SPIRITUALITAS BUBUR SUM-SUM

Masjid HidayatullahJajanan favorit di sekolah masa-masa SMA dulu, dengan tak sengaja saya temukan di jalan raya depan Masjid Hidayatullah di Karet Semanggi.

Duduklah saya di penjual makanan kaki lima seberang masjid, usai shalat Jum’at. Menikmati lalu lalang pejalan kaki dan orang-orang yang baru bubaran sholat Jum’at, sambil menikmati semangkuk Bubur sum-sum, sungguh suatu “jeda” yang menyenangkan dari rutinitas yang klise.

Sebenarnya tempatnya tak seberapa nyaman, namanya juga di jalan raya. Tetapi menikmati suasana “jeda” itu, membuat saya berlama-lama dan menunda sejenak agar tak buru-buru menyambangi gedung menjulang di seberangnya, tempat salah satu client kantor kami berada.

Sembari asyik menyeruput Bubur, saya amati para pedagang kaki lima di pinggiran jalanan itu. Sadarlah saya bahwa mereka adalah orang-orang –yang tanpa mereka sadari- menjadi terlatih memaknai bahwa rezeki itu memang dalam genggaman aturan Tuhan. Mereka tiap hari “merasai” bahwa para pembeli jajanan mereka; secara random datang dan pergi dari kerumunan orang-orang. Apa itu namanya kalau bukan “diantar”?

Mereka, para pedagang itu hanya duduk manis saja di pinggir jalan. Setiap ada pembeli yang “mendatangi” terasalah seolah rezeki itu dihantar ke mereka.

Saya teringat pernah disampaikan dalam sebuah ceramah, satu kebiasaan baik pedagang di pasar Jogja –saya lupa pasar yang mana- adalah bersedekah. Mereka bersedekah sebelum berjualan sebagai “pemancing” rezeki. Lalu “bersedekah” pula jika jualannya laku, sebagai bentuk rasa syukur. Karena memahami bahwa ini bukan soal dagang, melainkan soal “menyaksikan pengaturan Tuhan”.

Kadang-kadang, karena terlalu tenggelam dalam kesibukan, kita menjadi lupa bahwa rezeki –termasuk sepaketan di dalamnya, yaitu karir, kantornya dimana, jobnya apa, dll– adalah semua sudah fix dalam kekuasaanNya.

Kalau dalam bahasanya Ust. Hussien, dikatakan bahwa karena natijah atau impact, dari suatu kejadian terasa sangat nyata / jelas, maka sering kita lupa kalau kejadian apapun adalah af’al-Nya. Padahal, masih menurut beliau, menyadari af’al-Nya adalah asas dari ilmu keridhoan. Tanpa kesadaran bahwa kita sedang didalam af’al-Nya, sulit kita untuk ridho.

Ya umpamanya saja saya pribadi. Karena pekerjaan kantor yang begitu bertubi-tubi, dan setiap pekerjaan kadang-kadang memberi sensasi panik yang tersendiri, deadline-lah, tuntutan client-lah, bos-lah, maka kepanikan atau rasa bingung atau rasa capek dan kesal dari pekerjaan itu mencerabuti keilmuan yang kita sudah paham. Lupalah kita bahwa pekerjaan apapun yang sedang kita hadapi; pun adalah af’al-Nya.

Tetapi saya tetap merasa beruntung, untuk telah dipertemukan dalam jeda-jeda kecil di sela-sela pekerjaan yang beruntun itu. Jeda-jeda semacam itulah, yang kadang sepele, hanya makan bubur di pinggir jalan, tapi memberikan kesempatan menengok ulang makna hidup.

Ada segolongan arif, yang makna hidup telah mereka dapati, dan tlah tertanam begitu kuat di hati. Sehingga, cerita apapun saja dalam drama hidup mereka; tak akan menggoyahkan makna yang sudah menancap itu; bahwa semua ini af’al-Nya.

Namun, ada yang seperti saya, kadang-kadang ingat, lebih seringnya lupa. Nah untuk orang-orang yang sering lupa seperti saya ini, maqomnya adalah menikmati cerita hidup sebagai media penghantar makna kembali masuk ke hati.

Kelapangan yang menghantarkan syukur. Atau kesulitan yang menghantarkan rasa “fakir” dan butuh pertolongan Tuhan. Dua-duanya baik, karena yang penting dua-duanya menjadi jalan “pulang”.

Dikatakan oleh seorang guru, yang kurang lebih maknanya adalah : cobalah nikmati rezeki yang didapati sekarang. Misalnya makanan. ingat Allah, dan rasakan benar-benar bahwa  makanan itu adalah pemberian. Sehingga muncul kesadaran dan kita menjadi tune-in lewat rasa syukur. Rasa bahagia.

Adapun maqom di atasnya lagi, adalah para arif yang sudah “sampai”. Bagi yang sudah sampai, kelapangan maupun kesempitan menjadi “tawar”, kalah oleh makna yang memenuhi hati mereka.

Tapi membedakannya sederhana saja, orang yang sudah “sampai” mestilah tidak sibuk mikirin Bubur Sum-sum, seperti saya, hehehehe. Level saya adalah tune-in lewat kebersyukuran atas momen “jeda” dan makan Bubur. Momen dimana hikmah dihantar.


*) Gambar ilustrasi, diambil dari google street

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s