BENANG TAKDIR DAN HARTA YANG TERCECER

Di dalam sebuah ungkapan yang masyhur, dikatakan bahwa “hikmah” adalah harta tercecer milik kaum muslimin, maka ambillah dimanapun menemukannya!

Maka itu saya sangat tertarik, mendengarkan cerita rekan-rekan saya, dan mengambil hikmah dari perjalanan hidup mereka, karena seringkali hikmah yang kami temukan “sama” meskipun melalui jalan berbeda, atau kadangkali juga mereka mendapatkan hikmah lain yang luput dari pandangan saya.

Bahkan dari seorang rekan bule yang tak beragama, saya mendapatkan “hikmah” saat dia mengaku bahwa seringkali dia merasakan bahwa dirinya begitu kecil, dan hanya menjadi bagian dari semesta yang begitu besar, dan berputar dalam sebuah gerak yang Maha Raksasa. Bagaimana bahkan seorang yang tak beragama memiliki sisi spiritual yang sulit dia tolak, ada di dalam relung batinnya yang dalam.

Teringat kembali sebuah ayat bahwa Allah mengajar manusia dengan perantaraan kalam.

Kalam, ataupun “pena”, adalah wahana bagi tinta mengalir dari tempatnya menuju kertas. Teman-teman kita, dan atau siapapun saja yang membagikan hikmah, sejatinya adalah “kalam”, menjadi medium “tinta” pelajaran mengalir. Yang lewat mereka kita diberikan hikmah oleh Tuhan. karena mereka hanya wahana bagi hikmah mengalir.

Dalam Fihi Ma Fihi, Rumi menjelaskan sebuah jalan yang “bukan” jalan kerahiban atau jalan kesendirian. Seseorang bisa saja menjadi religius dan spiritualis dengan melakoni jalan kerahiban yang mengasingkan diri, tetapi jalan islam adalah kebalikannya. Yaitu berkecimpung dalam keramaian, dan mengambil hikmah dari keramaian.

Tentu dalam porsi-porsi tertentu, “menyendiri” diperlukan. Mengingat Imam Ghazali saja mendapatkan enlightenment setelah sepuluh tahun meninggalkan hiruk pikuk di madrasah Nizhamiyah, dan meninggalkan profesi sebagai pengajar.

Akan tetapi, bahwa hikmah seringkali bisa ditemukan juga dalam “keramaian” ini jarang kita ketahui. Setidaknya saya sendiri jarang mengetahuinya.

Dan setelah menikmati hikmah mengalir dari banyak “kalam”, barulah saya menyadari bahwa seringkali orang-orang mendapatkan pelajaran lewat jalan yang berkelok-kelok.

Ada yang rusak dulu, lalu menjadi baik di ujungnya. Ada yang baik menjadi rusak, lalu menjadi baik lagi. Ada yang jalannya mulus. Ada yang penuh onak duri. Ada yang sampai mengecewai Tuhan, lalu berbalik menjadi “pejalan” ruhani yang menekuni spiritualitas islam. Macam-macam sekali.

Dari sana saya menarik kesimpulan bahwa sebagai “jalan keramaian” memanglah manusia akan dibentuk lebih dari satu kalam dan lebih dari satu hikmah. Dan Allah sendiri yang akan mempertemukan seseorang dengan seseorang lainnya, pada momen yang pas, dan pada hikmah yang pas pula yang tersampaikan.

Maka itu saya mentertawai diri sendiri. Dulu…..saya begitu impulsif. Kalau bertemu orang, yang terfikir pertama adalah bagaimana membagi hikmah yang saya dapatkan sepanjang perjalanan, dan bagaimana sebisa mungkin orang tersebut berubah.

Padahal, belum tentu orang dalam kondisi siap menerima masukan. Belum tentu orang itu perlu menerima masukan. Atau boleh jadi orang itu sudah mengetahui hal yang lebih dalam daripada yang saya pahami. Dan yang paling pokok, bukan kita yang membuat seseorang berubah, melainkan kalau Allah takdirkan seseorang itu berubah, maka dia akan berubah.

Kita hanya melihat saja, apakah takdir orang itu berkelindan dengan potongan takdir kita? Jika iya, maka akan ada momen yang pas dimana orang tersebut bertemu dengan kita, dan hikmah tersampaikan lewat kita. Atau sebaliknya, kita yang mereguk hikmah darinya. Jika tidak, biarlah orang berjalan pada takdirnya sendiri, dalam pelajaran hidup yang sama sekali tidak pernah linear.

Ada sebuah cerita dalam filem animasi jepang, diambil dari kultur budaya jepang, dimana mereka menenun benang untuk menjadi sebuah gelang. Filosofinya menarik jadi saya kutip disini, sebagai bagian dari “memulung hikmah” yang tercecer.

Kehidupan itu bagaikan gelang rajutan itu. Setiap benangnya adalah perjalanan hidup manusia itu sendiri. Maka perjalanan hidup manusia berkelindan satu sama lain. Bertemu, berpisah, bertemu berpisah. Dan orang yang dipertemukan oleh takdir, maka pasti mereka akan bertemu pada momennya sendiri. Seperti untaian benang rajutan yang saling dipertemukan itu.

Itu sebab saya lebih senang menulis. Dengan menulis, maka takdir akan mempertemukan tulisan dengan orang-orang pada momennya sendiri. Dan saya “asyik” sendiri mengamati kehidupan, dimana orang-orang semua diperjalankan pada rel-nya masing-masing, dalam cerita yang beda-beda, dengan satu tujuan kolosal yang sama. Cerita-Nya.


*) image sources
 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s