MENGGAMIT KETENANGAN

Saya teringat pesan sang Arif, bahwa ketenangan sejati baru akan ada jika mengenali af’al Allah.

Selama ini orang-orang (utamanya saya sendiri) baru mengenali sifat-sifatNya. Belum sampai pada pengenalan bagaimana af’alNya berlaku.

Akan tetapi sebatas itu juga sudah bagus, karena Dibawah pengenalan terhadap sifat, adalah golongan yang sama sekali buta.

Umpamanya melihat tsunami. Orang awam akan melihat tsunami sebagai semata-mata tsunami. Para cerdik cendikia melihat tsunami sebagai peristiwa alam dan mempelajarinya. Yang mengenali sifat-sifat Tuhan memaknai tsunami sebagai pagelaran keagunganNya sehingga dari sana timbul rasa gentar dan takut karena meresapi keagungan Tuhan. yang mengenali af’al-Nya tahu bahwa DIA bersenda gurau dengan diriNya sendiri.

Semata mengenali sifat-sifat sahaja, belum cukup. Manusia masih akan terombang ambing dalam lautan sifat-sifat. Sebentar merasa gentar dan cemas karena melihat gelaran keagungan Tuhan, sebentar kemudian merasa bungah dan gembira karena melihat keindahan yang DIA gelar.

Kita baru terlepas dari dualitas itu saat memahami bahwa perbuatanNya (af’al) tempat DIA menulis sifat-sifat itu adalah pada diriNya sendiri. Bahwa seisi dunia dibandingkan dengan kebesaranNya adalah seumpama setetes air asin pada samudera tiada tepian. Dan yang selama ini kita kenal sebagai “kita” atau “aku” itu tidak pernah ada.

Pengenalan akan bagaimana af’alNya berlaku itulah, yang menurut sang Guru ialah kuncinya ketentraman dan keridhoan. Karena menyadari milikNya semuaNya, dan kita sebenarnya tidak pernah ada. Ketentraman yang dibangun diatas dualitas sifat-sifat, ternyata akan datang dan pergi. Tidak sejati.

Melihat peta perjalanan itu, sadarlah saya betapa masih panjang perjalanan, dan dimana posisi sekarang berada. Tidak akan sampai tanpa ridhoNya.

TRANSISI MAKNA DALAM KETIADAAN AMBISI

Three-Ways-To-Improve-Your-Self-ConfidenceKarena tahu saya bukan seorang yang “dominan” dan “tega’an”, maka saya meminta bos saya untuk mendatangkan seseorang dari Regional Middle East dan Asia Pacific (disingkat “MENA”) agar datang ke Indonesia, untuk membantu mengecek persiapan audit perusahaan kami, yang kebetulan berada dalam naungan regional Middle East dan Asia Pacific.

Alhamdulillah, berkat izin Allah, strategi itu terkabulkan, dan seseorang rekan yang datang ke Indonesia membantu persiapan audit tadi, adalah seorang dengan tipikal sangat detail dan dominan. Walhasil banyak rekan-rekan menjadi terhenyak, termasuk manajer saya sendiri. Wah, ternyata masih banyak yang harus disiapkan, lalu bergeraklah semua orang.

Semua menjadi waspada pada porsinya yang pas, dan alhamdulillah segala kekurangan bisa diselesaikan dalam tempo yang pas dan audit berhasil dilewati dengan baik.

Bertemu seseorang dengan tipikal yang sangat dominan seperti rekan saya dari region MENA itu tadi, membuat saya meninjau kembali perjalanan karir saya.

Salah satu kelebihan orang-orang yang dominan dan ambisius seperti rekan saya itu, adalah mereka sangat tahu apa yang mereka inginkan. Mereka ingin mendaki tangga karir, dan setelah satu jabatan maka mereka menginginkan jabatan yang di atasnya lagi, dan di atasnya lagi.

Jabatan, tentu sebanding dengan tantangannya, tapi mereka tidak menghiraukan itu.

“Mengetahui apa yang diinginkan diri sendiri”, adalah satu tantangan terbesar bagi orang dengan tipikal seperti saya.

Seringkali, setelah tahapan yang sekarang ini saya tidak tahu harus kemana dan apa yang ingin diraih? Utamanya setelah mempelajari mengenai spiritualitas islam / tasawuf, maka ambisi-ambisi seperti makin pupus saja.

Kalau saya menilik perjalanan saya ke belakang, dari awalnya saya seorang pelajar di salah satu kota di Sumatera. Bagi saya masuk universitas di Jawa itu salah satu pencapaian luar biasa, dan saya menyadari kemampuan saya terbatas dari sisi finansial dan dari sisi intelektualitas. Alhamdulillah nyatanya Allah berkenan memasukkan ke Universitas di Jawa. Ambisinya kala itu adalah ingin mendapatkan pendidikan lebih baik, ingin berkembang.

Dari sana saya kemudian lulus dan bekerja di Industri Lapangan Migas, tahunan menghabiskan waktu terapung di lautan, menyusuri tempat-tempat yang jauh dan terpencil di hutan. Ambisinya kala itu adalah beranjak dari kesulitan ekonomi.

Dan lalu akhirnya dari lapangan saya dipindahkan ke kantor. Itupun suatu pertolongan yang ditemui lewat ambisi mendapatkan tempat yang lebih nyaman dan tidak selalu bepergian.

Setelah berada dalam dunia kantor, dan melalui banyak tribulasi hidup. Cara pandang mulai berubah.

Perjalanan meniti tangga karir bagi saya semua adalah anugerah, karena saya sadar betul betapa kemampuan rekan-rekan di sekitar saya sangatlah dahsyat, untuk tidak dikatakan bahwa saya sebenarnya hanya beruntung saja bisa mendaki tangga karir dimana orang-orang luar biasa ada berserak di sekitar saya, dan setiap dari mereka bisa mengganti saya kapanpun saja. Dan terasa sekali bahwa sebenarnya dari awal saya berpindah kesana kemari mengikuti plot-NYA, semua tidak pernah saya bayangkan. Ambisi saya menjadi pudar.

Tetapi disitulah masalahnya, seringkali karena larut dalam suasana kerja, saya mempertanyakan diri saya yang sekarang, karena tidak punya ambisi, seringkali tak tahu harus ngapain lagi? what is next?

Karena saya kadang terpikirkan bagaimana mungkin bekerja tanpa suatu “dorongan” tanpa “ambisi”? Harus ada suatu “dorongan” agar roda fisik saya ini mau bergerak.

Belakangan saya menyadari bahwa dorongan itu rupanya masih ada, hanya saja berubah bentuk.

Dari yang ambisi personal, berubah menjadi keinginan untuk “membantu”.

Saya ingin “membantu” orang-orang, dalam kapasitas apapun saja. Maka dalam bekerja, dan dalam dunia karir, saya menggunakan mentalitas itu, bekerja dalam keinginan membantu orang-orang. Saat meeting, saat memberi pengarahan, meng-audit, saya benar-benar merasakan saya sedang membantu orang. Bukan pekerja, tetapi sebagai manusia saya membantu manusia lainnya.

Keinginan “membantu” ini, barulah saya sadari rupanya sebuah pendorong yang berada dalam “transisi” untuk masuk ke ranah yang lebih spiritual.

Kalau guru kami mengatakan, bahwa saat kita berbuat, sebenarnya bukan kita yang berbuat. Melainkan kita mengikuti script-Nya untuk berbuat sesuatu. walhasil, pengertian sebenar-benarnya mengenai kenapa sesuatu terjadi, adalah dengan DIA semata-mata. Manusia, hanya memaknainya dengan kacamata yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitas pembelajarannya.

Ambil contoh Seorang dokter, misalnya….dia bekerja karena dia ingin memberi makan keluarga. Setelah itu dia mendapatkan penghasilan tetap, dan lama-lama namanya masyhur di khalayak, dia bekerja karena ingin namanya dikenang orang. Tetapi, di sebalik itu ternyata Allah mentakdirkan kemampuan spesialisasinya terpakai untuk menyelamatkan seorang yang sakit, dimana di kemudian hari seorang sakit itu akan menjadi menteri yang mengentaskan urusan ketertinggalan pendidikan anak-anak di daerah terlantar. Misalnya begitu.

Pekerjaan, bisa dia lihat dari kacamata penghidupan untuk keluarga. Bisa dia lihat dari kacamata kebanggaan diri. Atau bisa dia lihat dari kacamata yang lebih besar yaitu dia hanya “perpanjangan tangan” dari takdir menyelamatkan orang-orang yang mungkin punya kiprah dan cerita besar sendiri-sendiri pula.

Jadi sebenarnya dibalik sesuatu ada sesuatu. Dan sebenar-benar pengertian mengapa sesuatu itu terjadi, adalah pada Tuhan sendiri. Kita hanya memaknai sepotong-sepotong dalam perjalanan kita mengenali diri, dan mengenaliNYA.

Puncak dari perjalanan merevisi makna dalam hidup kita itu adalah “hilangnya diri kita” dan melihat hidup sebagai pagelaran ceritaNYA saja.

Transisi itulah yang baru saya mengerti. karena saya ada dalam transisi itulah mengapa saya sering menjalani karir dengan seperti tidak ada ambisi, tetapi masih bingung…. seharusnya saya bagaimana?

Harusnya saya tidak bingung….. karena seorang arif berpesan, tinggalkan “Pintu Depan”, tinggalkan segala pemaknaan bahwa hidup adalah tentang ini tentang itu, tentang kita. Dan masuk sepenuhnya pada “pintu belakang” dimana tak ada kita. Hanya DIA dan ceritaNYA, menerusi dzat (ciptaanNya).

Masuk dalam pemaknaan seperti itulah, yang hanya bisa karena anugerahNYA semata-mata. Meskipun masih mbulet, setidaknya kita sudah tahu peta perjalanannya.


*) Image Sources