MENGEMBALIKAN MUTIARA DI DALAM DIRI

Hasil gambar untuk mutiaraSaya kaget karena dari belakang seseorang meneriakkan nama saya. Dalam keriuhan orang-orang saya lihat seorang lelaki menggendong anaknya yang tengah tertidur.

Ternyata beliau rekan lama saya. Dulu beliau satu perusahaan dengan tempat saya bekerja, tetapi kemudian memutuskan untuk pindah mencari peruntungan dengan bekerja di luar negeri, kemudian kembali ke Indonesia setelah sekian lama. Sekarang membuka bisnis online dengan omset yang lumayan.

Kami bertemu pada sebuah sesi trial, uji coba SD Islam Terpadu dengan konsep alam dan sains, saya hendak mendaftarkan anak saya kesana, dan qadarullah saya bertemu dengan rekan saya ini.

Saya mengingatnya sebagai seorang dengan planning hidup yang begitu teratur dan pandangan yang jauh kedepan.

Ketika saya dan sekian orang rekan saya yang baru lulus kuliah mendapatkan gaji pertama, lalu kami berbicara tentang handphone dan laptop idaman yang ingin dibeli, dia hanya tertawa dan mengajak berbincang tentang KPR. saya tertinggal selangkah dua.

Begitu juga berikutnya, ketika saya baru bertanya bagaimana caranya membeli rumah, rekan saya malah sudah melangkah lebih jauh dengan mengeluarkan peta topografi, menimbang-nimbang area rawan banjir jakarta, berbincang tentang NJOP dan bagaimana visi beliau tentang kenaikan harga rumah area cibubur dalam sekian waktu kedepan. Saya masih juga tertinggal selangkah dua atau lebih.

Berbicara dengan orang-orang yang punya visi lebih maju dan cepat seperti kereta shinkansen jepang itu, acapkali menimbulkan rasa terintimidasi. Artinya, saat menimbang diri dengan melihat susunan detail rencana hidup rekan saya itu, saya merasa betapa hidup saya berantakan dan kurang terpola. Betapa dalam hal seperti itu saya kalah jauh dengan beliau.

akan tetapi, pertemuan tak disengaja hari ini membuat saya mengerti satu fakta penting. Masih menyusuli “kebijakan” yang sudah lama saya tahu dari wejangan guru; tetapi “makjleb-nya” di hati baru beberapa hari lalu; saya kembali memahami setindak lebih dalam mengenai “khalifah”.

Cara agar kita tidak diperbudak harta, entah diperbudak lewat sikap menghamba pada harta, atau karena sikap “rikuh” dan merasa rendah di hadapan harta; adalah dengan menaklukkan harta itu.

Menaklukkannya dengan membagikannya, atau juga dengan mempergunakan harta itu semaksimal mungkin untuk melayani kita, dan terberdayakan dalam hal-hal baik yang manfaat. Dengan begitu, kita sudah mengembalikan posisi diri dalam mentalitas sebagai khalifah terhadap dunia. Dalam konsep batin kita, kita menyadari betul bahwa “yang sejati di dalam diri kita ini” adalah khalifah, dan lebih tinggi kedudukan khalifah ketimbang kedudukan harta, karena harta secara struktural mesti tunduk kepada khalifah. Dalam ruang batin pun sudah tidak ada lagi rasa rikuh dan rendah terhadap harta.

Begitu juga terhadap kekuasaan, bahkan terhadap “ilmu”. Karena kekuasaan, dan juga ilmu, adalah juga ciptaan yang sudah Allah janjikan untuk ditundukkan pada “manusia”, yang “khalifah” itu.

Saat saya dan rekan saya berbincang tadi, saya mengamati gejolak batin sendiri, dan segera teringat bahwa “sejatinya diri” manusia itu adalah khalifah. Atas harta, atas kekuasaan, juga atas ilmu. Sehingga dengan pemahaman seperti itu, rasa rikuh saya terhadap “ilmu” rekan saya menjadi hilang.

Karena akhirnya pahamlah saya bahwa “ilmu” yang ada padanya hanyalah sebuah “ciptaan” lainnya yang Allah tempatkan di belantara dunia ini. Dan tidak semestinya, “sejatinya diri manusia” kalah perbawa terhadap “ilmu”.

Saya akhirnya menikmati rekan saya bercerita tentang bisnisnya kepada saya, hitung-hitung sebagai kursus informal secara gratis. Dia mentransfer ilmunya kepada saya, seumpama membuka khasanah wacana, agar saya lebih bisa menaklukkan “ilmu” yang berkait dengan topik yang dia jabarkan.

Dan saya temukan fakta bahwa pembelajaran gratis seperti ini banyak sekali tersebar di keseluruhan lini hidup kita. Asalkan kita menaklukkan rasa rikuh dalam diri kita sendiri, dan kembali menyadari kemuliaan “yang semula jadi” sudah ada di dalam diri kita sendiri. Yang Malaikat dan Jin disuruh tunduk padanya.

Itulah mutiara di dalam diri setiap kita.


*) image sources

Iklan

BERGELUT DENGAN PRASANGKA

Sedetik kedepan saja, manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Karena, meminjam perumpamaan dari Ali Bin Abi Thalib, takdir adalah Jalan yang gelap, atau lautan yang dalam, rahasia Allah yang janganlah kita membebani diri kita sendiri atasnya.

Manusia, dalam menyikapi takdir adalah berbaik sangka.

Baik sangka ini setelah saya perhatikan wejangan para arif, bisa kita klasifikasikan dalam dua wujud besar yaitu baik sangka lewat do’a-do’a permohonan kita. Artinya secara mentalitas kita penuh harapan akan rahmat dan pertolonganNya kedepan. Kalau kita tertakdir berdo’a maka berarti pengabulan bersamanya. Kata Umar.

Atau yang kedua, baik sangka lewat pasrah dan keridhoan. Yang ini levelnya lebih tinggi lagi, semisal dicontohkan Ibrahim yang baik sangka pada Tuhan, dan tetap ridho akan kebaikan Tuhan meskipun dirinya sedang akan dilempar ke kobaran api oleh Namrud. Diam meskipun akan dilempar ke dalam api. Diam-nya beliau, adalah diam dalam prasangka baik atas takdir. Ini level advance.

Pada pokoknya, kekalutan dan rasa gusar jangan sampai memenuhi ruang hati kita. Karena syaitanlah yang membisikkan was-was dan kecemasan.

Seorang guru, Ust. H. Hussien Abdul Latiff memberikan wejangan simple menyikapi takdir, yaitu jangan fikirkan, jangan tetapkan.

Saya teringat kisah Nabi Yakub yang kehilangan anak tersayangnya yaitu Yusuf. Karena makar dari saudara-saudara Yusuf sendiri. Nabi Yakub begitu berduka. Dan meskipun anak-anaknya berbohong dengan mengatakan Yusuf dimakan srigala, Yakub a.s tahu apa yang sebenarnya terjadi, atas izin Allah SWT beliau tahu.

Tetapi, cerita komplit apa yang akan terjadi berikutnya beliau tak tahu. Mana beliau tahu bahwa anaknya akan kembali kelak setelah sukses di kerajaan. Karena masa depan adalah khasanah rahasia Allah SWT.

Maka Yakub menghabiskan hari-harinya dengan bermunajat -tidak dengan menetapkan sendiri bahwa beginilah terus takdir yang berlaku baginya selamanya-, munajat itulah ejawantah sikap baik sangka Yakub pada Tuhannya.

Yakub tidak tenggelam dalam was-was dan menduga-duga bahwa akan beginilah terus nasibnya. Karena siapa yang tahu masa depan??

Itu sebab, sebelum terzahir menjadi kenyataan, masa depan adalah tetap rahasia. Jangan difikirkan dan jangan ditetapkan.

Seandainya sebuah musibah membuat kita desperate atau kalut, sehingga dalam berdoa pun kita was was dan menduga bahwa tentulah buruk akhir dari semua drama ini. Maka syaitan sudah bermain dengan menciderai prasangka kita pada Tuhan.

Maka sebuah hadits mengatakan, kalau berdoa jangan setengah-setengah. Kita meminta dalam mentalitas yang terus menerus memperbaiki prasangka kita padaNya. Sebenarnya dalam kita berdoa, kita bergelut dengan diri kita sendiri. Kita berlari dari was was menuju persandaran kepada Tuhan. Dan rasa gelisah tidak boleh mengalahkan harapan kepada Tuhan.

Adabnya ada dua. Kita bisa terus menerus berdoa dalam prasangka yang baik dan meminta tolong agar diberikan jalan keluar. Atau kalau keyakinan dan prasangka baik pada takdir itu sudah sebegitu menguasai kita ; kita akan ridho dan berpasrah karena kita sadar kesempurnaan dan kebaikan takdir.

Tapi Sedikit saja ada gelisah dan ketakutan, ini penanda bahwa kita masih di maqom do’a. berlarilah meminta pada pertolonganNya sampai gelisah dan was-was kita tenggelam dan kalah dengan persandaran kita padaNya. Harapan mengalahkan rasa takut. Syaitan membisikkan was-was kekurangan harta dan makanan, sedangkan dengan Do’a kita menunaikan hak RububiyahNya untuk dipandang sebagai Yang Maha Mengabulkan.

Berdoalah sampai ketakutan kita pada keadaan; kalah dengan persandaran kita kepada Pemilik kehidupan.

BERSYUKUR ATAS ANUGERAH KECIL

Mempelajari tipikal diri sendiri, rupanya adalah suatu hal yang mengasyikkan. Dan salah satu yang saya pelajari dari diri saya sendiri adalah kecenderungan alon-alon waton kelakon. Biar lambat asal selamat.

Ini sih sebenarnya sedikit menghibur diri saja, hehehehe. Tetapi memang secara jujur saya mengakui bahwa saya bukanlah seorang yang “cepat”.

Untuk mengerjakan sesuatu yang besar, orang lain mungkin memerlukan waktu yang singkat, tapi saya bisa dua tiga-kalinya lebih lama.

Memang ternyata saya adalah orang dengan kebiasaan santai dan selow macam di pantai. Akibatnya, saya harus mentolelir kelemahan saya ini dengan memulai segala sesuatu lebih awal, dan menyicilnya sedikit demi sedikit demi sedikit sampai pekerjaan itu usai. Meskipun lama, tetapi cara ini berhasil untuk saya pribadi.

Di dalam berspiritual juga begitu. Dulu, saya pernah begitu ngoyo dalam hidup, dan serasa pengen jadi waliyullah. Akibatnya, saya sering kesal sendiri pada performa Ibadah saya yang hendak saya gas pollllll tetapi tak bisa melaju kencang. Karena tipikal pribadi yang butuh waktu lama untuk panas, akselerasi lambat.

Sampai saya bertemu Kebijakan berikutnya bahwa sejatinya bukan amal kita yang menyampaikan kita padaNya, melainkan dalam tanda kutip kalau DIA tuliskan kita untuk sampai, maka sampailah kita padaNya. Amal ibadah, hanyalah wujud dari pemberianNya itu sendiri.

Kalau betul-betul Allah ingin menyampaikan kita padaNya, menjadi orang-orang dekatNya, Seorang guru mengatakan -sebagai syarah atas keterangan Syaikh Abdul Qadir Jailani-, bahwa diri kita akan dihancur leburkan seperti tempayan yang tak mengandungi air sedikit juapun. Hancur lebur sampai “hilang” diri dan kehendakmu. Baru kemudian digantikan dengan pribadi baru.

Dihancurkan sampai hilang diri, ini bukan perkara kecil. Ini luar biasa bebannya.

Maka mensyukuri maqom saat ini, adalah lebih utama. Ketimbang meminta Allah menaikkan maqom kita, lewat jalan yang menghancurkan dan menghilangkan diri kita yang memiliki kehendak itu.

Akhirnya menapaki tangga spiritualitas dengan sikap tahu diri, dan peribadatan yang sebisa mungkin dijaga, meski sedikit tapi kontinu, dalam mentalitas yang sepenuh hati yakin bahwa anugerahNya-lah yang memampukan amalan untuk mewujud. Baik besar maupun kecilnya; adalah lebih indah.

Yang penting, hal-hal kecil apa dalam hidup kita yang bisa kita jaga untuk kontinu mengalir setiap harinya; kita dawamkan. Dan kita syukuri. Karena amal-amal kecil itu adalah anugerah.

KHALIFAH DAN ZUHUD YANG DEWASA

sedekah_20160102_064653Lumayan, kemarin siang makan gratis di rumah tetangga yang sedang mengadakan tasyakuran atas kehamilan istrinya. Kehamilan 4 bulan. Sebagai wujud syukur, diundanglah para tetangga dan ditraktir makan prasmanan di rumahnya.

Sudah beberapa kali tetangga di komplek mengundang acara makan-makan. Saya perhatikan ini menjadi semacam tradisi baik di tetangga-tetangga. Yaitu berbagi dalam kesyukuran atas moment-moment indah dalam hidup mereka.

Saya sendiri, sangat jarang, untuk dikatakan hampir tidak pernah mengundang-undang tetangga untuk hal-hal semacam ini. Tetapi dari niatan baik para tetangga yang selalu berbagi dalam banyak jenak kesyukuran itu; membuat saya belajar.

Yang saya pelajari adalah diri saya sendiri.

Database tentang “sedikit-sedikit ngundang syukuran” itu tak ada dalam literatur keluarga saya. Karena memang kami hidup dalam ekonomi yang marjinal. Boro-boro tasyakuran, buat sehari-hari saja kembang kempis.

Setelah saya bekerja, berkeluarga, dan hidup dalam jalan saya sendiri-pun, “rasa hati” bahwa saya bukanlah seseorang yang berkecukupan itu seringkali masih ada. Sehingga, kadang-kadang muncul rasa rikuh terhadap harta.

Antara diri saya, dan harta, seperti ada jarak mental yang jauh.

Dalam satu sisi, boleh jadi hal ini adalah bukti dari khasanah spiritual islam bahwa diri kita dan harta yang kita miliki adalah berbeda. Memang diri kita berjarak dengan harta yang kita miliki, untuk tidak terlalu larut dengan harta kita.

Akan tetapi, dalam pandangan yang lain, saya menyadari bahwa rasa rikuh terhadap harta, ini menimbulkan kesan bahwa “saya tak layak” untuk memanajemen harta. Betapapun harta itu sudah ada pada kita. Kesan seperti ini yang saya sadari keliru. Karena betapapun…… kita adalah khalifah, dan pada khalifah-lah bumi langit dan seisinya tunduk. Agar kita berdayakan di jalan yang baik. Rikuh terhadap harta; dalam arti minder pada harta dan kuasa, alih-alih perbawa dan mampu mengelolanya; adalah mental yang keliru.

Saya menyadari, sebuah ungkapan yang masyhur, agar harta berada di genggaman, tetapi tidak berada di hati.

Akan tetapi, sebuah kebijakan lainnya menyambangi saya, dan membuat saya sadar untuk mengupgrade mentalitas diri saya sendiri. Bahwa untuk memberdayakan harta yang ada di genggaman, maka “sejatinya diri kita” harus menyadari bahwa manusia itu lebih mulia ketimbang hartanya itu sendiri. Dengan itu tak ada rasa rikuh untuk memberdayakan harta. Tak ada rasa seperti “saya tidak layak”, atau “saya tidak level”.

Hal seperti inilah yang saya sadari, bisa dilatih dengan sikap yang terbiasa berbagi. Kalahkan rasa rikuh pada harta, dengan memberdayakan harta itu. Mengaturnya, agar harta itu tunduk pada khalifahnya. Atau menyedekahkannya. Sampai rasa rikuh di hati terhadap harta itu menjadi hilang.

Dan tak Cuma harta, saya akhirnya menyadari bahwa “kekuasaan” pun adalah sesuatu yang mesti tunduk pada khalifah yang memanfaatkan kekuasaan itu untuk kebaikan. Ini menjawab kebingungan saya sendiri, saat baru saja memegang jabatan baru di kantor, lalu saya merasa rikuh dan tak enak karena tidak terbiasa memanage, tak terbiasa mengatur.

Fungsi pengaturan, tak bisa saya jalankan, karena bentrok dengan rasa ewuh pakewuh saya sendiri. Merasa bahwa kekuasaan tidaklah layak untuk dipegang oleh saya.

Inilah yang saya sadari. Mengembalikan mentalitas diri sebagai khalifah. Zuhud dalam artian yang lebih dewasa. Bahwa zuhud bukanlah tidak punya harta, melainkan dirinya menjadi lepas dan lebih mulia dari harta itu sendiri, dari kekuasaan itu sendiri.

Tidak ada rikuh pada dirinya atas harta dan kuasa, baik harta atau kuasa itu sedang digenggamannya, atau tak ada di genggamannya. Dirinya tetap mulia.


*) Gambar saya pinjam dari link berikut

RAHIM YANG JERNIH

Sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor, saya mendengarkan lagu-lagu di YouTube. Playlist random dari mulai cover lagu-lagu hits jaman sekarang sampai saya cari-cari lagu-lagu nasyid sholawat kasidahan ala pesantren.

Kadang-kadang mbrebes mili juga mendengarkan lagu-lagu itu. Betapa kalau Tuhan mencipta, maka keindahan yang DIA zahirkan begitu banyak.

Saya jadi teringat, dulu saya punya sebuah gitar, dibelikan dari uang pemberian Nenek saya. Tetapi tak saya mainkan lagi selepas kurang lebih berapa bulan semenjak membeli, pasalnya saya mengira Gitar itu haram.

Sewaktu pindah ke Bandung. Waktu itu baru mengenal ada pesantren seperti Daarut Tauhiid binaan Aa Gym. Meski tak pernah nyantri di sana, tetapi pandangan-pandangan keberagamaan warna Daarut Tauhiid cukup menghiasi kehidupan saya, dari sana saya jadi tahu bahwa “musik haram” adalah satu warna saja dari sekian banyak khasanah pendapat dalam Islam. Yang berpandangan beda pun banyak.

-Yang ingin lebih detail monggo menekuni bidang fikih dan tanya pada ahlinya. Komparasi dari banyak guru. Saya cuma omong-omong doang-

Tetapi satu poin yang menarik bahwa seni sebagai sebuah ekspresi yang keluar dari “jiwa” manusia yang “di dalam”; belakangan saya semakin temukan sisi spiritualnya.

Ini menjawab kebingungan saya mengenai Gitar. Kebingungan jaman SMA dulu.

Hampir selalu, spiritualis yang saya kenal mestilah punya sisi seni dalam hidup mereka. Seni, dalam seperti apapun wujud ejawantahnya, sebenarnya hanya imbas dari indahnya situasi di dalam diri kita sendiri.

Maka para arif sering kita temukan nyeni. Entah jago puisi. Atau jago buat lagu. Atau kalau tidak, minimal mereka bertutur dengan bahasa yang nyastra secara alami.

Karena semakin mentirakati kehidupan, semakin kehidupan menjadi terlihat sisi indahnya, dan semakin ekspresi kekaguman terhadap Pemiliknya ; mencari celah untuk keluar.

Bisa menjelma kata-kata. Bisa menjelma gerak. Bisa menjelma suara dan nada-nada.

Allah membuat kehidupan, agar kehebatanNya dipuji.

Semakin manusia memperbaiki yang “di dalam” semakin ekspresi kekaguman atas keindahan hidup itu keluar.

Selama ekspresi yang keluar itu karena “yang di dalam” mengagungkan DIA. Maka seni menjadi berkah. Karena dawai, atau huruf dan kata, atau gerak, lahir dari rahim yang jernih.

PENAWAR DUKA

Setiap kali memasuki pintu gerbang kantor, -tidak selalu memang- sering saya menggumamkan syukur.

Lebih-lebih di masa sekarang ini, bagaimana saya tidak bersyukur, saya masih bertahan di kantor dalam industri migas yang sedang kurang enak badan dewasa ini; sedang sebagian lain para professional terpaksa rela kehilangan pekerjaan.

Melihat ke belakang, saya mengingati jenak dimana sesi interview kerja bagi saya seperti roller coaster emosi. Dengan sukses memukau pewawancara, tetapi sekejap kemudian dengan bodoh saya telah menyatakan tidak tertarik pada perusahaan yang saya ikuti interview kerjanya itu. Lalu kebetulan-kebetulan ajaib sematalah yang menyelamatkan saya.

pun dimasa sekarang. ketika karir di dunia pekerjaan biasanya penuh persaingan yang politis, saya merasa saya beruntung pindah dari posisi lapangan menjadi posisi kantoran semata-mata karena para professional yang lain memilih untuk pergi meninggalkan kantor dan mencari peruntungan kerja di luar negeri. Di lautan lepas.

Juga mengingati jenak kelahiran anak pertama saya. Di dini hari lebaran yang mengagetkan. Jauh berapa minggu dari ekspektasi kami menurut hitungan dokter, tetapi dia “memilih” momennya sendiri untuk lahir pada gemuruh takbir. Saya sedang di luar kota, lalu qadarullah pula saya bisa menembus awan gemawan dari Kalimantan menuju Jakarta, dan melesat ke Rumah Sakit di bilangan Depok, dari Soekarno Hatta yang lengang luar biasa tersebab orang-orang pada sibuk makan ketupat di desa. Alhamdulillah.

Menghitung-hitung rasa syukur. Dari kehidupan yang penuh kejutan-kejutan itulah, sesekali menjadi generator yang menyemangati dan meyakinkan saya kembali bahwa hidup ini memang sudah diatur-Nya.Karena segala kebetulan-kebetulan kecil dalam hidup kita itu, berimplikasi besar dalam jejaring sebab-akibat yang lebih raksasa.

Seorang guru mengatakan, tingkatan pertama adalah selalu “berdoa”, memanjatkan pinta atau puja-puji, “naik” menuju ingatan akan DIA, karena ketakjuban kita atas kehidupan yang kita lewati. Ini tangga pertama.

Melewati tangga ini, seseorang akan sampai pada maqom berikutnya yaitu Pasrah dan Ridho. Karena hatinya puas oleh fakta-fakta pertolongan dan keteraturan dalam setiap takdir hidup.

Saya sendiri, jauh sekali dari tangga berikutnya itu. Maka setiap kali gelisah dan ketakutan menyapa, selalu saya jadikan itu sebagai konteks mengingati-Nya.

Kalau “selalu” DIA menolong kita sejak lahir sampai sekarang, maka sebenarnya segala gelisah dan kekhawatiran kita sekarang dan kedepannya itu; tetap dalam jaminanNya juga.

Bahwa segalanya ada dalam genggamanNya, dan tlah tertulis di “bukuNya” sudah kita ketahui, tetapi “rasa” yakin mengenai itu kadang-kadang perlu disepuh dengan mengingati pertolongan-pertolonganNya selama ini.

Disitulah, kekhawatiran menemukan penawarnya.

SUKA, DUKA, DAN KEMBALI

Berapa waktu lalu saya membaca sebuah laman berita dari CNN, dalam bahasa inggris. Dimana penulisnya mendeskripsikan kejadian pembantaian di Rohingnya dengan Narasi yang begitu deskriptif. Emosi saya teraduk-aduk. Tragedi dan duka tergelar.

Saya letakkan handphone. Dan mengambil jeda. Lalu saya teringat bahwa pertanyaan-pertanyaan mendasar di dalam hidup seperti itulah yang membuat saya mempelajari approach tasawuf dalam keberagamaan. Mengapa ada tragedi? Mengapa kehidupan berjalan begini? Mengapa? Siapa kita? Mau kemana hidup ini?

Kehidupan keberagamaan formalistik semata-mata, tidak menawarkan jawaban yang cukup pas di mata saya. Setidaknya menurut saya pribadi.

Alhamdulillah, setelah mempelajari approach sufistik barulah saya mengerti bahwa kehidupan ini dengan warna suka dukanya hanyalah semata-mata cerita tentang Sang Pemiliknya.

Mengenali Sang Pemilik hidup-lah “asas keberagamaan”. Bukan yang lain-lain.

Suka dan duka, adalah dua keping warna. Sebagaimana istilah populer dalam islam yaitu basyiran dan nazhiran. Berita gembira dan ancaman.

Adanya suka dan duka, sebagaimana adanya berita gembira dan ancaman, hanyalah “sebab” agar orang menemukan konteks kembali pada Tuhan.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya.

Maka tersadarlah saya, bahwa tak mungkin Tuhan memberikan ancaman atau duka semata-mata, melainkan sesuatu yang kita persepsikan sebagai duka atau ancaman itu mestilah menyuruh kita mengenaliNya dan masuk ke dalam rahmatNya.

Maka berhati-hatilah untuk tidak terjebak di dalam “semata-mata duka dan ketakutan”. Syaitan menjebak kita dengan ketakutan-ketakutan.

Sedangkan Allah memberikan kabar gembira. Adapun berita ancaman dan duka, hanyalah “sebab” agar manusia menemukan konteks untuk “kembali”. Lari dari duka dan ancaman menuju rahmatNya yang luas.

Dengan pendekatan sufistik-lah, keberagamaan didudukkan kembali pada sisi spiritualitas yang cantik. Bahwa DIA ada dan begitu dekat.