MENENGOK JALAN PARA WALI DAN PARA NABI

2013-jan-which-road-takenBerulang kali saya mendapat pejalaran, sebuah contoh “dedikasi” yang sederhana tapi mengagumkan yaitu tetangga-tetangga saya di komplek, utamanya para pengurus komplek yang meluangkan waktu mengurusi hal-hal berkaitan kewarga-an. Padahal mereka sendiri sibuk luar biasa.

Misalnya tentang warga komplek yang komplen karena tukang di sebelah rumah masih bekerja padahal sudah jam lewat sepuluh malam. Tentang tikungan di jalan masuk komplek, yang acapkali bikin kaget karena blind spot-nya membuat orang tak bisa melihat kendaraan di sebelah sana; akhirnya harus dipasang kaca cembung. Tentang anak-anak kecil di komplek yang harus dilindungi keseruan main sepedaan sore, sehingga polisi tidur dipasang, agar mobil-mobil yang seliweran mau tak mau harus mengurangi kecepatannya.

Semua itu, dilakukan mereka dengan dedikasi yang mengagumkan, diantara kewajiban personal mereka sebagai pekerja kantoran dengan jadwal yang padat khas kota Jakarta.

Disitulah saya sering merasa kecil, karena dalam kewajiban personal yang sama, di kota yang sama, seringkali saya tidak bisa mengimbangi ritme mereka dalam berbuat kebaikan yang sederhana tetapi nyata untuk lingkungan itu.

Tapi ya itu….. saya kembali teringat fakta bahwa tiap orang akan dimudahkan melakukan apa yang sudah menjadi bagian mereka.

Berulang kali saya ingin mengimbangi kebaikan-kebaikan orang-orang itu, tetapi sulit saya menyusulnya. Pulang kantor sudah malam, sampai dirumah pengennya istirahat karena badan letih. Sudah tak ada tenaga untuk mengimbangi rapat pengurus komplek. Hari sabtu minggu seringnya di luar rumah. Hehehe…. Singkat kata saya beryukur untuk sudah kecipratan bagian enak-nya, mengingat hal-hal administrasi kewarga-an sudah ditangani oleh banyak orang yang berhati mulia.

Selain dari pelajaran bahwa “Tiap orang akan dimudahkan menjalani sesuatu yang dimudahkan untuk mereka”, saya teringat satu kebijakan lagi tentang penghambaan. Bahasa kerennya “servanthood”.

Saya temukan kembali istilah penghambaan ini dalam tulisan-tulisan seorang reformis sufistik, Syeikh Ahmad Sirhindi. Seorang maestro besar di zamannya, yang lewat tulisan-tulisannya sudah menjelaskan dengan baik bahwa puncak spiritualitas seorang hamba adalah “penghambaan” atau servanthood.

Kesadaran Penghambaan ini, sebenarnya levelnya di atas pengalaman-pengalaman ruhani seperti: menyaksikan bahwa dunia ini semua adalah satu kesatuan, pengalaman ruhani dimana orang yang berzikir merasakan hilang kediriannya, dan semacamnya. Jadi menurut Syaikh Ahmad Sirhindi, puncak tasawuf adalah tak lain tak bukan seseorang menjadi sadar tentang kehambaan dirinya, lalu sadar bahwa dirinya dan Tuhannya memang berbeda. Tuhan ya Tuhan, makhluk ya makhluk. Tak akan makhluk jadi Tuhan. Lalu hiduplah orang itu dalam sikap penghambaan. Seratus persen membenarkan akan apa yang sudah dituangkan para Nabi dalam risalah mereka masing-masing. Atau disebut juga syariat.

Dulu memang saya sempat bingung. Kenapakah para Nabi tidak secara literal menjelaskan tentang metoda mencapai pengalaman-pengalaman ruhani. Vision. Dan semacamnya? Sedangkan dalam kajian sufistik banyak sekali kita temukan hal semacam itu? Bahkan hampir menjadi bahasan dominan?

Lewat tulisan Arif Billah Hussien Abdul Latiff, menjelaskan ulang yang disampaikan Syaikh Ahmad Sirhindi, barulah saya mengerti jawabannya, karena memang ada dua pendekatan spiritualitas / jalan menuju Tuhan.

Yang pertama, yaitu apa yang dibahasakan oleh Syeikh Sirhindi dengan Saintly Way, atau jalannya para wali. Jalan ini,  menempuh lelaku yang berat. Jalannya adalah dengan menghilangkan atribut-atribut kemanusiaan lewat lelaku yang ketat, mengalami pengalaman-pengalaman keruhanian, lalu  mendapatkan insight-insight yang menjelaskan tentang ketuhanan.

Hanya saja, jalan ini adalah jalan yang sukar. Banyak onak duri. Terlebih lagi, ini yang paling bahaya, yaitu banyak orang berhenti sebelum sampai. Saking sulitnya perjalanan dengan metoda ini.

Menurut Syeikh Sirhindi dalam Sharia and sufism, orang-orang yang berada dalam kemabukan, melihat segala hal sebagai satu, kemudian mengucapkan hal-hal kurang elok dalam kacamata syariah, mereka itu sedang berada dalam fase –anggaplah- 80% perjalanan. Sisa perjalanan sebenarnya adalah mereka keluar dari kemabukan, berada dalam ketenangan, lalu menjadi mengerti bahwa di ujung perjalanan yang diharapkan dari kita semua adalah penghambaan. Tapi, yang banyak direkam oleh sejarah, adalah kisah para tokoh yang berada di pertengahan perjalanan ini, sejarah sering tidak mencatat bahwa tokoh-tokoh itu pada akhirnya keluar dari kondisi itu -lanjut berjalan- dan menemukan di ujung perjalanan tidak berbeda dengan apa yang dirintis para Nabi. Penghambaan.

Pada titik “penghambaan” inilah, sebenarnya jalan satu lagi berdiri. Yaitu apa yang disebut dengan prophetic way, jalan Nabi-nabi. Karena para Nabi sudah berdiri di ujungnya.

Teringat saya dengan sebuah perumpamaan, para wali menyeberangi samudera, yang mana para Nabi sudah sampai di pantainya (sudah menyeberang).

Spiritualitas yang dibangun di atas jalan Nabi-nabi, tidak mensyaratkan para penempuh jalan untuk menjalani lelaku yang menegasikan atribut-atribut kemanusiaan, lalu memperoleh kemabukan dan insight-insight ketuhanan.

Alih-alih, jalan ini mengenalkan ketuhanan pada manusia, lewat syariah. Manusia dikenalkan pada Tuhan lewat jalan ilmu. Setelah mengenal Tuhan lewat ilmu, maka lanjutannya adalah mereka beribadah sesuai dengan syariah, dan ujungnya adalah keridhoan pada takdir hidup.

Dengan meniti perjalanan spiritual lewat pendekatan yang dilakoni para Nabi, seorang “pejalan” tidak perlu melewati kemabukan spiritual yang boleh jadi berbahaya jika tidak “sampai”. Melainkan, mempelajari tentang ketuhanan berdasarkan ilmu, lalu beribadah sesuai syariah yang digariskan para Nabi.

Adapun pengalaman-pengalaman ruhani yang didapatkan adalah penguat dari apa yang semula hanya dipahami lewat ilmu secara syariat, ilmul yaqin, menjadi ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Pada keridhoan menjalani hidup; berdasarkan ilmu ketuhanan yang sudah dimiliki inilah; penghambaan itu tadi menemukan bentuk yang paling dewasa.

Penghambaan bukan lagi dimaknai sebagai –semata– sholat lima waktu, misalnya. Atau tadarus Qur’an semata. Tetapi keseluruhan hidup kita inilah penghambaan. Orang-orang yang ditakdirkan untuk menjadi pengurus komplek, kemudian dalam waktu senggangnya disempat-sempatkan memikirkan orang lain, itulah servanthood, itulah penghambaan. Hidup dalam melayani orang lain, dalam pengertian sebenar-benarnya bahwa melayani kebutuhan makhluk itu artinya mengabdi pada Tuhan (karena Tuhan mengurusi makhluk dengan mentakdirkan makhluk lainnya sebagai jalan rizki atau pengurusan).

Begitu juga pegawai di kantor. Supir Bus. Tukang dagang lontong. Abang gojek. Penjual rujak. Dosen di kampus. Ulama. Orang-orang arif. Semua menjaladi kehidupan dalam “penghambaan”. Sebagiannya menyadari itu, sebagian lainnya masih dalam perjalanan untuk menyadarinya.


*) Image Address