ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN

Ceritanya, di Instagram saya follow akunnya Bill Gates. Menyenangkan melihat orang seterkenal Bill Gates posting foto-foto Ethiopia, foto di Afrika, mengunjungi Tanzania, bantuan kemanusiaan pada orang-orang terlantar di negara-negara tersebut, yang semuanya rasanya bukan pencitraan. Tercatat, saya baca sekilas di Forbes, yayasan yang dimiliki Bill Gates dan istrinya Mellinda, menghabiskan total 2.14 billion dollar US setahun, untuk dana sosial.

Yang saya tertarik pelajari, adalah fakta bahwa orang-orang di puncak pencapaian karirnya, banyak yang menjadi filantropis. Begitu dermawan dan menyumbangkan banyak hartanya untuk orang lain. Hidup memikirkan orang lain.

Padahal, hal ini kan kadang-kadang kontras dengan dunia korporasi. Persaingan yang ketat, dan orang-orang berlomba-lomba mencapai sesuatu yang disebut dengan aktualisasi diri. Semua berpusat pada diri sendiri. Hampir-hampir, aktualisasi diri ini sulit dibedakan dengan narsis.

Tema tentang aktualisasi diri ini, yang paling terkenal utamanya dari teorinya Abraham Maslow. Psikolog yang memetakan motivasi-motivasi yang mendorong manusia bergerak. Untuk bergerak melakukan sesuatu, tentu manusia butuh dorongan dong, dari dalam dirinya. Nah, dorongan-dorongan itu jika dipetakan mulai dari yang paling dasar, yaitu kebutuhan fisik, meningkat ke pendorong yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta, kebutuhan akan self esteem pencapaian-pencapaian, sampai aktualisasi diri, yaitu dorongan untuk mengaktualisasikan sepenuh-penuhnya potensi diri mereka. Itulah yang mendorong manusia bergerak.

Piramida Maslow ini, dibahas di banyak sekali pelatihan-pelatihan motivasi. Teringat sewaktu saya berkesempatan training di Kairo, perusahaan saya pun mengadakan pelatihan manajerial yang salah satu temanya adalah piramida Maslow ini. Bahwa untuk bergerak kita butuh dorongan. Dan dorongan-dorongan itu dipetakan, dalam urutan yang paling puncaknya adalah aktualisasi diri.

Waktu itu saya merasakan ada yang kurang tepat dari pemaknaan ini. Tapi saya diem aja di pelatihan itu, tentu saja, hahahaha. Kekurang tepatan itu, adalah fakta bahwa banyak orang-orang di puncak piramida kekuasaan, mereka malah menjadi dermawan, dan spiritualis. Semacam Bill Gates itu tadi. Semacam menemukan bahwa “bukan semua ini yang saya cari”.

Mengapa di puncak aktualisasi diri, mereka merasakan bukan itu yang mereka cari? Mereka malah bergerak karena didorong keinginan untuk membantu orang lain. Hidup dalam “pengabdian”. Sentralnya sudah bukan diri mereka lagi.

Sementara itu, orang-orang yang lainnya ada juga yang saking menjiwainya terhadap “aktualisasi diri” mereka berlomba untuk menonjol dan menjatuhkan orang lain, hal itu jamak disaksikan dalam dunia korporasi. Karena nilai yang ditanamkan adalah mari kita bergerak dengan pendorong keinginan diri kita untuk eksis.

Saya fikir, ini orang-orang barat mesti kurang kajian sufistik, di atasnya piramida maslow itu mesti ada satu tangga lagi yang ga ditemui orang barat hehehe.

Tapi hari ini saya senang sekali, meskipun agak terlambat saya baru menyadari bahwa di akhir hidupnya Abraham Maslow ternyata merevisi, mengamandemen piramida hierarchy of needs-nya itu. Dia meletakkan satu tangga lagi, di atasnya aktualisasi diri (self actualization) itu, ada satu lagi yang dia sebut self transcendence. (transendensi diri).

Sederhananya, ada orang-orang yang melampaui kedirian mereka. Orang-orang ini, kata Maslow, mampu melihat dunia secara lebih global dalam kaitannya dengan dirinya dan dengan orang lain. Konsep hidup mereka lebih “kaya”. Bukan lagi diri pribadi, tapi melihat bahwa dirinya dan lingkungan, bahkan semesta adalah satu keterkaitan.

Itulah puncak piramida Maslow yang sudah direvisi. Puncaknya bukanlah aktualisasi diri, melainkan self-transcendence, transendensi diri, melampaui diri. Hidup dalam pengabdian, berkebaikan untuk orang lain. (Meskipun kalau di googling, hampir seluruh gambar piramida yang kita temukan, berhenti pada aktualisasi diri, versi yang belum direvisi oleh Maslow)

Saya menghela nafas panjang. Benar memang pepatah mengatakan, tak ada yang baru dibawah matahari. Dan ternyata, bapak psikologi itu sendiri sudah menyadari di ujung hidupnya, bahwa pendorong terbesar dan tertinggi adalah keinginan untuk berbuat bagi orang lain. Hilang kediriannya.

Dalam kajian spiritualitas islam, setelah memahami bahwa dunia ini diciptakan dalam rangka DIA ingin dikenali, maka setelah mengenal Tuhan tiada lagi yang tersisa melainkan hidup di dalam pengabdian. Melihat kehidupan dalam pandangan yang tinggi, bahwa hidup kita adalah menzahirkan ceritaNYA. Maka keseluruhan hidup dijalankan dalam kesadaran “mengabdi”, menjadi bagian dari plot cerita.

Kita bekerja-pun, kalau sadar penuh dengan konsep bahwa hidup kita ini adalah bagian dari ceritaNya, dan kita hidup untuk mengabdi padaNYA lewat tugas personal kita (jadi manajerkah, jadi staff kah, supirkah, pedagangkah….dst), maka hidup kita sudah “transenden”. Melampaui kedirian kita sendiri. Sesuatu yang disebut Lillahi ta’ala.

Ada yang menemukan ini lewat jalan panjang. Yaitu jalan “tirakat”. Apakah tirakat ruhani. Ataupun tirakat kehidupan. Menapaki jenjang karir dalam hidup, melewati onak duri, meniti satu-satu sampai tangga paling atas, lalu tercerahkan dan mengerti arti hidup. Pada puncak pencapaiannya. Tetapi jalan itu panjang, dan yang tercerahkan juga tidak semua.

Ada jalan yang lebih ringkas, yaitu meskipun kita belum sampai di puncak piramida karir kehidupan kita, tetapi lewat “ilmu” kita mengetahui tentang nilai-nilai kehidupan. Spiritualitas dalam keberagamaan (karena saya muslim, maka yang saya maksud adalah nilai-nilai tasawuf dalam islam) jangan ditinggalkan. Karena pada bahasan-bahasan sufistiklah, seringkali kita temukan mutiara.

Sebuah mutiara yang sesungguhnya dicari oleh seluruh manusia dalam kehidupan mereka. Termasuk pekerja-pekerja seperti kita ini. Tetapi kita saja yang tidak tahu bahwa selama ini kita sedang mencari sesuatu itu.


References : 

Iklan

2 respons untuk ‘ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN

    • Wallahu’alam mas, saya tidak bisa komentar mengenai yang mas kutipkan. Tetapi saya hanya melihatnya dari sisi psikologi saja, dan kaitannya dengan tasawuf, utamanya pada puncak piramida.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s