BERJALAN KE PINTU (2)

Bisakah manusia membersihkan hatinya secara permanen? Atau bisakah manusia mengingat Allah secara langgeng 24 jam?

Jawaban pertanyaan itu barulah kembali terajut dengan apik setelah saya menemukan bahasan Rumi dalam Fihi Ma Fihi, beliau menjelaskan tentang Abu Yazid Al Busthami yang menginginkan agar “tidak menginginkan”.

Kata Rumi, ketiadaan kehendak bukanlah sifat manusia. Dengan ketiadaan kehendak, maka manusia akan “hilang” punah secara total. Hilangnya kehendak dari diri manusia inilah yang dimaknai sebagai ketersambungan yang stabil kepada Tuhan. Ingat Tuhan fulllllll (Ini makna majazi lho ya, hehehe).

Keadaan itu, kata Rumi, di luar kemampuan manusia. Hanya bisa tercapai dengan “jadzbah” tarikan ilahi. Maksudnya kalau ditarik sama Allah masuk dalam keadaan itu, barulah seseorang bisa “hilang dirinya” dan dawam mengingati Tuhan.

Saya teringat Al Arif Ust. Hussien mengibaratkan perjalanan manusia dalam “menuju Tuhan”. Seumpama orang mendaki gunung. Di tiga perempat perjalanan, sebelum puncak gunung, ada “basecamp”. Tempat orang beristirahat.

Basecamp itulah puncak usaha manusia. Basecamp dalam istilah Al Arif Ust. Hussien Abd Latiff ini dalam bahasa Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Futuh Al Ghaib adalah “gerbang istana Raja”. Dalam bahasa Ibnu Arabi, usaha terjauh manusia adalah sampai ke “Pintu-Nya”. Mengetuk terus menerus pintuNya sampai DIA mempersilakan masuk.

Kalau kita pakai bahasa yang lumrah dalam kalangan ahli syariat. Perjalanan manusia yang masih “dalam batas usaha manusia” itu disebut sebagai orang-orang mukhlish. Orang-orang yang berusaha mendarma baktikan hidupnya untuk Tuhan. Berusaha ikhlash. [1]

Akan tetapi, selama-lamanya manusia jika berada dalam spiritual state yang ini, mereka akan menemukan hati mereka terbolak-balik. Kadang bener, kadang ga bener. Kadang ingat, kadang lupa.

Setelah belajar spiritualitas islam, atau Tasawuflah saya baru paham bahwa selama-lamanya manusia tidak akan bisa bersih hatinya. Atau dalam bahasa lain, jika pakai istilah ego; selama-lamanya manusia tidak akan hilang “keakuannya”. Sebelum mendapatkan tarikan ilahi. Jadzbah.

Tetapi jangan bersedih hati. Tugas manusia adalah menjalani pendakian itu. Seumpama berjalan, berjalanlah terus sampai gerbang. Sampai pintu. Sampai basecamp.

Atau istilahnya, berjalanlah terus sampai shelter bus. Dan berdiamlah disana, tunggu sampai “jemputan” datang.

Orang-orang yang “dijemput” atau didekatkan kepada Tuhan, inilah yang disebut sebagai golongan muqarrabin. Atau dalam bahasa para ahli syariat disebut sebagai “Mukhlash”. [2]

Orang yang berada pada spiritual state yang inilah. Yang tidak bisa diganggu oleh syaitan. Hilang “aku”nya. Dan bisa mengingatiNYA dengan langgeng 24 jam.

Tugas kita hanyalah berjalan dengan “sopan” sampai ke GerbangNya. Mengetahui bahwa selama-lamanya kita tidak akan bisa bersih sampai DIA yang membersihkan.

Dan perkara sopan santun atau adab hati ini banyak sekali dibahas dalam ranah tasawuf. Sisi batin keberagamaan yang seringkali asing bagi manusia modern sekarang.

::

[1] Mukhlish

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS Ghafir : 14)

[2] Mukhlash

إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ

Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa tidak akan diazab). (As-Saffat 37:74)


*) image sources

Iklan

Satu respons untuk “BERJALAN KE PINTU (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s