MEMBEDAH DIRI ITU BAIK UNTUK ORANG TUA DAN MUDA

Libur kemarin, iseng-iseng saya googling mencari tema menarik dan menemukan sebuah bahasan tentang “How to overcome laziness”, teknik menyiasati kemalasan.

Saya tertawa geli membacanya, karena ternyata ada orang-orang yang lebih males gerak alias “mager” ketimbang saya mager di hari libur.

Seseorang menceritakan bahwa dia harus mengganti ban mobilnya yang kempes, dengan ban serap, tetapi dia begitu males waktu itu. Bagaimana dia menyiasatinya?

Alih-alih mengerjakan suatu pekerjaan satu waktu sekaligus –yang akan membuat dirinya secara psikologis merasa beban kerja terlalu berat dan akhirnya males-, dia malah membagi pekerjaan itu menjadi bagian-bagian kecil.

Umpamanya, pekerjaan mengganti ban mobil dibagi menjadi lima: 1) Mengambil dongkrak dan peralatan kunci-kunci. 2) Memasang dongkrak. 3) Melepas ban dan baut-baut 4) Mengganti ban dan menguatkan baut. 5) Akhirnya beres-beres dan pekerjaan selesai. Satu pekerjaan di-breakdown jadi lima pekerjaan kecil.

Mengambil dongkrak dan peralatan……nah…. Semales apapun orang, kalau kerjanya hanya ambil dongkrak tentu saja bisa ambil dongkrak doang. Oke……akan saya lakukan ambil dongkrak doang kok. Gampang….

Setelah dongkrak diambil, dia istirahat nonton TV bentar, nyanyi-nyanyi, minum kopi, lalu lanjut ke pekerjaan kedua. Walhasil pekerjaan selesai, malas teratasi, meskipun waktu pelaksanaan menjadi panjang karena diselingi dengan banyak betul istirahat, hahahahhahahaha.

Menarik memang, bagaimana orang tersebut melakukan sesuatu dalam rangka menyiasati dirinya sendiri. Ini bagian dari kemampuan mengenali diri sendiri lho.

Dan percaya tak percaya, sub-bab mengenali diri sendiri ini adalah bagian dari kajian besar ilmu tasawuf atau spiritualitas islam. Hal inilah yang saya seringkali membatin sendiri, sungguh sangat sayang sekali jika para pemuda tidak mengetahui khasanah yang sangat kaya dari ilmu tasawuf, karena tasawuf ini praktikal sekali dalam hidup keseharian.

Umpamanya dalam kajian Imam Ghozali. Satu bab sendiri dalam Ihya Ulumuddin itu isinya mengajari manusia mengenali dirinya sendiri. Bahwa diri manusia ini bisa dibagi menjadi bagian-bagian terpisah. Sederhananya ada yang fisikal terindera yaitu jasad yang kita lihat ini. Dan ada yang ruhani alias ga kelihatan.

Bagian ruhaninya ini, bisa dipecah lagi, ada kesadaran terdalam manusia yang memahami sesuatu, mengerti sesuatu, yang menjadi “raja” di dalam kerajaan mikro yaitu diri manusia itu sendiri. Itulah “hati” atau “qalb” atau “aql” dalam definisinya yang ruhani.

Lalu ada anasir lain yaitu “intelek”, “nafsu”, “amarah”, dan seterusnya.

Yang mana sejatinya diri kita? Yang sejatinya manusia itu adalah yang sadar itu. Alias hati-nya.

Bahasan ini agak abstrak sedikit bagi yang tidak pernah mengikuti kajian serupa. Saya yakin bahasan Imam Ghozali akan menjadi sangat familiar di kalangan orang-orang yang akrab dengan kontemplasi. Umpamanya para meditator dan atau misalnya kalangan pengkaji psikologi kultural jawa seperti Ki Ageng Suryomentaram. Dan tentu bagi kalangan tasawuf ini sangat lumrah.

Nah…. Selain dari urusan mengenali partisi-partisi dalam diri, – yang sebenarnya lebih mirip kajian psikologi ini-, spiritualitas islam juga membahas hal yang lebih jauh, semisal –saya kutipkan dari bab yang diajarkan oleh Guru kami- yaitu : Mengenali Allah. Bagaimana kaitan antara Tuhan dan alam? Lalu bab mengenai bagaimana mengingati Tuhan? apanya yang diingat? Lalu bab mengenai bagaimana Tuhan mentadbir alias mengurus alam semesta? yang berujung pada keridhoan terhadap pentadbiran. Dan pada akhirnya adalah bagaimana beribadah dalam bingkai kepahaman yang baru dan lebih tajam itu.

Itu semua adalah Bab bahasan dalam paket ilmu spiritualitas islam. Termasuk diantaranya adalah Bab mengenai memahami partisi-partisi di dalam diri sendiri.

Permasalahannya adalah, banyak anak muda yang mengira bahwa tasawuf adalah ilmu orang tua belaka. Padahal, misalnya bab mengenali diri sendiri, ini sangat fundamen lho.

Mengikuti siklus Imam Ghozali, kepahaman atau ilmu berbuah menjadi “hal” spiritual atau kondisi ruhani. Kondisi ruhani tiap-tiap orang menyetir amal mewujud. Jadi dari “dalam” berbuah “keluar”.

Selama ini, kita hanya akrab dengan “yang terindera” alias empiris saja.

Apa contohnya yang empiris itu? Yang empiris itu ya misalnya contoh paling pertama kita bincang di atas tadi. Jika kita “malas” maka kita mengatasinya dengan –semata- jalan “luar”, yaitu menganalisa pekerjaan kita, lalu membagi pekerjaan menjadi partisi kecil-kecil sehingga pekerjaan terasa ringan. Ini bagus……. Salah satu contoh dari Rasulullah SAW dalam kaitannya dengan rekayasa jalan “luar” ini adalah sebuah hadits: saat kita marah, maka berwudhulah! Atau kalau kamu berdiri maka duduk, kalau duduk masih marah maka berbaring.

Wudhu, berdiri, duduk, baring, adalah “rekayasa” untuk memperbaiki sesuatu yang “empiris” atau “luar”. Tetapi semata “luar” tidak cukup. Karena kita mengetahui bahwa “marah” adalah sesuatu yang terbit dari “dalam”. Maka membenarkan persepsi yang “di dalam” adalah juga kerja panjang untuk mengatasi kemarahan. Sehingga, Rasulullah SAW dalam suatu riwayat dikatakan “tidak marah” bahkan saat seorang badui mengencingi masjid, “tidak marah” bahkan saat Sayidatina Aisyah r.a. membanting piring di hadapan para sahabat. Karena “yang di dalam” Rasulullah SAW sudah mantep.

Pengetahuan mengenai rekayasa “luar” atau kajian dunia empirik sudah sering kita dapat. Tetapi pengetahuan mengenai rekayasa “dalam” mengenali partisi-partisi dalam diri, sebagai bagian integral dari upaya untuk lebih bisa menjalankan fungsi kekhalifahan; masih jarang kita pelajari.

Hal ini sangat berguna bagi kehidupan kita. Dan percayalah ini bukan hanya ilmu orang tua saja. Ini berguna bahkan bagi anak muda.


*) Gambar ilustrasinya sungguh tidak nyambung, karena ini gambar Rambo lagi membedah dirinya sendiri saat tertembak peluru. Hehehehe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s