DIBERI ALASAN MENEMUI TUHAN

Salah satu ciri kultur perusahaan swasta adalah persaingan yang ketat. Orang yang tak kuat dengan persaingan akan terlempar keluar.

Permasalahan saya pribadi, karena saya bekerja pada perusahaan swasta, adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan kultur persaingan yang ketat itu, sedangkan sifat atau kecenderungan alami saya adalah malas unjuk gigi, dan dalam tataran tertentu bisa dibilang kurang ambisi.

Seringkali saya berdoa, agar Allah memberikan kemudahan. Bagaimana dengan keterbatasan dan kelemahan pribadi agar bisa survive di medan yang ganas.

Alhamdulillah salah satu kemudahannya yang saya amati ialah seringkali saya diberikan “ruang”. Maksudnya, tanpa perlu selalu unjuk gigi atau cari perhatian, pimpinan acapkali memanggil saya karena memberikan tugas atau disuruhlah saya membuat macam-macam laporan investigasi masalah.

Dengan banyaknya masalah, maka saya ketempuan bekerja dengan intensitas yang lebih banyak bertemu bos saya. Tanpa perlu saya mencari-cari kesempatan dan “ruang” tetapi “ruang” itu sendiri dibangunkan oleh beliau. Lewat tuntutan-tuntutan tugas yang banyak dan seringkali melelahkan, tetapi imbasnya adalah pertemuan saya dan beliau menjadi lebih sering.

Dari situ kemudian beliau mengenali saya. Dari situ kemudian beliau memahami saya secara lebih komprehensif. Misalnya, selain dari pendiem dan kelihatan tak punya ambisi atau target, rupa-rupanya anak ini bisa juga kalau disuruh kerja. Begitu.

Merenungi tema ini, saya jadi teringat seorang guru pernah mengatakan bahwa seringkali dengan begitu banyaknya masalah dalam hidup, membuat kita semakin-makin banyak “naik” dan meminta tolong pada Tuhan, maka kita tanpa sadar membangun kedekatan.

Baru saya mengerti sebenarnya lewat kesulitan-kesulitan itulah Allah memberikan kita “ruang” untuk selalu melapor. Tanpa diberikanNya kita ruang, maka kita akan tersisih dari orang-orang yang by nature -secara kecenderungan alamiahnya- sudah dekat dengan Tuhan.

Sebagaimana Tuhan menolong kita dalam dunia pekerjaan, begitu pula DIA menolong kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makna yang lebih spiritual.

Kedekatan kita padaNya adalah karena DIA berbaik hati memberikan kita ruang mengadu.

Ketika Allah memberi, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu. Dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya. Dan di dalam semuanya itu, Dia sesungguhnya hendak memperlihatkan Diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya. (al-Hikam – Syekh Ibn Athailah)

Dalam satu wejangan, seorang arif (Ust. H. Hussien Abd Latiff) pula berkata. “Anakku, kalau kita mengatakan kepada Allah ‘aku rindu kepadaMu’, maka bagaimana kita tahu Allah pun rindu kepada kita?”

Jawabannya ialah jika kita mengatakan kita rindu kepadaNya maka itulah tanda DIA merindui kita. Karena DIA tlah menuliskan kita menyapaNya.

Maka dengan segala kekurangan dan ketidak sempurnaan amal, pagi ini saya bersyukur kepada Allah untuk telah diberikan momen-momen kedekatan. Karena menyadari bahwa tiadalah akan terjadi saya menyapaNya tanpa terlebih dulu DIA tuliskan agar saya berdoa.

Lebih cepat rahmatNya sampai pada kita, ketimbang amal kita sampai padaNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s