BISAKAH TUHAN DIRENUNGI?

Pertama kali saya naik pesawat adalah sewaktu akhir kuliah, dalam sebuah kesempatan proyek eksplorasi batubara. Sembari mencari uang saku tambahan, saya dan berapa orang rekan kerja magang pada konsultan eksplorasi dan terbang menuju Kalimantan. Apa rasanya naik pesawat? Tanya saya pada seorang rekan.

Rekan saya, juga baru pertama naik pesawat, atau barangkali kedua kalinya. Saya lupa. Yang saya ingat jelas hanyalah betapa saya sungguh norak melihat pesawat di landasan bandara, dan menanti sensasi pesawat lepas landas dan pesawat mendarat dengan hati berbunga-bunga.

Bagi saya, moment norak seperti itu adalah anugerah.

Anugerah…. Sebagai sebuah makna, baru dimengerti secara jelas setelah menemukan pengalaman nyatanya dalam keseharian.

Seperti seorang anak, yang setelah dewasanya mencari uang sendiri, maka setelah merasakan keringat dan kerja keras ditukar dengan uang; barulah makna rejeki sebagai anugerah bisa dimengertinya dengan benar. Jika belum merasakan sendiri, seringkali belum paham.

Akan tetapi, kadang-kadang ada juga orang-orang yang melewati banyak gejolak dalam keseharian hidupnya, tetapi "makna" hidup belum merasuk dalam hatinya.

Tentu semuanya adalah dalam kuasa Tuhan, akan tetapi mengikut analisa Imam Ghazali dalam salah satu Bab Ihya Ulumuddin, dikatakan bahwa suasana hati (Hal), atau "makna" itu adalah efek dari tafakur. [1]

Dalam siklus yang kurang lebih begini: tafakur melahirkan ilmu, ilmu berbuah menjadi Hal spiritual / kondisi batin secara spiritual, Hal mendorong amal.

Makanya betul sekali, seorang arif mengatakan, bahwa jika gegaran belum datang, "rasa" belum merasuk, maka yg harus dilakukan adalah TAFAKUR. Menafakuri kehidupan kita sendiri, dalam kaitannya sebagai af'al Tuhan. Lewat cerita kehidupan kita sendiri akan datang ilmu dan kepahaman. Ilmu akan berbuah menjadi HAL atau "rasa" di hati. Rasa akan pada gilirannya mendorong amal mewujud.

Salah satu isu yang sering dibahas dalam kajian tasawuf adalah mengenai dzat dan sifat. Mengenai dzat dan sifat ini, sebenarnya mirip juga dengan istilah dalam filsafat yaitu "substansi" dan "aksiden".

Umpamanya, gula. Gula itu "substansi" dan aksidennya adalah "manis", "berbutir", "berwarna putih".

Gula adalah "dzat", dan kemudian ada "sifat" yang melekat pada dzat itu. Dzat dan sifat adalah dua hal yang berbeda.

Yang menarik adalah kajian mengenai dzat dan sifat ini dipakai untuk memahami Tuhan. Apakah Tuhan itu dzat-Nya memiliki sifat?

Dan mengenai ini panjang sekali perdebatannya ternyata.

Akan tetapi, Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjabarkan mengenai tafakur dan kaitannya dengan merenungi Tuhan. Apanya Tuhan yang direnungi?

Maka menurut beliau, dzat dan sifat Tuhan itu tak bisa direnungi. Sia-sia, kata beliau. Maka jangan habiskan waktu mengorek-ngorek merenungi dzat-Nya. Tak akan mampu. [1]

Maka saat dimaksudkan dengan perintah memperbanyak "tafakur", yang dimaksud tafakur adalah merenungi af'al alias perbuatan Tuhan. Yaitu ya ciptaan ini, hasil perbuatan Tuhan.

Dari merenungi ciptaan-Nya, maka "rasa" atau "gegaran" akan muncul. Rasa kagum, rasa bersyukur, rasa takut, dst……. Karena merenungi ciptaan, atau merenungi af'al-Nya dalam kehidupan kita.

Hanya saja. Tafakur adalah tangga pertama, untuk menghadirkan rasa kedekatan. Karena goal-nya dari "rasa" itu adalah menjadi pendorong amal.

Amal disini maksudnya ya ibadah, dan lebih-lebih lagi adalah muamalah.

Hal ini membuka kepahaman bagi saya. Karena saya melihat perdebatan yang cukup banyak mengenai ini.

Ternyata setelah membaca Al Ghazali, baru nemu puzzlenya.

Yang satu namanya tafakur, yaitu "merenungi" ciptaan Tuhan. Merenungi af'al-Nya. Hasil dari tafakur biasanya ilmu dan kepahaman, kepahaman berbuah "rasa" atau HAL spritual . Rasa mendorong amal-amal kebaikan mewujud.

Yang satu lagi disebut mengingat. Saat "mengingat" yang dituju adalah sang PEMILIK dzat dan sifat dan af'al. Yang tidak ada umpama.

Kalau terhadap af'al Tuhan, direnungi supaya mendapat kepahaman, ilmu, pelajaran, hikmah, rasa, yang mendorong amaliyah mewujud.

Dan saat beribadah, yang diingat atau istilahnya "sasaran" peribadatan adalah DIA. Yang memiliki semua itu. Yang tak ada umpama.

Wallahualam.

-debuterbang-


Reference

[1] K.H.R. Abdullah Bin Nuh. 2015. Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun (terjemah Al Munqidz Min Al-Dhalal, dan bab Tafakur dalam Ihya Ulumuddin). Jakarta Selatan : Mizan

Iklan