AKAR BOLEH RUMIT, TETAPI BUAH HARUS SEDERHANA

root

Saya terfikir, memang sudah pas-lah, sewaktu kita sujud sholat kita membaca “Subhanarabbiyal A’la…..” Setelah segala bacaan dalam konteks memuji, sewaktu sujud yang dilakukan adalah menyucikan. Yang disucikan, sebatas yang saya pahami, maksudnya adalah maha suci DIA, dari prasangka kita sendiri. Maha suci DIA, dari prasangka kita yang terbatas.

Dulu, sewaktu kecil, dan sebelum belajar mengenai spiritualitas islam, tanpa saya sadari masih ada kesan pada diri saya, seolah-olah Tuhan itu adalah “person”. Memang kita tahu bahwa Allah SWT tidak mirip apa-apa, DIA bukan matahari, bukan gunung, apalagi patung, DIA bukan manusia. Hanya saja, sebab keterbatasan ilmu, saya dulu masih memiliki kesan seolah-olah DIA adalah sebuah “person” yang ada bertahta di atas langit. Hanya saja DIA tak mirip makhluk.

Prasangka keliru terhadap Tuhan, inilah rupanya yang diberantas oleh para Nabi dan Rasul, yang menurut riwayat kononnya ada 240 ribu Nabi-nabi dan Rasul yang diutus, dan semuanya mengusung risalah tauhid.

Dalam konsep islam, Tuhan itu hanya ada satu…… dan ini yang paling penting, bahwa “satu” di sini maksudnya bukan satu seolah satu orang begitu. Melainkan…..DIA ada sebelum segalanya ada, dari dzat-Nya-lah segala yang ada dicipta. Karena tak ada apa-apa selain dari DIA -yang tak bisa dipersepsi itu-, Dan segala yang ada / segala makhluk ciptaan-Nya yang dizahirkan-Nya tidak sebanding dengan DIA.

Dari sana, kesan bahwa DIA itu sebagai “person” mulai hilang. Lalu mulai melihat kehidupan sebagai cara DIA bercerita tentang diri-NYA sendiri. DIA Pemilik pagelaran ini.

Akan tetapi, setelah mengetahui fakta itu, yang tinggal hanyalah ibadah, dan bagaimana berkebaikan dalam hidup. Itu saja.

Saya pikir sungguh benarlah Imam Ghazali yang membagi kajian tasawuf dalam dua porsi, porsi pertama adalah tasawuf dalam kaitannya sebagai ilmu mukasyafah (ketersingkapan), dan tasawuf dalam kaitannya sebagai ilmu muamalah.

Mengenai tasawuf sebagai mukasyafah, ini hal yang pelik dan cenderung tidak dibuka terlalu dalam oleh beliau. Pertama karena kebanyakan orang tidak mengerti, kedua memang karena Rasululah SAW juga lebih cenderung pada pengamalan saja. Nanti, kalau orang bertanya “mana dalil tekstualnya?” akan sulit dijabarkan, karena memang ini adalah urusan siapa yang mendapatkan ketersingkapan itu.

Sedangkan, mengenai muamalah, hal ini menjadi penting, karena jika segalanya yang ada adalah cara DIA bercerita tentang DIA sendiri, maka berbaik-baik pada makhluk berarti tentu pula “mengakrabi” penciptanya, bukan?

Saya baru menyadari hal ini belakangan. Setelah mengamati beberapa kalangan pluralis, yang sampai pada ide penerimaan yang lapang akan keragaman, tetapi ide itu hanya buah dari analisa fikiran saja. Bukan dari “rasa” yang melihat merasakan keragaman sebagai cara Tuhan bercerita. Mereka jadi cenderung ujung-ujungnya adalah menggampangkan, dan seperti kurang adab pada tata aturan Tuhan dalam syariat.

Hal ini akan berbeda, jika kepahaman tentang “keragaman sesungguhnya adalah cara DIA Bercerita” itu didapatkan sebagai buah dari pengamalan; dan muncul dari “rasa”. Maka seseorang akan bisa lapang menerima keragaman, tanpa perlu dia kehilangan adab atau melecehkan porsinya sendiri sebagai seorang muslim. Karena kepahaman itu, tumbuh dari “rasa”-nya. dia akan bisa bermain dalam “game” secara cantik.

Contoh lainnya lagi, saya baca-baca, dalam literatur islam ada kajian yang sangat pelik mengenai Tuhan dan kaitannya dengan sifat-sifatNya. Kajian ini awalnya adalah counter dari arus deras filsafat yang masuk pada kebudayaan islam. Apakah Tuhan itu memiliki sifat-sifat yang inheren dengan dzat-Nya?

Dari sana golongan kemudian terbagi dua. Ada yang menganggap bahwa DIA itu dzat-Nya memang betul-betul tidak ada sifat yang lekat padaNya. Ada juga yang menganggap bahwa DIA itu bahkan sebelum mencipta sudah ada sifat-sifat yang inheren pada dzat-Nya. Perdebatan klasik, yang panjang, dan rumit. Benar-benar pelik.

Tadinya saya pun sangat tertarik membaca dan mengamati kedua perdebatan itu. Terkadang, perdebatan teologi itu disebut orang dengan istilah Fiqh Akbar. Fikh besar. Karena yang didebatkan adalah isu-isu pokok yang sangat krusial.

Tetapi kemudian saya teringat dengan bacaan di kala sujud itu. Bagaimanapun konsepsi fikiran kita, dibangun dengan dalil-dalil yang bagaimanapun solidnya, akan tetap kesulitan menggapai-Nya. Sucilah DIA dari segala prasangka kita yang terbatas.

Akan sulit kita melangkah melebihi kesimpulan bahwa DIA itu tan kena kinaya apa, alias laisa kamitslihi syaiun.

Bukan berarti ilmu di atas tidak penting. Ilmu itu sangat penting untuk menegakkan kepahaman yang kokoh. Tetapi, sudah ada ahlinya yang membahas itu.

Bagi saya sekarang, rupanya yang paling penting adalah buahnya. Buah kesederhanaan.

Umpama sebuah pohon. Akar pohon itu tentu sangat boleh dan harus menghujam ke dalam tanah. Membelah batu-batu. Menyerabut dan mencerap mineral dan nutrisi dari keragaman tanah yang pelik dan rumit. Memisahkan yang bersih dari yang kotor.

Tetapi, buah dari pohon itu tidak boleh rumit. Sebagai buah, dia harus sederhana. Ringkas. Ranum. Dan esensi.

Saya pikir itulah yang direnungi sang alim Imam Ghazali. Mengapa beliau membatasi tasawuf dalam porsi muamalahnya saja. Mari hidup dan sibuk berkebaikan dengan sederhana.


*) Image Sources

Iklan