BELAJAR NAFI DAN ITSBAT

fire-and-waterDua hari lalu saya tertinggal bus antar jemput dari kantor, jadi terpaksa naik Go-Car. Sepanjang jalan saya berbincang dengan seorang supir yang begitu ramah, dan uniknya dia hobi berdzikir.

saya melihat ada dua tasbih kecil di mobilnya, satu bergayut di persnelling. satunya di kaca tengah. “Banyak amat tasbihnya, Mas?” saya iseng bertanya.

“Iya pak… ya namanya di jalan, kadang kalau lagi iseng saya suka gini-gini,” katanya sambil memraktekkan memutar tasbih. “Supaya ati adem pak. Alhamdulillah ketemunya yang baek-baek.” katanya.

Wah…..luar biasa, kata saya. Senang sekali saya dapat teman ngobrol yang asyik. Lalu obrolan berlanjut ke hal-hal lain. Mulai dari jalanan macet, hujan, dan terpal di mobil-mobil truck yang suka beterbangan di jalan tol.

Teringat saya, dulu saya juga pernah selalu membawa tasbih kemana-mana. Tasbih yang kecil, saya selipkan di tas. Sebagai cara untuk belajar memperbanyak mengingat Allah, dengan banyak-banyak menyebut asma.

Seiring berjalannya waktu, baru saya memahami satu kebijakan berikutnya, bahwa lafadz adalah gerak fisik. Tetapi ada yang lebih langgeng dari gerak fisik, yaitu “suasana batin” yang di dalam. Seumpama seseorang menangis, menangis adalah gerak luar. Tetapi “rasa sedih” adalah di dalam. Kita bisa sedih secara terus menerus selama seminggu. Tetapi rasanya kalau menangis terus seminggu ya susah. Boleh jadi orang sedih, tapi tidak menangis.

Ada yang mengajarkan untuk mulai dari yang fisik luaran, lalu lama-lama masuk ke dalam. Tetapi kemudian saya bertemu seorang Arif yang mengajarkan untuk langsung “masuk ke dalam”, nanti yang dalam ini akan terpancar keluar. Skema yang berbeda, kebijakan yang berbeda, tetapi bagi saya dua-duanya apik pada tangganya sendiri-sendiri.

Satu lagi kebijakan yang saya temukan adalah kalau dulu saya sering mengaitkan segala kejadian dengan sifat-sifat Tuhan. Seumpama, saya ketemu sopir mobil yang baik hati, ini maknanya Tuhan sedang berbaik hati pada saya. Lalu kalau saya mengalami sebuah hal yang kurang enak, ini maknanya Tuhan sedang menguji saya. Lalu Tuhan terpandang dalam dualitas, sesuai dengan tingkat pendewasaan cara saya berfikir.

Padahal, setelah kesini-sini, baru saya sadar bahwa kadang-kadang yang memaknai Tuhan dengan macam-macam sifat-sifat itu manusianya sendiri. Tergantung seberapa dewasa kita. Hari hujan, bisa dipandang sebagai ujian bagi tukang es cendol, bisa dipandang sebagai kebaikan Tuhan; oleh seorang petani.

Walhasil, citra sifat-sifat Tuhan jadi beragam-ragam tergantung manusianya memandangnya seperti apa. itupun baik, selama kita menyifatiNya dengan sifat yang layak bagiNya.

Tetapi sang arif berkata, mengenali sifat-sifat akan membawa manusia kepada gegaran, kepada dzauq. Kondisi ruhani. Bisa gemetar ketakutan. bisa melimpah ruah bahagia. Tetapi sebenar-benar ketentraman sejati hanya jika seseorang mengenali af’al.

dan kunci mengenali af’al atau perbuatan Tuhan itu, menurut seorang guru, adalah menyadari bahwa perbuatanNya itu DIA kenakan pada dzat-Nya sendiri. Hal ini agak pelik dipahami memang, tetapi dengan pengetahuan terkini sebenarnya masuk akal.

Dulunya orang mengira bahwa unsur terkecil penyusun manusia itu adalah atom. lalu setelah diteliti sekarang-sekarang setelah manusia makin canggih, ternyata beda lagi. Entah apa namanya yang lebih kecil dari atom. Tetapi yang jelas semakin kecil, semakin tidak memiliki sifat-sifat materi. Dan ini yang penting, ternyata semakin kedalam semakin tidak ada keterpisahan. Keterpisahan itu hanya ilusi di dunia makro saja.

Keseluruhan ciptaan, ternyata dari satu unsur yang sama. Unsur itulah yang disebut dengan hakikat ciptaan. Bahasa sufistiknya sering disebut dengan dzat. sesuatu yang entah apa, tidak diketahui seperti apa. Tetapi dzat yang menjadi unsur kesemua ciptaan itu bukan Tuhan itu sendiri. dzat itu adalah milikNya. Ciptaan-Nya. (orang sering mengelirukan hakikat ciptaan dengan Tuhan itu sendiri).

Dengan mengetahui fakta ini, bahwa seratus persen kehidupan ini adalah af’al-Nya, maka pelan-pelan mulai belajar menafikan apa yang tampak mata. Dan menyadari disebalik apa yang tampak sejatinya adalah dzat-Nya. milik-Nya. DIA berbuat apa saja yang DIA mau, karena seratus persen tidak ada kewujudan lain selain dari dzat (milik) Nya sendiri.

Hanya itulah kunci ketentraman sejati. Mengingat Sang Pemilik. Pemilik sifat, Sang pemilik dzat. Hanya itu cara lepas dari dualitas suka dan duka.


*) image taken from this source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s