TIDAK BERLARI DARI PERBEDAAN

conflict-624x390

Ada salah satu kecenderungan pribadi saya, yang saya sadari belakangan setelah bekerja di kantoran. Yaitu kecenderungan untuk menghindari perbedaan.

Kecenderungan menghindari perbedaan ini, ternyata setelah saya dengan jujur menyelami diri saya, saya ketahui rupanya berkaitan dengan rasa khawatir terhadap kritik.

Contohnya begini. Berapa tahun lalu, suatu hari seorang karyawan mengirimkan sepotong pesan whatsapp kepada saya, bertanya tentang kesempatannya untuk promosi.

Saya, selaku mediator dalam urusan promosi karyawan, merasa bahwa integritas saya dipertanyakan. Padahal saya sudah banting tulang melakukan upaya agar karyawan tersebut dipromosikan oleh bos. Maka, saya sedikit reaktif. Dan membalas whatsapp tersebut dengan nada ketus.

Ketika itu, konflik (perbedaan pendapat, atau sedikit gesekan) secara reaktif saya tafsirkan sebagai mempertanyakan integritas saya. Seolah-olah, saya orang jujur, kok kamu ga percaya?

Tak lama, setelah saya lebih tenang, baru saya menyadari bahwa jika saya dalam posisi karyawan tersebut, tentu saya akan melakukan hal yang sama yaitu bertanya. Dan kepada siapa lagi saya bertanya jika bukan pada orang yang dipercaya sebagai mediator. Maka dalam hal ini karyawan tersebut tidak keliru, yang keliru adalah saya sendiri karena bersifat reaktif. Sedangkan karyawan tersebut, berada dalam ketidak tahuan karena minim informasi.

Lama saya menyelami kepribadian saya yang satu itu, sampai saya secara jujur menarik kesimpulan bahwa kecenderungan untuk menghindari konflik, telah secara tidak langsung menyebabkan saya menjadi orang yang tidak suka dengan kritik. Karena saya cenderung menginginkan keseragaman.

Padahal, dunia ini tidak mungkin seragam. Karena fithrahnya dunia memang dijadikan beraneka ciptaan. Bahkan Rasulullah SAW dalam suatu ketika ditegur oleh Allah SWT, saat beliau begitu berduka akan keingkaran ummatnya, kok ingkar terus padahal sudah didakwahi. Rasuluallah SAW saja ditegur, dikatakan bahwa tugas Nabi hanya menyampaikan, sedangkan perkara orang ikut atau tidak, itu urusanNYA.

Artinya segala sesuatu dijadikan tidak seragam, memang karena Allah maunya begitu. Dan ada hikmah disebaliknya.

Karena kita memang tidak seragam, maka konflik yang sehat, sebatas berbeda dan gesekan-gesekan yang menimbulkan dialog, adalah baik.

Yang tidak baik adalah, melulu menghindari perbedaan. Sehingga takut menyampaikan sesuatu, karena menginginkan ketenangan. Padahal, ketenangan yang dibangun dari rasa tidak siap menerima perbedaan, adalah ketenangan yang semu.

Sebuah pepatah mengatakan, truth over harmony. Kebenaran, harus didahulukan ketimbang harmoni. Oleh karena itu, konflik, atau gesekan perbedaan, dalam tataran tertentu selama sesuai dengan syariat, itu masih baik. Dialog untuk saling memahami (kalian diciptakan berbangsa-bangsa bersuku-suku agar kalian saling kenal mengenali).

Saya ambil contoh dalam dunia korporasi. Sekarang para pimpinan perusahaan mengetahui bahwa healthy conflict, konflik atau perbedaan pendapat dalam suasana yang sehat, itu baik untuk perusahaan. Artinya, mesin pemikiran dalam perusahaan itu bekerja. Dan artinya lagi, bahwa banyak talenta di dalam perusahaan itu mendekati atau berusaha menganalisa masalah dengan pendekatan yang berbeda-beda.

Satu tips, secara spiritualitas islam, untuk menyikapi perbedaan dengan apik adalah dengan memandang bahwa disebalik semua perbedaan sifat-sifat itu, sejatinya adalah “satu”. Dzat ciptaanNya. Dan dalam mengambil tindakan, kita menyadari bahwa kita semata-mata menjalankan peranan atau fungsi kita dalam pagelaran ini. Dalam pentas dunia ini.

Tindakan-tindakan yang kita lakukan, selalu kita sadari sebagai bagian dari pentas dunia. Tiap orang menjalankan fungsi masing-masing.

Perlahan-lahan, sikap yang cenderung melarikan diri dari perbedaan, menjadi hilang. Perbedaan akhirnya disadari sebagai sesuatu yang natural. Selama dalam dunia ciptaan, maka riuh rendah perbedaan adalah niscaya.

Seperti kekata Rumi, “Kebenaran sejati selalulah ada di dalam hakikat, tetapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s