PELIK KEDALAM, SEDERHANA KELUAR


Sewaktu saya berangkat ke Houston Texas beberapa tahun lalu, ada seorang yang begitu baik mengajak kami jalan-jalan. Dari rekan-rekan saya yang lain, saya mendapatkan info bahwa beliau ini sudah lama tinggal di Houston, dan memang terkenal begitu baiknya pada para pendatang rekan-rekan dari Indonesia. Siapa aja diajak jalan-jalan. Meskipun sebenarnya saya sendiri tak kenal dekat secara personal.

Kemarin, sewaktu saya mampir ke Balikpapan. Saya pula dijemput oleh seorang rekan yang jauh lebih senior dari saya. Dijemput oleh yang lebih sepuh, di Bandara, adalah sebuah kehormatan yang saya syukuri.

Dan kembali beberapa nama orang-orang yang pernah meninggalkan kesan kebaikan membuat saya teringat dengan hikmah lama yang baru saya paham, yaitu jika “keluar”; kita berbahasa dalam bahasa kebermanfaatan. Bukan unjuk bahasa kesalihan pribadi.

Yang sering kita lakukan, kadang-kadang, kalau “keluar” diri kita bukan memberi manfaat pada sekeliling, tetapi menampilkan citra kesalihan diri pribadi. Seolah-olah orang lain tidak dekat dengan Tuhan, kita sendiri yang dekat.

Tentu ada porsi-porsinya syi’ar, tapi….. yang saya kemudian pahami adalah bahwa syi’ar itu pula harus dibangun dalam kerangka keinginan memberi manfaat. Pengen nolong orang dengan cara yang baik, gitu lah simpelnya.

Keinginan menolong ini, yang maju lebih dahulu.

Dan saya harus banyak belajar dari orang-orang yang memberi kebaikan-kebaikan yang sederhana seperti saya tulis di atas tadi, tetapi kebaikan sederhana itu ternyata tinggi. Ternyata muncul dari hati yang ingin menebar manfaat.

Dalam salah satu Bab di Ihya Ulumuddin, diterangkan dengan sangat cantik mengenai “diri sejati” manusia. Mengenai “Qalb”.
Sebuah tulisan yang sangat menarik dari sang Imam.

Akan tetapi, beliau mengatakan bahwa kajian yang terlalu mendalam mengenai hal itu; tidak beliau ungkapkan lebih detail lagi. Pertama karena "pelik", kedua karena secara adab beliau tidak hendak membongkar terlalu dalam sedangkan Rasulullah SAW juga tak membongkarnya terlalu dalam.

Karena beliau lebih menitik beratkan pada bagaimana pengetahuan mengenai "sejatinya diri manusia itu" bisa berkaitan dengan aspek muamalah.

Artinya, pengetahuan spiritual yang “dalam” adalah aspek internal, sedangkan yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan itu membantu kita untuk berbaik-baik pada orang lain.

Apa gunanya, memiliki pengetahuan dan dialektika yang dalam ke dalam batin sendiri, tetapi tidak berbahasa dalam "bahasa manfaat" ke luar diri.


*) image sources

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s