MENYUSUN ULANG MAKNA LILLAH (2)

Mempelajari spiritualitas islam, membuat saya mau tak mau merekonstruksi ulang makna “Lillahi ta’ala”. Apa maksudnya berbuat untuk Tuhan, itu?

Kita mudah untuk mengerti kaitan makna Lillahi Ta’ala dengan ibadah ritual, semisal “sholat”, yang adalah suatu sikap menyembah, tentulah gampang dimengerti bahwa penyembahan tentulah untuk Tuhan.

Tetapi bagaimana dengan hal-hal yang tidak langsung berkait dengan ritual? Misalnya ke pasar beli mangga. Bagaimana menyingkronkan urusan ke pasar beli mangga dengan makna Lillah?

Dulunya, sebelum bersentuhan dengan kajian spiritualitas islam, saya memahami hal ini seperti ini. Umpama kita ke pasar beli mangga, beli mangga untuk dimakan keluarga, menafkahi keluarga itu adalah perintah Tuhan, maka dengan menuruti perintah Tuhan menafkahi keluarga maka terikutlah urusan beli mangga menjadi Lillahi ta’ala juga.

Meskipun kadang-kadang rasa di hati ya memang pengen saja beli mangga. Tidak terlalu sufistik juga sih alasannya. sekedar pengen.

Sekarang barulah saya sedikit mengerti bahwa jika dipandang secara sufistik, urusan beli mangga, dan urusan lainnya, justru tidak bisa keluar dari makna Lillahi ta’ala.

Para guru mengatakan, tujuan besar kehidupan ini adalah menceritakan DIA. Tidak diciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk mengibadahiNya. Menurut Ibnu Abbas, maksudnya adalah kita diciptakan untuk “mengenali”Nya.

Dan jalan pengenalan itu adalah kehidupan kita sendiri-sendiri. Setiap orang bermain peran dalam kehidupan. Peran yang menzahirkan ceritaNya.

Dengan menyadari bahwa kita terikut dalam jejaring peran dalam drama hidup, dan setiap peran adalah mengandungi suatu fungsi tertentu yang pasti berhikmah, kita bisa melihat hidup secara lebih luas. Keluasan yang tidak bisa keluar dari makna Lillah.

Umpamanya, saya membeli mangga, dengan membeli mangga kemudian si pedagang mendapatkan rezeki. Kemudian si pedagang bisa menafkahi anaknya. Boleh jadi saat itu anaknya sedang ada keperluan mendadak. Maka membeli mangga adalah menjalankan suatu fungsi dalam cerita.

Atau kalau didramatisasi lebih jauh, mungkin bisa begini, saya membeli mangga, dengan membeli mangga kemudian anak si pedagang bisa mendapat uang jajan. Mungkin saja anaknya ternyata seorang yang urakan dan kerjanya mabuk-mabukan. kemudian dia dipenjara. lalu di dalam penjara itu dia menemukan hidayah. Membeli mangga, menjalankan fungsi tertentu dalam jejaring drama.

Semua itu memang dramatisasi. Tetapi idenya “realistik”, bahwa kehidupan kita dan kehidupan orang lain semuanya terjalin dalam jejaring fungsi dan aksi reaksi yang kompleks. yang menceritakan tentang DIA.

Dan sebenar-benar “alasan” dibalik sesuatu, mengapa itu terjadi, hanya Allah sendiri yang mengetahui. Yang jelas, semua berhikmah.

Menjalani seluruh partisi kehidupan kita dalam kesadaran bahwa kita mengikut peranan yang ditulis oleh Nya, dalam menzahirkan ceritaNya. itulah yang saat ini saya baru sadari sebagai bagian dari makna Lillahi ta’ala.

Hidup kita ini sesungguhnya dalam pengabdian. karena kita tidak bisa lari dari peran dan fungsi penciptaan. Maka semuanya tunduk dalam kisahNya.

Sebuah hadits mengatakan bahwa setiap orang akan dipermudah melakukan apa-apa yang sesuai dengan tujuan penciptaan.

Dengan menyadari bahwa kita melakukan sesuatu Lillahi ta’ala-lah maka kita bisa keluar dari kegamangan. Karena kadang-kadang di dalam kehidupan ini kita bingung dengan baik dan buruk.

Misalnya, seorang manajer yang diharuskan mengambil keputusan yang tidak populer, yaitu mem-PHK sebagian karyawan karena perusahaan akan colapse atau bangkrut. Tidak ada jalan lain.

Seorang yang lembut hatinya, akan menjadi gamang, karena dia merasa dengan mem-PHK sebagian karyawan maka dia telah membuat sulit hidup orang lain. Lebih baik dia berhenti saja menjadi manajer daripada harus masuk dalam situasi sulit.

Dulu saya mengira itulah putusan yang benar.

Setelah memahami makna Lillahi ta’ala, barulah saya mengerti bahwa lari dari putusan yang sulit sesungguhnya bukan kebijaksanaan.

setiap orang menjalani peran sendiri-sendiri dalam mensukseskan drama Ilahi. Maka seorang manajer yang terpaksa masuk dalam situasi seperti itu, akan “Lillahi ta’ala” jika dia menyadari bahwa keseluruhan gerak hidup dia dan karyawannya dalam genggaman Allah. Dan keputusan yang dia ambil adalah salah satu bagian dari plot cerita, yang nantinya akan menghantar setiap orang untuk masuk ke dalam babak-babak baru dalam hidup mereka masing-masing.

Maka sang manajer pun berani mengambil keputusan yang sulit. Karena kebijakannya sudah melintasi rasa emosional yang sempit. Kebijakan yang melampaui rasa kasihan. Karena mengerti tentang “hidup” secara lebih luas. Karena mengerti semua orang menjalani takdirNya.

Terlebih, jika sekali waktu merasakan kondisi ruhani dimana kita menyadari bahwa di dalam diri manusia ini ada bagian ruhani yang sadar, mengamati, dan terpisah dari realitas jasad di luar. Maka menjadi tahulah kita bahwa benarlah semua ini adalah peranan yang sudah ditulis olehNya. Kita hanya penyaksi.

Sekarang jika anda ingin pergi ke kantor, atau ke mini market, renungi sejenak mengapa kita tergerak berangkat? Siapa yang menggerakkan? Dan pahami bahwa kita adalah bagian dari plot cerita. Maka menjalani peran sebagai bentuk pengabdian, itulah Lillahi ta’ala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s