MENCARI PEMILIK CAHAYA


Buku yang sangat berpengaruh bagi saya selain Al-Hikam adalah Al Munqidz Min Al-Dhalal dari Imam Ghazali. Sebuah otobiografi yang menggambarkan betapa seorang pencari kebenaran yang rela bertungkus lumus susah payah menyelami semua cara pencari kebenaran, mulai dari metoda filsafat, ahli kalam, batiniah, dan terakhir tasawuf.

Kenapa Al Munqidz Min Al-Dhalal (Pembebas dari kesesatan) menjadi istimewa sekali dalam benak saya, karena dia ditulis dalam bahasa curhat seorang alim. Dia menceritakan pengalamannya “berjalan”. Hampir mirip dengan Al-Hikam, bedanya Al-Hikam tidak bercerita mengenai kisah perjalanan, melainkan bercerita tentang situasi-situasi hati yang dialami para “pejalan”, dan ditulis dalam bahasa yang puitis dan pendek macam kata mutiara, atau aforisma yang sulit dimengerti kalau yang membaca tak mengalami.

Tetapi Al Munqidz… bercerita dengan gamblang bagaimana Sang Imam yang saat itu menempati jabatan tertinggi di universitas Nizhamiyah, profesor tertinggi-lah, kemudian melepaskan diri dari segala jabatan itu karena menurut beliau, beliau belum memiliki apa yang disebut dengan “ilmu yang yakin.” Sebuah keyakinan yang tidak akan tergoyahkan lagi, seperti orang yang yakin bahwa sepuluh itu lebih besar daripada tiga.

Meskipun ada seorang sakti yang bisa merubah tongkat menjadi ular, tetap kita akan yakin bahwa sepuluh itu lebih dari tiga. Orang sakti itu tak akan bisa menggoyahkan kepahaman kita. Sampai setaraf itu keyakinannya. Itulah yang menurut beliau “ilmu yang yakin” yang tidak menyisakan ruang pada hati untuk ragu.

Ada satu poin yang menarik menurut beliau, bahwa keyakinan itu, sebenarnya adalah “nur” yang dimasukkan ke dalam hati oleh Allah SWT. Jika ada orang-orang yang mengira bahwa “ilmu” hanya bisa diperoleh dari menyusun alasan dan kata-kata semata, berarti orang itu menyempitkan rahmat Allah yang luas.

Maksud beliau, hampir keseluruhan ilmu yang kita pegang sekarang adalah hasil analisa premis-premis, dan dari premis sampai pada kesimpulan. Bangunan kesimpulan kita adalah disusun dari analisa premis-premis itu.

Akan tetapi, mengetahui dengan berdasarkan semata analisa premis-premis, adalah pengetahuan yang rapuh. Karena “ilmu” sebenarnya adalah “nur” yang diberikan oleh Tuhan kepada hati manusia.

Ada suatu contoh menggelitik yang beliau berikan. Kata beliau, tidak mungkin keseluruhan ilmu yang dimiliki manusia adalah hasil analisa premis dan coba-coba (tajribah). Karena untuk coba-coba, samplenya terlalu banyak.

Saya teringat, dulu saya pernah bingung sendiri. Bagaimana bisa seseorang di pedalaman mengetahui bahwa suatu tanaman bisa berguna buat obat sakit demam? Apakah dengan coba-coba? Berapa ratus tipe tanaman yang ada di hutan mereka? Dari sekian ratus tipe tanaman itu, bagian mananya tanaman itu yang diuji cobakan pada si sakit? Lantas sample-nya menjadi berlipat beratus-ratus sampel. Coba tanaman pisang, ga sembuh. Coba lagi daun beringin, ga sembuh. Coba daun kemangi, ga sembuh tapi malah lidah berasa pedes……….itu baru nyoba tiga macam tanaman. Orang yang sakit keburu wassalam.

Ternyata itulah yang dikatakan Imam Ghazali. Umpamanya ilmu astronomi. Ilmu astronomi mengkaji tentang benda-benda langit, yang mana benda-benda langit itu munculnya ada yang ratusan tahun sekali. Komet tertentu munculnya 83 tahun sekali kalau tak salah. Maka coba-coba (tajribah) akan kelimpungan menemukan momen yang pas, kecuali diawali dengan insight dulu.

Jadi…..semata menyandarkan kepahaman dan pengetahuan dari analisa premis-premis adalah langkah keliru yang mengecilkan rahmat Tuhan.

Inilah kemudian yang menyadarkan saya, bahwa dalam mencari jawaban atas sesuatu, jangan kesusu mencari jawaban lewat analisa tekstual dan premis-premis logika. Karena jawaban lewat premis logika akan menghantarkan diri kita dalam analisa sample yang banyaknya tak karuan. Dan belum tahu darimana harus mulai.

Melainkan, mintalah kepada Tuhan agar dipertemukan dengan jawaban. Karena “kepahaman” itu “nur” yang diberi-Nya pada siapa yang DIA mau.

Maka ada dua kemungkinan, kata beliau, orang yang dipertemukan dengan jawaban akan mendapatkan rahmat sehingga mengerti bagaimana solusi dari persoalan. Dan yang kedua, sangat besar kemungkinan orang itu akan dipertemukan dengan dalil tekstual yang menguatkan insight yang telah dia dapatkan.

Wallahu’alam.


*) Ilustration Images

Iklan

BUAH YANG TAK MENGECEWAKAN


Saya sudah berapa kali, mengandalkan kemampuan diri sendiri, dan sekian kali pula saya kecewa.

Hal yang masih membekas di ingatan saya adalah salah satu momen presentasi tingkat regional, dimana saya sebisa mungkin membagus-baguskan bahan presentasi saya, tapi ndilalah justru dengan bekal presentasi yang sangat baik itulah saya “dibantai” dan dicecar pertanyaan habis-habisan.

Selepas itu, sadarlah saya bahwa bukan diri kita penentu sukses dan tidak suksesnya perjalanan hidup kita. Melainkan plot-Nya.

Karena, dalam beberapa kali kesempatan lainnya, sewaktu saya mengalami kesulitan dalam pekerjaan, seringkali ada orang-orang yang menjadi “tangan-tangan tak terlihat” ikut membantu. Sehingga pekerjaan yang lumrahnya kalau saya kerjakan sendiri akan menjadi lama, tetapi bisa terselesaikan dalam waktu yang cepat.

Sebagai konsekuensi logisnya, saya harus menyebut nama jejeran orang-orang yang berkontribusi atas selesainya sebuah pekerjaan yang saya jalani.

Sebisa mungkin selalu saya katakan bahwa keberhasilan ini adalah kerja team. Mereduksi keberhasilan sebagai hasil karya pribadi, padahal dia berkait-kait dengan kontribusi orang banyak; menimbulkan rasa tak enak di hati.

Secara teori, kita mengetahui bahwa segala yang terjadi adalah af’al DIA. Dalam kajian yang lebih dalam lagi, kita mengetahui bahwa af’al-Nya tak lepas dari dzat-Nya, karena ESA. Dan kita terendam di dalamnya. “demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya…….. ”

Tetapi bagaimanapun juga, kepahaman sebab semata ilmu masih akan kalah dengan orang yang sudah mendapatkan “feel” nya alias “rasa”-nya.

Dan saya amati, salah satu jalan menghadirkan rasa itu, ya memang dengan tafakur.

Banyak-banyak melihat ke belakang, dan melihat kondisi sekarang, dimana keadaan diri sendiri malah membuat kita kecewa, jika kita gantungi diri kita dengan harapan.

Tetapi jika tidak melihat diri sendiri, dan melihat hidup sebagai af’al-Nya maka pelan-pelan harapan masih ada. Pelan-pelan harapan tumbuh.

Karena dengan af’al-Nya, semua menjadi bisa saja terjadi. Sebuah pekerjaan bisa saja selesai meskipun bukan diri kita yang menjadi solusi tunggal dari masalah.

Masalah-masalah akan selesai lewat jalan yang tidak diduga.

Tetapi kan yang paling penting adalah itu….. Terlepasnya kita dari masalah.

Tidak penting, siapa yang mendapat nama sebagai problem solver. Tetapi yang penting kita terselamatkan, dan dalam proses itu kita naik setingkat kepahaman, bahwa memang semua dalam genggaman Tuhan.

Ibnu Athaillah mengatakan, jika Allah hendak mengenalkan diriNya padamu, jangan kamu khawatirkan amalmu yang masih sedikit.

Kekata itu, barulah saya mengerti sekarang. Bukan amal usahamu yang membawamu mendekat. Melainkan karena DIA menulisnya begitu.

Dan jika mengikut flow dari Imam Ghazali. Bahwa tafakur melahirkan ilmu, atau kepahaman. Kepahaman menghadirkan situasi ruhani / Hal. Hal / situasi ruhani mendorong amal mewujud. Maka sebenarnya segala amalmu adalah buah dari pemberian-Nya.

Buah dari kepahaman yang diselipkanNya padamu lewat hidup keseharian.

-debuterbang-

*) Gambar ilustrasi dijepret tadi pagi, dari sebuah site di pojokan dekat Samarinda