TUMBUH BERSAMA

Meskipun suasana di kantor swasta seringkali banyak intrik nuansa persaingannya, tetapi ada juga momen-momen dimana saya melihat pimpinan-pimpinan di kantor saya sangat mengapresiasi, dan mempromosikan agar karir bawahannya naik.

Sejujurnya saya sempat heran juga dengan budaya apresiasi seperti itu. Kenapa seorang pimpinan bersusah-susah mempromosikan bawahannya?

Ternyata, saya baru memahami logika perusahaan. Bahwa perusahaan yang sehat itu adalah yang memiliki rencana suksesi yang tersusun rapih. Dan juga, seorang pimpinan akan lebih mudah untuk naik jabatan secara vertikal, atau juga pindah posisi lain secara lateral Jika sudah ada suksesi.

Karena itu, agar roda perusahaan berjalan baik, maka standar kesehatan sebuah perusahaan ya salah satunya dilihat dari bagaimana perusahaan itu bisa memajukan karyawannya.

Semangat untuk tumbuh bersama ini yang kadang-kadang dilupakan dalam dunia korporasi. Karena, orang-orang sering berlindung dibalik pemahaman yang keliru mengenai aktualisasi diri.

Aktualisasi diri, salah satu motivasi pendorong manusia bergerak, menurut teori Abraham Maslow itu, dipahami secara sempit sebagai ajang narsis.

Padahal, maksudnya Maslow dengan “aktualisasi diri” itu adalah bagaimana agar potensi diri seseorang bisa tersalurkan sepenuh-penuhnya.

Ibaratnya mengoptimalkan potensi mesin dirinya agar full terberdayakan dalam kehidupan.

Tetapi kebanyakan orang-orang masih menganggap bahwa “aktualisasi diri” itu ya diri kita bersinar, sementara yang lain tenggelam.

Padahal, kalau dipikir-pikir, ummat manusia sebenarnya sudah belajar bahwa logika persaingan semacam itu, logika saling menenggelamkan itu, tidak sehat.

Zaman dulu, kita hidup dalam dunia yang penuh konflik dan peperangan. Setiap negara menginvasi negara lain, saling menghancurkan. Sampai jadinya perang dunia.

setelah era rusuh itu reda, manusia mulai berfikir bahwa sebenarnya keuntungan tetap bisa diraih justru dengan membangun kerjasama yang baik dengan orang lain. Sekarang pasar bebas. Kerjasama global. Dst.

Contoh sederhana, yaitu toko kelontongan di dekat rumah saya. Awalnya di sana hanya satu toko yang berjualan peralatan rumah tangga. Lalu tak lama satu toko lagi buka, lalu yang lain pun buka. Hal ini bisa dianggap sebagai peperangan, atau malah momen kerjasama, karena hampir semua orang membuka toko dengan tema yang sama, maka jadilah area itu dikenal sebagai sentra peralatan rumah tangga. Konsumen malah makin datang.

Misalnya mall, kalau kita ke mall yang banyak alat elektronik, kita lihat disana memang bersaing, tetapi dalam sisi lain juga mereka bekerja sama. Kalau kita beli di toko A, seandainya tidak ada barang, mereka akan bilang “ada”, lalu mereka ke toko sebelahnya, beli barang dari sana, jual ke kita. Itu juga model kerja sama.

Cara kita memahami bahwa kehidupan ini tidak akan lepas dari kebutuhan untuk saling menumbuhkan satu sama lain, berefek sangat besar.

Umpamanya di dunia korporasi, sebuah perusahaan yang mengakui bahwa untuk menjadi pimpinan, seseorang haruslah bersinar mengalahkan orang lainnya, maka perusahaan itu akan tumbuh menjadi tempat sikut-sikutan.

Tetapi, jika kita menyadari bahwa nilai kehidupan ini adalah tumbuh bersama, maka seseorang akan diapresiasi bukan dari seberapa cemerlangnya dia mengalahkan orang lain, tetapi dari seberapa banyak dia membantu orang lain untuk bertumbuh. Spirit untuk tumbuh bersama.

Khoirunnas anfauhum linnas.

Terlebih lagi, jika kita melihat fakta bahwa ada sekian banyak orang yang saat telah sampai di pucuk karir mereka, mereka menjadi lebih dermawan, jadi philantropist, lebih religius, hidup santai, karena mereka mengetahui bahwa kehidupan ini ternyata berkelindan dengan hidup orang lain juga. Mereka malah hidup untuk membantu orang lain. Spirit untuk tumbuh bersama menjadi semakin besar.

Baru-baru inilah saya memahami mengenai ini lewat dunia kerja. Akhirnya melihat rekan-rekan tidak lagi terpandang sebagai lawan dalam karir. Melainkan terlihat sebagai sesama manusia yang bertumbuh.

Para arif, sebenarnya sudah membahas hal ini jauh-jauh hari. Mereka memandang semua makhluknya itu sama, melintasi batas-batas ras, kedudukan, bahkan agama. Mereka murni berkebaikan kepada sesama makhluk Tuhan.

Akan tetapi, kadang-kadang bahasan itu seperti rasa diawang-awang dan jauh dari kenyataan. Sampai kemudian kita tersadar, bahwa bahasan sufistik semacam itu rupanya dekat sekali dengan keseharian kita setiap hari. Begitulah Allah mengajari.

-debuterbang-


*) image taken from here

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s