kajian. Dia juga datang lewat kehidupan yang penuh pernak-pernik. Bersyukurlah pula saya bahwa dalam keterbatasan, ternyata tak seberapa tertinggal dengan rekan-rekan yang begitu getol mencari. Biar di belakang, asal tetap berjalan.

Dan begitulah pula pesanan seorang arif, agar tetap beramal, sembari ridho pada maqom yang dianugerahkan pada kita saat ini. H. Hussien Abd Latiff mengutip Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan “berpuas dirilah atas apa yang ada padamu, hingga Allah sendiri meninggikan taraf kamu”

Sebelum tidur ini malam, ingin rasanya saya menuliskan kebetulan-kebetulan itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s