PRASANGKA PARA LARON

laron_lampu_api

Mata sulit terpejam, karena sepanjang jalanan sore tadi macet lumayan parah, walhasil saya sempat tertidur cukup lama di shuttle bus kantor, kantuk tak datang-datang malam ini.

Sembari rebah, saya melihat potongan-potongan video klip America’s got talent. Dan satu per satu penampilan dari para kontestan membuat saya berdecak kagum. Mereka begitu berani tampil. Kekaguman datang terlebih lagi, lewat sepotong kecil jendela YouTube kita bisa melihat betapa banyak keragaman tingkah polah manusia dicipta oleh Tuhan.

Sembari menonton, selayang ingatan tiba-tiba membawa saya kembali pada moment tadi siang. Di kantor, Manager memanggil saya ke ruangannya, dan bertanya, apa yang ingin saya lakukan dalam dua atau tiga tahun mendatang?

Pertanyaan mengenai rencana jangka panjang selalu membuat saya kesulitan. Sungguh saya tak tahu apa yang akan saya lakukan ke depan.

Karena melihat bagaimana saya berjalan sampai pada titik ini saja, saya menyadari begitu banyak plot takdir yang membawa saya.

Tetapi toh saya tetap harus menjawab. Saya menghargai manager saya, yang bertanya sekaligus coaching alias memberi wejangan dalam kapasitas beliau sebagai seorang bos. Okelah, sebagai bentuk penghargaan maka saya jawab bahwa saya punya plan akan begini begitu…… saya menjelaskan.

Sepanjang jalan pulang saya bertanya dalam hati. Bagaimana kaitannya antara berkecimpung dalam kehidupan, dan memahami kehidupan sebagai plot-Nya Tuhan?

Tiba-tiba saja, saat menonton sesi America’s got talent malam ini, betapa saya seperti menemukan benang merahnya dari pertanyaan saya sendiri tadi pagi.

Entah bagaimana, melihat orang-orang tampil dengan anggun dan indah pada ajang bakat itu membuat saya ingat pada Yusuf a.s. yang menawarkan diri menjadi bendahara kerajaan.

Angkatlah saya menjadi bendahara kerajaan, karena sesungguhnya saya orang yang jujur lagi dapat dipercaya, kurang lebih begitu kata Yusuf a.s. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Yusuf a.s berkata seperti itu? Pamrihkah Yusuf? Sombongkah?

Jawabannya saya dapatkan malam ini. Jikalah kita, saat melihat keragaman pada ajang America’s got talent saja, bisa trenyuh menyadari bahwa Tuhan menciptakan keragaman yang tak habis-habis karena DIA hendak unjuk kehebatan diriNya sendiri. Tuhan mencipta, menggelar karya agar lewat makhluk-Nya kita melihat ke-maha-an-Nya. Apatah lagi level Nabi?

Barulah saya mengerti, dalam pandangan seperti itulah, Yusuf a.s menawarkan diri menjadi bendahara kerajaan. Kepahaman bahwa pagelaran ini tentang-NYA. Maka orang yang arif mengetahui pula bahwa berkecimpungnya mereka dalam tugas-tugas, sejatinya hanyalah ikut jadi part of the game. bagian dari pagelaran. Mereka sendiri tidak pernah menjadi sentralnya.

Ada cerita terkait, tentang porsi-porsi dalam pagelaran. Suatu ketika Syams Tabriz datang ke kota tempat Rumi berada, lalu secara kebetulan berpapasan pada sebuah perpustakaan. Bertanyalah Tabriz pada Rumi, “apa yang kau cari?” katanya.

Rumi menjawab sekenanya, “Sesuatu yang kau takkan mengerti,” jawab Rumi.

Mendengar jawaban Rumi, Syams Tabriz lalu melemparkan setumpuk buku pada sebuah kolam kecil di dekat mereka. Terburu-buru Rumi bergerak menyelamatkan buku-buku itu. Kagetlah Rumi, setelah dia mengambil buku-buku itu dari kolam, ternyata buku-buku itu tidak basah sama sekali.

“Apakah ini??” Tanya Rumi pada Syams.

“Sesuatu yang kau tak akan mengerti.” Jawabnya.

Lepas perkenalan pertama itu, Rumi akhirnya sering berdiskusi dan berguru pada Syams Tabriz.

Pertanyaan sederhana terbetik di hati saya….secara spiritual, siapakah yang kira-kira lebih tinggi. Adakah Syams atau Rumi? Kononnya mereka saling berguru, tetapi setelah bertemu dengan Syams Tabriz-lah Rumi begitu tercerahkan dan menulis begitu banyak esai dan puisi.

Barangkali Syams lebih mumpuni dari Rumi….mungkin….. Tetapi Rumi pula dikenang khalayak karena kontribusi tulisan-tulisannya yang mencerahkan.

Rumi ada porsinya sendiri. Syams Tabriz ada porsinya sendiri.

Tetapi apakah semua ini tentang Rumi, atau Syams Tabriz? Ataukah cerita Yusuf a.s itu semata tentang kecakapan beliau dalam keuangan? Ataukah kisah Dawud a.s dengan suaranya yang merdu sehingga kononnya angin berhenti bertiup jika beliau bersenandung; itu semata tentang Dawud?

Keindahan dan keragaman yang begitu banyak di sekitar kita, hanya setitik pagelaran dari Yang Menciptakannya.

Barangkali, saya ada pada derajat terendah penyaksian. Dalam golongan orang-orang yang untuk sampai pada trenyuh atas kekuasaan Tuhan; mereka harus memasukinya lewat pintu kekaguman pada ciptaanNya.

Ada orang-orang yang sudah berada dalam kekaguman pada Tuhannya, tanpa melalui kekaguman mereka pada ciptaan-Nya, tak melewati sebab, dan itu derajat yang sangat tinggi. Tapi tentu saya tak terkejar sampai kesana.

Inilah setitik kekaguman pada keragaman hidup yang kita lihat sehari-hari. Dari rasa kagum dan trenyuh itulah kita mengakrabi Tuhan lewat prasangka yang baik.

Dzat-Nya tidak bisa dikenali. Yang manusia kenali hanyalah af’al atau perbuatan-Nya saja. Ciptaan-Nya saja. Dari melihat af’al, manusia memprasangkai sifat-sifat fi’liyahNya. Maka kekaguman atas sifat-sifat fi’liyah itu memanglah benar seperti perumpamaan laron.

Manusia adalah laron-laron, yang terbang berputar putar mengerubungi cahaya karena merinduiNya. Tetapi laron tidak pernah bisa menggapai cahaya lilin itu. Karena menyentuh lilin itu maka laron terbakar dan hilang.

Akal manusia berputar putar dalam memaknai, dan berprasangka padaNya. Meski kita tahu sejatinya sucilah DIA dari segala prasangka-prasangka kita yang terbatas. Dan kita tidak pernah benar-benar mengerti tentang Dia. Tetapi prasangka tentangnya mesti yang baik.

Dua orang shalih bertemu, yang satu selalu menangis haru karena takut pada Tuhannya. Yang kedua selalu gembira dan ceria.

Yang mengakrabi tuhannya lewat pintu keharuan itu merasakan takut pada Tuhannya. Yang memasuki pintu kegembiraan itu merasakan betapa halusnya pertolongan-pertolongan Tuhannya.

Seseorang bertanya pada Rumi, manakah yang lebih baik diantara keduanya itu?

Kata Rumi, dua-duanya baik, yang paling baik adalah sesiapa yang paling baik sangkanya pada Tuhannya.


* ) Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s