PENDEWASAAN MAKNA-MAKNA

human

Sampaimu kepada Allah SWT, kata Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Karena mustahil DIA disentuh, atau menyentuh sesuatu.

Perbincangan mengenai hal ini sangat menarik di kalangan para alim. Apakah Allah SWT bisa dicapai secara harfiah? Artinya jika dikatakan “kita melihat Tuhan” itu apakah betul-betul melihat seperti fisikal mata kita melihat bunga? ataukah melihat itu maksudnya secara ma’nawi? -ini kita bicara mengenai di dunia saat kita hidup sekarang ini ya, perdebatan mengenai di akhirat biarlah para ahli yang membahas-

Saya pribadi sependapat, dengan kalangan arif yang menilai bahwa Allah SWT tidak dapat dicapai oleh pengelihatan mata fisikal. Dan rasanya aforisma Ibnu Athaillah sudah sangat cantik merangkum hal tersebut, menurut beliau, sampainya seseorang kepada Allah SWT itu adalah sampainya kita pada pengetahuan tentang-Nya. karena dzat-Nya tak bisa disentuh / tak dapat digapai.

Seperti Musa a.s yang pingsan saat meminta melihat-Nya secara fisikal. Dan saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa saat Mi’raj Rasulullah SAW tidaklah melihat Allah dalam arti melihat secara fisikal dengan mata kepala ini.

Maka “melihat-Nya” itu, secara sederhana bisa kita katakan adalah ma’nawi. Bukan arti harfiah dengan mata lahir. Spektrum warna saja tak semua bisa dilihat mata manusia, apalagi Tuhan.

Jika kita tidak bisa melihat dzat-Nya secara harfiah, berarti perjalanan manusia untuk mema’rifatiNya mengenali-Nya di dunia ini, adalah perjalanan pendewasaan makna. Mendewasanya cara pandang manusia mengenali-Nya. karena ini semua adalah hal yang ma’nawi.

Dalam mendewasakan “makna” ini, saya barulah benar-benar mengerti maksud seorang arif yang mengatakan ada pendekatan pintu depan dan pendekatan pintu belakang. Pendekatan dari pintu depan inilah yang harus dipagari adab “Menyifati-Nya dengan sifat yang layak bagi-Nya.” Agar tidak keliru adab.

Siang tadi, istri saya menyuapi anak saya makan. Saya baru menyadari perbedaan istri saya dan saya. Istri saya akan tidak kenal lelah memaksa anak saya makan. Meskipun anak saya enggan. Meskipun anak saya berlari bermain-main. Kadang-kadang malah nasinya ditambahi lagi kalau sudah habis. Semua itu dilakukan karena rasa sayangnya sebagai seorang ibu. Kalau saya sih, sudah nyerah kalau anak saya mbadung dan lari kesana-sini, hahahaha.

Dalam pandangan anak saya yang masih kecil, sikap istri saya ini dilihat sebagai “memaksa”.

Istri saya, akan keliru dipahami anak saya; dianggap sebagai “pemaksa” jika anak saya hanya melihat satu sisi saja.

Anak saya, akan berubah pandangannya terhadap istri saya, setelah melihat sisi lain dimana istri saya sering sekali membelikan anak saya mainan. OOhhhh, ternyata mama baik sekali, fikirnya.

Ini salah satu cara “memandang”.

Agar tak keliru menilai, maka melihat sisi yang dianggap baik, yang ternyata sisi yang dianggap baik itu lebih banyak daripada sisi yang dianggap tidak baik.

Tentu ini cuma pengibaratan saja. Yang tidak terlalu tepat.

Kenapa anak saya harus melihat sisi baik yang lebih banyak ketimbang sisi yang dia pahami sebagai tidak baik itu? karena baru makna sebatas itu yang dimengerti anak saya. Cara memandang di atas itu, belum “termakan” oleh anak saya.

Cara memandang diatas itu misalnya dengan merubah paradigma, bahwa prasangka jika seorang ibu tidak baik saat memaksa anaknya untuk makan; itu keliru. Karena di dalam pemaksaan itu ada kebaikan. Ini makna atau pengenalan yang lebih tinggi lagi. Bahwa di dalam sesuatu yang dianggap buruk, ada greater good. Kebaikan yang lebih besar.

Makna seperti ini, belum bisa dicerna anak balita. Seiring dengan pendwasaan diri, maka anak balita tumbuh besar dan bisa memandang dengan makna yang lebih dewasa.

Di atasnya ada lagi, baik dan buruk itu hanya pandangan manusiawi yang terbatas. Manusiapun memandang dari norma-norma yang Tuhan tentukan atau ajarkan pada manusia. Jadi sesungguhnya dari sisi-Nya tak ada baik dan buruk. Semua itu hanya af’al saja.

Di atasnya ada lagi. dibalik semua keriuhan af’al, sebenarnya hakikatnya adalah dzat-Nya saja. semua itu hanya sifat-sifat. (Untuk hal ini dibahas tuntas oleh Ust. Hussien Abd. Latiff)

Kurang lebih ternyata begitulah perjalanan hidup manusia. Perjalanan membenahi prasangka kita sendiri. Bahkan para wali tidak sampai pada melihat secara fisikal. karena ada suatu hadits yang mengatakan bahwa siapa terpandang dzat akan binasa.

Tetapi yang membedakan kita dan mereka adalah kedewasaan pandangan itu.

Dari sinilah baru saya mengerti sebuah ungkapan bahwa istiqomah lebih berharga dari seribu qaromah. Seperti disebutkan dalam Surat Kahf : 110 yang artinya : “…… barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya, maka lakukan amal shalih, dan jangan menyekutukan-Nya…”

Karena, setinggi apapun tingkat spiritualitas seseorang / karomah, sebenarnya apapun saja yang dipandang mereka adalah “bukan Tuhan”, dalam artian pengelihatan spiritual, kasyaf, atau apapun itu yang didapat para wali adalah semua ketersingkapan akan makhluk.

Mungkin melihat dimensi yang lebih tinggi. Mungkin melihat dimensi rendah. Wallahu’alam karena kita sepakati bahwa melihat-Nya -di dunia ini- adalah melihat-Nya secara maknawi, DIA tak dicapai oleh pengelihatan mata.

Dan seperti ungkapan Ibnu Athoillah pertama di atas tadi, pengelihatan secara maknawi itu adalah sampainya kita pada pengetahuan tentang-Nya. Maksudnya, pengenalan yang mendewasa. Mengertinya kita akan makna-makna itu.


*) image sources

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s