AGAR TAK HILANG PENGHARAPAN

Sungguh enak menikmati detail kehidupan. Sore ini, duduk santai di belakang jok abang GoJek, ditempias angin perjalanan, saya menikmati betul lekuk-lekuk detail menuju rumah.

Hamparan pedagang kaki lima di dekat Kampus Universitas Swasta yang saya lewati. Ceruk-ceruk jalanan yang diisi pedagang itu. Pepohonan besar yang mengurat akarnya, tampak begitu tua dan wibawa. Tanah kosong yang baru dibangun. Merah saga awan gumawan. Dan sayup-sayup ceramah di toa Menara masjid.

Semua detail yang tak pernah saya fikirkan dulu. Untuk tertakdir bekerja di sini. Tinggal disini. Dianugerahi anak-anak yang beranjak dewasa. Dan sekian frame lagi cerita takdir yang Maha Sucilah penulisnya.

Kehidupan kita semuanya dibalut dalam dua tema besar utama. Cerita tentang keagungan atau kedigdayaanNya, dan di lain sisi cerita tentang kasih sayang, welas asihNya. Jalaaliyah dan Jamaaliyah-Nya.

Selama ini manusia kebanyakan memandang Tuhan melulu dari sisi Agung dan Digdaya-Nya. Hal ini akan menimbulkan gentar dan ketakutan. Karena betapa kita melihat DIA mentakdirkan pelbagai kesulitan tanpa pandang bulu.

Orang usai sholat Jum’at, eh hilang sendal. Anak-anak bayi di Palestina meregang nyawa, mengaduk-aduk emosi kita melihat gurat luka dan pilu yang kita baca di sekitar kita. Juga pada kehidupan kita sendiri. Detik demi detik kesulitan membuat kita memandang kehidupan dalam kacamata yang suram. Lalu mau tak mau DIA tercitrakan sebagai Yang Kejam dan Mengerikan.

Kita lupa pada sisi welas asihNya. DIA yang saat penciptaan telah berfirman bahwa rahmatNya mendahului murkaNya. DIA menciptakan kehidupan dalam dua warna. Tetapi DIA sendiri pula yang menyuruh manusia memulakan segala hal dengan bismillahirrahmanirrahim. Nama-Nya yang mencerminkan rahmat. Citra yang DIA kedepankan.

Kita bisa saja, menuju Tuhan dengan melihat sisi keadilan dan kuasaNya.

Kita beribadah lalu diganjar pahala. Itu skema JalaaliyahNya.

Tetapi, melulu memandang pada sisi keadilan dan timbangan akan membuat kita putus asa. Mengetahui sebuah fakta bahwa kita kadang baik kadang keliru. Mengetahui fakta bahwa riya menghapus amal manusia. Mengetahui fakta bahwa sedikit saja tidak ikhlas maka ibadah kita sia-sia. Mengetahui fakta bahwa masalah buang air kecil yang tak bersih bisa membawa seseorang ke neraka. Dalam segala citra hitung-hitungan keadilan itu, merugilah orang yang berharap semata dari sisi JalaaliyahNya.

Itulah para arif mengajarkan pada kita agar menengok juga pada sisi rahmatNya. Dosa sebesar gunung, jika meminta ampun akan diampuni. Pelacur bisa masuk syurga tersebab memberi minum anjing. Iman seberat biji sawi masuk syurga. Dan lain-lainnya. Yang bukan menafikan amaliyah, melainkan agar para pejalan yang sudah timbul kesadaran menuju Tuhan bisa legowo dan tidak putus harapan. Karena DIA menunggu kita seberapapun kita lamban menujuNya.

Pejalan, yang putus asa dari menujuNya, biasanya karena melulu memandang sisi JalaaliyahNya.

Mendengarkan wejangan itulah, saya tetiba menikmati betul detail perjalanan sore ini. Setiap lekuk jalanan adalah takdir yang saya tidak pernah mengerti kemana DIA membawa saya. Tak bisa dielakkan.

Tetapi menyadari fakta bahwa hidup ini telah dilukis olehNya yang rahmatNya mendahului murkaNya. Maka tahulah kita bahwa kita tidak boleh hilang harapan.

Sudah sejauh ini kereta berjalan. Dan kedepan sana perjalanan kita juga sudah dalam DIA punya ketetapan. Alhamdulillah.

Itulah adab dari pintu depan. Agar tidak kehilangan harapan menujuNya.

Kita tahu tangga berikutnya di atas ini adalah orang-orang yang sudah sirna dari dualitas. Bagi mereka tak ada keagungan dan welas asih. Apapun lakuan Tuhan sama saja. Tetapi namanya pejalan, biarlah step-step itu dititi secara natural. Dan jalan paling natural itu antara lain adalah tengoklah juga sisi JamaaliyahNya. Diantara suram buramnya hidup dalam pemaknaan kita yang sempit selama ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s