PAGI YANG ADIL

Agak mengagetkan saya sebenarnya mengenai "Rumi". Tadinya saya tak seberapa banyak mengikuti tentang Rumi. Saya pikir "ini opo toh kok nari muter-muter".

Sampai saat saya membaca buku yang tergeletak masih dibungkus plastik, hasil dari berburu di islamic book fair berapa waktu silam, maka pandangan saya tentang Rumi berubah.

Dikatakan dalam pengantar salah satu buku Rumi, yaitu "Fihi Ma Fihi", ternyata rumi menari-nari itu hanyalah ada pada fase penghujung perjalanannya.

Rumi adalah ahli fikih, ulama dari Mazhab Hanafi. Hal ini mengingatkan saya bahwa Ibnu Athaillah pun adalah punggawa Mazhab Maliki, yang dikemudian hari menjadi seorang arif. Bedanya, kalau Ibnu Athaillah tak memiliki galur tasawuf di keturunan beliau kalau saya tak salah, tetapi Rumi dari garis ayahnya memang seorang "salik".

Pada pertengahan jelang akhir hidupnya, Rumi sudah menekuni kehidupan zuhud. Kemudian disanalah dia bertemu dengan seorang arif lainnya bernama syams Tabriz.

Tadinya Tabriz hendak berguru pada Rumi, tetapi pada akhirnya Rumi menyadari bahwa dialah yang lebih banyak berguru pada Tabriz.

Lepas mendapatkan enlightenment alias pencerahan dari diskusi-diskusinya dengan Tabriz itulah, maka Rumi begitu gembira dan kerjanya menari-nari di pasar sambil bernyanyi. Hehehehe.

Melihat Rumi lewat tulisannya, dan Ibnu Athaillah lewat tulisannya, begitu menyenangkan mendapati fakta bahwa ilmu rasa akan menjadi begitu apiknya dijelaskan oleh ahli ilmu lahir pula. Keseimbangan dua keilmuan itu akan menjadi indah. Seperti Imam Ghazali sang Hujjatul Islam.

Kedua, mencermati fakta Rumi, Ibnu Athaillah, dan kisah Ibnu Arabi, saya melihat bagaimana humble dan bersahaja mereka-mereka yang namanya besar di panggung sejarah itu. Mereka berguru pada banyak orang. Dan saling mengisi satu sama lain. Bercerita satu sama lain. Meski satu dan lainnya berbeda approach dalam bagaimana menjalankan sikap zuhud versi mereka.

Ketiga, seringkali apa yang mereka sampaikan, karena halusnya istilah bahasa, disalah mengerti oleh orang-orang setelah mereka. Yang paling pelik adalah istilah wahdatul wujud. Polemik yang begitu panjang. Ada yang ekstrim mengaku menjadi Tuhan, pada sesiapa yang memang berlebihan dengan mengatakan makhluk adalah sama dengan Tuhan, tentu harus kita tinggalkan jauh jauh.

Tetapi para arif besar itu tidak mengatakan seperti apa yang dituduhkan pada mereka. Kesalahpahaman semata karena orang tak mengerti apa yang mereka ceritakan.

Maka itu….. Keempat, belajar dari Buya Hamka, menjadi adil dalam menilai. Orang sekapasitas Buya Hamka pun di penghujung hidup beliau menulis pula sebuah buku yang menjembatani antara ahli ilmu dan ahli rasa. Dan Buya begitu fair menilai yang keliru ya keliru. Yang benar ya benar.

Pada akhirnya, semua cuma cerita.

Seperti kata Rumi, yang maknanya kurang lebih: orang arif akan Tahu bahwa kijang dan harimau hanya gambaran yang dimunculkan. Tak punya wujud sejati.

Secara apik mengenai ini baru saya paham setelah mengikuti kajian yang disusunkan oleh Ust. Hussien. Semua yang bersifat ini adalah mumkinul wujud, yang dimunculkan dari sesuatu yang wajibul wujud, wajib adanya, yaitu dzat-Nya. Keseluruhan alam ini dijadikan satu tetap tak bisa dibandingkan dengan DIA.

Wallahu'alam

-debuterbang-


Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s