SPIRITUALITAS ANAK RUMAHAN

adventure alm cabin chalet
Photo by Pixabay on Pexels.com

Sudah lama banget saya ga nonton TV, karena rutinitas kantor yang begitu padat, setiba di rumah sudah capek dan maunya leyeh-leyeh santai saja, walhasil TV jarang sekali ditonton. Beralihlah ke YouTube karena sambil tidur masih bisa nonton YouTube di HP.

Tertumbuklah perhatian saya pada satu Channel YouTube yang lumayan edukatif saya rasa, yaitu “Nebeng Boy”. Ceritanya ini mirip-mirip talkshow, tapi dikemas secara santai, dimana pembawa acaranya nyetir mobil, jemput narasumber, terus ngobrol ngalor ngidul sambil nyetir, kadang-kadang juga nyanyi-nyanyi di mobil. Cair banget, tapi berisilah.

Ini obrolannya inspiratif kata saya.

Sebagai gambaran, channel vlog YouTube yang saya sebut tadi bahkan menghadirkan orang sekelas Najwa Shihab untuk naik mobilnya, obrolan serius tapi ketawa-tiwi santai, sekelas Najwa Lho mau. Juga ada Dedy Corbuzier, Maudy Ayunda, Chelsea Islan, Mantan personnel JKT-48 siapa itu namanya lupa saya, Rapper Young Lex, dan sederet nama anak muda semisal Reza Arap, yang mestinya membuat orang tertarik…..eh, apaan ini ya? Channel YouTube aja lho padahal.

Cara pembawa acaranya ngobrol itu asyik banget, berkelas lah. Dia bisa masuk ke semua tipe orang. Suatu keterampilan yang sejak dulu saya iri pisan. Tapi yang paling mengagetkan adalah ketika dia mewawancara Dedy Corbuzier, disitu Dedy Corbuzier mengatakan bahwa dia anak “rumahan”. Seorang Dedy Corbuzier lho…. Tak pikir anak gaul, sekalinya Dedy Corbuzier ini ga suka nongkrong di café, ga suka acara-acara yang banyak orang, kalau lagi ga shooting senangnya di rumah aja. Dia buat sendiri gym di rumahnya, dia buat macem-macem yang intinya dia emang senang di rumah aja.

Begitu juga Raditya Dika, komika terkenal itu aslinya juga anak rumahan. Dia paling ga enjoy di keramaian.

Termasuk, Boy William pembawa acaranya itu sendiri. Dengan ketrampilan bicara dan pendekatan pada orang yang segitunya itu, saya betul-betul kaget ini bahwa dia juga termasuk orang dengan kecenderungan introversi. Malas keluar rumah.

Ini mengingatkan saya pada sebuah buku tentang introversi yang dulu saya pernah baca, dimana disebutkan disana bahwa Oprah Winfrey, sang pembawa acara fenomenal itu, adalah seorang introvert. Oh my God.

Kenapa saya tertarik? Karena saya sendiri adalah anak rumahan. Sangat rumahan. Sejak kecil saya suka sekali di rumah saja dan baca buku. Saya sulit sekali menikmati kumpul-kumpul dalam suatu acara dengan jumlah peserta yang banyak. Termasuk kalau suka ada undangan dinner-lah di kantor, atau kumpul-kumpul meeting di luar jam kantor misalnya, mesti saya berat sekali untuk mengikutinya, walaupun tuntutan mengharuskan saya untuk bisa, dan mau tak mau saya harus mempelajari seni tentang itu.

Nah, kembali ke bahasan tentang anak rumahan, saya mengamati bahwa betapa dalam obrolan di channel YouTube yang saya sebut tadi, orang-orang bisa menjelma menjadi begitu “spiritualis” saat mereka ditempatkan dalam suasana yang “homey”, yang nyaman seperti rumah. Ga peduli introvert atau extrovert, kenyamanan personal itu membuat orang mengeluarkan sisi terdalam mereka, sisi yang spiritual.

Ambil contoh dalam satu sesi wawancara dengan Chelsea Islan, dimana Chelsea bercerita tentang pengalaman hidupnya dimana ibunya sempat divonis kanker. Meskipun pada akhirnya itu ternyata salah diagnosa, tetapi pengalaman itu begitu membekas dan mendorong seorang Chelsea Islan untuk mengadakan acara di banyak tempat, donasi untuk orang-orang yang terkena kanker. Chelsea Islan lho, udahlah modis, penuh prestasi, berjiwa sosial pula.

Begitu Juga misalnya Reza Arap misalnya, Tatoan dan agak-agak urakan gitu, tetapi dalam sesi diskusi dalam mobil, suasana yang homey, saya melihat sisi spiritual seorang Reza Arap keluar. Dimana dia mendonasikan channel YouTube yang dia miliki untuk sebuah rumah sosial, saya lupa nama yayasannya apa, tapi lihat bagaimana seorang anak muda yang tipikal anak gaul millenial bangetlah, ada sisi spiritualnya sendiri.

Dalam suasana yang homey, yang “rumahan” sisi spiritualitas orang-orang itu keluar. Saya jadi teringat seorang guru bilang bahwa “mencari Tuhan” itu adalah fithrah manusia, fithrah itu ibarat cahaya, cahaya itu tidak dapat hilang betapapun orang berbuat dosa, cahaya itu tidak bisa padam.

Maka saya sangat menikmati sekali melihat orang-orang yang dikenal masyarakat dengan sisi ekstroversi-nya itu, gaul, modis, sukses, banyak uang, tetapi ternyata dalam momen yang tepat bisa mengeluarkan sisi yang sangat spiritual. Sisi yang kadang-kadang mungkin dirinya sendiri tidak sadari, tetapi bisa muncul kalau bertemu orang yang tepat.

Ini satu pelajaran penting buat saya.

Pertama, bahwa banyak orang-orang “rumahan” yang ternyata sangat sukses dalam dunia yang dikira khalayak sebagai dunianya orang-orang extrovert. Tetapi bagaimanapun, mereka tetap butuh waktu sendiri, untuk masuk dalam kenyamanan “rumah”nya, dan menikmati dunia dari sudut pandang mereka.

Begitupun orang-orang extrovert, ternyata mereka punya sisi spiritualitas yang barangkali terasah sangat tajam lewat perjalanan mereka yang demikian jauh, karena fithrahnya mereka sebagai seorang yang senang “jalan” dan “gaul”, jadi mereka melihat banyak pelajaran. Pelajaran-pelajaran itu mengendap dan menunggu untuk dituliskan, disusunkan.

Sebagai anak “rumahan”, saya merasa sekali bahwa “perjalanan” itu penting. Betapa banyak pelajaran yang saya dapat dari “perjalanan”, tetapi karena dasarnya saya malas keluar, maka takdir yang menuntunkan saya dipaksa berjalan. Bekerja sebagai engineer di dunia lapangan migas, lalu pindah ke kantor, lalu jadi internal auditor, semuanya memaksa saya berjalan dan menemukan hikmah dari orang-orang yang semuanya spiritual dengan cara mereka sendiri.

Kedua. Impian saya adalah, bertemu dengan orang-orang yang tumbuh besar dalam dunia ekstroversi, orang-orang yang saya kagumi dengan perjalanan-perjalanan mereka yang luar biasa, saya ingin mendengarkan cerita mereka, mengapresiasi perjalanan mereka, dan mengatakan pada mereka pesan guru saya, bahwa sesuatu yang mereka cari-cari dalam perjalanan panjang ini jawabannya ada dalam diri mereka sendiri, dalam diri kita sendiri. Fithrah spiritualitas yang tidak bisa padam, meski kita berjalan dalam lorong yang gelap segelap apapun. Kita cuma butuh kenyamanan “rumah”, untuk mengakui, “yak….benar…… ada sisi spiritual dalam diri saya, di dalam sini”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s